CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 25. Hari pertama


__ADS_3

Suasana pembangunan di proyek Damian masih terlihat sangat sepi. Rupanya, Vera berangkat terlalu pagi. Dia terbiasa berangkat pagi untuk pergi mengajar. Tapi jam kerja untuk pembangunan proyek ternyata tidak sepagi mengajar di sekolah.


Tetapi karena sudah terlanjur sampai, Vera berjalan-jalan di sekitar lahan yang akan dibangun sebuah kantor yayasan beserta sekolah. Vera tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Damian. Mengejar cinta seorang wanita sampai segitunya.


Apa ada wanita yang menginginkan sebuah yayasan dan gedung sekolah. Biasanya wanita pasti menginginkan emas, berlian, mobil, pakaian yang bagus dan peralatan kecantikan. Ini bos yang salah atau wanitanya yang terlalu menuntut.


Vera menepuk jidatnya sendiri, karena merasa terlalu ingin tahu urusan bos. Orang kaya, banyak uang, suka-suka dia saja akan membuat apa. Yang terpenting sekarang, karena proyek ini, dia bisa memiliki pekerjaan. Mungkin itu yang sekarang penting bagi dia.


Sambil menunggu Damian datang, Vera duduk didepan sebuah warung makan yang ada di dekat proyek. Dia memesan segelas teh manis untuk menghangatkan diri.


Tidak berapa lama, para pekerja sudah mulai berdatangan dan bersiap melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Diantara para pekerja, Vera melihat seseorang yang dia kenal. Sepertinya, dia adalah teman sekolahnya saat di SMA dulu. Jika dilihat-lihat, dari segi berpakaian, dia bukan pekerja biasa.


Vera sangat senang melihat ada orang yang dia kenal diantara para pekerja. Dengan begitu dia tidak akan merasa takut dan dikucilkan nantinya. Ada teman untuk berbicara dan bertanya.


Selang satu jam, Vera melihat Damian datang bersama Tristan. Vera bergegas membayar teh yang diminumnya lalu pergi menemui Damian yang masuk ke sebuah kantor kecil. Sepertinya ini kantor khusus untuk Bos dan asistennya.


Vera mengetuk pintu dan terdengar suara Damian memintanya masuk. Vera membuka pintu perlahan-lahan. Dengan perlahan pula, dia berjalan menuju meja Damian. Damian cukup terpesona dengan penampilan Vera. Senyumnya terlihat tipis saja. Damian berusaha menyembunyikannya agar tidak terlihat oleh Tristan. Tristan sepertinya mulai curiga karena sejak Vera masuk, Tristan terus memperhatikan sikap Damian.


"Duduklah!" perintah Damian.


Vera duduk didepan Damian dan berusaha mendengarkan apa yang dikatakan Damian. Damian menjelaskan banyak hal yang masih banyak hal yang tidak dia tahu. Tetapi intinya, Vera hanya perlu menjadi penghubung antara pekerja dengan Damian. Vera akan melaporkan kemajuan pembangunan proyek tersebut. Vera akan mengawasi semuanya sebagai perwakilan Damian, termasuk mengawasi Tristan.


Damian menunjukan pada Vera, desain yang sudah Damian siapkan. Meskipun Vera tidak terlalu paham dan mengerti, Damian meminta Vera untuk memberikan masukan. Karena Damian mementingkan pendapat Vera dalam pembangunan sekolah ini. Vera hanya memberikan masukan yang dia tahu saja, selebihnya akan sesuai gambar.


Tidak lupa, Damian mengenalkan Vera dengan Tristan yang akan memegang proyek ini.


"Vera," ucap Vera agak pelan.


"Tristan."


Mereka bersalaman dan Tristan dengan sengaja berlama-lama menjabat tangan Vera. Damian yang melihat itu menjadi kesal dan cemburu pada Tristan. Damian segera melepaskan tangan Tristan sambil tersenyum sinis pada Tristan.

__ADS_1


"Sudah, cukup. Ayo Vera, kita pergi melihat kondisi proyek," ajak Damian sambil meraih tangan Vera secara reflek.


Hal itu membuat Vera dan Tristan kaget. Vera tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri. Baru setelah Damian melepaskan tangan dan meminta maaf karena telah berani memegang tangan Vera, Vera berjalan keluar.


"Semangat," ucap Tristan pada Bos sekaligus sahabatnya itu.


