
Semua orang di negara Huangshan sangat tahu siapa itu keluarga Bai. Keluarga militer inilah yang sudah sejak jaman nenek moyang dulu selalu membantu negara Huangshan di medan perang dan membantu hingga terbentuknya negara makmur tersebut.
Meski jaman dahulu negara Huangshan tak seluas sekarang setelah kepemimpinan kaisar Huang Lo.
Namun tidak ada satu pun negara tetangga yang berani untuk mengusik ketenangan negara dengan julukan naga api tersebut karena kekuatan militer yang mereka miliki.
Siapa lagi jika bukan keluarga Bai yang menjadi ujung tombak kekaisaran. Meski memiliki kekuatan militer yang hebat, namun kaisar terdahulu sama sekali tak berambisi untuk memperluas wilayan negaranya.
Kaisar sudah puas dengan wilayah negara Huangshan yang tak sebegitu besar namun rakyatnya selalu hidup damai, aman dan sejahtera.
Ketenangan yang dirasakan oleh pemimpin negara Hungshan tersebut sedikit mengusik banyak negara tetangga yang iri hati akan kemakmuran dan kekuatan yang didapatkan oleh negara kecil namun makmur tersebut.
Mengajak berperang, jelas mereka tidak berani dengan adanya kekuatan militer keluarga Bai dinegara Huangshan.
Satu – satunya cara adalah dengan menyusupkan putri mereka untuk menikah dengan salah satu pangeran yang ada dinegara Hungshan.
Namun usaha tersebut selalu gagal karena para pangeran negara Hungshan tidak mudah untuk di rayu dan dihasut begitu saja.
Hingga era orang tua kaisar Huang Lo memimpin dimana pada saat itu entah kenapa kekuatan yang diwariskan oleh keluarga Bai secara turun temurun kepada anak mereka tiba - tiba menghilang sehingga kekuatan militer negara Hungshan mulai melemah.
Negara tetangga yang mengetahui hal tersebut akhirnya menggunakan kesempatan langkah itu untuk menyerang.
Peperangan sempat terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama hingga membuat rakyat sengsara karena kekurangan bahan pangan.
Meski keluarga Bai sudah tak mewarisi kekuatan dasyat tersebut, namun pengalam turun menurun mereka di medan pertempuran tak membuatnya goyah.
Sehingga pasukan lawan masih juga kesulitan untuk bisa menduduki negara Huangshan yang tak terlalu besar tersebut.
Huang Lo yang saat itu bergelar sebagai putra mahkota miris melihat kondisi negaranya semakin terdesak kebelakang akhirnya memutuskan untuk mengadakan pernikahan politik dengan Sua, putri pertama keluarga Zu dari kota Hifen.
Dengan adanya pernikahan politik inilah tentara milik keluarga Zu yang ada ditangan Shua secara otomatis mulai membantu negara Huangshan hingga memenangan pertarungan.
Namun kemenangan tersebut harus dibayar nyawa dua orang sekaligus, kaisar dan kakek Bai Cheung.
Setelah kematian sang ayah maka secara otomatis kursi pemerintahan diambil alih oleh putra mahkota Huang Lo yang merupakan anak resmi satu – satunya mendiang kaisar.
Huang Lo yang telah menjadi kaisar memiliki pola pikir dan kebijakan yang berbeda dengan sang ayah.
Agar tidak ada lagi negara yang berani menindas mereka, dirinya pun mulai melebarkan wilayah negara Huangshan dan terus melakukan peperangan sepanjang tahun demi mencapai ambisinya.
__ADS_1
Bai Hongli yang mengantikan posisi sang ayah terus mendampingi Kaisar Huang Lo dimedan perang untuk memperluas negara Huangshan.
Meski tak memiliki kekuatan nenek moyangnya, Bai Hongli yang sejak kecil sudah sering ikut sang ayahnya berlatih bersama pasukan kekiasaran tak gentar untuk terjun dimedan pertempuran.
Bai Hongli yang sejak usia sepuluh tahun sudah turun dimedan perang membuat kepala keluarga Bai tersebut tangguh di medan pertempuran.
Setiap negara yang akan mereka tundukkan selalu berhasil dimenangkan oleh Bai Hongli dan kaisar Huang Lo.
Hingga wilayan negara Huangshan menjadi luas seperti sekarang ini. Kekuatan rahasia milik keluarga Bai yang sempat berhenti di kakek Bai Cheung tersebut tampaknya tak membuat keluarga Bai kecewa.
Setiap keturunan mereka yang lahir akan selalu berusaha dihadapkan kepada pedang berwarna perak yang tergantung tepat diatas langit – lagit ruang rahasia milik kelurag Bai tersebut.
Saat Bai Axiang lahir dia langsung dimasukkan kedalam ruang rahasia selama satu jam. Dan hasilnya sungguh mengecewakan, kegagalan kembali terjadi.
Begitu juga waktu Bai Wang lahir hingga kelahiran Bai Cheung yang sebenarnya tak terlalu diharapkan oleh keluarga Bai akan berhasil nyatanya mampu membuat keluarga Bai tersebut kembali memiliki harapan besar.
Bai Cheung kecil yang ditinggal didalam ruang rahasia tersebut, begitu telah habis waktunya dan keluarga ingin mengambil bayi munggil tersebut, betapa terkejutnya mereka.
Bayi laki – laki tersebut terlihat sedang bermain – main dengan pedang perak besar tersebut yang entah sejak kapan sudah tergeletak disamping tubuh munggilnya sambil tertawa riang.
Melihat Bai Cheung bisa memegang pedang warisan leluhur tersebut, keluarga Bai terlihat sangat bahagia.
