CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
FAKTA MENGEJUTKAN


__ADS_3

Bai Cheung tak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan berita yang dibawah langsung olehanak buahnya tersebut.


Meski kakaknya itu tidak pernah sedikitpun  dekat dengan perempuan, namun dia sama sekali tak menyangka jika sang kakak yang  kadang membuatnya iri dengan postur tubuh kekar dan wajah maskulin memiliki seksual yang menyimpang.


Bai Cheung sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan ibundanya jika mengetahui fakta tersebut.


" Hati ibunda pasti akan hancur jika menegtahui kakak seperti ini...", batin Bai Cheung sedih.


Namun yang cukup menarik dari informasi yang didapatkan dari anak buahnya itu adalah fakta jika sang kakak memiliki hubungan khusus dengan pangeran kedua, Song Yu.


Bai cheung sama sekali tak menyangka jika sang kakak yang bertugas sebagai wakil menteri pertahanan tersebut ternyata bersengkokol dengan para pemberontak untuk merebut wilayah perbatasan bagian timur dan turut andil dalam pembunuhan jenderal besar Tian dalam kehidupannya terdahulu.


Dia hanya bisa tertawa dalam hati waktu kembali mengetahui ada beberapa peristiwa penting yang terlewatkan begitu saja dalam kehidupan masa lalunya.


" Apa saja yang kulakukan dulu hingga gelagat aneh dari kakakku tidak pernah aku perhatikan....", batin Bai Cheung kecewa.


" Semua ini gara - gara wanita jahat itu !!!...", batin Bai Cheung penuh amarah.


Dia merasa sangat marah waktu mengingat jika semua hal dalam kehidupannya dimasa lalu hanya seputar wanita jahat itu sehingga dia melewatkan banyak hal penting dalam hidupnya.


setelah terdiam cukup lama, Bai Cheung kembali menatap tajam anak buahnya yang masih setia berlutut dihadapannya.


“ Lalu bagaimana istriku ?...”, tanya Bai Cheung dengan nada dingin.


“ Seperti yang saya laporkan, tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari madam ketiga dan beliau juga tidak menemui siapapun selain untuk kepentingan yang berhubungan dengan restorannya…”, ucapnya menjelaskan semuanya.


“ Kamu bilang tadi jika kakakku juga sempat mengawasinya, kenapa ?...”, tanya Bai Cheung penuh selidik.


“ Benar tuan. Setelah kakak anda bertemu dengan nona ketiga Fan, beliau langsung menyelidiki madam ketiga sendiri setelah anak buahnya tidak membawa hasil…”, ucap laki – laki berbaju hitam yang berlutut dihadapannya itu dengan sikap hormat.


Jika Bai Wang menyelidiki Fan Jianying karena Fan Nuan merasa jika sang kakak berubah drastis, Bai Cheung merasa jika kecurigaannya selama ini mungkin benar adanya.


Namun, dia masih memerlukan bukti untuk mendukung semua yang ada dalam pikirannya. Bagaimana seseorang yang sama bisa berubah sifat dan sikap secara drastis seperti itu jika dia adalah orang yang sama.


“ Apa dia juga kembali kemasa lalu sama sepertiku ?...”, batin Bai Cheung penasaran.


Meski tidak mendapatkan informasi apapun tentang sang istri, namun Bai Cheung cukup puas karena dia berhasil mendapatkan informasi lainnya yang lebih penting untuk menyelamatkan wilayah perbatasan bagian timur ini.


“ Awasi terus pergerakan kakak dan istriku. Jika ada yang mencurigakan, langsung kabari aku…”, ucap Bai Cheung tegas.


“ Dipahami…”, lelaki baju hitam itu pun langsung menghilang begitu Bai Cheung selesai berbicara.


Sementara itu, didalam Heluo Palace terlihat putri Wei Xieun menatap makanan yang ada dihadapannya tersebuttanpa nafsu.


Sejak menikmati kue lezat buatan Fan Jianying entah kenapa nafsu makan putri Wei Xieun langsung turun secara drastis.


Kabar tersebut tentunya langsung terdengar ditelinga permaisuri Wei, membuat wanita cantik tersebut merasa sangat cemas.


Untuk itulah, siang ini dia coba mendatangi kediaman sang putri untuk mengetahuinya secara langsung.


Begitu kakinya menginjak paviliun, permaisuri Wei bisa melihat sang putri sedang  terduduk lesu di kursi malas favoritnya.


Melihat hal itu, dengan senyum manis permaisuri Wei berjalan mendekat kearah putri Wei Xieun dan duduk di sampingnya.


Dengan lembut dia membelai rambut putri Wei Xieun yang halus dan panjang tergerai, seperti kebiasaan yang dia lakukan saat putrinya masih kecil.


“ Putri ibunda yang cantik ini ingin makan apa ?...nanti ibunda suruh pelayan menyiapkan…”, ucap permaisuri Wei lembut.

