
Dipintu gerbang kamp militer dapat jenderal besar Tian lihat Bingwen berdiri tegak bersama lima prajurit laki – laki dan dua orang prajurit wanita dengan baju aneh.
Bingwen segera memberi hormat begitu jenderal besar Tian ada dihadapannya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Saat sudah dekat, dapat jenderal besar Tian lihat jika lelaki yang bersama Bingwen semuanya adalah pasukan bayangan yang dimiliki oleh kaisar Huang dan putra mahkota Qin Shi Huang.
Karena waktu kecil dia sudah sering ikut masuk ke dalam istana bersama ibundanya, maka dia tidak asing dengan para pasukan bayangan yang selama ini dengan setia melayani kaisar Huang dan putra mahkota Qin Shi Huang.
Tapi, untuk dua gadis muda yang ada dihadapannya, dia sama sekali tidak pernah melihatnya.
Karena ingin cepat mengetahui kedatangan delapan orang tersebut ke wilayah perbatas timur, jenderal besar Tian pun segera mengajak mereka untuk masuk kedalam tenda dan menjamunya.
“ Silahkan duduk santai…maaf kami tak bisa menjamu dengan pantas karena baru saja terjadi musibah di kamp…”, ucap jenderal besar Tian sedih.
“ Hira…tolong ambilkan kudapan yang sudah kusiapkan dipelana kuda…”, perintah Fan Jianying pelan.
Mendengar hal itu, jenderal besar Tian pun merasa tak enak hati karena merepotkan tamunya dengan menghidangkan bekal yang mereka bawa.
Tapi bagaimana lagi, nasib buruk seakan menghantui kamp setelah bahan panggan habis tak bersisa.
Dengan wajah murung, jenderal besar Tian pun mulai menceritakan semua yang dialami di kamp beberapa hari kemarin.
Bingwen langsung manatap Fan Jianying seolah mengatakan “ Mungkin musuh yang menyerang kamp. militer sama dengan orang yang melepas katak mutasi di kota Zhanzhou…”.
Hira segera membuka kotak bekal yang diambilnya dan menyajikannya diatas meja. Mata jenderal besar Tian terbelalak waktu melihat kue yang indah tersebut.
“ Silahkan….”, ucap Fan Jainying ramah.
Setelah merasakan satu kue berbentuk indah tersebut, satu mata jenderal besar Tian menyipit dan mulai memandang Fan Jianying dengan kening berkerut.
“ Anda adalah…”, ucap jenderal besar Tian sedikit ragu.
Bingwen yang lupa memperkenalkan anggota yang dibawanya segera bersuara setelah menelan kue yang berada dimulutnya.
“ Mohon maaf jenderal, saya lupa memperkenalkan anggota yang saya bawa…”, ucap Bingwen tersenyum lebar.
“ Jika kelima laki – laki tampan ini tentunya anda sudah kenal, jadi tidak perlu saya sebutkan namanya…”, ucap Bingwen berkelakar.
Jenderal besar Tian hanya bisa tersenyum lebar melihat lima orang pemuda tampan yang duduk disamping Bingwen.
“ Dihadapan saya ini adalah madam ketiga Bai dan gadis cantik yang duduk disampingnya adalah pelayan pribadinya, Hira…”, ucap Bingwen memperkenalkan.
“ Pantas saja, kue ini sangatlah lezat ternyata memang madam ketiga Bai yang membuatnya......”, ucap jenderal besar Tian terkekeh.
“ Jadi, tujuan kalian kesini adalah mengawal madam ketiga Bai untuk menemui suaminya ya….”, ucap jenderal besar Tian asal tebak.
“ Saya maklum, pengantin baru pasti sedang panas – panasnya…”, ucap jenderal besar Tain menggoda.
“ Bu..bukan seperti itu…”, ucap Fan Jainying gugup.
Jenderal besar Tian semakin terkekeh waktu melihat semburat merah yang keluar dari wajah Fan Jianying.
Bai Cheung yang baru saja ingin berjalan menuju tendanya bersama Liam untuk mengambil kudapan terpaksa mengurungkan niatnya waktu mendengar suara tawa jenderal besar Tian dari dalam tendanya.
Suatu hal yang sangat langkah terjadi hingga membuat keduanya diliputi rasa penasaran dan berjalan masuk kedalam tenda.
__ADS_1
Melihat Bai Cheung bersama Liam masuk kedalam tenda, entah kenapa jiwa usil jenderal besar Tian kembali lagi.
“ Cheung…masuklah, istri tercintamu datang mengunjungimu….”, ucap jenderal besar Tian dengan senyum lebar.
