CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 33. Pendekatan Damian


__ADS_3

Suasana sebuah ruang kelas 6 sekolah dasar di kampung terdekat, tampak tenang dan santai. Terlihat Vera sangat mahir dalam memberikan arahan dan penjelasan kepada anak-anak itu. Pasti karena Vera sudah terbiasa mengajar anak-anak TK dahulu.


Senyum kagum tersirat dari bibir Damian yang tidak henti-hentinya menatap Vera. Wanita yang sungguh sangat mempesona ketika sedang bekerja. Senyum manisnya yang sesekali menghias, membuat Vera semakin terlihat menawan. Bibir yang tipis dan agak kemerahan itu, terlalu mahir dan menghipnotis dirinya.


Damian mendekati Vera dan mencium bibir Vera yang terlihat gelagapan karena ciuman Damian yang tiba-tiba. Damian melupakan Haikal saat ini, mereka sedang. Berada di depan kelas dihadapan anak-anak sekolah dasar yang masih sangat kecil dan belum pantas untuk melihat semua ini.


Plakkk.


Tamparan keras Vera membekas di pipi Damian. Damian berteriak kesakitan sambil memegangi pipinya.


"Pak Damian, Pak Damian. Ada apa, kenapa berteriak?" tanya Vera yang sudah selesai memberi penjelasan pada anak-anak itu.


Damian sangat kaget dan terkejut, ternyata dia sedang berkhayal mencium Vera. Senyum malu tampak jelas di wajahnya.


"Vera, tadi ada nyamuk yang menggigit pipiku. Sakit tahu," jawab Damian berbohong.


"Oh, ya. Hari ini kita sudah selesai, jadi kita kembali dulu. Saya sudah pesan, pada guru wali murid untuk mendata, siapa yang mau mendaftar di sekolah kita," ucap Vera sambil membereskan barang-barang bawaannya.


Damian membantu Vera membawakan tasnya. Setelah mereka berpamitan pada guru dan anak-anak, mereka bergegas pergi.


Sepanjang jalan, Damian tersenyum-senyum sendiri mengingat khayalannya tadi. Bisa-bisanya dia berpikiran mesum pada Vera. Kalau sampai Vera tahu apa yang ada dipikirannya tadi, dia pasti akan benar-benar menamparku.


Tiba-tiba, Damian mengerem mobilnya secara mendadak sehingga membuat Vera kaget. Vera langsung menatap Damian dengan wajah kesalnya. Damian terlihat tersenyum menyeringai karena dia tahu kalau dia yang bersalah telah membuat Vera kaget.


"Maaf, aku tidak fokus," ucap Damian sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Pak Damian ini kenapa, sejak dari sekolah, terlihat senyum-senyum sendiri. Memangnya ada yang lucu?" tanya Vera.

__ADS_1


"Nggak ada. Aku hanya teringat saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu, aku pikir kamu gadis manja yang sedang lari dari rumah. Ternyata malah seorang guru," ucap Damian sambil geleng-geleng kepala.


"Memangnya guru bukan manusia? Seorang guru juga memiliki privasi. Juga memiliki sifat bawaan yang kadang bisa manja dan cengeng. Walupun kalau di depan anak-anak didiknya, semua itu harus di simpan rapat-rapat," ucap Vera sambil menghela napas berat.


Damian tersenyum kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka pergi ke sebuah rumah makan sederhana untuk makan siang. Mereka turun dan segera memesan makanan. Damian berinsiatif melayani Vera dengan mempersiapkan tempat duduk untuk Vera. Meskipun hal itu malah membuat Vera merasa canggung.


Sambil menunggu pesanan datang, Damian kembali berusaha membuat Vera canggung dengan menatapnya intens. Vera ingin sekali memukul Damian kali saja tidak ingat bahwa Damian adlah atasan Vera.


Damian berhenti menatap Vera setelah pesanan mereka datang. Damian dan Vera berdoa terlebih dahulu sebelum mulai menyantap makanan yang ada di depan mereka. Vera berusaha bersikap biasa saja dan menghilangkan rasa canggungnya, agar dia bisa makan dan menikmatinya dengan nyaman.


Saat makanan menempel di sudut bibir Vera, Damian segera mengambil dan membersihkannya. Hal itu membuat Vera kembali merasa canggung.


