
Wushhhh….wushhhh….wushhhh…..
Tak tak tak tak tak tak takkkkkk……
Puluhan anak panah menyambut kedatangan Fan Jianying didalam penjara Hongle. Namun dengan lincahnya semua panah beracun tersebut berhasil dia hindari.
Selanjutnya bola api melayang di udara ganti menyerang dari segala arah. Fan Jianying dengan sigap menghindari serangan demi serangan yang terus bermunculan menyambut kedatangannya tersebut.
Begitu semua halang rintang sudah teratasi dengan sempurna, masih ada pintu batu dengan ular hitam yang melingkar ditengahnya yang harus dia hadapi.
Sekilas, ular hitam yang ada dipintu batu tersebut seperti sebuah ornament. Namun jika dilihat dengan seksama, itu adalah ular asli yang sangat besar dan beracun.
Tanpa banyak bicara, Fan Jianying segera mengaktivkan tanda diantara dahinya. Kedua matanya langsung mengeluarkan sinar terang seiring dengan munculnya tanda bulan sabit diantara dahinya tersebut.
“ Ratu…..”, ucap ular hitam tersebut menunduk hormat.
Diapun segera melonggarkan lilitan tubuhnya hingga berangsur – angsur pintu batu tersebut terbuka dengan lebar.
Changyi cukup terkejut melihat ada gadis muda belia masuk dengan santainya ke dalam penjara Hongle yang dia jaga.
“ Apakah dia putri Wei Fei ?....”, batin Changyi menebak.
Meski dia belum pernah bertemu dengan putri bungsu kaisar Huang, namun begitu tahu jika gadis muda tersebut mampu menembus pertahanan penjara Hongle dengan mudah.
Maka tak bisa disangsikan lagi jika gadis muda itu pastinya putri Wei Fei yang sudah sangat lama disembunyikan oleh kaisar Huang tentang keberadaannya dari dunia.
Changyi langsung menunduk hormat begitu melihat Fan Jianying berjalan mendekatinya dengan wajah datar.
“ Malam putri, apa ada yang bisa saya bantu ?…..”, tanya Changyi sopan.
“ Antar aku ketempat Ming Huan…..”, ucap Fan Jianying dengan nada datar dan dingin.
“ Aura ini……”, seketika tubuh Changyi membeku waktu tatapan tajam dan dingin Fan Jianying menembus indera penglihatannya.
“ Mari…ikuti saya putri…..”, ucap Changyi sedikit gugup.
Meski Fan Jianying hanya diam tak banyak bicara, namun aura yang menguar dari dalam tubuhnya sudah dapat mengintimidasi orang yang ada dihadapannya secara tidak langsung.
Tak ingin membuang waktu lagi, Jenderal muda itu langsung saja mengantar Fan Jianying menuju sel tempat dimana Ming Huan berada.
__ADS_1
Karena posisi sel Ming Huan berada dipaling ujung maka dapat Fan Jianying lihat beberapa tahanan yang mendekam disana selama perjalanan.
Salah satunya adalah Nomura, pimpinan Black Tiger yang gagal membunuhnya dan terkena racun es buatannya.
“ Shhhh….”, Nomura hanya bisa mendesis dengan mata merah menyala penuh amarah.
Fan Jianying tersenyum mengejek melihat Nomura menatapnya dengan penuh amarah namun dia tak bisa menggerakkan tubuhnya karena racun es yang mengenainya sudah menyebar keseluruh tubuhnya.
Hanya ada rasa sakit yang cukup dalam yang bisa dia rasakan setiap harinya. Bahkan Nomura berharap dia bisa secepatnya mati agar keluar dari siksaan ini.
Racun es milik Fan Jianying ini hanya bisa ditawarkan oleh gadis itu sendiri. Jika tidak, penderita yang terkena racun tersebut tak akan bisa mati namun juga tak bisa sembuh.
Selamanya tersiksa seperti itu hingga ajal menjemputnya. Changyi bergidik ngeri waktu menyadari jika orang yang memberi Nomura racun es adalah gadis yang ada dihadapannya itu.
Keduanya segera meneruskan perjalanannya. Banyak pasang mata yang penasaran dengan gadis yang berjalan bersama Changyi tersebut.
Selama mereka berada didalam penjara Hongle, selain kaisar Huang dan Changyi mereka tak pernah melihat siapapun masuk ke tempat terkutuk tersebut.
“ Siapa sebenarnya gadis itu ?....kenapa Cahngyi begitu hormat kepadanya ?....”, itulah pertanyaan yang ada dibenak masing – masing tahanan yang mereka lewati.
Ming Huan terlihat sangat terkejut waktu mengetahui Fan Jianying datang bersama Changyi menemuinya.
“ Sudah kuduga…dia bukanlah gadis biasa…bahkan Changyi si penjilat itu tunduk dan hormat padanya....”, batin Ming Huan muak.
“ Untuk apa anda kemari ?....tidak mungkin kan anda ingin menjenguk saya….”, ucap Ming Huan sinis.
“ Aku kesini hanya ingin memberitahu jika nasib putrimu bergantung pada semua ucapanmu dipengadilan nanti….”, ucap Fan Jianying sambil tersenyum ramah.
