CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
SERANGAN FAJAR


__ADS_3

Semua prajurit terlihat sudah memakai mantel dan masker yang diberikan oleh Fan Jianying kepada mereka.


Dan bersiap siaga diposisinya masing – masing dengan semua perlengkapan tempur yang sudah mereka bawa.


Mengingat sebelum bertempur mereka sudah memakan biskuit yang diberikan oleh Fan Jianying membuat perut mereka langsung tenang hingga semangat semua orang langsung membara saat ini.


Karena rusaknya bahan makanan yang ada, selama dua hari ini semua prajurit hanya makan bubur encer dan kimci.


Membuat perut semua orang sedikit bermasalah, ditambah lagi suhu dingin yang ektrim membuat banyak prajurit yang tumbang dan terpaksa harus beristirahat di kamp.


Hingga biskuit yang tadi mereka makan, baru bisa membuat perut mereka tenang dan tubuh terasa lebih hangat.


Meski merasa aneh dengan pakaian yang mereka gunakan saat ini, tapi mendengar dari jenderal besr Tian jika itu untuk keselamatan, mau tidak mau merekapun memakainya karena sayang dengan nyawa.


Sampai tengah malam masih belum ada tanda – tanda pergerakan dari musuh membuat semua orang semakin meningkatkan kewaspadaan diri.


Hira dan pasukan bayangan yang baru saja tiba dikamp militer segera turun dari kudanya dan bergabung dengan para prajurit.


Bingwen yang ingat jika katak mutasi tak bisa dilihat dengan mata normal, diapun segera mengeluarkan obata tetes dari balik kantong bajunya dan memberi semua orang obat tetes mata yang dia bawa.


“ Jika tanpa ini, kalian tidak mungkin bisa melihat pergerakan katak mutasi….”, ucap Bingwen menjelaskan.


Benar saja, setelah ditetesi obat, dari kejauhan mereka melihat benda berwarna hijau transparan mulai berjalan mendekat.


“ Itu katak mutasi, bersiaplah….usahakan jangan sampai kena lendirnya yang beracun….”, ucap Guang memperingatkan.


Karena pistol air yang mereka bawa tidak cukup untuk semuanya, hanya penjaga paling depan, lapis kedua dan paling belakang serta para pimpinan yang bisa mendapatkannya.


Melihat semua orang kebinggungan waktu menerima pistol air, Bingwenpun segera memberikan contoh penggunaan alat tersebut dan semua orang mulai mengikutinya.


Dia juga memperingatkan agar jangan sampai air dalam pistol tersebut mengenai kulit karena mengandung racun.


“ Wah…aku sungguh sangat kagum madam ketiga bisa menciptakan alat sehebat ini. Apalagi nyonya juga pandai membuat racun dan pintar memasak, sungguh wanita idaman untuk dijadikan seorang istri….”, ucap Liam bangga.


Liam langsung terdiam dan perlahan mulai bergerak maju waktu merasa jika punggungnya semakin lama terasa semakin dingin.


Dibelakang Liam, Bai Cheung yang sejak kedatangan istrinya memiliki emosi yang buruk langsung saja menghujani Liam dengan tatapan tajam waktu pemuda itu menyanjung – nyanjung sang istri.


Katak mutasi menyerang dari semua arah membuat para prajurit sedikit kuwalahan menghadapinya.


Ternyata, bukan hanya katak mutasi saja yang dilepaskan oleh Heng Yuan dan anak buahnya tapi juga ada laba – laba mutasi, kelabang mutasi, tikus mutasi, dan anjing mutasi yang ukurannya sebesar manusia normal.


Bingwen segera membentangkan  jaring beracun yang diterimanya dari Fan Jianying dibeberapa titik, setidaknya itu bisa menghalau laba – laba mutasi dan kelabang mutasi yang merayap masuk kedalam wilayah penjagaan.


Benar juga, bentuk jaring yang transparan membuat hewan mutasi tak waspada hingga mereka terjerat di jaring. Para prajurit yang melihat mangsanya terperangkap, langsung saja membabat habis kelabang dan laba - laba mutasi yang tersangkut dijaring dan tak bisa lolos.


Pertarungan berlangsung dengan sengit, meski banyak hewan mutasi yang bisa dibunuh. Tapi tak sedikit jua para prajurit yang tewas dalam pertempuran tersebut.