"Maaf, tadi benar-benar terlihat kotor. Takutnya kamu nanti di tertawakan orang lain," ucap Damian mencari pembenaran atas kelakuannya.


Vera terdiam dan seolah percaya dengan apa yang dikatakan Damian. Kalau tidak dibersihkan, pasti dia bisa di tertawakan orang yang melihatnya.


"Sama-sama," jawab Damian senang.


Mereka meneruskan makan tanpa sepatah kata lagi. Hingga saatnya mereka pergi setelah Damian membayar makanan mereka. Vera keluar terlebih dahulu menuju mobil Damian. Saat itu, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Vera dan langsung berkata kasar pada Vera.


"Vera, kamu ini wanita tidak tahu diri. Bukannya kamu mau menikah dengan Doni, tapi kamu di sini malah berdua-duaan dengan pria lain. Ngaca, Vera. Kamu kira kamu Cinderella yang dicintai banyak pria. Wajah saja pas-pasan gitu, berasa sok cantik," ucap Citra, gadis yang ternyata akan dijodohkan dengan Doni oleh orangtuanya. Tetapi Doni menolak karena memilih Vera.


"Maaf ya, Citra. Aku bersama siapa, bukan urusan kamu. Sekarang aku sedang menjalankan tugas, dan tidak sedang ingin membicarakan masalah pribadi," ucap Vera tegas.


"Hei, kamu ternyata sangat sombong, Vera. Kamu lepaskan Doni dan aku akan berhenti mengganggumu!" terima Citra.


"Memangnya aku mengikat Doni? Aku sama sekali tidak mengikat dia. Kalau kamu bisa, kamu ikat saja dia dan kasih congok supaya dia nurut sama kamu. Enak saja menuduh orang sembarangan," ucap Vera mulai emosi.

__ADS_1


"Kamu ... kamu pasti belum bisa melupakan Rendra, bukan? Rendra mencampakkan kamu. Kasihan sekali," ucap Citra lagi untuk memanas-manasi Vera." Karena kamu sudah tidak ada yang mau, lalu kamu merayu Doni. Menjijikkan."


"Citra, aku sudah cukup bersabar mendengar semua omongan kamu. Jangan sampai kita berantem di sini dan menjadi tontonan orang. Terserah, kamu mau ngomong apa tentang aku," ucap Vera sambil meninggalkan Citra.


Citra yang masih belum puas, berjalan cepat dan mendorong tubuh Vera dengan keras. Vera kehilangan keseimbangan dan akhirnya dia terjatuh. Anehnya, Vera tidak merasakan sakit. Rupanya, Damian melihat apa yang dilakukan Citra dan bergegas menjadi tumpuan tubuh Vera.


Citra yang melihat Damian terluka, segera pergi dan meninggalkan tempat itu. Dia takut, akan dilaporkan ke kantor polisi. Sementara, Vera segera bangkit dan membantu Damian berdiri.


"Apakah ada yang terluka?" tanya Vera panik.


Damian merasa sangat bahagia melihat Vera sangat mengkhawatirkannya.


"Aduh, lenganku sepertinya terkilir," ucap Damian memegangi lengan kanannya yang tadi untuk menopang tubuh Vera.


"Ayo, kita ke tukang urut," ajak Vera.


"Kemana, tukang urut? Bukannya ke dokter?" tanya Damian yang masih belum terbiasa dengan situasi di kampung.


Vera kemudian menjelaskan, jika ada yang jatuh pastinya pergi ke tukang urut dulu, Bru ke dokter. Setelah mendengar penjelasan Vera, Damian hanya menurut saja ikut kemanapun Vera membawanya.


Vera pergi meminjam sepeda motor dari salah satu warga dengan jaminan mobil Damian. Damian naik sepeda motor bersama Vera menuju ke ruang tukang urut. Untung saja pak Beni ada di rumah, sehingga Damian bisa segera di tangani.


Terdengar suara teriakan Damian yang ternyata tidak tahan sakit. Karena itu, Vera ikut masuk dan memberi semangat pada Damian dengan memegang tangan yang satunya. Damian memanfaatkan hal ini untuk lebih dekat dengan Vera.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2