
Sudah dua hari ini perasaan Aurella tidak tenang, dia merasa ada sesuatu hal buruk yang telah terjadi namun dia tak tahu apa itu.
" Ahhh...mungkin aku hanya terlalu lelah saja.....", gumannya menghibur diri.
Setelah hampir satu minggu kerja lembur, akhirnya hari ini dia bisa pulang lebih awal setelah semua laporan yang harus dikirim ke kantor pusat selesai anak buahnya kerjakan.
“ Akhirnya semua selesai juga…”, ucap Aurella sambil meregangkan kedua tangannya keatas.
Tampaknya nasib baik tak memihak kepadanya. Begitu keluar dari dalam kantor, langit yang awalnya sangat cerah tiba – tiba saja menjadi gelap gulita.
Semua orang terlihat mulai mempercepat langkah kakinya, bahkan ada yang berlarian untuk segera mencapai tempat tujuan.
Begitu juga dengan Aurella yang sudah berlari untuk menghindari rintik hujan yang mulai jatuh dari langit hingga sampai ke halte bus yang tak jauh dari kantornya.
“ Kenapa tiba – tiba hujan, padahal langit begitu cerah tadi !!!....”, ucap Aurella mendengus kesal.
Dia melihat lagi pesan yang diterimanya dari pihak bengkel jika mobilnya baru akan selesai tiga hari lagi dikarenakan suku cadang kendaraannya cukup langkah jadi harus dipesan secara khusus.
Maklum saja, mobil yang dipakai oleh Aurella adalah mobil lama peninggalan kedua orang tuanya.
Jadi wajar jika pihak bengkel sedikit kesulitan mendapatkan suku cadang kendaraan tersebut karena usianya yang sudah tua.
Sambil membuang nafas secara kasar, Aurella tampak mengutak –atik kembali ponsel yang ada ditangannya.
Sejak tadi dia berusaha untuk memesan ojek online, namun tak kunjung dapat. Begitu juga taxi yang melintas sepanjang jalan semuanya sudah penuh dengan penumpang.
“ Ya…cuaca hujan begini pasti sulit mendapatkan kendaraan…”, gumannya sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
Bahkan bus yang dia tunggu pun tak kunjung datang, membuat moodnya yang sudah buruk menjadi lebih buruk lagi.
Pada saat kedua matanya menatap kekiri berharap ada bus yang datang, tiba – tiba ada mobil yang berhenti tepat didepannya.
Tinnn…tinnnn…..
“ Ayo masuk….”, ucap seseorang dari balik kaca mobil yangada dihadapannya.
Melihat Aurella hanya terdiam ditempat, perempuan dalam mobil tersebut kembali berteriak sambil menurunkan sedikit kaca mobilnya.
“ Hey…cepat masuk !!!...apa kamu mau berdiri disitu sampai hujan reda….”, ucapnya smabil berteriak.
“ Ehhh..iya aku masuk….”, ucap Aurella yang langsung berjalan mendekat dan masuk kedalam mobil.
“ Tumben lewat sini….”, tanya Aurella kepada wanita yang bernama Cindy itu.
“ Kebetulan tadi aku ada meeting di hotel dekat kantormu dan kebetulan juga aku melihatmu berdiri disini, jadi aku samperin….”, ucapnya santai.
“ Ohhhh….”, ucap Aurella singkat.
Keduanya pun terlihat memulai obrolan ringan sepanjang perjalanan. Tak sampai sepuluh menit, Aurella sudah sampai di loby apartemen tempat tinggalnya.
Setelah melambaikan tangan, diapun bergegas lari menghindari rintik hujan yang masih turun ke bumi.
Dia masuk kedalam apartemennya dengan tubuh setengah basah. Tak ingin sakit, Aurella pun segera melepaskan semua bajunya dan membersihkan diri dengan air hangat didalam kamar mandi.
“ Untung saja pemanasnya kemarin sudah aku perbaiki, jika tidak bisa benar – benar bisa masuk angin aku….”, Aurella terus menggerutu tak jelas selama membersihkan tubuhnya didalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian yang nyaman, Aurella membuat segelas wedang jahe untuk menghangatkan tubuhnya.
Sambil menyesap wedang jahe yang ada ditangannya, kedua mata Aurella menatap keluar jendela.
Melihat banyak orang berlalu – lalang di jalanan menghindari derasnya air hujan yang membasahi tubuh mereka.
Padatnya lalu lintas malam ini akibat hujan deras yang tiba – tiba saja menguyur kota membuat jalanan di depan apartemennya sedikit macet.