__ADS_1


“ Ibunda tidak akan bisa mendapatkannya…itu tidak dijual dimanapun…”, renggek putri Wei Xieun manja.


Sebenarnya sih dia bisa saja mendapatkan makanan yang sangat lezat tersebut secara gratis jika dia mau berkunjung ke kediaman Bai.


Namun gengsi putri Wei Xieun yang tinggi dan juga apa yang telah dilakukannya kepada Fan Jianying pada waktu perjamuan di kediaman Ming tempo hari, tak mungkin bagi gadis itu untuk menemui istri dari lelaki yang disayanginya itu terlebih dahulu.


Dia juga tak memiliki alasan apapun yang bisa membuat Fan Jianying bersedia menemuinya dan menuruti keinginannya.


Putri Wei Xireun berpikir jika istri Bai Cheung itu pasti sekarang sangat membencinya setelah apa yang dilakukannya dikediaman Ming beberapa hari yang lalu.


Melihat putrinya tetap bungkam, permaisuri Wei hanya bisa membujuknya dengan memberikan barang – barang mewah serta makanan kesukaan sang putri.


Bukannya antusias, bahkan putri Wei Xieun sama sekali tak melirik barang mewah dan makanan kesukaannya yang tersaji apik diatas meja tersebut.


Permaisuri hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar karena frustasi. Jika dibiarkan seperti ini terus, bukan tidak mungkin jika putrinya itu akan jatuh sakit.


Pangeran Wei Jie yang juga sudah mendengar tentang permasalahan adiknya itu dari Zoelu segera berjalan menuju paviliun samping tempat putri Wei Xieun berada.


Baru saja kakinya masuk kedalam paviliun, dia sudah disuguhkan pemandangan wajah sang ibunda yang terlihat sangat cemas menatap adiknya yang terlihat berbaring malas dikursi yang didudukinya itu.


“ Xin’er…mari temani kakak ke pembukaan Impereal Restoran, disana banyak makanan lezat yang dibuat oleh madam ketiga Bai....”, ucap pangeran Wei Jie dengan senyum menggoda.


Mendengar nama madam ketiga Bai disebut, putri Wei Xieun pun langsung bergegas bangun dan bersiap untuk pergi.


Melihat putrinya bangkit dengan wajah penuh antusias, permaisuri Wei langsung menautkan kedua alisnya sambil menatap wajah pangeran Wei Jie penuh tanda tanya.


“ Istrinya Cheung ?...nona kedua Fan ?...”, tanya permaisuri Wei memperjelas apa yang baru saja didengarnya.


Pangeran Wei Jie hanya mengangguk sebagai respon atas jawaban pertanyaan sang ibu. Permaisuri Wei tak bisa menahan keterkejutannya mengetahui fakta tersebut.


“ Bukankah adikmu sangat membencinya ?...”, tanya permaisuri Wei heran.


Melihat kedua anaknya terlihat sangat gembira ingin mendatangi restoran tersebut, permaisuripun semakin penasaran dibuatnya.


“ Apakah ibunda bisa ikut ?...”, tanya permaisuri Wei sambil tersenyum lebar.


“ Tentu saja ibunda bisa ikut. Ayo kita berangkat….”, ucap putri Wei Xieun langsung menggandeng tangan sang ibunda.


Setelah mendapat ijin dari kaisar, ketiganyapun segera melesat keluar dengan cepat untuk menghadiri acara pembukaan Impereal Restoran.


Seperti yang diharapkan, suasana pembukaan restoran berjalan sangat lancar. Para pengunjung terus saja berdatangan silih berganti, terutama orang – orang yang sangat penasaran dengan rasa masakan serta kue yang dibuat oleh Fan Jianying.


“ Itu bukankah permaisuri…”


“ Pangeran Wei Jie juga datang…”


“ Apakah itu putri Wei Xieun, kenapa dia datang ?... ”


“ Bukankah dia sangat membenci madam ketiga Bai…”


" Ohhh...pangeran Wei Jie sangat tampan...."


Bisik – bisik pun mulai terdengar begitu permaisuri Wei dan kedua anaknya masuk kedalam restoran. Matriark Bai yang melihat kedatangan permaisuri Wei pun segera menyambutnya.


Begitu juga dengan madam Chou dan Lien Hua yang juga hadir dalam acara pembukaan kembali restoran tersebut dengan wajah baru setelah sepuluh tahun terbengkalai.


“ Mana Fan’er ?...panggil dia kesini ?...”, perintah matriark Bai dan bergegas berjalan kedepan.

__ADS_1


Matriark Bai tersenyum ramah menyambut tamu agungnya tersebut sambil sesekali menoleh kebelakang menunggu kedatangan sang cucu.


“ Ada apa nenek ?...”, tanya Fan Jianying begitu tiba di depan.


