
Menjelang malam, langit terlihat berwarna merah kekuningan yang hangat. Burung – burung mulai kembali kedalam sangkarnya dan hewan malam perlahan mulai keluar untuk mencari makan.
Namun suasana hangat tersebut tak sampai kedalam hati para pekerja yang ada dikediaman Bai. Hati semua orang masih sangat dingin ketakutan akibat peristiwa berdarah yang terjadi siang tadi.
Setelah matriark Bai dan pelayan senior Yu memastikan bahwa kedua pelayan yang menaruh racun kedalam makanan Fan Jianying adalah pelayan dari kediaman pertama milik Bai Axiang.
Dimana kedua pelayan tersebut diperbantukan didapur utama sementara waktu karena dua pelayan yang seharusnya bertugas tiba – tiba jatuh sakit.
Membuat matriark Bai segera melakukan tindakan tegas. Tak mau mengambil resiko lebih dalam lagi wanita tua itu langsung mengganti semua pelayan yang ada dikediaman pertama milik Bai Axiang, meski tanpa persetujuan pemiliknya.
Dia tak mau jika nantinya ada kejadian serupa didalam kediaman Bai seperti yang terjadi siang tadi. Jujur wanita tua tersebut sangat terkejut karena hal tersebut baru pertama kali ini terjadi dikediamanannya.
Selama ini seluruh pelayan yang ada dikediaman Bai sangatlah jujur, pekerja keras dan loyal kepada majikannya.
Memang matriark Bia merasa sedikit kecolongan waktu mengijinkan madam Chou memilih sendiri pelayan untuk kediamanannya dari luar.
Dan hanya beberapa orang saja yang merupakan pelayan dari kediaman Bai, itupun bisa dihitung dengan jari.
Dalam perombakan besar – besaran ini, matriark Bai memecat seluruh pelayan yang ada dikediaman utama dan mengantikannya dengan yang baru.
Dimana para pelayan tersebut merupakan orang – orang milik keluarga Bai yang loyal kepada mereka.
Sedangkan untuk dua pelayan yang melayani madam Chou secara pribadi serta pelayan yang melayani dua putrinya little Fen dan little Kew, matriark Bai memulangkan mereka ke keluarga Ming sebagai bentuk peringatan.
Meski tak mau berkonfrontasi secara langsung dengan keluarga Ming, tapi hal yang diperbuat oleh madam Chou sudah terlalu jauh sehingga hanya ini langkah yang bisa matriark Bai ambil saat ini.
Dan untuk madam Chou yang saat ini masih menjalani hukuman didalam ruang doa, matriark Bai masih binggung apa yang akan dia lakukan kepada cucu menantu perempuan pertamanya itu.
“ Jika Fan’er benar – benar adalah putri kandung kaisar Huang, tentuanya Yang Mulia Kaisar tak akan tinggal diam mendapati putrinya kembali akan dibunuh oleh madam Chou….”, batin matriark Bai sedih.
Matriark Bai sangat berharap cucu pertama laki – lakinya segera pulang kerumah agar dia bisa membahas masalah besar ini dengannya.
Karena masalah yang ada ternyata tak sesederhana kelihatannya dan sudah melibatkan keluarga kekaisaran, meski saat ini status Fan Jianying masih belum diumumkan secara resmi dan terbuka.
Sampai saat ini matriark Bai masih terus bertanya – tanya apa kira – kira yang mendasari madam Chou hingga begitu membenci Fan Jianying bahkan sampai berkeingginan untuk melenyapkannya.
Selama ini hubungan diantara keduanya cukup baik meski keduanya tidak bisa dibilang dekat karena jarang terlihat berkomunikasi secara langsung tanpa adanya matriark Bai atau Lien Hua disana.
Setelah kejadian menghebohkan siang tadi, Fan Jianying terlihat menikmati waktu istirahatnya sore ini dengan tenang sambil memandang keindahan kolam ikan teratai yang dibuat khusus oleh suaminya dari balik jendela.
