CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PERGI KE KOTA FUSHOU


__ADS_3

Malam semakin larut, jalanan sudah sepi dan  rumah – rumah wargapun sudah gelap sebagai tanda jika penghuninya sudah tertidur lelap.


Hanya ada beberapa petugas yang berpatroli keliling untuk menjaga keamanan kota, meski penduduk yang mereka miliki sangat kecil namun mengingat jika posisi mereka berada di pintu gerbang perbatasan maka kapanpun itu mereka harus siap siaga menjaga kota.


Anak buah Heng Yuan sudah siap di beberapa titik kota untuk melepaskan sebagian kecil katak mutasi.


Mereka hanya ingin menguji racun yang ada di tubuh katak mutasi sebelum dipergunakan untuk menyerang kota Fushou dimana kamp militer berada.


Para penjaga malam terlihat terkejut waktu tiba – tiba ada cairan hijau menyembur mengenai tubuh mereka.


Selanjutnya, kulit tubuh mereka yang terkena lendir langsung memerah dan bengkak seperti bisul sebelum akhirnya meletus menyemburkan cairan nanah yang sangat bau.


Dan proses bekerjanya racun dalam cairan tersebut cukup cepat. Hingga membuat si penderita kesakitan dan menderita sebelum ajal menjemputnya.


“ Ini sama seperti yang ada dalam mimpi…”, batin Fan Jianying merasa de javu.


Hira dan pasukan bayangan yang melihat hal kejam tersebut bergidik ngeri. Namun anehnya mereka sama sekali tak bisa melihat hewan apa yang menyemburkan lendir berwarna hijua tersebut.


Untung saja Fan Jianying sudah mengantisipasi akan hal tersebut. Diapun segera meneteskan obat dikedua matanya agar bisa melihat pergerakan katak mutasi.


Hira dan pasukan bayangan juga disuruhnya untuk meneteskan obat tersebut kedalam mata mereka masing – masing.


Meski rasanya sangat perih, namun selanjutnya dari kejauhan mereka bisa melihat katak mutasi transparan tersebut bergerak.


Fan Jainying yang sudah menyiapkan semua peralatannya segera menyuruh anak buahnya untuk memakai jas plastik yang menutupi seluruh badan mereka dan dia juga memberikan masker wajah serta memberikan sebuah pistol air.


Semua orang terlihat sedikit binggung dengan benda pipih yang dipegangnya tersebut.


Namun setelah Fan Jianying memberikan contoh dengan menembakkanya dibagian luar kulit katak mutasi, barulah mereka paham dan bisa menggunakannya.


Dengan gerakan cepat Fan Jianying beserta pasukannya bisa menghalau habis katak mutasi yang sengaja anak buah Heng Yuan sebar dikota Zhangzhou.


Seven dan two yang mengawasi uji coba kali ini terlihat geram dan langsung menyerang Fan Jiianying beserta anak buahnya begitu mereka menyadari jika ada orang asing yang mengganggu tugas keduanya.


Pertempuran tak seimbang tersebut tentunya dapat dimenangkan oleh Fan JIanying dengan sangat mudah.

__ADS_1


Ternyata pistol air tersebut cukup ampuh, selain bisa melemahkan katak mutasi sehingga mudah untuk dimusnahkan.


Racun yang ada didalamnya juga cukup efektif untuk melukai musuh. Seven dan two  terlihat sesak nafas setelah terkena cairan yang keluar dari benda aneh yang mengarah kepadanya langsung tersebut.


Dengan secepat kilat, karena kalah jumlah dan terkena racun mereka berdua segera melarikan diri melalui jalan tikus yang tanpa bisa terkejar.


Fan Jianying yang kembali kepenginapan merasa kecolongan waktu mengetahui jika Heng Yuan dan anak buahnya sudah pergi dari penginapan bersamaan dengan katak mutasi dikeluarkan.


Heng Yuan beserta anak buahnya segera pergi begitu melihat jika lendir hijau yang dikeluarkan oleh katak mutasi bisa menghabisi nyawa seseorang kurang dari lima menit.


Dia meninggalkan seven dan two bersama beberapa katak mutasi untuk memastikan seberapa cepat pergerakan katak mutasi dalam mencari dan menghabisi mangsa – mangsanya.


Tanpa mereka ketahui jika Fan Jianying beserta anak buahnya bisa menghentikan pergerakan katak mutasi dengan mudah.


Two dan seven yang terkena racun untuk sementara waktu tinggal di dalam gudang kosong yang terbengkalai di sudut kota.


Mereka berencana berdiam dulu disini untuk menyembuhkan racun yang masuk kedalam tubuh mereka sebelum menyusul Heng Yuan dan melaporkan semuanya.