Crashhh….crashhh…..crashhh….

__ADS_1


Hira terus saja menembakkan cairan yang ada dalam pistol airnya kepada setiap hewan mutasi yang berhasil dijumpainya.


Bai Cheung yang sudah mengerti cara membunuh anjing mutasi segera bekerja sama dengan pasukannya karena membunuh anjing tersebut tidak bisa dilakukan sendiri.


Untung saja pistol air yang diberikan oleh Fan Jianying bisa membantu melumpuhkan anjing – anjing mutasi itu sehingga kekuatannya bisa dilumpuhkan dalam dua kali tembakan.


“ Sial !!!...bagaimana hewan mutasi itu terus datang tanpa henti !!!....”, ucap Bingwen kesal.


“ Sebaiknya kita berusaha untuk menyerang Heng Yuan, dia kunci pokoknya….”, ucap Feng berdiskusi dengan Bingwen waktu mereka berpapasan.


Melihat tuan mudanya berusaha untuk diserang, one dan six berusaha untuk melindungi agar tidak ada yang bisa mendekat untuk menyerang tuan mudanya yang fokus melepaskan hewan mutasi dari dalam gelang ruang miliknya.


Tentu saja hewan mutasi tersebut terus ada karena gelang ruang yang dimiliki oleh Heng Yuan tak berbatas seperti cincin ruang yang dimiliki oleh Fan Jianying.


Bai Cheung terus saja membantai habis para hewan mutasi dengan pistol air yang dipegangnya. Setelah isi dalam pistol cair tersebut habis barulah dia menggunakan pedang yang sebelumnya telah dilumuri oleh racun.


Sambil  membabat habis hewan mutasi yang terus masuk dan menyerang prajurit yang ada di kamp. militer, Bai Cheung berusaha untuk melumpuhkan anak buah Heng Yuan.


Sethhh…sethhh….sethhh….


Sabetan pisau Bai Cheung mengenai tubuh one dan three, selanjutnya Feng pun segera menembakan cairan racun dari pistolnya.


Seketika juga one dan three jatuh terkapar ditanah dengan nafas tersenggal – senggal. Six yang melihat dua temannya jatuh terkapar ditanah langsung menyerang Bai Cheung.


Namun sayang, sabetan pedangnya masih bisa dihindari oleh Bai Cheung. Bukan hanya six, tapi four dan five juga langsung datang dan mengeroyok Bai Cheung.


Liam yang melihat tuan mudanya terpojok langsung berusaha mendekat sambil membunuh beberapa kelabang mutasi yang berusaha untuk menghalangi jalannya.


Tembakannya langsung membuat kelabang mutasi kejang – kejang ditanah, begitu juga dengan katak mutasi yang menghadangnya.


“ Sial !!!...isinya sudah habis !!!....”, guman Liam geram.


Diapun segera membuang pistol air yang kosong tersebut dan mulai mencabut pedangnya dan mengarahkan kepada five.


Pertarungan semakin lama semakin sengit, Heng Yuan yang merasa jika anak buahnya terkepung setelah melihat ketiga anak buahnya dikeroyok lima orang termasuk Bai Cheung disana langsung bergerak maju.


Dengan secepat kilat, dia membantai semua prajurit yang menghalangi jalannya dan mengarahkan pedang panjanganya kewajah Bai Cheung.


Akhirnya pertarungan antara Heng Yuan dan Bai Cheung pun dimulai. Mereka bertarung dengan sekuat tenaga sebagai pembuktian siapa diantara mereka yang terkuat dan layak mendapatkan Fan Jianying.


“ Aku akan membunuhmu sekarang juga dan membebaskan Fan’er dari jeratan iblis sepertimu !!!....”, teriak Heng Yuan marah.


“ Jangan bermimpi untuk bisa mendapatkannya. Sampai kapanpun aku tak akan melepaskannya….”, ucap Bai Cheung dengan senyum mengejek.


Mereka berdua terus bertarung sambil saling menghina dan mengeluarkan kata – kata pedas untuk memprovokasi antara yang satu dengan yang lain.


Meski berusaha untuk tak perduli, nyatanya Bai Cheung masih terpengaruh dengan kata – kata Heng Yuan.


“ Semua ini karenamu hingga Fan’erku menderita sakit seperti saat ini..”, ucap Heng Yuan penuh amarah sambil terus meluncurkan serangan kea rah Bai Cheung dengan membabi buta.