Wushhh….
Fan Jianying yang merasa ada orang berada disekitar jendela kamarnya segera menyuruh Dayu dan pelayan senior Gaeng untuk keluar dengan alasan dirinya ingin beristirahat sejenak sebelum makan malam.
__ADS_1
“ Meski terlihat dingin dan kejam, aku tahu jika nona pasti sangat ketakutan tadi. Dia berpura – pura tenang dan kuat agar musuh takut padanya. Dan itulah yang selalu diajarkan tuan besar kepada seluruh keluarga Fan…”, batin Dayu cemas.
“ Tapi yang membuatku terkejut, sejak kapan nona bisa menggunakan pedang ?....”, batin Dayu penuh tanda tanya.
Namun semua pertanyaan itu Dayu simpan dalam hati tak berani dia utarakan karena takut membuat nona mudanya semakin kepikiran.
Dan hal itu tak baik bagi kondisi kesehatannya saat ini serta janin yang ada dalam kandungannya.
Begitu semua pelayannya keluar, peramal Yan langsung masuk kedalam kamar dan berlutut memberi hormat kepada Ratunya.
“ Ada keperluan apa yang membuatmu mencariku kesini….”, tanya Fan Jianying datar.
Tanpa basa – basi, peramal Yan segera menjelaskan maksud kedatangannya sore ini ke kediaman Bai adalah untuk memberi peringatan kepada sang Ratu tentang bahaya yang ada didepan mata.
“ Apa maksdumu bayiku menyerap kekuatan ayahanda kaisar ?....”, tanya Fan Jianying binggung.
“ Hamba juga kurang begitu jelas akan hal ini. mungkin Kaisar Huang Lo bisa memberikan penjelasan yang lebih untuk anda….”, ucap peramal Yan sopan.
“ Tujuan hamba kesini selain memberi peringatan juga ingin menyerahkan ini….”, ucap peramal Yan sambil menyerakhan batu zamrud hijau seukuran buah salak kepada Fan Jianying.
“ Sebaiknya anda membuat kalung agar batu tersebut bisa dekat dengan jantung kaisar. Zamrud ini bisa membantu menjaga keseimbangan tubuh kaisar selama energy dan kekuatannya diserap oleh bayi yang ada dalam kandungan anda…. ”, ucap peramal Yan menjelaskan.
Setelah menjelaskan semuanya, tanpa aba – aba peramal Yan segera menghilang seperti angin yang berhembus tanpa jejak.
Baru saja Fan Jianying menutup jendela kamarnya karena hari sudah gelap, atensinya teralihkan begitu mendengar suara berisik dari luar.
Pintu kamar dibuka secara kasar oleh Bai Cheung ,begitu melihat Fan Jianying berdiri terdiam disamping jendela diapun segera berlari menuju tempat istrinya berada dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
“ Maafkan aku karena tidak becus menjagamu….”, ucap Bai Cheung sedih.
Bai Cheung segera pulang begitu Heyna melaporkan jika ada pelayan madam Chou berusaha meracuni Fan Jianying melalui makanan yang dapur utama siapkan.
Bukan hanya meletakkan racun dalam makanan, bahkan pelayan tersebut sempat menyerang madam muda ketiga Bai dengan pisau yang untungnya bisa segera dihentikan.
Dia takut istri dan calon anaknya terluka meski tadi Heyna mengatakan jika Fan Jianying sama sekali belum menyentuh makanan tersebut.
“ Apa istri terluka ?...lalu, bayi kita….”, tanya Bai Cheung panik.
Dia memutar – mutar tubuh istrinya, mencari apa ada luka disana. Melihat suaminya begitu panik, Fan Jianying berupaya untuk tersenyum lembut kepada Bai Cheung.
“ Aku tidak apa – apa. Untungnya indera penciumanku sangat sensitive akhir – akhir ini jadi aku bisa merasakan jika ada yang tak beres dalam makanan itu ….”, ucap Fan Jianying pelan.
