CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
SADAR


__ADS_3

Dua hari dua malam Fan Jianying terus berupaya untuk mengobati suaminya. Hira dan Liam pun dengan setia berjaga di depan tenda sesuai dengan instruksi Fan Jianying.


“ Bagaimana, apa belum selesai ?...”, tanya jenderal besar Tian menghampiri.


“ Belum….”, ucap Liam lemah.


Untung saja keduanya makan biscuit buatan Fan Jianying, jadi meski seharian tidak makan karena tidak memiliki selera dalam kondisi seperti ini, mereka tidak akan kelaparan dan nutrisi dalam tubuhpun tetap terjaga.


Jenderal besar Tianpun pergi dengan lunglai, kembali ke bagian barat wilayah kamp untuk mengawasi pembangunan tembok yang sedang direnovasi karena mengalami kerusakan paling parah.


Fan Jianying masih terus mengalirkan tenaga dalamnya, berupaya untuk membuka segel penghambat roh yang ditanam di tubuh suaminya oleh Heng Yuan.


Simpul yang rumit dan kuat membuat Fan Jianying mengalami kesulitan untuk mengurainya. Dia berusaha untuk tetap fokus agar usahanya selama dua hari ini tidak sia – sia.


Bai Cheung yang terus berada disamping tubuhnya semakin merasa bersalah terhadap istrinya tersebut.


Padahal, dia sudah menyakiti hati istrinya tersebut berkali – kali. Dan sekarang, malah istri yang disakiti dan disia – siakan itu yang membantu mengobati penyakitnya dan menolong nyawanya.


Crashhh…..


Simpulpun terputus dan roh Bai Cheung langsung terserap masuk kedalam tubuhnya. Fan Jianying terlihat sangat pucat dan ada setetes darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Perlahan dia membaringkan tubuh Bai Cheung dan membersihkan keringat yang menempel di seluruh tubuhnya sebelum menganti pakaiannya.


Meski belum bisa membuka mata, namun Bai Cheung merasakan waktu kulit lembut istrinya menyentuh tubuhnya.


Hatinya tiba – tiba saja terasa sangat sakit waktu mengingat lagi kekejaman yang sudah dia lakukan kepada sang istri.


Setelah memberi pil penyembuh dan memasukkannya kedalah tubuh Bai Cheung, Fan Jianying pun bangkit dan berjalan keluar tenda.


Liam dan Hira yang pada awalnya sangat senang waktu melihat madam ketiganya keluar dari dalam tenda.


Namun sedetik kemudian, wajah mereka terlihat sangat cemas saat mendapati wajah Fan Jianying pucat pasi dan ada darah kering menempel di sudut bibirnya.


“ Liam…tolong jaga tuan muda…”, ucap Fan Jianying lemah.


Liampun mengangguk dan bergegas masuk kedalam tenda. Dia tersenyum bahagia waktu melihat wajah tuan mudanya itu sudah tidak pucat lagi dan ada semburat merah disana.


“ Nyonya, mari saya antar ke tenda…”, ucap Hira cemas.

__ADS_1


“ Bawa Lexus kemari….”, ucap Fan Jianying lemah.


Hira yang awalnya ingin menolak langsung mengurungkan niatnya begitu Fan Jianying menatapnya dengan tajam.


“ Nyonya mau kemana ?...”, tanya Hira sambil memberikan tali kuda putih tersebut kepada Fan Jianying.


“ Tolong jaga tuan muda, jangan lupa minumkan obat yang sudah aku taruh di atas meja samping ranjang, begitu dia sadar…”, ucap Fan Jianying dan langsung naik keatas kudanya.


Belum sempat Hira berbicara, kuda tersebut sudah melesat pergi tanpa bisa dia kejar.


Setelah cukup jauh dari kamp militer, Fan Jianying bersama Lexus segera masuk kedalam cincin ruangnya untuk beristirahat disana.


Didalam cincin ruang, Lexus langsung bergabung dengan teman – temannya. Sedangkan Fan Jianying segera menuju ranjangnya untuk tidur.


Baru saja tubuhnya menempel di kasur, Fan Jianying yang sudah sangat kelelahan langsung menutup mata menuju alam mimpi..


Pada saat matahari hampir tenggelam, Bai Cheung pun sadar dari komanya. Liam dengan cekatan langsung membantu tuan mudanya untuk duduk dan memberikan obat yang ada diatas meja.


“ Madam ketiga berpesan, saat anda sadar harus langsung meminum obat ini…”, ucap Liam menjelaskan.


Bai Cheung pun langsung memakan tiga pil dalam botol kecil tersebut dengan bantuan segelas air putih yang diberikan oleh Liam.