__ADS_1


Serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Heng Yuan berhasil ditangkis oleh Bai Cheung dan berhasil dikembalikan.


Cringgg……cringgg….cringgg…


Suara adu pedang terus saja bergema di sepanjang malam. Para pasukan terlihat kuwalahan membunuh para hewan mutasi yang jumlahnya terus saja bertambah dan semakin menggila.


“ Menunduk !!!...”, teriak  Bingwen lantang.


Semua prajurit spontan menunduk dan tak lama kemudian bunyi ledakan mampu menewaskan banyak hewan mutasi sekaligus.


Tapi sayangnya, bom racun yang diberikan oleh Fan Jianying todak terlalu banyak sehingga Bingwen harus menggunakannya dengan bijaksana.


Dia menunggu dan mengawasi dimana hewan mutasi banyak berkumpul untuk bisa dia gunakan bom racun yang ada disakunya.


Untung saja para prajurit sudah memakai mantel dan masker, hingga cipratan racun tak sampai mengenai tubuh mereka.


Heng Yuan yang melihat hewan mutasi yang dikeluarkannya semakin sedikit, tak ingin membuang waktu lagi diapun semakin beringas menyerang Bai Cheung.


Targetnya kali ini adalah kematian Bai Cheung dan jenderal besar Tian. Six yang posisinya sedikit bebas segera membantu Heng Yuan untuk menyerang Bai Cheung dari arah yang berbeda.


Melihat ada celah, Heng Yuan pun segera melemparkan belati beracunnya hingga menancap tepat di punggung Bai Cheung.


Tidak puas sampai disitu, Heng Yuan terus melemparkan belati – belati kecil beracunnya kearah tubuh Bai Cheung, namun masih bisa dihindari.


Five yang berhasil lepas dari Liam setelah dua anjing mutasi menyerang, pengawal pribadi Bai Cheung itupun langsung membantu Heng Yuan dan six.


Sementara anak buah Heng Yuan terlihat sibuk menyerang jenderal besar Tian yang berada digarda terdepan.


“ Aku akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum Fan’erku meninggal….”, teriak Heng Yuan sambil melempar belati beracun tepat didada Bai Cheung.


Terkena tiga belati beracun dipunggung, dada, dan kaki sebelah kanan, tubuh Bai Cheungpun langsung ambruk ketanah.


Melihat musuhnya ambruk, Heng Yuan yang sedang mengangkat pedang dan ingin segera mengakhiri nyawa Bai Cheung secepatnya terhenti waktu Bingwen menembakkan racun tepat kearah wajahnya.


“ Achhh….”, Teriak Heng Yuan kesakitan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Diapun segera menghilang dan masuk kedalam cincin ruangnya bersama six yang kebetulan langsung menubruknya.


Namun sayang gerakan six lebih cepat pistol air yang ditembaknnya Bingwen. Pasukan banyangan milik kaisar tersebut langsung mengangkat dan membawa Bai Cheung masuk kedalam tenda pengobatan dan memanggil tabib yang ada di kamp agar segera menghentikan peredaran darah Bai Cheung sebelum racunnya menyebar keseluruh tubuh.


Setelah mengantar tubuh Bai Cheung, Bingwen kemudian kemabli ke medan pertempuran dan membantu jenderal besar Tian agar bisa keluar dari kepungan anak buah Heng Yuan.


Mengandalkan sisa racun yang tinggal sedikkit didalam pistolnya, Bingwen berusaha untuk mencari celah dan menembakkan racun tersebut tepat kewajah musuh, karena hanya bagian itu yang paling mudah ditujuh.


Crashhh… Crashhh…. Crashhh…


Bingwen membidikkan pistol airnya tepat diwajah musuh – musuhnya membuat anak buah Heng Yuan jatuh kesakitan.


Selanjutnya diapun kembali mengarahkan bom racun yang masih ada ke sekumpulan hewan mutasi yang ada disebelah barat kamp.

__ADS_1


Tepat pada saat matahari terbit, peperangan tersebut usai meninggalkan bau anyir dan busuk dimana – mana.


Para prajurit yang terluka segera dibawah kedalam tenda pengobatan dan sisanya beristirahat di tenda – tenda kosong yang ada.


__ADS_2