
Pada saat kelompok Black Tiger ingin menyerang di kaki bukit Wushu, tanpa sengaja mereka bertemu dengan sekelompok bandit liar yang akan beroperasi disekitar tempat tersebut.
Segera saja Nomura memiliki ide untuk menggunakan sekelompok bandit tersebut demi mengukur kemampuan targetnya.
Selain cara ini dianggap lebih mudah, kali ini tidak akan rela begitu saja menyetorkan nyawa anak buahnya tanpa mengetahui kekuatan lawannya terlebih dahulu.
Pada awalnya dia terlalu meremehkan targetnya yang dianggap dengan mudah bisa dilenyapkan hingga harus mengorbankan tim lapis keduanya dengan sia – sia.
Kali ini dia akan bertindak lebih perhitungan dan terencana agar misi yang diembannya bisa segera terselesaikan dan sisa dana bisa secepatnya masuk kedalam kantongnya.
Pada awalnya para bandit liar tersebut menolak, tapi setelah tahu jika yang lewat adalah bangsawan kaya, merekapun merasa senang mendapatkan informasi jika akan ada target empuk yang melewati kaki bukit Wushu.
Segera saja mereka langsung menyebar anggotanya ke berbagai sisi jalan untuk mengepung targetnya seperti biasa dan berharap kali ini dia mendapatkan hasil yang banyak.
Para bandit yang sudah bersiap diposisinya masing - masing tersenyum lebar waktu mendengar ada derap kuda berjalan mendekat.
Mereka bersiap siaga dalam gelap, menunggu mangsa datang dan langsung menyergapnya tanpa ampun.
Didalam kereta kuda, Fan Jianying yang mendapatkan informasi dari tabib Shilin jika kelompok yang menyerang tadi adalah anggota Black Tiger.
Salah satu pembunuh bayaran paling berbahaya di negara ini membuat Fan Jianying mulai meningkatkan kewaspadaan dirinya.
Dia beberapa kali terihat membuka tirai yang ada di jendela kereta untuk mengamati medan yang sedang dilaluinya saat ini.
Melihat ada tikungan tajam tak jauh didepannya, entah kenapa feelingnya mengatakan jika akan ada sesuatu hal buruk menunggu didepannya mebuatnya spontan berteriak.
“ Stop !!!....”, teriak Fan Jainying lantang.
Sontak saja sang kusir segera menghentikan kereta kuda yang dikendalikannya, begitu juga dengan para pengawal yang langsung menghentikan laju kuda yang dinaikinya.
Tabib Shilin yang penasaran dengan ekspresi tegang diwajah Fan Jianying ikut keluar kereta waktu melihat gadis tersebut turun dari atas kereta kuda yang dinaikinya dengan cepat.
" Mau apa dia ?...", batin tabib Shilin penasaran.
Setelah berada diluar, Fan Jianying segera menutup kedua matanya dan mulai menggunakan mata batinnya untuk melihat obyek tersebunyi yang ada dihadapannya.
“ Bagaimana madam ketiga Bai bisa melihat apa yang ada didepan jika gelap seperti itu….”, batin semua orang penasaran.
Meski penasaran, namun semua orang memilih untuk diam dan menunggu instruksi dari Fan Jainying selanjutnya.
Sambil menutup mata, Fan Jianying mulai bersuara dan menjelaskan tentang apa yang dilihat oleh mata batinnya.
Diapun mulai menjelaskan gambaran yang dia lihat didepan, tentang berapa orang bandit yang bersembunyi dlam kegelapan menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
Bahkan Fan Jianying juga mengatakan dengan jelas dimana posisi masing – masing bandit tersebut berada.
Semua orang terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Fan Jianying. Begitu juga dengan Heyna dan Hira yang terlihat sangat syok waktu mengetahui jika madam ketiganya memiliki kekuatan mata batin.
Setelah berhasil menguasai diri, sikembar segera melesat keluar untuk membereskan bandit – bandit tersebut agar tidak menganggu perjalanan madam ketiga Bai.
Fan Jianying hanya tersenyum tipis waktu melihat pelayan yang dikirim oleh suaminya tersebut bergerak cepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.
“ Bukankah mereka ?....”, belum selesai tabib Shilin, Fan Jianying sudah menyela ucapannya.
“ Sikembar, Heyna dan Hira. Biarkan mereka membereskannya, kita tunggu sebentar disini…”, ucap Fan Jianying sambil menatap awas ke sekeliling.
Para bandit sama sekali tidak menyangka jika posisi persembunyian mereka dalam gelap mampu dideteksi oleh targetnya.
Karena tidak memiliki persiapan dan tidak menyangka akan diserang terlebih dahulu, para bandit yang lengah langsung saja dihabisi Heyna dan Hira dengan mudah.
Cringggg......crimggg......
Crashhhh.....crashhhh.....crashhhh.......
Bunyi pedang beradu , terdengar nyaring ditelingga semua orang. Tak lama kemudian banyak mayat sudah berjatuhan ditanah dalam kondisi mengenaskan.
Kondisi malam yang cukup gelap, membuat si kembar bebas beraksi tanpa ketahuan dengan gerakan cepat.
“ Apa kita perlu membantu mereka tuan ?....”, tanya salah satu anggota Black Tiger sambil menatap ngeri kebawah.
Melihat para bandit tersebut dihabisi dengan sadis oleh dua gadis muda yang diduga sebagai pengawal bayangan targetnya.