Namun ketika beranjak remaja, Bai Cheung yang ditakdirkan untuk mewarisi kekuatan nenek moyangnya itu menolak untuk menerima hal tersebut karena merasa jika dirinya mampu bertahan tanpa adanya kekuatan tersebut.
Matriark Bia pun tak bisa memaksa cucunya tersebut untuk berlatih jika dalam diri Bai Cheung sama sekali tidak ada keingginan untuk mempelajarinya.
Namun sekarang, setelah mendengar dari istrinya jika sang anak kemungkinan memiliki kekuatan yang lebih besar dari pada sang bunda dan kakeknya, Bai Cheung pun merasa ini adalah saat yang tepat untuk dia mulai mempelajari kekuatan warisan keluarganya tersebut.
“ Aku harus lebih kuat. Semua demi anak dan istriku….”, batin Bai Cheung penuh keyakinan.
Apalagi sebentar lagi dia dan istrinya akan memasuki istana, tentunya akan semakin banyak bahaya dan musuh yang mengincar keduanya.
Terlebih lagi intrik dan bahaya yang ada didalam istana bisa dibilang lebih besar dari pada tinggal di kediaman Bai.
Matriark Bai yang mendengar jika sang cucu ingin mempelajari kekuatan warisan keluarga Bai terlihat sangat gembira.
Berkat pil penambah daya ingat dan meningkat kekuatan yang diberikan oleh istrinya, Bai Cheung dapat mempelajari semuanya dengan cepat.
Jika dulu para leluhurnya perlu waktu bertahun – tahun untuk mempelajari ilmu tersebut, namun tidak dengan Bai Cheung yang hanya memerlukan waktu hanya satu bulan saja untuk bisa menyempurnakannya.
__ADS_1
Sementara itu di Chaotian Palace, Putra mahkota Qin Shi Huang terlihat tersenyum bahagia pagi ini setelah dia mendengar kabar jika Fan Jianying akan segera tinggal didalam istana.
Untuk itu diapun segera menghadap kepada ayahandanya agar bisa membersihkan Meigui Palace agar adiknya itu bisa tinggal disana.
“ Apa kamu yakin ingin Fan’er tinggal disana ?....”, tanya kaisar Huang terkejut.
Selama ini putra mahkota Qin Shi Huang sangat protektif terhadap Meigui Palace, tempat tinggal Ratu Shua, ibundanya sebelum meninggal dunia.
Bahkan dirinya mengusir paksa Ratu Qinly yang ingin mendiami istana terbesar yang ada dihalaman kerajaan Huangwei tersebut.
“ Hany Fan’er yang pantas tinggal disana ayah…”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang dengan kedua mata berbinar.
“ Baiklah, jika itu keputusanmu…”, ucap kaisar Huang setuju.
Mendengar ayahandanya setuju dengan keputusannya, putra mahkota Qin Shi Huang pun segera pamit undur diri dan mempersiapkan semuanya menyambut kedatangan adik tercintanya tersebut.
Bukan hanya kaisar Huang yang masih terkejut dengan pemikiran putra pertamanya itu, kasim yang ada disisi kaisar pun sama terkejutnya.
Bagaimana mungkin anak kaisar yang selama ini sangat keras kepala dan tak tersentuh terlihat begitu menyayangi adik tirinya yang baru saja ditemukan itu.
Meski putra mahkota Qin Shi Huang selalu baik terhadap saudara – saudara tirinya kecuali pangeran Song Yu tentunya, namun tindakan calon mewaris kaisar tersebut kali ini dianggap terlalu berlebihan.
Bukan hanya membersihkan Meigui Palace dan mengecatnya. Putra mahkota Qin Shi Huang juga membeli beberapa perabotan baru yang diletakkan dikamar Fan Jianying sesuai dengan selera gadis itu.
Bahkan ditaman depan kediaman, putra mahkota Qin Shi Huang juga membuat aliran sungai kecil disepanjang taman bunga yang tumbuh dihalaman karena mengetahui jika Fan Jianying sangat menyukai pemandangan seperti itu.
“ Kakak…aku rasa ini terlalu berlebihan…”, pangeran Wei Jie terlihat sedikit keberatan dengan semua hal yang dibuat oleh sang kakak untuk menyambut kedatangan Fan Jianying.
“ Tidak !!!!...ini sudah cukup bagus. Aku akan bantu untuk mendekorasi kamar bayinya….”, ucap putri Wei Xieun bersemangat.
Pangeran Wei Jie hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya melihat kakak dan adiknya bersemangat untuk menghias kamar bayi yang masih belum lahir tersebut.
Tindakan keduanya bagi pangeran Wei Jie terlalu berlebihan, namun dia juga tak bisa mencegah kedua saudaranya itu.
“ Sudahlah…biarkan saja. Mereka cukup senang karena akhirnya Fan’er mau tinggal di dalam istana….”, ucap permaisuri Wei menegur.
“ Tapi bunda…aku takut Fan’er merasa tak nyaman. Ini adalah anak pertamanya, tentunya dia ingin menghias sendiri kamar anak yang akan dilahirkannya itu…”, pangeran Wei Jie pun memprotes teguran sang ibu.
Mendengar semua anak – anaknya terlihat sangat menyayangi Fan’er meski mereka tak tumbuh besar bersama membuat hati permaisuri Wei sangat bahagia.
__ADS_1
“ Aku yakin Fan’er mengerti akan niat baik saudara – saudaranya…”, ucap permaisuri Wei menenangkan.
Jika sudah begini, pangeran Wei JIe hanya bisa pasrah dan mendengarkan semua nasehat yang diberikan oleh bundanya itu.