Wajah Fan Jainying bertambah merah waktu jenderal besar Tian kembali menggodanya. Ingin rasanya dia menenggelamkan diri didalam sungai saat ini juga karena malu.
Bagaimana bisa jenderal besar Tian mengatakan hal tersebut kepada laki – laki yang sangat membencinya itu.
Fan Jianying tak bisa membayangkan wajah kesal suaminya waktu mengetahui dirinya datang kesini.
Jika Liam terlihat sangat gembira menyambut kedatangan Fan Jianying, namun tidak dengan Bai Cheung.
Meski dalam hatinya dia merasa senang, tapi dia berusaha keras untuk menyangkalnya dan menampilkan wajah datar dan dingin ke semua orang.
“ Cheung…kemarilah…kenapa kamu masih berdiri diam disitu…apakah kau tak rindu dengan istri cantikmu ini ?...”, ucap jenderal besar Tian dengan pandangan menggoda.
Fan Jianying yang telah kembali normal memasang wajah datar dan mengangkat kepalanya untuk melihat suami yang telah mencampakkannya itu.
“ Apa ini ?!!!....”, batin Fan Jianying terkejut.
“ Apakah benar lelaki yang ada dihadapannya ini adalah suaminya ?...”, sekali lagi batin Fan Jianying bersuara tak percaya akan penglihatannya.
Beberapa kali dia terlihat mengusap matanya, berharap pandangannya salah, namun hal tersebut nyata adanya.
Dihadapannya sekarang terlihat seorang laki – laki lusuh dengan jambang dan kumis yang panjang tak beraturan dengan rambut gondrong yang disanggul diatas kepala.
Tubuhnyapun terlihat semakin kusam dan kurus. Sangat berbeda dengan Bai Cheung suaminya yang selama ini selalu menomor satukan penampilannya.
Liam yang mengetahui keterkejutan nyonya mudanya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil bersuara.
Bai Cheung langsung menatap Liam dengan tatapan membunuh. Bagaimana bisa pengawal pribadinya mengadu seperti itu kepada wanita jahat yang ada dihadapannya itu.
Fan Jianying yang melihat suasana menjadi dingin dan canggung akhirnya bersuara untuk menghilangkan kesunyian yang ada.
“ Sebenarnya maksud kedatangan kami kesini adalah ingin meminta bantuan dari jenderal besar Tian untuk mengisolasi warga kota Fushou dari serangan katak mutasi…”, Fan Jianying mulai melakukan pembukaan.
Selanjutnya diapun mulai menjelaskan apa yang terjadi di kota Zhanzhou yang sempat mereka singgahi kemarin.
Bukan hanya Fan Jianying saja yang berbicara, Bingwen dan yang lainnya juga menceritakan apa saja yang telah mereka temui dan hadapi disana.
“ Kami berpikir mungkin target selanjutnya adalah kota Fushou karena kota inilah yang terdekat dengan Zhangzhou. Dan mengenai laba – laba mutasi yang anda ceritakan tadi kemungkinan besar juga dilakukan oleh kelompok orang yang sama…”, Bigwen pun berusaha mengatakan asumsinya yang menyebabkan mereka datang ke kamp militer ini.
Jenderal besar Tian dan Bai Cheung sangat terkejut dengan semua yang dibeberka oleh istri dan pasukan bayangan kaisar Huang dan putra mahkota Qin Shi Huang.
“ Hira, tolong ambilkan perlengkapan yang tadi kita bawa…”, Fan Jianying pun meminta Hira dan Jian, salah satu pasukan bayangan milik putra mahkota Qin Shi Huang untuk mengambil perlengkapan yang sudah disiapkannya.
Fan Jianying pun segera menjelaskan satu persatu fungsi semua peralatan yang dibawanya tersebut agar bisa segera didistribusikan kepada seluruh prajurit.
“ Menurut kalian, siapa dalang semua ini ?...”, ucap jenderal besar Tian penuh selidik.
“ Ratu Qilin….”, ucap Peizhi singkat.
“ Kenapa kamu bisa seyakin itu….”, tanya jenderal besar Tian tajam.
“ Karena Heng Yuan salah satu kaki tangan pangeran kedua Song Yu lah yang membawa katak mutasi tersebut kemari….”, ucap Bingwen menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar nama Heng Yuan disebut, Bai Cheungpun tersenyum masam. Hatinya langsung terasa sangat sakit.
“ Ohhh…jadi ini tujuanmu datang kemari, istriku…”, ucap Bai Cheung dengan nada mengejek.
