
Melihat semua orang telah meletakkan taruhannya, putri Wei Xiuen dengan dagu terangkat mulai melepaskan bros Qilin emas kesayangannya sambil melirik Fan Jianying dengan angkuh.
“ Bagaimana saya bisa melewatkan permainan yang menyenangkan ini. Ini adalah bros Qilin pemberian permaisuri. Apakah taruhan ini cukup ?...”, ucap putri Wei Xieun sombong.
“ Apakah itu bros kesayangan tuan putri yang diberikan langsung oleh permaisuri ?!!!...”, ucap seseorang terkejut putri Wei Xiuen berani menggunakan barang berharga yang sangat disayanginya itu sebagai taruhan.
Fan Jianying sama sekali tak menyangka jika dia akan mendapatkan dukungan sebanyak itu, meski banyak dari mereka yang mengharapkan kekalahannya, tapi itu tak masalah.
Karena, jika dia berhasil maka dia akan kaya raya. Fan Jianying sekali lagi melirik nampan perak tersebut, melihat berapa banyka harta yang akan dia dapatkan jika berhasil, semangatnya untuk menang semakin berkobar.
“ Jika madam Ming kelima tidak keberatan, saya minta semua yang saya perlukan disiapkan diatas meja ini agar semua orang bisa melihat saya memasak sehingga tidak ada lagi keraguan dan melakukan trik kotor untuk kembali mencelakai saya…”, ucap Fan Jianying lembut namun tersirat sindiran pedas didalamnya.
Madam Ming kelima mencemoh tindakan berani yang dilakukan oleh Fan Jianying. Tanpa pikir panjang, diapun segera menyuruh pelayannya untuk mempersiapkan semuanya.
MAsih dengan posisi berdiri, madam Ming kelima menatap tajam Fan Jianying yang sibuk menginstruksikan kepada para pelayan apa saja bahan dan perlengkapan yang akan diperlukannya untuk memasak.
Saat ini dia tinggal melihat gadis bodoh ini melakukan kesalahan dan gagal sehingga semua perhiasan tersebut dapat menjadi miliknya.
“ Apa kau sudah takut kehilangan gelang emas mutiaramu yang sangat berharga itu, madam Ming kelima ?….”, ucap Lady Rose dengan senyum mengejek.
“ Lady Rose, roti persik panjang umur juga belum keluar dari kukusan, bagaimana anda bisa seyakin itu untuk menang ?...”, ucap madam Ming kelima balas mengejek.
Keduanyapun langsung bertukar pandang seakan kedua mata mereka mengeluarkan belati yang sangat tajam dan saling lempar.
Suasana dingin yang tiba – tiba terasa, membuat wanita bangsawan lainnya dengan teratur mundur, menjauh dari pertengkaran sengit tersebut.
Sementara itu Heng Yuan yang berdiri agak jauh dari kerumunan, hanya sayup – sayup mendengar perdebatan sengit disana.
Meski dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, namun satu hal yang pasti jika putri Wei Xiuen dan madam MIng kelima tampaknya berusaha untuk menindas Fan Jianying.
Waktu melihat Fan Jianying memakai celemek dengan kedua tangan penuh dengan adonan tepung membuat hatinya merasa sangat sakit.
Saat ini seperti ada sebilah pisau yang seakan menyayat – nyayat hatinya waktu melihat kondisi Fan Jianying yang menyedihkan.
Bagaimana bisa seorang gadis bangsawan yang memiliki derajat tinggi bisa bergumul dengan adonan tepung seperti itu.
Dia membenci dirinya sendiri karena tidak memiliki kekuatan apapun saat ini. Bahkan saat gadis itu membutuhkan pertolongan, Heng Yuan hanya bisa membiarkan gadis itu menghadapinya sendiri, seperti sekarang.
“ Bukankah dia sudah menikah dan memiliki suami, lalu dimana sekarang Bai Cheung ?...kenapa dia memperlakukan Fan’er seperti ini !!!...”, batin Heng Yuan tak terima.
