
Didalam ruang kerjanya, Bai Cheung terlihat termenung sambil memegang sebuah surat yang berasal dari istana untuknya.
Dibukanya perlahan surat undangan yang diberikan oleh utusan istana pagi tadi secara perlahan. Bai Cheung membaca dengan seksama isi yang ada dalam surat undangan tersebut.
Sambil mengetukkan telunjuknya diatas meja hingga, Bai Cheung mencoba mencari jawaban kenapa kaisar Huang mengundangnya untuk bertemu pribadi di istana besok siang.
“ Apa yang Kaisar Huang inginkan dariku ?...”, batin Bai Cheung penasaran.
Sesuatu yang sangat aneh dan tak lazim untuknya. Apalagi dalam undangan tersebut kaisar Huang mengajaknya untuk makan siang bersama dengan istrinya.
“ Kenapa juga aku harus membawa istriku masuk kedalam istana ?...apakah ada sesuatu yang serius ?....”, batin Bai Cheung cemas.
Kaisar Huang tentunya sudah mengetahui jasa Fan Jianying selama berada di wilayah perbatasan timur Huangshan dari laporan yang diberikan oleh Bingwen kepadanya.
Tapi sekarang, hampir semua wilayah yang ada dinegara Huangshan dalam kondisi aman terkendali.
Yang perlu diwaspadai saat ini adalah trencana pemberontakan pangeran kedua Song Yu dan penggelapan dana yang melibatkan kakaknya, Bai Wang yang saat ini masih dalam tahap investigasi.
“ Apa ini ada kaitannya dengan masalah pemberontakan pangeran kedua Song Yu atau masalah yang dibuat oleh kakak ?...”, batin Bai Cheung galau.
Dua hal yang sangat sensitif dan serius menurutnya. Dari hasil diskusi yang dilakukannya bersama dengan pangeran Wei Jie dan putra mahkota Qin Shi Huang dapat ditarik kesimpulan jika dana yang digelapkan oleh Bai Wang kemungkinan besar digunakan untuk membiayai pasukan rahasia milik pangeran Song Yu.
" Jika benar hal ini terjadi maka masalah yang dihadapi kakak sangatlah serius. Hal ini bisa disebut dengan pengkhianaatan kepada negara....", Bai Cheung terperanggah waktu memikirkan hal tersebut.
Jika Bai Cheung memikirkan lenbih dalam lagi, jumlah pasukan yang ada di perbatasan kota Xiantaro dan Banjiwen tidaklah besar dan tidak kuat.
Daipun mulai memikirkan jika mereka masih memiliki pasukan rahasia yang berada di tempat lain. Tapi saat ini Bai Cheung tak bisa memikirkan dimana lokasi persembunyian pasukan rahasia yang lainnya.
Semakin dipikir secara dalam, permasalahn ini semakin membuat kepala Bai Cheung terasa pening. Untuk menghirup udara segar, diapun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.
Pada saat keluar dari ruangan tempat kerjanya, Bai Cheung melihat sang istri berjalan dari arah dapur sambil membawa sepiring kudapan panas dengan asap yang masih mengepul.
Segera saja Bai Cheung menyuruh Liam untuk memanggil sang istri agar datang keruang kerjanya sekarang juga.
" Kurasa, aku harus mendiskusikan hal ini dengan Fan'er....", Bai Cheung berencana mendiskusikan semuanya dengan sang ijstri setelah melihat betapa kompetennya Fan Jianying dalam mengatasi permasalahan yang ada di perbatasan wilayah timur negara Huangsan beberapa waktu yang lalu.
Kali ini pun dia sangat yakin jika sang istri akan memberikan masukan yang bagus agar keluarga Bai tidak ikut mendapat hukuman jika sampai semua yang dilakukan oleh Bai Wang terbukti kebenarannya.
Dalam ruang kerjanya, Bai Cheung berjalan mondar – mandir dengan kedua tangan dibelakang punggung sambil sesekali melirik kearah pintu.
Menunggu kedatangan istrinya dengan hati gelisah. Sesekali Bai Cheung terlihat berguman dan sedetik kemudian dia menggeleng – gelengkan kepalanya, menyangkal argument yang baru saja diucapkannya.
Hal tersebut dilakukannya berulang kali sambil terus menatap cemas kearah pintu masuk ruang kerjanya.
Fan Jianying sedikit terkejut waktu melihat Liam datang mendekat dan menyuruhnya untuk datang keruang kerja suaminya.
" Kenapa wajah Liam tegang seperti itu ?...apa ada masalah yang serius ?....", batin Fan Jianying cemas.