“ Satu pelayan aku sisakan hidup agar bisa kamu introgasi. Dan…. untuk kepala itu, berikan kepada orang yang menyuruh mereka meracuniku….”, ucap Fan Jianying dingin sambil menatap kotak yang ada diatas meja.
__ADS_1
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Bai Cheung melangkah menuju kearah meja dan membuka kotak berisi kepala pelayan yang menyerang istrinya tadi.
“ Tenang saja…aku tak akan pernah membiarkan siapapun yang ingin mencelakai istri dan anakku hidup dengan tenang….”, ucap Bai Cheung penuh amarah.
“ Liam, bawa kotak ini !!!….”, perintah Bai Cheung tegas.
Setelah memastikan kondisi istri dan calon anaknya baik – baik saja, Bai Cheung segera keluar bersama Heyna menuju penjara bawah tanah miliknya.
Tidak ada yang tahu mengenai penjara bawah tanah ini karena Bai Cheung membangunnya secara rahasia untuk menggurung musuh – musuhnya.
Bahkan Fan Jianying juga tak mengetahui keberadaan ruang tersebut meski dia sudah mencurigai jika suaminya memiliki hal seperti itu di kediamanannya.
Liam bergidik ngeri melihat kepala pelayan yang tadi menyerang majikannya itu masih penuh dengan darah dengan kedua mata terbelalak.
Meski dia tahu jika nyonya mudanya tersebut pemberani tapi dia sama sekali tak menyangka jika gadis muda tersebut juga kejam sama seperti tuan mudanya.
Dengan penuh hati – hati, Liam segera menutup kotak tersebut dan mengangkatnya dari atas meja.
Diapun segera menyusul majikannya menuju ruang bawah tanah, menginterogasi pelayan yang dengan berani ingin mencelakai anak dan istri tuan mudah ketiga Bai itu.
“ Katakan !!!...siapa yang menyuruhmu !!!....”, ucap Bai Cheung dengan nada datar dan dingin.
Cressss….
Cap besi panas dengan tulisan “ pengkhianat ” tersebut kembali menyentuh kulit pelayan wanita itu hingga tulangnya yang putih terlihat.
“ Aku akan sedikit berbaik hati padamu jika kamu mau bersuara…”, ucap Bai Cheung sambil menyuruh Heyna untuk kembali meletakkan besi panas tersebut, kali ini di dahi pelayan tersebut.
Selain suara jeritan dan tangis kesakitan yang keluar dari mulut pelayan wanita itu, tak ada lagi yang bisa dilakukannya.
Dia tak mau mengorbankan nyawa seluruh anggota keluarganya yang telah disandera oleh Ming Huan, sehingga pelayan itu rela tersiksa seperti itu dan menutup mulut.
Begitu tubuh pelayan wanita tersebut sudah penuh dengan stempel “ pengkhianat ”, Bai Cheung yang sudah mulai bosan segera pergi meninggalkan sel.
“ Siram tubuhnya dengan air garam….”, perintah Bai Cheung sebelum berlalu.
Pelayan wanita tersebut kembali berteriak dengan nyaring setelah tubuh penuh luka tersebut disiram air garam.
Betapa perih dan menyakitkannya penyiksaan itu hingga penderitaan yang hebat tersebut tak kuat dia tanggung dan membuatnya jatuh pingsan kehabisan energy.
Heyna bergegas keluar begitu melihat tawanannya sudah pingsan akibat tak kuat menahan rasa sakit yang ada.
Ming Huan terlihat sangat terkejut waktu mendapatkan kepala pelayan yang ditugaskan untuk membunuh Fan Jianying dikirim kepadanya .
__ADS_1
Dalam paket tersebut dia juga mendapatkan ancaman jika seluruh keluarga Ming akan menanggung semua konsekuensi akibat perbuatannya tersebut satu persatu.
Dimana dalam surat tersebut semua tulisannya menggunakan tinta darah segar dari jari pelayannya yang telah dipotong ujungnya oleh Bai Cheung.