Saat ini Heng Yuan merasa jika Bai Cheung tak layak menjadi suami Fan Jianying. Dan jangan salahkan dirinya jika dia bersikeras untuk kembali merebut gadis itu darinya.
Dihadapan semua orang Fan Jianying menunjukkan keahliannya tanpa ada keraguan sedikitpun.
Bahkan disaat madam Ronger dan Yihua merasa was – was dalam hatinya, Fan Jianying terlihat tersenyum lebar menikmati semua kegiatan tersebut.
Semua cara pembuatan roti persik panjang umur tersebut saat ini terlihat jelas dihadapannya, seolah – olah dia sedang melihat video tutorial pembuatannya.
Fan Jianying terlihat seperti koki professional yang sedang melakukan demo memasak dihadapan pengemarnya.
Dia begitu tenang menikmati semua proses yang dia lakukan sambil sesekali bersenandung. Semua orang yang awalnya meremehkan, sekarang terlihat kagum atas gerakannya yang gesit dan cekatan.
Mulai dari membuat adonan, mengisinya, dan menghiasnya sesuai dengan buah persik asli sebelum gadis itu memasukkan adonan yang sudah dibentuknya kedalam kukusan.
__ADS_1
Madam Ming kelima langsung pucat dengan keringat dingin yang mulai keluar dari tubuhnya waktu melihat roti persik panjang umur tersebut satu persatu keluar dari kukusan.
Fan Jianying yang terlihat fokus dan menikmati semua yang dilakukannya membuat madam Ronger sedikit tenang.
" Darimana dia belajar memasak seperti itu ?...apa dikeluarga Bai ?....", batin madam Ronger penuh dengan tanda tanya.
Melihat bentuknya yang cantik dan menggugah selera, banyak orangpun terlihat kesusahan untuk menahan air liur mereka agar tidak menetes.
“ Bentuk yang bagus belum tentu memiliki rasa yang lezat…”, ucap putri Wei Xieun mencemoh.
Meski dirinya sendiri terlihat beberapa kali menelan ludah, namun putri Wei Xieun memiliki harga diri yang sangat tinggi sehingga akan sangat sulit baginya untuk mengakui ketrampilan Fan Jianying tersebut.
Jika dia mengakui itu sama saja dengan mengatakan bahwa dirinya telah kalah telak dari gadis tersebut. Dan hal tersebut tentunya tidak akan pernah dia harapkan.
Saat satu persatu roti persik panjang umur yang sudah keluar dari dalam kukusan mulai ditata di atas pirig yang telah disiapkan.
Asap yang menyembul dari roti yang baru saja masak itu membuat semua orang sekali lagi menelan ludahnya dan memandang penuh takjub.
Belum ada satu jam, Fan Jianying sudah bisa menghasilkan lebih dari seratus roti persik panjang umur yang dibuatnya semini mungkin agar bisa rata dimakan semua orang.
Vivi yang melihat wajah ibundanya semakin pucat segera mengenggam kedua tangannya untuk menghibur hatinya.
“ Kita belum merasakannya sendiri, jadi kemenangan masih belum tentu jadi miliknya…”, Vivi berusaha untuk menghibur hati ibundanya, meski dalam hati terdalamnya juga merasa takut.
Setelah semua roti persik panjang umur matang dan menyisihkan sepiring besar untuk diberikan kepada tuan besar Ming, Fan Jianyingpun mulai berjalan disekitar kerumunan ditemani Dayu yang berjalan dibelakangnya membantunya membawa nampan.
Sedangkan Hira diberi tugas untuk menjaga roti persik panjang umur yang akan dia berikan sendiri secara langsung kepada tuan besar Ming agar tidak ada yang bisa mengacau lagi.
“ Maaf, sudah membuat anda sekalian menunggu…”, ucap Fan Jianying ramah.