“ Apa ini ?...kemarilah…biarkan dapur ditangani pelayan…”, ucap matriark Bai sambil menghapus tepung yang ada dipipi cucu menantu perempuannya itu.


Permaisuri Wei tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Bahkan saat ini matanya terlihat mulai berkaca – kaca menatap wajah Fan Jianying yang sangat cantik, seperti wajahnya waktu muda dulu.


Fan Jianying yang mengetahui jika wanita cantik yang ada dihadapannya itu adalah permaisuri Wei, ibunda dari pangeran Wei Jie, segera memberikan hormat.


Matriark Bai pun segera membawa tamu istimewa tersebut ke lantai dua untuk menjamunya. Wajah pangeran Wei Jie terlihat ceria begitu melihat senyuman manis mengembang di wajah Fan Jianying.


Saat makanan datang, semua orang tak bisa untuk tak terbelalak. Apalagi putri Wei Xieun yang langsung mengambil bebek panggang yang ada dihadapannya.


“ Wah…ini sangat lezat….”, ucap putri Wei Xieun dengan mulut penuh makanan.


“ Xin’er…”, tegur permaisuri yang melihat putrinya tersebut bersikap tidak sopan.


“ Bebek panggang tersebut adalah menu andalan Impereal Restoran dimana kita hanya menyiapkan lima puluh bebek panggang setiap harinya dan yang putri makan adalah bebek panggang yang terakhir …”, ucap Fan Jianying menjelaskan.


Putri Wei Xieun yang merasa sangat beruntung masih bisa merasakan kelezatan tersebut.


Dengan rakus, diapun segera menghabiskan sendiri bebek panggang yang sangat lezat tersebut, membuat ibunda dan kakaknya hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya.


Tanpa semua orang sadari, permaisuri Wei terus menatap kearah Fan Jianying dengan tatapan penuh kerinduan.


“ Apa ini alasan Yang Mulia dan Fan Shaosheng melarangku untuk bertemu dengan Fan Jianying ?...”, batin permaisuri Wei sedih.


“ Kurasa, aku harus segera menyelidiki semuanya…”, batin permaisuri Wei penuh tekad .


Selama ini dia merasa jika suami dan sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu darinya tapi tak tahu apa itu.


Sudah sejak lama, setelah meninggalnya ibu Fan Jianying, permaisuri Wei ingin sekali bertemu dengan gadis kecil yang usianya sama dengan adik putri Wei Xieun yang sudah meninggal.


Namun setiap kali keingginannya itu datang, suami dan sahabatnya itu selalu berhasil menghalangi.


Fan Shaosheng dan kaisar selalu beralasan jika tubuh Fan Jianying sangatlah lemah hingga tidak bisa bertemu dengan siapapun serta tidak bisa terlalu banyak berkativitas diluar ruangan.


Waktu itu permaisuri Wei pun memaklumi karena Fan Jianying lahir secara preamtur, jadi mungkin kesehatannya tidak terlalu baik.


Tapi sekarang, saat melihat langsung bagaimana ceria dan aktivnya gadis itu, permaisuri Wei merasa jika apa yang dikatakan suami dan sahabatnya selama ini adalah suatu kebohongan belaka.


Tanpa sadar permaisuri Wei mencengkeram kuat ujung gaunnya dengan kedua tangannya waktu mengingat jika selama ini dia sudah dibohongi oleh suami dan sahabat yang sangat dipercayainya itu.


Fan Jianying yang mengetahui jika banyak tamu undangan yang mencarinya segera pamit undur diri dan bergegas turun.


Pangeran Wei Jie dan permaisuri Wei terlihat kecewa waktu Fan Jianying meninggalkan ruangan.


Namun mereka juga tidak bisa menahan gadis itu karena memang banyaknya orang penting yang hadir dalam acara pembukaan ini.


Hati permaisuri Wei merasa sangat lega waktu melihat putri Wei Xieun makan dengan sangat lahap setelah beberapa hari putrinya itu  tidak memiliki nafsu makan.


Matriark Bai bahkan menyuruh para pelayan untuk membungkus beberapa kudapan yang ada direstoran sebagai buah tangan untuk putri Wei Xieun.


Tentu saja putri Wei Xieun sangat bahagia mendapatkan perhatian besar seperti itu dari matriark Bai.


Di lantai bawah, permaisuri Wei yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi tanpa sengaja melihat sebagian tubuh Fan Jianying yang sedang berganti pakaian karena pintu ruang ganti  tersebut tidak ditutup secara sempurna.

__ADS_1


Kedua mata permaisuri langsung melotot sempurna saat melihat tanda lahir di bahu belakang sebelah kiri Fan Jianying yang berbentuk kupu – kupu berwarna merah darah.


“ Tanda itu....tanda yang dimiliki putriku....putri Wei  Fei….”, permaisuri Wei menutup mulutnya dengan satu tangannya sambil berderai air mata.


__ADS_2