Damian hanya tersenyum melihat Tristan mendukungnya. Damian menarik napas lega lalu keluar mengikuti Vera yang sudah pergi lebih dulu.


Tetapi, Damian terlihat kesal, saat melihat Vera sedang berbicara dengan seseorang. Ternyata orang itu adalah Doni, salah satu pemborong pembangunan proyek miliknya. Sepertinya mereka sangat akrab, terlihat dari cara mereka berbicara yang diselingi tawa dari keduanya.


Sementara itu, Vera sangat senang bisa bertemu dengan Doni. Saat di SMA, Sini adalah salah satu teman Rendra yang bisa dibilang menjadi teman dekat Vera. Awalnya, pembicaraan mereka cukup santai dan mengenang masa lalu. Tetapi, suasana berubah ketika Doni mulai membahas masalah Rendra.


"Vera, aku sudah mendengar, kalau pernikahan kamu dan Rendra dibatalkan. Aku turut sedih dengan semua yang terjadi padamu," ucap Doni sedih.


"Terima kasih, Doni. Mungkin jodohku bersama Rendra hanya sampai disini. Aku, tentu saja harus menerimanya dengan lapang hati," jawab Vera sambil menghela napas panjang.


"Vera, apakah Rendra yang membatalkan pernikahan kalian?" tanya Doni penasaran.


"Kenapa, Ra? Apa, Rendra berbuat salah padamu? Apa yang telah dia lakukan padamu?" tanya Doni bertubi-tubi.


"Nggak ada. Aku merasa, aku yang tidak pantas untuk Rendra," jawab Vera sambil menunduk. Vera tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku tidak percaya. Kalau kamu tidak mau menjawab, aku pasti akan bertanya pada Rendra sendiri," ucap Doni sambil menatap Vera.


"Vera," panggil Damian.


"Maaf, Doni. Aku dipanggil Bos. Aku pergi dulu," ucap Vera sambil berlalu pergi.


"Iya, Pak Damian. Maaf, tadi saya ketemu temen lama," ucap Vera merasa bersalah.


"Oh, temen lama. Vera, kita ke rumahmu saja," ajak Damian.

__ADS_1


"Untuk apa, Pak?" tanya Vera kaget.


"Aku ingin mengembalikan pakaian kakakmu yang aku pake kemarin," jawab Damian.


"Berikan saja padaku, nanti bisa aku bawa pulang sendiri," ucap Vera memberikan ide.


"Tidak perlu. Aku juga akan mengambil pakaian kotorku. Kemarin, aku lupa membawanya pulang."


"Oh, ya sudah kalau begitu," jawab Vera lalu mengikuti langkah Damian menuju mobilnya.


Vera dan Damian masuk kedalam mobil dan mobil pun melaju di jalanan yang sepi. Setelah beberapa menit, mereka sampai di rumah Vera. Tetapi, mereka sangat terkejut saat melihat sebuah mobil sudah terparkir didepan rumah Vera.


Vera dan Damian bergegas turun untuk segera melihat siapa yang datang ke rumah Vera. Terdengar cukup jelas, suara seorang laki-laki, sedang berbicara serius dengan ak Anto. Mereka membahas masalah pembatalan pernikahan Vera dan Rendra.


Suara itu tidak asing bagi Vera. Vera menarik napas dalam-dalam karena tiba-tiba dadanya terasa sesak. Airmatanya menetes perlahan di pipinya.


Damian sangat sedih melihat keadaan Vera seperti itu. Dia kemudian mendekati Vera dan memegang tangannya. Damian berusaha memberikan kekuatan pada Vera untuk tetap kuat meskipun hatinya sakit.


"Vera, kamu harus kuat. Ini saatnya menghadapinya, bukan bukan menghindarinya. Aku yakin kamu bisa," ucap Damian memberinya semangat,


Vera mengusap airmatanya dengan jari tangannya. Vera menatap Damian yang terus memberinya kata-kata dan sikap penuh semangat. Vera lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam.


Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar ucapan salam dari Vera. Mereka lalu menjawab salam Vera sambil menatap kedatangan Vera.


"Rendra," gumam Vera.


Bersambung


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku. judulnya Istri Pilihan Sang Presdir karya Desy Puspita.


Jangan lupa mampir ya, ceritanya keren banget loh...

__ADS_1



__ADS_2