“ Putri, tolong anda jangan marah. Mari kita tunggu bagaimana reaksi orang – orang terhadap rasa dari roti persik panjang umur yang indah itu. Selanjutnya kita tunggu, apa dia masih punya muka lagi setelah ini…”, Vivi berusaha untuk membesarkan hati putri Wei Xieun.
Mendengar ucapan gadis yang duduk disebelahnya itu, bukannya terhibur, hati putri Wei Xiuen semakin panas.
“ Jangan duduk saja!!!.... Cepat kamu ambil satu roti persik panjang umur itu untukku !!!...”,teriak putri Wei Xiauen kesal.
Mata semua orang terbelalak waktu melihat dari dekat ternyata roti persik panjang umur tersebut sangatlah indah.
Bahkan ada beberapa wanita sayang untuk memakannya karena bentuknya yang sangat cantik dan berniat untuk menyimpannya sebagai souvenir.
Putri Wei Xiuen membuka matanya lebar – lebar waktu melihat semua orang mulai membuka mulutnya untuk mengigit roti yang ada ditangan mereka masing – masing, menunggu moment seru yang akan terjadi.
“ Aku siap melihat adegan semua orang memuntahkan roti itu karena rasanya tidak enak…”, batin putri Wei Xiuen penuh percaya diri jika kali ini dirinya yang akan menang.
Madam Ming kelima terlihat meremas saputangannya dengan sangat kuat sambil menatap roti persik panjang umur yang ada ditangannya itu.
“ Wah…ini sangat lezat bu…”, ucap salah seorang gadis yang langsung memasukkan sisa roti yang tersisa ditangannya.
Salah satu wanita bangsawan yang merasa jika ucapan putrinya sangat tidak sopan segera membungkam mulut gadis tersebut dan langsung meminta maaf kepada semuanya.
Teriakan gadis tersebut sontak membuat semua orang semakin penasaran ingin segera mencicipi benda bulat, putih dan terlihat gemuk itu.
Begitu roti persik panjang umur sudah ada ditangan, semua orang seketika membulatkan mata secara sempurna dan sedetik kemudian kedua mata mereka berkaca – kaca karena baru kali ini makan roti persik panjang umur selezat ini.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, putri Wei Xieun pun langsung memasukkan roti tersebut kedalam mulutnya. Reaksinya sama dengan semua orang, bahkan lebih heboh dari yang lainnya.
Bahkan dirinya tak segan merampas roti yang ada ditangan pelayan pribadinya karena merasa kurang hanya memakan satu saja.
Sang pelayan hanya bisa menelan ludah sambil menatap nanar roti persik panjang umur miliknya yang saat ini sudah masuk kedalam mulut putri Wei Xieun.
Menyaksikkan semua itu, Lady Rose terlihat tersenyum tulus kepada Fan Jianying yang terlihat sedang membersihkan pakaiannya dari tepung yang menempel.
Dari tingkah dan ekpresi yang ditunjukkan oleh putri Wei Xieun dihadapan semua orang sudah menjadi jawaban jika Fan Jianying telah memenangkan permainan ini.
Sementara madam Ming kelima dan putrinya terlihat menikmati roti persik panjang umur dengan hati berkecamuk.
Bahkan madam Ming kelima terlihat menitikkan air mata karena sebentar lagi dia akan kehilangan gelang emas mutiaranya yang sangat berharga akibat tindakan ceroboh sang putri.
Sementara Vivi hanya bisa tertunduk, meratapi kemalangan nasibnya. Dia sudah pasrah seandainya ibundanya akan menghukum dirinya setibanya dirumah.
Setelah seluruh roti sudah rata dibagi kepada semua orang dan mjuga pelayan yang ada disana, diapun mulai melangkah masuk kedalam ruang utama dimana tuan besar Ming berada diikuti oleh Dayu dan Hira
“ Hormat saya kepada tuan besar Ming. Tolong terima hasil karya saya yang tak seberapa ini sebagai wujud penghargaan supaya tuan besar panjang umur dan selalu mendapatkan berkah melimpah…”, ucap Fan Jianying sopan.