“ Tidak usah…sebaiknya kita mempersiapkan rencana yang matang dulu sebelum mati konyol ditangan mereka…”, ucap Nomura sambil melambaikan satu tangannya agar semua anak buahnya mundur.
Fan Jianying yang melihat jika semua bandit sudah dihabisi oleh sikembar akhirnya kembali naik kedalam kereta dan menyuruh kusir untuk melaju bersama para pengawal.
Heyna dan Hira yang sudah ketahuan jika keduanya mengikuti madam ketiga Bai tersebut akhirnya bergabung bersama para pasukan yang mengawal perjalanan Fan Jianying dalam gelap.
Para pengawal melirik kedua gadis itu dengan ngeri waktu kereta kuda melewati tikungan dimana banyak tubuh para bandit bersimbah darah dengan kondisi mengenaskan tergeletak disamping kanan dan kiri jalan yang mereka lalui.
Meski gelap, tapi mereka masih melihat darah yang berceceran dijalan melalui penerangan yang mereka bawa.
Sementara itu, Heng Yuan yang sudah menyiapkan semua perlengkapan yang akan dibawanya menuju wilayah perbatasan timur menyuruh one, pasukan rahasia miliknya untuk menyampaikan surat kepada Fan Jianying.
“ Pastikan, Fan Jianying sendiri yang menerima. Jika perlu, culik dia dan bawa kemari….”, perintah Heng Yuan tajam.
Sebelum dia berangkat untuk menjalankan misi, Heng Yuan ingin bertemu dengan kekasih masa kecilnya itu terlebih dahulu.
__ADS_1
Belum ada sepuluh menit menjalankan tugasnya, one sudah datang menghadap dan langsung berlutut dihadapannya dengan tubuh bergetar.
Melihat ekspresi one yang tegang, Heng Yuan sudah bisa menebak bahwa pasukan rahasianya itu gagal menjalankan tugasnya.
“ Dimana Fan’er !!!...”, bentak Heng Yuan nyalang.
“ Mohon ampun tuan, nona kedua Fan sudah pergi meninggalkan kediaman keluarga Bai…”, ucap one dengan bibir bergetar.
“ Pergi kemana ?...apa ke kediaman keluarga Fan ?...”, ucap Heng Yuan sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam.
“ Ampun tuan, nona Fan Jianying pergi ke pegunungan Weixi untuk menjalani perawatan disana…”, ucap one menjelaskan.
One mulai menceritakan semua informasi yang telah didapatkannya waktu menyelinap masuk kedalam kediaman Bai dari mulut para pelayan yang terlihat sedang berkumpul dengan sedih melepas kepergian nyonya mudanya yang menderita sakit parah.
" Bagaiamana bisa Fan'er memiliki menyakit tersebut tanpa ada tanda apapun sebelumnya....", batin Heng Yuan sedih.
Tubuh Heng Yuan seketika merosot kelantai waktu mendengar penyakit yang diderita oleh kekasih masa kecilnya itu sama dengan penyakit yang diderita oleh Ratu Shua dulu.
Siapapun tahu bagaimana mematikannya penyakit yang diderita oleh Ratu Shua tersebut. Heng Yuan sama sekali tak bisa membayangkan bagaiamana dirinya jika sampai Fan Jianying pergi meninggalkannya.
“ Ini semua adalah kesalahan Bai Cheung !!!...jika saja dia tidak menikah dengan Fan’er dan membawanya masuk kedalam keluarga Bai, Fan’er mungkin sekarang sudah hidup bahagia bersamaku…”, batin Heng Yuan geram.
Diapun segera menyuruh anak buahnya untuk bersiap karena dia ingin pergi kewilayah perbatasan timur malam ini juga.
Heng Yuan ingin segera menghabisi Bai Cheung secepatnya karena merasa lelaki itulah yang harus bertanggung jawab atas kesehatan Fan Jianyimg yang buruk.
Sambil menunggu kedatangan Heng Yuan, two dan seven yang sudah lebih dulu sampai di perbatasan wilayah timur mulai menjalankan aksinya.
Mereka dengan sangat hati – hati mulai menyebarkan laba- laba mutasi di sebelah barat kamp dengan sasaran gudang persediaan pangan.
Laba – laba mutasi langsung bergerak cepat begitu sangkar yang mengurung mereka dibuka. Seperti sudah dikomando, semuanya segera menuju kesebuah bangunan kayu yang berada disamping dapur kamp tempat persediaan pangan pasukan berada.
Warna laba – laba yang hitam mampu menyamarkan keberadaan mereka dalam kegelapan. Apalagi gerakan mereka yang cepat dan sama sekali tidak menimbulkan suara membuat misi berjalan mulus tanpa memancing kecurigaan para petugas jaga.
Setelah sampai di gudang, melalui sela – sela kayu, laba – laba mutasi berhasil masuk dan dalam sekejap mata gudang tersebut sudah diselimuti oleh jaring laba – laba yang penuh dengan racun.
Warna makanan yang ada dalam gudangpun langsung menghitam dan membusuk dengan cepat begitu jaring laba – laba beracun tersebut menyentuhnya.
Seven yang berhasil menyelinap masuk tersenyum puas waktu melihat semua bahan pangan yang ada dalam gudang sudah terkena racun dan membusuk.
“ Bos pasti senang dengan sambutan yang aku berikan ini…”, batin seven senang.
Setelah tugasnya selesai, laba – laba mutasi tersebut segera diinstruksikan untuk kembali lagi kedalam sangkarnya, menunggu tugas selanjutnya yang akan mereka jalankan.
__ADS_1