__ADS_1
Tak berapa lama terdengar suara petir bergemuruh disertai dengan kilatan petir yang menyilaukan mata.
“ Fenomena ini….”, Aurella merasa de javu.
Oekkk…oekkkk….oekkk….
Tangisan suara bayi yang menyayat hati tiba – tiba saja masuk kedalam gendang telinganya membuat Aurella tanpa sadar menitikkan air mata.
“ Anakku….”, guman Aurella sedih.
Mendengar suara tangis bayi yang semakin lama semakin nyaring membuat hati Aurella menjadi sedih dan sakit.
Dia merasa jika anaknya sedang membutuhkannya sekarang. Dengan berderai air mata, Aurella terduduk lemas sambil terisak.
“ Maafkan ibu nak…ibunda tidak bersamamu saat kamu membutuhkan….”, ucap Aurella semakin terisak.
Aurella yang merasa dadanya terasa sangat sesak hanya bisa bersandar didinding apartemen dengan tubuh lunglai.
Rasa bersalah yang teramat dalam mulai masuk kedalam relung hatinya. Membuat hatinya terasa semakin sakit.
Duarrr….duarrr….
Bunyi petir menggelegar memekakkan telinga dan kilat yang menyambar bersautan membuat siapapun yang melihatnya akan merasa ketakutan.
Sepertinya langit sedang marah dan meluapkan semuanya kebumi. Buku novel kuno yang tertata rapi di almari tiba – tiba saja bersinar terang.
Dan tak lama kemudian, Aurella yang masih terisak sedih memikirkan sang buah hati di dunia lain tersebut jatuh tak sadarkan diri dilantai.
Sementara itu di kerajaan Huangwei tepatnya di Meigui Palace, Baoji anak Bai Cheung dan Fan Jianying tiba – tiba menangis histeris tanpa henti.
Dayu dan beberapa pelayan yang menjaganya dibuat kebingungan karena tak bisa menenangkannya hingga mereka memutuskan untuk menjemput Bai Cheung didalam istana.
Bai Cheung spontan berlari keluar ruangan begitu mendengar kabar jika anaknya menangis histeris tanpa henti.
Selama ini Baoji terkenal sebagai bayi yang penurut dan tidak rewel meski ibundanya tak berada disisinya.
Aurella yang sedang pingsan tiba - tiba mendengar suara tangis bayi yang memekakkan telingga sangat jelas terdengar membuatnya mulai membuka mata.
“ Anakku…apakah itu benar dia ?….”, ucap Aurella penasaran.
Diapun berjalan mendekat kearah bayi kecil yang sedang digendong memunggunginya, berusaha ditenangkan oleh beberapa orang pelayan yang ada disana.
Dayu yang mendengar suara nona mudanya segera berbalik sambil mengendong Baoji yang masih menangis tanpa henti.
“ Nona !!!....”, teriak Dayu terkejut.
Bukan hanya Dayu yang terkejut akan kedatangan sosok ibunda Baoji yang tiba - tib ada dalam ruangan, parapelayan yang ada disana juga begitu hingga mereka berteriak spontan.
“ Tuan putri !!!….”, ucap semua pelayan dengan mata terbelalak dengan mulut terbuka lebar karena terkejut dengan kedatangannya.
“ Dayu…apa itu anakku ?....”, tanya Aurella dengan kedua mata berkaca – kaca bahagia.
“ Tolong, berikan dia padaku….”, ucap Aurella sambil merentangkan kedua tangannya.
Spontan, Dayupun segera berjalan maju dan menyerahkan tuan mudanya itu kepada ibundanya masih dengan tatapan antara sedih dan bahagia.
Begitu Baoji ada dalam gendongan ibundanya, bayi lelaki tersebut langsung terdiam. Aurella yang melihat bibir anaknya sedikit kering dan berwarna merah terlihat mulai cemas.
“ Dayu…tolong ambilkan madu didapur….”, perintahnya dengan wajah panik.
Mendengar perintah nona mudanya, Dayupun bergegas pergi kearah dapur untuk mengambil madu seperti yang diperintahkan kepadanya.
Melihat bayinya beberapa kali menjulurkan lidah, Aurella merasa jika anaknya itu passti sedang kelaparan.
__ADS_1
Diapun segera bergerak kearah ranjang dan mulai menyusui bayinya. Bayi itu segera menghisap asi yang diberikan oleh ibundanya dengan rakus karena ini adalah pertama kalinya dia mendapatkannya.
“ Kenapa badannya sedikit hangat….”, guman Aurella khawatir.
