CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 24. Izin untuk bekerja


__ADS_3

Setelah kepergian Damian, pak Anto mulai menagih janji Vera untuk memberitahu apa yang terjadi. Vera tidak bisa mengelak lagi. Vera mulai bercerita, bagaimana Damian takut pada kegelapan karena trauma yang pernah dialaminya. Trauma waktu dia masih kecil dan masih terbawa hingga sekarang.


Akan tetapi, ada beberapa hal yang masih Vera sembunyikan dan tidak dia ceritakan pada ayah dan ibunya. Termasuk bahwa mereka sudah saling mengenal, sebelum Damian datang.


Vera kemudian meminta izin pada ayah dan ibunya untuk bekerja pada Damian sebagai pengawas proyek. Vera menceritakan bahwa tugasnya hanya mengawasi pekerjaan pembangunan proyek dan melaporkannya pada Damian.


Pak Anto tidak setuju dengan pekerjaan yang ditawarkan Damian tersebut. Alasannya, karena Vera seorang wanita. Bekerja diantara para pekerja bangunan, yang semuanya laki-laki. Jika ada masalah, Vera tidak akan mungkin bisa menghadapi mereka.


Demikian juga dengan Bu Hena. Beliau juga setuju dengan pandangan suaminya tentang pekerjaan Vera. Vera tidak bisa berkata-kata lagi. Dia memang harus menurut apa kata orangtuanya. Jika tidak diizinkan, maka dia tidak akan menerima pekerjaan dari Damian.


Setelah orangtuanya tidak setuju, Vera menghubungi Damian dan mengatakan apa adanya. Terdengar dari nada bicara Damian, dia sangat kecewa dengan penolakan Vera. Tetapi, apa yang khawatirkan orangtuanya, mungkin saja benar.


Vera pergi ke sekolah tempat mengajarnya dulu. Vera ingin kembali mengajar di sekolah tersebut. Meskipun hanya sebagai guru pembantu saja. Tetapi sepertinya, sudah tidak bisa lagi. Dan hal itu cukup membuat Vera sedih dan kecewa.


Menjadi pengangguran, rasanya membosankan. Vera berjalan-jalan sebentar sambil mencari informasi tentang lowongan pekerjaan lain. Meskipun, tujuan utamanya menjadi seorang guru, Vera tentu saja tidak keberatan mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidup.


Saat ini sulit sekali mencari pekerjaan, apalagi yang sesuai pendidikan dan keahlian yang dimiliki. Pekerjaan tidak sesuai ijazah. Itu yang sekarang banyak terjadi. Harusnya, kemarin, Vera tidak langsung mengundurkan diri, jadi dia masih bisa kembali. Akan tetapi semua sudah terlanjur terjadi, tidak akan bisa diulang kembali.


Vera tiba di rumah dan sudah disambut oleh sang ayah yang sedang duduk, sambil minum kopi buatan ibunya.


"Vera, duduklah sebentar! Ayah ingin bicara sebentar denganmu," panggil ayahnya.


Tanpa menjawab, Vera langsung duduk di depan ayahnya. Ada rasa penasaran yang ingin segera Vera ketahui.


"Ada apa, Ayah?" tanya Vera setelah duduk.


"Setelah kami pikir-pikir kembali, tidak ada salahnya kamu bekerja pada pak Damian. Tadi dia menghubungi ayah, dan dia menjelaskan banyak hal pada ayah. Kamu disana, tidak sendirian. Akan ada orang lain yang akan bersamamu," jawab pak Anto senang.


"Apa saja yang dia katakan pada Ayah?" tanya Vera lagi.


"Hanya menjelaskan tentang pekerjaan kamu dan ...," jawab pak Anto berhenti, membuat Vera khawatir.


"Dan apa, Ayah?"

__ADS_1


"Gajinya lebih besar dari upah minimum," jawab pak Anto sambil menghela napas dalam.


"Ayah, kapan Ayah tidak berpikir tentang uang?" tanya Vera agak kesal.


"Vera, siapa yang tidak suka uang? Semua orang pasti menyukainya. Apa yang dicari ketika bekerja, uang," jawab sang ayah sesuai realita.


"Iya, ayah benar. Tapi nggak gitu juga, Ayah. Ayah terlalu memperlihatkan kecintaan Ayah. pada uang," jawab Vera agak kesal.


"Tapi, ayah tidak akan pernah menjual anak ayah. Ingat itu, Vera," ucap ayahnya kemudian.


Benar. Ayah Vera memang jiwa bisnis. Semua dihitung dengan uang. Tetapi satu yang Vera kagumi dari ayahnya, ayahnya tidak pernah memaksa anak-anaknya demi uang.


Ada satu ketakutan di hati Vera. Jika sang ayah tahu, dia mengenal Damian lebih dekat, bahkan bisa dibilang jika Vera dan Damian, adalah teman. Apakah ayahnya akan bersikap lebih baik lagi pada Damian atau malah bersikap berlebihan?


Lebih baik, ayah ya tidak tahu dari pada membuat Vera malu dihadapan Damian.


"Vera, gimana, terima saja. Dengan gaji sebesar itu, kamu bisa membuktikan pada Rendra, kamu tidak akan terpuruk berpisah dengannya," ucap pak Anto memberi. semangat Vera.