Fan Jianying pun segera memberikan sepiring roti persik panjang umur yang tadi dibuatnya untuk tuan besar Ming.
“ Apa ini buah persik ?...”, tanya tuan besar Ming penasaran.
“ Ini roti persik panjang umur yang baru saja saya buat…”, ucap Fan Jianying menjelaskan.
Tuan besar Ming terlihat menatap piring yang ada dihadapannya itu dengan sedikit linglung, begitu juga dengan matriark Bai yang kebetulan ada disana dan beberapa anggota keluarga serta beberapa nyonya besar kaum bangsawan lainnya.
Namun hal itu tak berlaku untuk madam Yang yang sudah mengetahui kehebatan cucu menantu perempuan sahabatnya itu dalam mengolah makanan.
“ Fan’er…ini sangat indah. Jika saja aku tidak melihat uap panas yang naik, mungkin aku masih menganggap ini adalah buah persik, bukan roti…”, ucap tuan besar Ming terkekeh.
Mendengar ucapan tuan besar Ming, semua orang sekali lagi kembali dibuat terkejut karena mereka masih tak percaya jika yang ada diatas piring tersebut benar – benar adonan yang terbuat dari tepung dan bukannya buah persik segar.
Jika dilihat dari bentuknya yang putih gemuk serta adanya daun segar berwarna hijau diatas buah persik yang terlihat seperti tetesan air yang berkilau dipermukaannya, membuatnya seperti buah persik segar dan manis yang baru saja dipetik dari pohonnya.
Setelah puas mengamati, tuan besar Ming mulai mengambil satu roti persik panjang umur dan memasukkan semuanya kedalam mulutnya.
Wajahnya seketika bersinar cerah waktu merasakan adonan lembut dengan isi yang tidak terlalu manis meleleh dimulutnya, membuat lidahnya terus bergoyang dengan gembira.
Melihat betapa tuan besar Ming menikmati roti tersebut, diam – diam semua orang menelan air liur mereka waktu membayangkan betapa lezatnya roti itu hingga tuan besar Ming tak berhenti mengunyah.
“ hahaha….aku tak menyangka jika istri Cheung bisa membuat hidangan selezat ini…”, ucap tuan besar Ming gembira.
Diapun menyuruh pelayan yang berdiri disampingnya untuk membagikan roti persik panjang umur yang masih banyak itu kepada semua orang yang ada didalam ruangan agar semuanya bisa menikmati kebahagiaan yang dirasakannya.
Tidak jauh dengan ekpresi wanita bangsawan yang ada diluar ruang utama, bahkan disini sampai ada yang menitikkan air matanya karena terharu disisa umurnya dia masih bisa menikmati kelezatan seperti ini.
“ Bagaimana kamu bisa menyembunyikan cucu menantu perempuan sehebat ini dari kami…”, protes wanita tua yang menangis saat memakan roti persik panjang umur tadi sambil menepuk pundak matriark Bai pelan.
“ Aku bukan berusaha menyembunyikannya…hanya saja masih belum ada waktu yang tepat untuk memperkenalkannya secara resmi…”, ucap matriark Bai mengelak.
Meski dirinya tadi sempat khawatir waktu pelayan senior Yu melaporkan jika cucu menantu perempuannya tersebut ditindas oleh putri Wei Xieun.
__ADS_1
Tapi, mengingat jika hal itu adalah urusan para wanita muda dan dirinya juga tidak bisa menyinggung putri Wei Xieun secara langsung serta mengingat jika ada madam Cou yang bersamanya, membuat matriark Bai mengabaikannya dan fokus pada perbincangan dengan tuan besar Ming.
“ *T*ernyata sesuai harapanku, gadis kecil ini sama sekali tak mengecewakanku…”, batin matriark Bai bangga.