Para pelayan yang mendengar gumanan majikannya segera menjelaskan jika sudah dua hari ini tuan mudanya itu demam dan baru tadi pagi panasnya mulai turun.
Aurella yang mendengar penjelasan tersebut hanya bisa mengangguk lemah. Dengan lembut dia membelai wajah putranya yang terlihat sangat kehausan itu.
“ Maafkan ibu nak…ibunda tak bisa terus berada disisimu….”, ucap Aurella sambil menitikkan air mata.
Semua pelayan yang berada disana juga ikut bersedih hati. Bahkan ada beberapa orang yang sudah menitikkan air mata tak kuasa menahan haru karena akhirnya tuan mudanya itu bisa bersama ibundanya kembali.
Bai Cheung yang masuk dengan tergesa – gesa langsung terdiam ditempat begitu melihat istrinya sedang menyusui anaknya di tepi ranjang.
“ Fan’er….”, guman Bai Cheung pelan.
“ Sttt…dia sedang tidur….”, ucap Aurella dengan mengarahkan telunjuk di bibirnya.
Bai Cheung yang masih terkejut dengan kedatangan istrinya yang tiba – tiba perlahan – lahan mulai berjalan mendekat kearah dimana istri dan anaknya berada.
Dengan tangan gemetar dan kedua mata berkaca – kaca Bai Cheung menyentuh pundak istrinya pelan, berusaha memastikan bahwa semua ini nyata.
Bai Cheung yang tak kausa membendung rasa rindu kepada istrinya segera memeluk wanita yang ada dihadapannya itu dengan erat.
Seolah dia takut jika dia melepaskan tangannya, wanita itu akan menghilang kembali dalam kehidupannya.
“ Suamiku…tenanglah. Suaramu bisa membangunkan anak kita…”, ucap Aurella lirih.
Bai Cheung yang sedang menangis menyembunyikan wajahnya dipunggung sang istri, berusaha untuk menghirup
aroma tubuh wanita yang dicintainya itu sedalam – dalamnya.
Melihat pemandangaran tersebut, satu persatu pelayan mulai keluar dari dalam kamar. Begitupun Dayu yang langsung keluar setelah meletakkan sebotol madu diatas meja.
Membiarkan pasangan yang baru saja bertemu kembali tersebut melepas smeua rasa rindus yang selama ini mendera.
Setelah anaknya tertidur dan membaringkannya diatas ranjang, Aurella pun berbalik dan memeluk suaminya dengan erat.
“ Sudah…jangan bersedih lagi ya. Aku ada disini….”, ucap Aurella sambil mengusap kepala suaminya dengan lembut.
Setelah sedikit tenang, Bai Cheung pun menatap wajah sang istri yang terlihat sedikit pucat dengan perasaan cemas.
“ Wajahmu pucat sekali…aku akan panggil tabib istana sekarang juga….”, ucap Bai Cheung panik.
“ Tidak perlu….”, ucap Aurella mencegah.
“ Aku tak akan lama disini, jadi aku tak ingin membuang waktuku….”, ucap Aurella sendu.
“ Apa maksudmu ?....”, tanya Bai Cheung tak mengerti.
Belum juga Aurella menjawab pertanyaan sang suami tiba – tiba saja tubuhnya bersinar sangat terang.
Perlahan kedua tangannya mulai menghilang seiring dengan sinar yang menyelimuti tubuhnya seperti debu yang hilang diterpa angin.
“ Tidak !!!...tidak lagi !!!....”, ucap Bai Cheng sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali dengan tatapan sedih.
“ Tolong…jaga anakku dengan baik hingga aku bisa benar – benar kembali….”, ucap Aurella sebelum tubuhnya benar – benar menghilang.
Bai Cheung berusaha untuk meraih tubuh sang istri, namun yang dia dapat hanyalah udara kosong membuat tubuhnya langsung lemas seketika.
Sambil terduduk dilantai, dia kembali menitikkan air mata. Dia sama sekali tak menyangka jika istrinya akan kembali menghilang setelah menenangkan putra semata wayangnya tersebut.
“ Dia bisa kembali. Artinya, dia mungkin akan bisa kembali kesini sepenuhnya. Aku harus berkonsultasi dengan ayahanda mengenai hal ini….”, batin Bai Cheung penuh harapan.
__ADS_1
Setelah mengusap air mata yang menetes dipipi dengan kedua tangannya, Bai Cheung pun bergegas menuju Huangwe Palace untuk menemui Huang Lo.
Dia berharap ayah mertuanya itu punya solusi agar istrinya bisa kembali lagi ke negara Huangshan dan berkumpul bersama dia dan anaknya.