Mendengar nama putrinya dibawa – bawa membuat darah Ming Huan seketika mendidih. Meski dia tak tahu apa yang terjadi dengan putrinya setelah gagalnya percobaan pembunuhan tersebut .
Namun dia masih bisa merasa tenang karena sepertinya kaisar Huang hanya mentargetkannya, bukan putrinya.
“ Jangan pernah sekali – kali kamu berani menyentuh Ming Chou !!!....”, teriak Ming Huan penuh amarah.
“ Jika begitu….sebaiknya kamu menurut dan tidak berbuat ulah, maka…. aku bisa mempertimbangkannya…. ”, ucap Fan Jianying sambil memainkan jemarinya dengan santai.
Dia sama sekali tak menyangka jika madam muda ketiga Bai tersebut akan mengancam dirinya dengan menggunakan putri kesayangannya, Ming Chou.
Melihat Ming Huan sama sekali tak bereaksi dengan ucapannya, Fan Jianyingpun kembali memprovokasi lelaki tua tersebut.
__ADS_1
“ Kurasa kamu bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh Yang Mulia Kaisar begitu mengetahui jika putrimu selama ini bersengkokol dengan Ratu Qinly untuk melakukan pemberontakan….. ”, ucap Fan Jianying menjeda kalimatnya sambil menatap tajam kearah Ming Huan yang terlihat mulai panik namun berusaha untuk tidak diperlihatkan dihadapan Fan Jianying.
“ Kurasa, jika hal ini kebongkar….bukan hanya nasib putrimu yang berada di ujung tanduk melainkan nasib keberadaan keluarga Ming di negara Huangshan yang akan jadi taruhannya….”, Fan Jianying meneruskan kalimatnya sambil mengeluarkan smirk devilnya.
Mendengar jika keluarga Ming akan dimusnahkan, Ming HUan pun tak bisa lagi untuk bersikap tenang dan mengontrol emosinya yang sedari tadi sudah meluap.
“ Dasar wanita iblis !!!....”, maki Ming Huan penuh amarah.
“ Hey….jangan salahkan aku, salahkan saja putrimu karena berani menyentuhku. Padahal, masalah Nomura aku sudah melepaskannya. Tapi, kenapa dia berbuat ulah lagi…..”, ucap Fan Jianying santai.
“ Maka dari itu, kamu juga jangan berbuat ulah jika tidak ingin keluarga Ming hilang dari negara Huangshan….”, ucap Fan Jianying penuh penekanan.
Ming Huan hanya terdiam, galau memikirkan semua ucapan Fan Jianying. Dilain sisi, dia tak ingin mengkhianati Ratu Qinly.
Namun disisi yang lain, nasib keluarga Ming dipertaruhkan. Apalagi keberadaannya sekarang di penjara Hongle sudah menunjukkan bahwa kaisar Huang tak main – main dengan permasalahan yang menjeratnya kali ini dan tak ada kata mundur disini.
“ Bagai makan buah simalakama….”, batin Ming Huan muali putus asa.
Melihat raut wajah Ming Huan yang putus asa diam – diam Fan Jianying tersenyum puas dalam hati.
Diapun segera meninggalkan penjara Hongle dan membiarkan ayah madam Chou tersebut berperang dengan hati dan pikirannya sendiri.
Changyi yang sempat mencuri dengar pembicaraan keduanya sama sekali tak menyangka, hanya dengan kata – kata sederhana seperti itu sudah bisa membuat Ming Huan yang biasanya tenang dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada dibuat tak berkutik hingga putus asa seperti itu.
“ Aku tak menyangka jika putri bungsu kaisar Huang begitu mengerikan seperti ini…. ”, batin Changyi bergidik ngeri.
Putra mahkota Qin Shi Huang yang sedari tadi menunggu Fan Jianying keluar dari penjara Hongle merasa sangat lega waktu melihat gadis yang dicintainya itu keluar dalam kondisi baik - baik saja.
“ Benar – benar sang terpilih. Sayangnya, aku tak bisa bersanding dengannya karena darah yang mengalir didalam tubuh kami sama….”, batin putra mahkota Qin Shi Huang sedih.
Meski begitu, dia bertekad akan membuat Fan Jianying berada di sisinya meski tidak menjadi istrinya.
Untuk itu, dia akan berupaya untuk membujuk adik tirinya itu agar mau masuk kedalam istana dan mendukung semua hal yang dilakukannya didalam pemerintahan.
Melihat putra mahkota Qin Shi Huang pergi selepas istrinya meninggalkan penjara Hongle membuat hati Bai Cheung tak tenang.
Bai Cheung merasa jika tatapan putra mahkota Qin Shui Huang terhadap istrinya bukanlah tatapan seorang kakak kepada adiknya.
Tapi lebih kepada tatapan penuh pemujaan seorang lelaki dewasa terhadap gadis yang sangat dicintainya.
__ADS_1
“ Kuharap feelingku ini salah….”, batin Bai Cheung menghibur diri.
Diapun segera meninggalkan istana bersama Liam untuk kembali ke kediamanannya menyusul sang istri yang sudah lebih dulu pulang.