
Begitu pertunjukan selesai, Fan Jianying tiba – tiba didatangi seorang pelayan yang mengatakan jika dia diundang kaisar Muzeng untuk makan siang bersama.
Fan Jianying pun segera menganggukkan kepalanya. Meski pada awalnya dia tidak ingin bertindak sejauh ini, tapi melihat jika ini adalah peluang yang bagus maka diapun memanfaatkannya dengan baik.
Dia sadar jika dirinya harus menggunakan kekuatannya untuk bisa mendeteksi dimana letak tubuh peramal Yan berada.
Mau tidak mau Fan Jianying pun harus mengambil resiko identitasnya terungkap dihadapan kaisar Muzeng demi bisa mendapatkan posisi ruangan yang digunakan untuk menyimpan tubuh peramal Yan.
Fan Jianying mengikuti pelayan tersebut dari belakang dan menyerahkan kertas yang ada ditangannya kepada Bingwen yang berpapasan dengannya melalui gerakan tangannya saat melangkah.
Selama Fan Jianying bisa mengalihkan perhatian kaisar Muzeng, maka rekan – rekannya bisa bebas bergerak untuk menjalankan misinya.
“ Silahkan duduk nona ?…”, ucap kaisar Muzeng mengantungkan ucapannya dengan satu alisnya terangkat menatap hangat Fan Jianying.
“ Aurella…”, ucap Fan Jianying spontan.
“ Aur…”, kaisar Muzeng merasa nama tersebut sedikit susah diucapkan.
“ A-u-r-e-l-l-a….Yang Mulia…”, ucap Fan Jianying mengeja.
Fan Jianying menggunakan nama aslinya agar identitasnya disini tidak terungkap. Setelah makanan siap tersaji diatas meja, keduanya pun mulai menikmati hidangan yang tersedia sambil berbincang dengan santai .
Dari arah pembicaraan yang ada, Fan Jianying merasa jika kaisar Muzeng sedikit mengarahkan pembicaraan tentang masa lalu Ratu Elisabeth.
Meski dia hanya memiliki sebagian memori dari ratu Elisabeth akibat ingatannya dihapus oleh dewa langit.
Tapi dia masih bisa menalar jika arah pembicaraan laki – laki tampan dihadapannya itu mengarah kesana.
“ Apakah dia adalah raja iblis yang kucari ?...”
“ Tapi, jika itu benar dia…kenapa dia memerlukan kristal kehidupan yang ada ditubuh peramal Yan ?....”
“ Bukankah dia sudah mendapatkan yang lebih besar milik dewa langit ?... ”
Saat ini benak Fan Jianying dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang membuatnya sedikit binggung.
Kaisar Muzeng tersenyum lebar waktu melihat Fan Jianying mengkerutkan keningnya cukup dalam ketika dia bertanya sesuatu seputar masa lalunya.
“ Kurasa, ingatannya masih belum kembali semua…”, batin kaisar Muzeng bermonolog.
Pada saat Fan Jianying sedang bercengkrama dengan kaisar Muzeng sambil mencari informasi untuk bisa segera menyelesaikan misinya, rekan – rekannya terlihat sedang bekerja sangat keras untuk berhasil masuk kedalam ruang rahasia dimana tubuh peramal Yan berada.
Tampaknya tak mudah untuk bisa masuk kedalam ruanganrahasia tersebut. Banyak jebakan terpasang disana membuat keenam pasukan bayangan ini sedikit kewalahan menghadapinya.
“ Kurasa tubuhnya ada dibalik tembok batu ini….”, ucap Feng sambil mengamati tembok batu dihadapannya.
Berusaha untuk mencari pola yang janggal yang bisa digunakan untuk membuka tembok tersebut.
Salah pegang, panah beracun langsung meluncur kearah mereka dengan cepat. Salah pencet, puluhan bola api menyerang mereka secara membabi buta.
Salah injak, puluhan bola bergerigi tajam muncul diatas kepala mereka. Jika tak cekatan, bisa jadi salah satu senjata tadi sudah melukai tubuh mereka.
__ADS_1
Dan yang paling buruk, bisa membunuh mereke seketika ditempat. Tidak ingin kembali mengambil resiko, BIngwen pun segera menggunakan jurus meringankan tubuh miliknya untuk menekan batu yang sedikit berbeda dari yang lainnya.
Srekkkk…..
Tembok batu tersebut bergeser dan didalamnya terdapat ruangan yang sangat dingin seperti sedang berada didalam lemari es.