Vera terdiam. Ayahnya kali ini juga benar. Vera memang harus menunjukkan, bahwa dia tidak bergantung pada Rendra. Meskipun Rendra memiliki banyak uang, Vera juga bisa memilki banyak uang sendiri. Dengan kerja keras dan yang terpenting, halal.


"Vera, ayah mengerti perasaan kamu. Tapi ingat satu hal, pekerjaan apapun itu baik. Asalkan pekerjaan itu halal dan kita menjalaninya dengan ikhlas. Tapi, ayah tidak akan memaksamu. Ayah hanya ingin kamu tidak murung terus di rumah," ucap pak Anto sambil menarik napas dalam-dalam.


Vera kemudian pamit kepada ayahnya, untuk beristirahat. Vera berpikir lagi antara menerima atau menolak pekerjaan dari Damian. Berusaha meyakinkan diri bahwa dia sanggup bekerja yang tidak sesuai bidangnya.


Vera segera menghubungi Damian dan mengatakan bahwa dia setuju untuk bekerja dengan Damian. Terdengar suara Damian yang penuh kebahagiaan. Sampai Vera penasaran dan ingin bertanya pada Damian. Tetapi, itu bukan urusannya. Apa yang akan dipikirkan Damian dengan sikapnya?


Damian mengatakan bahwa besok, Vera sudah mulai bisa bekerja. Tetapi sebelumnya, Damian akan memperkenalkan Vera pada orang-orang di proyek tersebut agar tidak mempersulit Vera.


Semalaman Vera hampir tidak bisa tidur. Selain memikirkan bagaimana dia akan berpakaian dan bersikap di lingkungan pekerjaan yang baru. Dimana hampir semuanya laki-laki.


Keesokan harinya, Vera sudah siap dengan pakaian modis. Celana panjang dengan baju berwarna krem. Vera juga sudah menyiapkan sepatu casual untuk bisa lebih bebas berjalan di sana.


Saat melihat Vera berpakaian seperti itu, ayah dan ibunya sangat kaget. Vera biasanya berpakaian rapi jika akan pergi mengajar. Kali ini berpakaian rapi, tapi Vera belum memberitahukan bahwa dia akan bekerja.

__ADS_1


"Vera, sudah rapi, mau pergi kemana?" tanya Bu Hena saat mereka sarapan bersama.


"Oh iya. Vera hampir lupa bilang sama Ayah dan Ibu. Hari ini, Vera mulai bekerja untuk pak Damian," jawab Vera sambil tersenyum.


"Kapan kamu memberitahu Pak Damian? Bukannya kamu bilang mau dipikirkan lagi?" tanya sang ayah sambil mulai menyantap sarapannya.


"Semalam, Ayah. Waktu mau tidur," jawab Vera yang membuat ayah dan ibunya kaget.


"Waktu mau tidur, bukannya itu sudah malam sekali? Apa kamu sudah gila, mengganggu orang selarut itu?" tanya sang ayah cemas.


"Iya, Ra. Apa pak Damian tidak terganggu dengan teleponmu? Itu bukan jam kerja," tambah ibunya.


Vera terdiam dan menghentikan aktivitasnya sarapan. Dia lupa, jika menelepon orang di luar jam kerja bisa dianggap mengganggu privasi. Apalagi bagi keluarganya yang tidak terlalu mengenal Damian.


"Ayah, ibu. Pak Damian itu orang baik. Dia tidak akan hanya masalah sepele, dibesar-besarkan. Buktinya, dia langsung meminta Vera untuk masuk bekerja hari ini juga," jawab Vera berusaha mencari alasan yang tepat.


"Tapi, makanya ayah heran. Jika ayah perhatikan, sikap pak Damian terhadapmu, sangat berbeda dengan sikapnya pada orang lain. Seperti kalian sudah kenal lama," ucap pak Anto mengingat-ingat.


"Ayah, sudahlah. Mending ayo kita sarapan lalu pergi bekerja. Bukankah ayah pernah bilang, bekerja apa saja yang penting ikhlas," ucap Vera berusaha menenangkan ayahnya.


Mereka akhirnya terdiam meneruskan sarapannya. Vera tahu, jika sang ayah masih merasa curiga dengan hubungan Vera dan Damian. Tetapi Vera tidak ingin memberi kesempatan pada ayahnya untuk bisa mengetahui semuanya.


Vera bergegas pamit pergi. Setelah mencium tangan kdua orangtuanya, Vera bergegas naik motor butut milik sang ayah. Biasanya kalau pergi mengajar, Vera berjalan kaki karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Kali ini dia meminjam sepeda motor ayahnya sebelum dia bisa membeli sepeda motor baru.


Di tengah jalan, Vera bertemu beberapa anak-anak didiknya sewaktu masih mengajar. Mereka Masih tetap menyapa dengan sapaan yang sangat Vera sukai.


"Selamat pagi, Bu Guru."


Ada sedikit perasaan sedih, dia tidak bisa lagi mengajari mereka. Kangen rasanya bisa bermain dan belajar bersama mereka.


Bersambung


Sambil menunggu up selanjutnya baca juga karya temen aku. Judulnya Chasing My wife,s Lost Love karya Chacha Shyla.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya. Ceritanya keren banget loh...



__ADS_2