Melihat Fan Jianying ingin menyerahkan kudapan panas yang baru saja selesai dibuatnya kepada Dayu, Liam segera menghentikannya.
“ Maaf nyonya, tuan muda bilang jika ingin mencicipi kudapan yang nyonya buat hari ini….”, ucap Liam sedikit gugup waktu melihat Fan Jianying langsung melotot mendengar ucapannya.
__ADS_1
" Apa !!!...jadi dia mmanggilku hanya karena kudapan ini !!!....", teriak Fan Jianying dengan mimik wajah tak percaya.
" Sia - sia saja aku sempat cemas tadi. Kupikir dia ada masalah serius, tak tahunya hanya karena takut kehabisan makanan...." , batin Fan Jianying menggerutu.
Fan Jianyingpun segera mengambil piring kecil ditangan Dayu dan mengambilkan beberapa kudapan untuk suaminya.
“ Bagikan sisanya kepada yang lain…”, perintah Fan Jianying sambil berlalu menuju ruang kerja sang suami.
Begitu tiba didepan ruang kerja suaminya, Fan Jianying segera masuk kedalam dan langsung meletakkan piring kecil berisi kudapan hangat yang dibawanya tersebut keatas meja.
" Ini mantao untukmu....", ucap Fan Jianying datar.
Awalnya Fan Jianying yang marah karena Bai Cheung memanggilknya kesini hanya untuk mengantar kudapan yang baru saja dibuatnya mengurungkan niatnya waktu melihat wajah suaminya ditekuk kedalam.
Melihat wajah suaminya sedikit kusut, Fan Jianying pun segera menghampiri sambil menepuk bahu Bai Cheung pelan dengan tatapan menyelidik “ Apa ada masalah ?...”.
Mendengar pertanyaan istrinya, Bai Cheung segera mengangkat wajahnya dan memberikan undangan yang diterimanya kepada Fan Jianying tanpa mengatakan apapun.
" Kaisar Huang ?....", batin Fan Jianying sambil menautkan kedua alisnya penasaran.
Fan Jianying segera membuka surat undangan yang ada ditangannya dengan rasa penasaran yang tinggi.
Begitu membaca isinya, Fan Jianying sangat tahu apa yang membuat wajah suaminya menjadi kusut seperti kertas diremas - remas seperti itu.
“ Apa pendapatmu tentang hal ini ?....”, tanya Fan Jianying sambil menatap suaminya penuh selidik.
“ Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana pemberontakan pangeran Song Yu dan keterlibatan kakak dalam melatih pasukan rahasia milik pangeran kedua….”, ucap Bai Cheung lesu.
Melihat wajah Bai Cheung yang terlihat binggung dengan ucapannya, Fan Jianying pun berusaha untuk menjelaskannya.
" Menurutku kaisar Huang bukanlah orang yang picik. Meski aku belum pernah bertemu dengan Yang Mulia, aku rasa kaisar Huang tidak akan melibatkan seluruh keluarga Bai mengingat bagaimana perjuangan kakek dalam membantu kaisar Huang agar bisa naik tahta dan membuat negara Huangshan menjadi besar seperti sekarang. Tentunya kontribusi dan kesetian keluarga Bai tidak perlu diragukan lagi.... " , Fan Jianying berusaha menjelaskan secara gamblang permasalahn tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Melihat suaminya masih terdiam tak merespon, Fan Jianying pun kembali bersuara “ Bagaimana jika kita diskusikan permasalahan ini dengan nenek…”.
Bai Cheung pun terlihat masih menimbang - nimbang sebelum menyetujui gagasansang istri.
Mengingat jika hal ini berhubungan dengan keberlangsungan nasib keseluruhan keluarga besar, Bai Cheung pun setuju dan mulai bangkit dari tempat duduknya.
“ Bawa kudapan itu untuk nenek…”, ucap Bai Cheung sambil mencomot satu mantao dan memasukkannya langsung kedalam mulutnya.
Fan Jianying tersenyum renyah waktu melihat suaminya membuka mulut karena dalamnya kue yang baru saja dia makan masih panas.
Diapun segera mengambilkan segelas air putih dan memberikannya kepada Bai Cheung sambil berkata “ Jika kamu sesuka itu, lain kali aku akan membuatkan lebih banyak untukmu….”.
“ Janji ya….”, ucap Bai Cheung sambil memberikan jari kelingkingnya.
Mau tidak mau, Fan Jianying pun melakukan janji yang biasa digunakan oleh anak kecil tersebut dengan suaminya.
Keduanya keluar dari ruang kerja dengan senyum merekah diwajahnya. Kekhawatiran akan undangan kaisar Huang yang tadi datang, berangsur – angsur mulai menghilang.