Sebelum masuk, ke enam lelaki tampan tersebut menggunakan kekuatannya untuk menaikkan suhu tubuh mereka agar tidak sampai membeku saat berada didalam.
Ternyata didalam ruangan, jebakan semakin banyak dan semakin berbahaya. Maka dari itu semua orang melangkah dengan penuh kewaspadaan diri.
Jian yang berhasil lebih dulu mendekati tubuh peramal Yan yang terbaring kaku diatas bongkahan balok es besar terlihat sedikit kesulitan waktu hendak mengangkat tubuh peramal Yan yang terasa sangat berat sekali.
“ Apa ini ?....”, ucap Jian tercenggang waktu melihat jika balok es yang ada dibawah tubuh peramal Yan ikut terangkat begitu tubuh tersebut ditarik.
“ Tunggu !!!...jika dipaksakan, tubuh tersebut akan hancur !!!….”, teriak Bingwen spontan waktu melihat Jian berusaha untuk memisahkan balok es dari tubuh peramal Yan.
Mendengar teriakan Bingwen, Jian pun kembali meletakkan tubuh peramal Yan dengan sangat hati – hati diposisinya semula.
Semua orang tampak berpikir keras, bagaimana cara mengambil tubuh peramal Yan tanpa membuatnya hancur dengan mudah.
“ Tak kusangka kaisar Muzeng sudah memikirkan semuanya sampai sejauh ini….”, batin Bingwen tercenggang.
Pada saat semua rekannya kebinggungan, Fan Jianying berusaha untuk meloby kaisar Muzeng dengan kemampuan yang dimilikinya sejak dulu.
“ Kurasa, bekerja sama dengannya tidak ada ruginya….”, batin Fan Jianying bermonolog.
Fan Jianying yang sama sekali buta tentang keberadaan Kristal kehidupan berusaha untuk bekerja sama dengan kaisar Muzeng.
Tidak ingin terlalu banyak basa – basi lagi, kaisar Muzeng pun mulai berbicara kepada tujuan dirinya mengundang Fan Jianying makan siang bersamanya.
“ Kurasa, dari pembicaraanku kamu sudah bisa menyimpulkan jika aku ingin kamu menjadi ratu negeri gurun. Seperti apa yang aku janjikan padamu dulu, meski sekarang kamu masih belum bisa mengingat semuanya….”, ucap kaisar Muzeng sedih.
“ Saya sangat berterimakasih atas niat baik anda Yang Mulia. Meski saya masih belum bisa mengingat semuanya, tapi sepertinya dalam kehidupan kali ini kita masih belum berjodoh…”, ucap Fan Jianying menolak secara halus.
Meski kaisar Muzeng sudah bisa memprediksi jawaban tersebut, namun dia tak menduga jika hatinya terasa sedikit sakit waktu mendengarnya langsung.
“ Saya tak memintamu untuk langsung menjadi Ratu negeri gurun sekarang juga. Mungkin dengan tinggal di istana ini, kita bisa lebih dekat dan saling memahami seperti dulu…”, kaisar Muzeng terus mendesak Fan Jianying agar mau tinggal di dalam istananya.
“ Sekali lagi saya ucapka banyak terimakasih atas perhatian Yang Mulia kepada saya. Tapi saya juga benar – benar minta maaf karena tak bisa merealisasikan keingginan anda karena saya sudah menikah, Yang Mulia….”, ucap Fan Jianying penuh rasa penyesalan.
Mendengar hal itu, seketika raut hangat diwajah kaisar Muzeng berubah menjadi dingin dengan rahang yang mengeras.
Tidak ingin membuat kaisar Muzeng marah dan menggagalkan rencananya, Fan Jianying pun kembali berkata.
“ Meski begitu, saya bisa menjadi sekutu bagi Yang Mulia dalam pencarian Kristal kehidupan…”, ucap Fan Jianying melempar umpan.
Mendengar gadis yang ada dihadapannya bersedia mencari Kristal kehidupan bersamanya, wajah kaisar Muzeng yang semula gelap kembali bersinar cerah.
“ Baiklah kalau begitu…sekarang apakah kita sudah bisa bekerja sama ?…”, tanya kaisar Muzeng antusias.
“ Tentu saja Yang Mulia…tapi saya memiliki satu persyaratan akan hal ini, apakah Yang Mulia menyetujuinya ?...”, tanya Fan Jianying dengan suara dibuat selembut mungkin.
__ADS_1
“ Apakah kamu menginginkan tubuh peramal Yan ?...”, kaisar Muzeng pun langsung menebak tepat sasaran.
