CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
RASA YANG ADA


__ADS_3

Malam harinya, meja makan terlihat lebih ceriah daripada biasanya. Semua prajurit terlihat sangat bahagia karena mendapatkan makan malam istimewa.


Selain ada bubur gandum berkualitas tinggi dengan biji – bijian yang membuat rasanya menjadi lebih gurih mereka juga mendapatkan sop kelinci pansa yang lezat dan kimci lobak yang segar.


Bukan hanya itu saja, diakhir makan malam para prajurit mendapatkan beberapa potong kue kering sebagai  kudapan untuk menutup makan malam hari ini


Bai Cheung terlihat geram waktu pasukan bayangan milik kaisar Huang dan putra mahkota Qin Shi Huang duduk mengelilingi istrinya.


Terutama Peizhi dan Aiguo yang terus menempel pada Fan Jianying, seolah dua pemuda tersebut berkata bahwa mereka lebih layak untuk istrinya ketimbang dirinya, suami sahnya.


Jenderal besar Tian yang menyadari jika Bai Cheug sedang cemburu berusaha untuk menasehatinya, berharap pemuda disampingnya itu menyingkirkan ego tingginya sejenak.


“ Jika memang tak mencintainya, lepaskan saja. Kasian gadis muda, cantik dan berbakat tapi hidupnya disia – siakan seperti itu…..”, guman jenderal besar Tian sambil menghela nafas secara berlahan


Bai Cheng yang mendengar  gumanan tersebut hanya bisa terdiam. Karena merasa jika ucapan lelaki seusia ayahnya itu benar adanya.


Padahal dirinya sudah bertekad, jika bertemu lagi dengan istrinya dia akan bersikap baik. Namun entah kenapa, hal itu terasa sangat sulit untuk dilakukan.


Sekarang, melihat banyaknya pemuda tampan yang mengelilingi sang istri membuat hatinya panas.


Apalagi tak jarang dia melihat banyak prajurit yang sengaja curi – curi padang wajah istrinya, membuat Bai Cheung ingin mencongkel satu persatu mata mereka karena berani melirik miliknya.


Aiguo dan Peizhi yang menyadari jika Bai Cheung cemburu semakin berusaha untuk membuat hati Bai Cheung yang sudah panas menjadi terbakar.


“ Saya sangat berterima kasih kepada madam ketiga Bai atas kudapan yang sangat lezat ini. Selain cantik dan baik hati ternyata anda juga sangat berbakat. Pantas saja semua warga ibukota menjuluki anda gadis bertangan emas…”, ucap Peizhi memuji.


“ Anda terlalu berlebihan. Saya hanyalah gadis biasa yang kebetualn tahu sedikii tentang dapur….”, ucap Fan Jianying merendah.


Melihat bagaimana Peizhi menatap sang istri membuat Bai Cheung meremas kuat – kuat  kue kering yang ada ditangannya hingga hancur menjadi bubuk.


Fan Jianying yang tidak sadar jika suaminya cemburu bersikap biasa saja. Untuk menjaga sopan santun dia tetap menanggapi berbagai macam pertanyaan yang dilayangkan oleh para prajurit kepadanya dengan ramah dan rendah hati.


“ Sayang sekali anda sudah menikah, jika masih lajang anda bisa menjadi kandidat kuat untuk menduduki posisi putri mahkota. Apalagi putra mahkota Qin Shi Huang begitu memperhatikan anda….”, ucap Aiguo semakin memanaskan suasana.


Pranggg…


Gelas air yang dipegang oleh Bai Cheung pecah hingga menyebabkan telapak tangannya berdarah.


Semua orang pun seketika terdiam melihat jenderal mudanya itu terlihat marah. Melihat hal itu, sebagai seorang istri yang baik Fan Jianyingpun segera berdiri dan dengan sopan pamit undur diri untuk membantu mengobati luka suaminya itu.


Sebelum beranjak dari tempat duduknya, Bai Cheung tersenyum mengejek kearah Aiguo dan Peizhi yang terlihat geram waktu melihat Fan Jianying begitu panik dan memegang erat tangan suaminya dan bergegas membawanya kedalam tenda.


Fan Jianying terus menekan luka yang ada dipergelangan tangan suaminya dengan sehelai kain yang tadi disobeknya dari gaun bagian dalam miliknya agar darahnya berhenti merembes keluar.


Sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian hingga sampai di dalam tenda. Dari balik lengannya, Fan Jianying mengambil peralatan medisnya.


Diapun segera membersihkan telapak tangan suaminya dengan alkohol sebelum  mengolesinya dengan salep dan membalutnya dengan perban agar luka tidak terbuka dan infeksi.

__ADS_1


Fan Jianying tidak tahu seberapa kuat Bai Cheung menekan gelas tersebut hingga luka ditelapak tangannya itu cukup dalam.


“ Aku ingin mandi….”, Bai Cheung berkata untuk memecah kesunyian yang ada.


Meski sedikit terkejut, tanpa bersuara Fan Jianying pun keluar dari dalam tenda untuk mengambil air panas yang akan dibuat suaminya mandi.


Liam yang melihat nyonya mudanya berjalan kearah dapur pun berinisiatif untuk menyusulnya dan memberi bantuan.


“ Biar saja yang angkat nyonya…”, ucap Liam yang langsung merebut ember kayu berisi air panas tersebut.


Sepanjang perjalanan Liampun bercerita jika tuan mudanya itu terus menanyakan keberadaan Fan Jianying begitu dirinya tersadar dari koma.


“ Sejak kecil tuan muda kurang bisa mengekpresikan perasaannya kepada orang lain. Jadi, mungkin dimasa lalu ada sikpa tuan muda yang tak berkenan dihati anda.Saya sangat berharap anda bisa memaafkan semua kesalahan tuan muda di masa lalu dan tetap sabar mendampingi tuan muda sampai tua nanti…”, ucap Liam tulus.


Fan Jianying tak menyangka jika LIam akan mewakili tuan mudanya yang arogan dan kasar itu untuk meminta maaf kepadanya.


" Jika dia memang merasa menyesal, kenapa tidak bicara langsung kepadaku. Malah menyuruh pengawal pribadinya untuk mewakilinya meminta maaf....", Fan Jianying pun terus menggerutu dalam hatinya.


Setelah dia melihat bagaimana suaminya itu dengan garang berusaha untuk membunuhnya, namun sekarang melihat Bai Cheung tak berani meminta maaf kepada dirinya secara langsung membuat Fan Jianying merasa jika suaminya itu sangatlah pengecut.


Melihat Fan Jianying hanya diam membisu tanpa memiliki ekpresi apapun atas semua hal yang dia ceritakan membuat Liam akhirnya diam hingga keduanya tiba di depan tenda.


Setelah tepat berada didepan tenda, Liam pun memberikan ember berisi air panas tersebut kepada Fan Jianying.


Fan Jianying pun segera masuk dan mengisi bak mandi dengan perpaduan air panas dan air dingin. Setelah dirasa cukup hangat, diapun segera memanggil suaminya untuk mandi.


Waktu Fan Jianying hendak keluar dari tenda, Bai Cheung pun mulai bersuara untuk menahannya.


Bai Cheung ingin tertawa waktu istrinya berbalik sambil menutup kedua matanya dengan tangan waktu dia membuka satu persatu baju yang melekat di badannya dan hanya menyisakan kain tipis yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


" Ohhh...bagaimana dia bisa tak tahu malu seperti itu....", batin Fan Jianying geram.


Ingin sekali Fan Jianying keluar dari dalam kamar secepatnya, namun saat dia kembali mengingat jika telapak tangan kanan suaminya itu terluka, niat tersebut dia urungkan.


Diapun segera menggosok punggung sang suami dalam diam. Bai Cheung yang ingin memecah kesunyian terlihat mengkerutkan dahinya cukup dalam, berpikir topik apa yang bisa dijadikan bahan pembicaraan.


Namun, ketika dia teringat jika para pasukan bayangan yang mengawal istrinya terlihat snagat mudah, bersih dan tampan, hati Bai Cgheungpun kembali mendidih.


“ Ambilkan pisau cukur. Aku ingin mencukur kumis dan jenggotku…”, ucap Bai Cheung datar.


Fan Jianying tanpa bersuara segera membuka kotak baju suaminya dan mencari keberadaan pisau cukur tersebut.


Karena tidak menemukan benda yang dicari, Fan Jianyingpun masuk kedalam cincin ruangnya dan mencari barang yang biasa digunakan para lelaki untuk menyukur kumis dan jenggotanya kedalam almari ajaib yang selalu bisa mengeluarkan barang dan makanan dari jaman modern.