Melihat musuh - musuhnya sudah kabur, Fan Jianying pun segera masuk kedalam kamar bersama anggotanya untuk mendiskusikan semuanya.


“ Menurut kalian, kemana kawanan tersebut lari ?...”, tanya Fan Jianying penuh selidik.


" Kita juga bisa minta bantuan kamp militer yang ada disana untuk membantu mengevakuasi warga agar terhindar dari serangan katak mutasi....", ucap Bingwen, salah satu pasukan bayangan milik kaisar Huang memberi saran.


“ Kamp. Militer ?...”, ucap Fan Jianying binggung.


“ Benar nyonya,  kamp militer tempat tuan muda ketiga berada sekarang…”, ucap Hira menimpali.


Glekkk….


Fan Jainying terlihat sedikit kesulitan untuk menelan ludahnya saat ini. Tampaknya dia perlu mandi kembang tujuh rupa agar nasib sial yang mengikutinya sepanjang perjalanan bisa hilang.


Selain dikejar oleh pembunuh bayaran sejak keluar dari ibukota, membasmi hewan mutasi, dan sekarang harus menerima keadaan jika dirinya akan bertemu dengan sang suami.


Sosok yang paling tak dia harapkan untuk bertemu saat ini hingga misteri panggilan jiwanya di hutan kematian berhasil dia jalankan dengan baik.

__ADS_1


“ Benar nyonya, jika anda menemui tuan muda ketiga Bai tentunya akan lebih mudah lagi…”, ucap Bingwen membuyarkan lamunan Fan Jianying.


“ Baiklah…kita pergi sekarang juga agar tidak terlambat….”, ucap Fan Jianying langsung berkemas.


Fan Jianying berpesan agar selama perjalanan mantel dan masker yang mereka pakai jangan sampai terlepas.


Hal itu sebagai keamanan jika nantinya dalam perjalanan mereka menemui hewan mutasi yang berbahaya.


Fan Jianying juga mengisi ulang pistol air yang para prajurit bawa sekalian dengan satu botol isi reffilnya serta cara mengisi cairan racun tersbut kedalam pistol.


Dia juga mengingatkan agar jangan sampai cairan dalam pistol tersebut menyentuh kulit mereka jika tidak ingin hal buruk terjadi.


Mengingat perjalanan akan sangat panjang dan melelahkan, Fan Jianying segera meminta mereka untuk memakan roti lapis daging dan biskuit yang dibuatnya agar perut mereka dapat tenang selama perjalanan.


Tak lupa Fan Jianying juga memberikan masing – masing orang satu botol minuman penambah energy yang sudah dia siapkan agar stamina mereka tetap terjaga.


Agar cepat sampai, mereka semua mengikuti pergerakan pasukan bayangan milik kaisar Huang yang cukup familier dengan medan gersang tersebut.


Bingwen,  yang memimpin perjalanan terus menatap awas dalam kegelapan. Berkat obat tetes mata yang diberikan oleh Fan Jianying tadi, suasana gelap didepan tak menghalangi mereka untuk bergerak maju karena semua dapat terlihat dengan jelas.


Mereka berada di gerbang kota Fushou begitu matahari terbit dari timur. Susana kota yang sepi membuat semua orang hanya melaluinya saja tanpa berniat untuk singgah.


Kali ini kuda berjalan cukup pelan karena berada didalam kota. Meski sepi, namun ini sebagi bentuk kesopanan memasuki wilayah orang lain.


Fan Jianying dan ketujuh anak buahnya sampai di kamp militer pada saat semua prajurit sudah selesai sarapan dan hendak melakukan latihan rutin mereka.


Melihat tujuh orang menunggang kuda dengan pakaian yang cukup aneh, dua orang prajurit langsung menghadang dan memberhentikan mereka.


Bingwen pun segera turun dan bergegas menghampiri penjaga gerbang kam militer tersebut sambil mengeluarkan plankat dari dalam kantongnya.


“ Sampaikan ke jenderal besar Tian…”, ucap Bingwen sambil menyerahkan plankat pemberian kaisar Huang kepada penjaga.


Prajurit yang menerima plankat tersebut segera berlari kedalam dan menunjukkannya kepada jenderal besar Tian yang ada dalam tendanya.


“ Bingwen…ada apa dia kesini ?...”, guman jenderal besar Tian penasaran.

__ADS_1


Diapun segera melangkah keluar tenda bersama prajurit yang menjemputnya dengan benak penuh pertanyaan kenapa kaisar Huang mengirim pasukan bayangan miliknya kewilayah perbatasan timur.


“ Apa ada hal buruk terjadi di ibukota ?...”, batin jenderal besar Tian gelisah.


__ADS_2