Fan Jianying hanya bisa mengangguk sambil tersenyum untuk menutupi rasa keterjutannya karena sempat menganggap remeh kaisar Muzeng.
“ Kamu bisa mendapatkannya, asalkan anak buahmu bisa mengambilnya sendiri tanpa bantuanmu….”, ucap kaisar Muzeng penuh penekanan.
“ Saya harap Yang Mulia tidak kembali menarik kata – kata yang sudah anda ucapkan tadi….”, ucap Fan Jianying santai.
Kaisar Muzeng kagum akan ketenangan yang ditunjukkan oleh gadis yang ada dihadapannya itu meski saat ini dia sangat yakin jika gadis itu tahu jika anak buahnya sedang menghadapi kesulitan didalam ruang es miliknya.
Sementara itu, di kerajaan Huangwei persaingan antara putra mahkota Qin Shi Huang dengan pangeran kedua Song Yu semakin hari semakin memanas.
Setiap orang berusaha untuk menonjolkan diri dihadapan kaisar Huang dengan cara mereka masing – masing.
Namun, karena posisi putra mahkota Qin Shi Huang lebih menguntungkan, maka banyak pihak lebih mendukungnya dibandingkan dengan pangeran kedua Song Yu.
Meski pangeran kedua memiliki ratu Qilin yang mendukungnya, namun karena kaisar Huang lebih dominan, maka hal tersebut tak membuatnya memiliki pengaruh yang banyak.
Maka dari itu, pangeran kedua Song Yu sering menggunakan cara licik dan kotor untuk bisa mencapai ambisinya.
Sayangnya, usahanya tersebut bukannya berhasil malah banyak yang gagal dan kadang menjadi bluder bagi diriya sendiri.
Dengan menggunakan otoritas menteri dalam negeri, menteri umum dan menteri perlengkapan yang tunduk di bawah ratu Qilin, pangeran kedua Song Yu mulai menyiapkan pasukan rahasia miliknya yang dibiayai lewat anggaran istana tanpa sepengetahuan semua orang.
Selain itu, diam – diam pangeran kedua Song Yu juga kembali menjalin hubungan baik dengan para pemberontak diberbagai wilayah untuk menggalang kekuatan miliknya.
Kali ini mereka harus bergerak dengan sangat hati – hati setelah para pemberontak diwilayah perbatasan timur berhasil ditumpas habis oleh jenderal besar Tian.
Mereka tidak mau gegabah dalam bertindak yang nantinya akan merugikan diri mereka sendiri danmembuat rencana yang lain berantakan.
Untungnya beberapa pemberontak yang berhasil ditangkap dan hendak di interogasi bisa langsung dibunuh sebelum mereka membuka mulut.
Sementara itu, di dalam kediaman ratu Qilin, pangeran kedua Song Yu datang menghadap untuk membeberkan rencana baru yang telah disusunnya.
Ratu Qilin pun mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan oleh putranya tersebut sambil menimbang – nimbang seberapa besar resiko yang akan dihadapinya jika sampai rencana tersebut gagal.
“ Bagaimana menurut ibunda rencanaku ini ?...”, tanya pangeran Song Yu antusias.
“ Cukup bagus. Tapi kamu harus benar – benar menutup celah yang ada hingga tak kembali gagal…”, ratu Qilin pun berkata untuk mengingatkan sang putra.
Jika sudah tiba waktunya dan suaminya tetap tak mau memberikan kekuasaannya kepada sang putra maka dengan terpaksa Ratu Qilin akan melakukan pemberontakan dengan pasukan yang telah disiapkannya.
Tanpa sepengetahuan pangeran Song Yu, ratu Qilin memiliki pasukan rahasia yang dilatihnya sejak lama.
Dimana sebagian besar pasukan tersebut merupakan pasukan yang dulu berada dibawah kekuasaan sang kakak yang telah meninggal.
Pasukan yang membantu Shua untuk mendukung suaminya mendapatkan tahta sebagai kaisar negara Huangshan.
Sebagian pasukan yang setia pada ratu Shua memilih untuk bergabung dengan kaisar Huang karena mencurigai jika meninggalnya pimpinan mereka adalah ulah adiknya, ratu Qilin.
Tapi karena tidak ada bukti, merekapun hanya bisa memilih berada di bawah kaisar Huang atau dibawah putra mahkota yang merupakan anak kandung ratu Shua dari pada tunduk dihadapan Ratu Qilin .
__ADS_1
Namun sebagian lagi pasukan tersebut memilih dibawah pimpinan ratu Qilin yang berhasil mencuri stempel pasukan pada waktu kakaknya meninggal dunia.