CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PERGERAKKAN


__ADS_3

Setelah menyelesaikan beberapa dokumen di meja kerjanya, Bai Cheung pun kembali kedalam kamarnya untuk mandi dan beristirahat.


Baru saja dia masuk, Bai Cheung melihat Fan Jianying baru saja selesai mandi dan hanya memakai pakaian tengahnya yang tipis dengan satu tangan memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


Gadis muda tersebut terlihat sangat berbeda dari setahun yang lalu pada saat dinikahinya.


Meski tubuhnya masih kecil munggil, namun entah kenapa dia melihat ada perkembangan yang signifikan dibagian tertentu dari tubuhnya.


Pakaian tengahnya sedikit lembab dan Bai Cheung hampir bisa melihat apa yang ada dibalik baju tersebut dengan jelas.


Hal itu tentu saja membuat Bai Cheung kesulitan untuk menelan ludahnya dan merasakan tenggorokannya sangat kering saat ini.


Fan Jianying terlihat seperti kuncup bunga yang sedang mekar dengan aroma yang sangat harum, membuat mabuk siapa saja yang mendekatinya.


Rambut hitam panjangnya yang basah, sebagian ada yang menempel diwajah cantiknya yang bersemu kemerahan.


Dan pada saat rambut tersebut disingkirkan dapat dia lihat leher jenjang dengan kulit seputih salju terpampang jelas disana.


Fan Jianying terlihat menghela nafas pelan beberapa kali sambil menatap cermin besar dihadapannya.


Sepasang mata bunga persik itu sedikit melengkung dan bulu matanya menggantung dalam lekungan yang indah.


Dari sudut ini, alisnya yang lembut dan indah terlihat seperti roh yang keluar dari dalam lukisan tapi sorot matanya terlihat sangat dingin, sama sekali tidak memperlihatkan senyuman.


“ Sungguh pemandangan yang sangat indah….”, guman Bai Cheung terpesona.


Kesadaran Fan Jianying segera kembali waktu mendengar ucapan suaminya. Diapun tersenyum lembut dan langsung menghampiri Bai Cheung setelah meletakkan handuk basah yang ada ditangannya ditempatnya.


“ Apa suami lelah ?...istri sudah menyiapkan air hangat untuk mandi….”, ucap Fan Jianying sambil membantu suaminya melepaskan pakaian luar tubuhnya.


“ Apakah istri tak ingin memandikan suami malam ini ?....”, tanya Bai Cheung dengan nada menggoda.


Mendengar ucapan vulgar suaminya, wajah Fan Jianying langsung memerah seperti kepiting rebus.


Meski mereka sudah sering melakukannya, tapi mendengar suaminya berkata seperti itu Fan Jianying masih merasa malu.


Dia tentu sangat tahu akan maksud perkataan suaminya itu. Dia baru saja selesai mandi, tidak mungkin dia akan mandi lagi.


Lagipula, tadi pagi sebelum beraktivitas suaminya itu sudah memintah jatahnya dua kali. Dan sekarang, dia akan meminta lagi.


Fan Jianying menahan diri untuk tidak menggigil. Dia benar – benar masih belum terbiasa mendengar suaminya berkata bebas seperti itu dengan menggunakan nada lembut selama berbicara

__ADS_1


“ Apakah semua laki – laki beristri akan seperti ini ?....”, Fan Jianying bermonolog dalam hatinya sambil bergidik ngeri.


Melihat semburat merah diwajah sang istri, Bai Cheung yang merasa gemas kembali menggoda istrinya.


“ Bukankah istri ingin segera memberikan kabar baik untuk keluarga Bai. Jadi, kita harus bekerja lebih keras lagi…. ”, ucap Bai Cheung sambil mengusap perut rata Fan Jianying.


Tubuh Fan Jianying langsung meremang begitu tangan kekar tersebut menyentuh perutnya yang rata dengan lembut.


Desir halus mulai mengusik peredaran darahnya dan Fan Jianying mulai merasa jika pasokan oksigen dalam ruangan berkurang drastis hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.


Melihat istrinya membeku dengan wajah sangat merah, Bai Cheung pun segera menghentikan aksinya.


“ Aku mandi dulu ya istriku….”, bisik Bai Cheung dengan suara berat yang bergetar.


Melihat wajah istrinya semakin merah padam karena ulahnya, Bai Cheung berjalan menuju kamar mandi sambil terkekeh.


Merasa telah dipermainkan, Fan Jianyingpun mengumpat penuh amarah. Bai Cheung yang mendengar makian sang istri yang ditujukan kepadanya langsung tertawa terbahak – bahak, membuat Fan Jianying bertambah kesal.


Setelah menyiapkan pakaian suaminya, Fan Jianying segera menyambar salah satu jubah dialmari pakaiannya dan bergegas keluar.