Liam yang sedikit terkejut karena baru pertama kali mendengar tuan mudanya itu menyebut kata istri  untuk madam ketiga, selain merasa bahagia dia juga merasa takut.


Karena Fan Jianying pergi tak tahu kemana setelah selesai mengobati suaminya. Melihat Liam masih terdiam, Bai Cheungpun menatap dengan penuh kecurigaan.


“ Apa dia sudah pergi ?...”, tanya Bai Cheung dengan tatapan penuh selidik.


Dengan tubuh bergetar, Liam pun mulai mengatakan yang sebenarnya. Bai Cheung terlihat mencengkeram ujung selimutnya dengan kuat.


“ Dasar wanita jahat !!!...kenapa dia tidak menunggu ku sadar dan langsung pergi begitu saja…”, batin Bai Cheng kecewa.


Dia berpikir jika istrinya itu sudah kembali lagi ke ibukota. Namun begitu melihat Hira masuk, Bai Cheung pun mengkerutkan keningnya cukup dalam.


“ Makanlah…biar tuan muda aku yang jaga…”, ucap Hira sambil membawakan Bai Cheung semangkuk sup hangat.


“ Kemana wanita itu pergi ?...”, tanya Bai Cheung tajam.


Hira yang sudah paham siapa yang dimaksud oleh tuan mudanya hanya bisa terdiam, berusaha untuk memberikan penjelasan agar tuan mudanya tidak marah.

__ADS_1


“ Nyonya bilang akan beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah menyembuhkan tuan…”, ucap Hira sambil menunduk takut.


“ Dengan kondisi lemah seperti itu !!!....”, Bai Cheung mengeram marah hingga giginya bergemelatuk.


Ya...Bai Cheung melihat jika tubuh istrinya sudah mencapai batas maksimal untuk menyembuhkannya setelah dua hari dua malam menyalurkan energi kedalam tubuhnya.


Bahkan Bai Cheung juga melihat jika istrinya sempat mengeluarkan darah dari sudut bibirnya sebelum rohnya terserap masuk kembali kedalam tubuhnya.


“ Sa…saya sudah berusaha menahan agar nyonya beristirahat di tenda, tapi nyonya tetap bersikeras untuk pergi. Saya rasa nyonya kembali ke hutan kematian….”, ucap Hira sambil meremas kedua tangannya yang terasa dingin.


Bai Cheung pun menutup kedua matanya, berusaha untuk menahan semua rasa kecewa dan amarahnya agar tidak sampai keluar.


Dalam diam, dia berpikir apakah istrinya ingin membalas dendam kepadanya. Kenapa dia menyelamatkan nyawanya jika langsung meninggalkannya begitu saja.


Hira yang tidak ingin tuan mudanya terus berburuk sangka terhadap madam ketiganya pun berusaha untuk menceritakan semuanya.


Rasa bersalah dalam diri Bai Cheung semakin besar waktu mendengar semua cerita yang disampaikan Hira kepadanya.


“ Jadi ibunda sudah sembuh dan sehat kembali sekarang dan itu berkat istriku ?....”, tanya Bai Cheung tak percaya.


“ Benar, tuan muda. Madam ketiga lah yang menyembuhkan nyonya besar dengan jarum akupuntur miliknya. Dan selama masa penyembuhan, nyonya muda juga yang setiap hari memasakkan makanan dan diantar langsung ke kediaman nyonya besar setiap pagi….”, Hira pun menjelaskan semuanya dengan antusias.


Selanjutnya, gadis itu kembali menceritakan bagaimana madam mudanya membalikkan keadaan waktu dijebak oleh madam kelima Ming  pada saat  perjamuan diacara ulang tahun tuan besar Ming.


Semua hal Hira ungkapan saat ini agar tuan mudanya bisa melihat dengan jelas betapa baiknya madam ketiganya  itu.


“ Semoga, ceritaku bisa membuka hati tuan muda untuk lebih memperhatikan nyonya…”, batin Hira penuh harap.


Bai Cheung hanya bisa terdiam membisu mendengar semua cerita Hira. Dan rasa bersalah dalam dirinya semakin membesar.


Dalam hati kecilmya, Bai Cheungpun bertekad untuk bersikap baik jika masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan sang istri.


Sementara itu, didalam cincin ruangnya, Heng Yuan terlihat terbujur kaku diatas ranjang dengan six yang masih setia menunggu dan mengobatinya.


Six yang memiliki keahlian medis berupaya untuk menetralkan racun yang masuk kedalam tubuh tuan mudanya itu.


Meski semua racun sudah bisa dihilangkan, namun efek yang ditimbulkannya masih perlu waktu lumayan lama untuk sembuh.


“ Lihat saja Bai Cheung !!!...setelah keluar dari sini, aku akan segera membuat perhitungan denganmu !!!....”, batin Heng Yuan penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2