Di rumah utama, terlihat madam Chou baru saja berpamitan kepada matriak Bai ketika Bai Cheung dan Fan Jianying datang.
__ADS_1
“ Kalian rupanya….ayo masuk….”, sambut matriark Bai hangat.
Bai Cheung dan Fan Jianyingpun langsung masuk dan duduk disamping matriark Bai. Dari ekor matanya dapat Fan Jianying lihat jika madam Chou menatap sinis kepadanya.
Meski masalah percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh madam Chou kepadanya sudah tidak dipermasalahkan lagi oleh Fan Jianying.
Tapi kali ini , jika kakak iparnya itu hendak mencelakainya kembali, maka dia tidak akan tinggal diam lagi.
Bai Cheung melihat semua interaksi antara madam Chou dengan istrinya. Meski dia tak tahu apa hal yang telah terjadi, tapi jika di lihat dari interaksi keduanya dia bisa menyimpulkan jika hubungan keduanya tidak dalam keadaan baik.
Tak ingin membuang waktu lagi, Bai Cheung pun segera mengutarakan maksud tujuannya datang ke kediaman utama bersama sang istri.
Matriark Bai tak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya waktu sang cucu memberikan surat undangan dari kaisar Huang kepadanya.
“ Cepat atau lambat, masalah ini memang harus kita hadapi….”, ucap matriark Bai lemah.
“ Cheung, apa sudah ada kabar dari ayahmu ?...”, tanya matriark Bai cemas.
“ Belum nek….kemungkinan besar, malam ini kakak sudah bisa bertemu dengan ayah. Semoga besok pagi kita sudah bisa mendapatkan kabar sebelum masuk kedalam istana…”, ucap Bai Cheung berusaha menenangkan hati sang nenek.
“ Lalu, apa rencana kalian nanti ?...”, tanya matriark Bai penasaran.
Keduanya pun mulai menjelaskan rencana mereka kepada sang nenek secara gamblang. Bahkan Bai Cheung juga mengatakan jika masalah tersebut diangkat kepermukaan, dirinya akan memohon kepada kaisar Huang dengan menggunakan jasa seluruh keluarga Bai dalam medan perang selama ini.
“ Ya…hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini. Aku masih tak menyangka jika kakakmu bisa melakukan hal serendah itu. Padahal, keluarga kita tidak kekurangan….”, matriark Bai terlihat mendesah pelan dengan wajah sedih.
Fan Jianying segera mengenggam kedua tangan keriput tersebut untuk menenangkan hati sang nenek sambil berucap “ Nenek jangan terlalu banyak berpikir, Semua akan baik – baik saja….”.
Madam Chou yang mencuri dengan semua pembicaraan mereka segera pergi ke kediamannya dengan tubuh tegang.
Diapun segera untuk menulis surat kepada sang ayah mengenai permasalahan yang sedang dihadapi oleh keluarga Bai akibat perbuatan Bai Wang.
Dia sangat berharap, ayahnya tidak ikut terlibat dalam permasalahan yang sedang dihadapi oleh adik iparnya tersebut.
Madam Chou pun mulai memilah semua harta keluarga Bai yang selama ini dikelolanya. Dai memisahkan property yang tiap bulannya memiliki penghasilan yang besar.
Bagaimanapun juga dia harus menyisihkan harta keluarga Bai demi masa depan kedua putrinya jika sampai pengadilan menyita aset milik keluarga Bai akibat penggelapan pajak yang dilakukan oleh Bai Wang yang madam Chou jumlahnya tak sedikit.
Selain itu, madam Chou juga mulai berpikir untuk kembali membuat hubungan antara Bai Cheung dan Fan Jianying renggang.
Diapun mulai menyusun rencana untuk membuat keduanya salah paham sehingga hubungan baik yang telah terbina kembali rusak.
“ Aku tak akan membiarkan mereka hidup damai seperti itu….”, batin madam Chou penuh kebencian.
Jika hubungan adik ipar dan istrinya tersebut tetap harmonis dikhawatirkan Fan Jianying akan melahirkan keturunan untuk keluarga Bai.
Jika keturunan tersebut perempuan, mungkin madam Chou masih bisa tenang karena kedua putrinya mampu bersaing.
Tapi jika Fan Jianying sampai melahirkan anak laki – laki, maka bisa dipastikan seluruh kekuasaan yang telah dipegangnya saat ini pasti akan terlepas dan berpindah tangan kepada adik iparnya itu.
Dan keluarga ketiga akan semakin mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang berlimpah dari matriark Bai dan ibu mertuanya.
__ADS_1
“ Sebelum semua hal tersebut terjadi, aku akan menghentikannya….”, batin madam Chou penuh amarah.