Setelah mendapatkan pisau cukur dan sebotol semprotan busa, diapun segera keluar dari dalam cincin ruang.


Kedua mata Bai Cheung sedikit menyipit waktu istrinya datang dengan dua benda aneh di tangannya dan langsung duduk dihadapannya.

__ADS_1


Setelah meletakkan handuk kecil kering didada suaminya, Fan Jianying pun segera menyemprotkan busa keseluruh jenggot dan kumis Bai Cheung.


Meski merasa aneh, namun mencium wangi aroma busa yang ada diwajahnya membuat Bai Cheung tetap diam sambil mengamati apa yang dilakukan oleh istrinya itu.


Fan Jianying berusaha fokus terhadap apa yang sedang dikerjakannya dan berusaha mengacuhkan Bai Cheung yang sedari tadi menatapnya denagn intens.


Hati Bai Cheung bergejolak waktu wajah cantik istrinya sangat dekat dengannya. Bahkan hembusan hangat nafas Fan Jianying pun bisa dia rasakan.


Bagaimanapun juga Bai Cheung adalah laki – laki dewasa yang normal. Melihat bibir munggil penuh berwarna merah merekah membuat naluri kelaki – lakiannya mulai bangkit.


“ Sial !!!...kenapa wajah wanita jahat ini begitu menggoda…”, batin Bai Cheung gelisah.


Wajahnya pun mulai bergerak – gerak tak nyaman karena ada bagian tubuhnya yang mulai beranjak bangun.


Fan Jianying merasa sedikit kesulitan waktu wajah Bai Cheung bergerak – gerak terlihat sangat geram.


Fan Jainying yang sudah habis kesabaran mulai menatap laki – laki dihadapannya itu dengan tajam.


“ Jika bergerak lagi, jangan salahkan jika pisau ini menggorok lehermu !!!...”, ancam Fan Jianying kasar.


Glekkk…..


Bai Cheung langsung terdiam membeku waktu istrinya mengancam akan menggorok lehernya. Melihat suaminya sudah tenang, Fan Jianyingpun segera melanjutkan pekerjaannya.


Setelah semua rambut diwajah suaminya telah bersih, dengan handuk kecil basah Fan Jianying mulai mengusap wajah suaminya agar tidak ada busa lagi yang menempel.


Baru kali ini Fan Jianying menatap wajah suaminya itu dari jarak sedekat dan seintim ini. Mata keduanya saling bertatapan dan saling terkunci.


Berusaha untuk menelusuri kedalam jiwa masing – masing pasangan yang ada dihadapan mereka.


Bai Cheung melihat jika mata sang istri sangatlah jernih dan hangat seolah mampu menyerap jiwanya dan menguncinya didalam sana.


Begitu juga dengan Fan Jianying, yang baru pertama kali ini melihat suaminya  itu menatapnya dengan hangat seperti itu.


Dalam tatapan tajam Bai Cheung, dia melihat ada kesedihan yang sangat mendalam di hati laki – laki tampan yang sudah menjadi suaminya itu.


Entah apa yang sudah dihadapi oleh Bai Cheung hingga bisa menyimpan kesedihan yang begitu dalam.


Keintiman keduanya buyar waktu terdengar suara Bingwen diluar tenda yang mengajaknya untuk berdiskusi malam ini juga.


“ Madam ketiga, maaf menganggu waktu pribadi anda. Ada hal mendesak yang ingin saya diskusikan dengan anda dan jenderal muda Bai malam ini juga….”, ucap Bingwen sopan.


Fan Jianying yang tersadar segera memalingkan wajahnya yang sudah berubah menajdi merah merona, begitu juga dengan Bai Cheung yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat ini.


“ Tunggu di tenda jenderal besar Tian, sebentar lagi kami akan menyusul….”, ucap Fan Jianying lantang.


Setelah mengatakan hal tersebut, Fan Jianyingpun segera bangkit dari duduknya dan memberikan handuk bersih kepada suaminya lalu keluar dari ruangan yang digunakan untuk mandi.

__ADS_1


Karena Fan Jianying tidak bisa memasangkan pakaian rumit lelaki jaman kuno, diapun hanya menyiapkannya saja.


Sementara Bai Cheung sendiri lah yang memakai bajunya. Setelah siap, keduanya bergegas menuju tenda jenderal besar Tian berada.


__ADS_2