Baru saja dia melangkah keluar kamar, Feng yang ditugaskan oleh kaisar Huang untuk menjadi pengawal bayangan Fan Jianying muncul membawa pesan jika Heng Yuan kembali membentuk pasukan rahasia diperbatasan kota Banjiwen.


“ Gabung dengan Jian dan Guang disana. Habisi semuanya sampai tak tersisa !!!…”, perintah Fan Jianying tegas.


“ Ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya….”, batin Feng bermonolog.


Setelah Feng tahu jika Fan Jianying adalah putri bungsu kaisar Huang Lo dengan permaisuri Wei, dia tak lagi terkejut jika madam ketiga Bai tersebut memiliki sifat pemberani dan keji seperti itu.


Diapun bergegas menuju kota Banjiwen untuk menjalankan misi yang diberikan kepadanya.


Sementara itu, Heng Yuan yang tak mengetahui jika ada bahaya yang sedang mengintainya masih fokus pada pasukan yang baru saja dibentuknya itu.


Bukan hanya para bandit dari beberapa kota yang berhasil dikumpulkannya, tapi dia juga mengakomodir para prajurit yang dibuang oleh negara karena dianggap tidak loyal.


Sehingga api dendam dalam diri mereka dapat dijadikan amunisi bagi Heng Yuan untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah.


Meski kembali kecewa, tapi Ratu Qinly mengapresiasi atas tindakan pencegahan yang berhasil dilakukan oleh Heng Yuan setelah pasukan yang dibentuknya tercerai berai.


Ratu Qinly juga mengingatkan Heng Yuan agar memiliki plan A, plan B, dan plan C dari setiap langkah yang akan diambilnya.


Hal ini dipergunakan untuk mengantisipasi kembali gagalnya rencana yang  telah mereka susun dengan rapi tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai berkutat didapur, Fan Jianying segera membawa kudapan malam untuk suaminya bersama segelas coklat hangat.


Bai Cheung terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam waktu melihat makanan aneh yang disediakan istrinya malam ini diatas meja.


“ Makanan apa ini, kenapa ada benda meleleh diatasnya menyerupai ingus…menjijikkan….”, batin Bai Cheung geli.


Tapi begitu melihat sang istri begitu menikmati makanan tersebut dan aroma yang keluar begitu harum menggoda, dengan ragu Bai Cheung berusaha untuk mengambil sepotong.


“ Kenapa kamu ragu begitu, coba ini…enakkan….”, ucap Fan Jainying sambil memasukkan potongan terakhir pizza yang ada ditangannya.


Fan Jianying baru saja mendapatkan pizza dialmari masa depan miliknya yang berada di dalam cincin ruang.


Karena sudah lama tak memakan makanan tersebut, diapun segera membawanya untuk disantap bersama sang suami.


“ Ini…sangat lezat….”, ucap Bai Cheung dengan kedua mata berbinar.


Diapun langsung mengambil sepotong pizza dan memakannya dengan lahap sambil sesekali memejamkan kedua matanya, menikmati perpaduan tuna pedas, jagung manis, bawang Bombay, paprika dan keju mozzarella yang meleleh dan membaur menjadi satu.


Membuat mulutnya terus saja bergoyang hingga tak terasa satu piring besar pizza telah Bai Cheung habiskan sendiri.


Fan Jianying hanya memakan dua slice saja dan membiarkan sisanya dimakan sang suami yang baru pertama kali menikmati makanan lezat itu.


“ Apa nama kudapan ini ?....”, tanya Bai Cheung begitu potongan terakhir masuk kedalam mulutnya.


“ Ini namanya pizza….”, ucap Fan Jianying tersenyum lebar.


“ Pilsa…”, ucap Bai Cheung mengulang perkataan istrinya.


“ Bukan pilsa, tapi pizza….”, ucap Fan Jianying membenarkan.


“ Ohhh…pisa….”, ucap Bai Cheung menirukan.


Meski belum terlalu tepat, tapi Fan Jianying tak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Diapun segera mengusap sudut bibir suaminya yang belepotan saos pizza dengan saputangan.


Wajah mereka yang dekat membuat mata keduanya saling bertatapan cukup lama, hingga tiba – tiba ada benda lembut menyentuh bibir Fan Jianying  dan malam panaspun kembali terjadi.


Jika sudah begini, Fan Jianying hanya pasrah mengikuti alur yang ada tanpa bisa melakukan perlawanan apapun.


Karena tubuhnya sama sekali tak bisa menolak setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya dan seakan menikmatinya.


Hal tersebut tentu saja membuat Bai Cheung sangat bahagia dan kembali menerkam istrinya dengan ganas untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini.

__ADS_1


Bai Cheung mengecup kening sang istri beberapa kali sambil tersenyum hangat melihat sang istri kelelahan akibat olah raga malam yang baru saja mereka jalani.


“ Cepat tumbuh ya nak…ayah sangat menantikan kehadirannmu…”, ucap Bai Cheung sambil mengecup perut rata Fan Jianying dengan sepenuh hati.


__ADS_2