“ Ternyata perempuan jahat ini sama sekali tak berubah. Bukannya menjenguk sang suami dia malah kesini bersama kekasihnya dengan alibi membantu pasukan yang ada di kamp dan warga Fushou. Sungguh sangat licik…”, batin Bai Cheung negative thinking.
Fan Jianying langsung menatap tajam Bai Cheung. dirinya sama sekali tak tahu kenapa suaminya itu selalu berburuk sangka kepadanya.
Jika Fan Jianying tidak ingat ada banyak nyawa yang harus diselamatkan di kota Fushou, dirinya juga tidak akan sudi datang kesini untuk meminta bantuan.
Hira yang ingin bersuara agar tuan mudanya itu tak salah paham, ditahan oleh Fan Jianying. Dia sangat tahu akan begini jadinya jika nama Heng Yuan disebut.
Belum juga Fan Jianying berbicara, Aiguo yang sudah tahu tentang semua perlakuan buruk Bai Cheung terhadap istrinya tak terima jika hati madam ketiga Bai kembali disakiti seperti itu.
“ Tujuan kami mengantar madam ketiga Bai memang bukan kesini, tapi ke hutan kematian….”, ucap Aiguo sewot.
Bai Cheung langsung membeku waktu mendengar ucapan salah satu pasukan bayangan milik putra mahkota Qin Shi Huang tersebut.
Belum habis keterkejutan Bai Cheung dan jenderal besar Tian, Fan Jianyingpun mulai angkat bicara.
“ Karena peringatan sudah kami sampaikan dan perlengkapan untuk menghadapi hewan tersebut sudah kami berikan maka kamipun tak akan menunda waktu lagi untuk mencapai tujuan yang sebenarnya…”, ucap Fan Jianying tajam.
Tanpa melihat kearah sang suami, Fan Jianying segera bangun dari tempat duduknya untuk berpamitan kepada jenderal besar Tian.
Jenderal besar Tian yang merasa tak enak hati oleh ucapan Bai Cheung yang terkesan menuduh berusaha untuk menahan Fan Jianying agar pergi setelah makan siang.
Namun usaha tersebut tak berhasil, Bai Cheungpun yang tahu kesalahannya hanya terdiam sambil berpikir ada hal apa hingga istrinya itu pergi ke hutan kematian.
“ Setelah mengantar saya, para pasukan akan membantu anda disini sampai saya kembali…”, ucap Fan Jianying berpamitan.
Bai Cheung langsung menarik pergelangan tangan Fan Jianying untuk berbicara dengannya empat mata.
Namun, Fan Jianying yang sudah tersinggung dan sakit hati segera menghempaskan dengan kasar tangan suaminya.
Meski banyak mata yang menyaksikkan, namun Fan Jianying sudah tidak perduli lagi. Jika di ibukota dia masih akan bersikap baik karena menjaga perasaan nenek dan ibu mertuanya.
Tapi disni, dia tak perlu menjaga nama baik suaminya jika lelaki itu sendiri tak bisa menghargainya.
“ Sebaiknya kamu anggap aku tidak ada seperti biasanya…”, ucap Fan Jianying tajam.
Tidak ingin kembali berdebat, Fan Jianying pun segera naik keatas kuda dan langsung melajukannya dengan kencang.
Diikuti oleh Hira dan enam orang pemuda tampan yang mendampinginya. Sementara Bai Cheung segera pergi kedalam tendanya dengan gusar.
“ Wanita jahat itu !!!...kenapa dia selalu membuat aku merasa bersalah seperti ini…”, batin Bai Cheung geram.
Sementara itu, jenderal bresar Tian dan Liam yang mengantar kepergian mereka hanya bisa menghela nafas cukup dalam.
" Apakah Bai CHeung selalu seperti itu ?....", tanya jenderal besar Tian penasaran.
" Jika di ibukota, biasanya lebih buruk dari ini karena nyonya sama sekali tidak memberi perlawanan waktu tuan muda menindasnya....", ucap Liam sedih.
Jenderal besar Tian sedikit terkejut waktu mendengar penuturan Liam barusan. Dia sama sekali tak menyangka jika Bai Cheung memiliki sikap seburuk itu terhadap istrinya.
" Aku tidak tahu kenapa tuan muda begitu membenci nyonya. Padahal nyonya tidak melakukan apapun dan menyusahkannya. Gadis itu baik hati dan penurut. Bahkan matriark Bai dan nyonya utama begitu menyayanginya...", Liampun mulai mencurahkan semua isi hatinya selama ini kepada jenderal besar Tian.
__ADS_1
Dia masih sangat berharap, suatu saat nanti tuan mudanya itu bisa membuka hati untuk Fan Jianying dan hidup bahagia.