CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 30. Pergi ke tempat wisata


__ADS_3

Damian kini mulai terbakar cemburu dan kehadiran Doni benar-benar membuatnya bersemangat. Semangat mendapatkan cinta Vera yang diklaim Doni sebagai calon istrinya.


Selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan bagi Damian untuk memperjuangkan cintanya. Yang terpenting, mendapatkan cinta Vera terlebih dahulu. Setelah itu, barulah meminta restu pada sang ayah yang sejak awal menentangnya.


"Vera, kita berangkat sekarang," ajak Bu Farida sambil menatap Vera.


"Vera, mau kemana?" tanya Doni penasaran.


"Ini, mau mengantarkan ibu Farida melihat-lihat kampung. Kamu pulang saja, ya? Atau, kalau mau tunggu ayah, juga nggak papa. Tapi aku nggak tahu pulangnya kapan," jawab Vera.


"Aku pulang sajalah. Aku temui ayahmu nanti saja," ucap Doni kesal.


"Kalau begitu, kami pergi dulu," ucap Vera lalu berjalan mengikuti Damian yang berjalan terlebih dulu bersama ibunya.


Doni tampak sangat kesal, melihat Vera akan pergi bersama Damian. Meskipun ada ibunya Damian, tetap saja, mereka bisa berduaan.


Sementara itu, Damian tertawa dalam hati melihat Doni. Damian tahu jika Doni pasti sangat tidak suka melihat Vera pergi bersama Damian dan ibunya.


"Vera, kamu duduk di depan. Ibu duduk dibelakang saja, sambil mau tiduran," ucap Bu Farida sambil membuka pintu samping.


"Baik, Bu," jawab Vera lalu dia membuka pintu depan.


Dengan santai, Damian memakaikan sabuk pengaman untuk Vera. Vera sangat kaget, karena Damian tidak berbicara apapun. Wajah Damian yang sangat dekat dengan wajahnya, membuat Vera membayangkan sesuatu. Menoleh sedikit saja, sudah bisa mencium Vera.


Tiba-tiba, hati Vera berdebar-debar dan jantungnya berdetak kencang. Perasaan seperti ini, seperti perasaannya pada Rendra dahulu. Tetapi, Vera mulai menepisnya, karena dia tidak akan mungkin jatuh cinta pada orang kaya seperti Damian. Yang juga adalah atasannya.

__ADS_1


Rasa canggung yang terlihat diantara keduanya membuat bu Farida tersenyum. Bahagia rasanya, Vera mau menerima cinta putranya.


"Vera, kamu nanti, tunjukan jalan sama Damian. Ibu istirahat sebentar, nanti kalau sudah sampai, bangunkan ibu," ucap Bu Farida sambil mencari posisi rebahan yang nyaman.


"Iya, Bu. Ibu, istirahat saja," jawab Vera sambil melihat ke arah ibunya Damian.


Damian segera menjalankan mobilnya menuju arah yang ditunjuk Vera. Mereka akan pergi ke sebuah tempat wisata yang cukup terkenal di daerah tempat tinggal Vera.


Namanya Goa Pancur. Seperti namanya, Goa Pancur, sebuah tempat wisata berupa sebuah gua yang di dalamnya ada airnya, yang bisa digunakan untuk mandi dan berenang.


Diluar, ada danau yang sudah di tata sedemikian rupa, untuk tempat wisata. Dan juga ada kapal bebek untuk anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dinaiki sepasang muda mudi atau pasangan kekasih.


Setelah sampai disana, dan mobil sudah terparkir rapi, mereka bertiga turun dan mulai melihat-lihat. Bu Farida mengikuti langkah Vera menuju ke arah goa. Damian mengabadikan momen tersebut dengan ponselnya. Beberapa kali di mengambil gambar Vera dan ibunya yang sedang berdiri ataupun juga sedang bermain air.


Bu Farida berinisiatif, untuk mengambil gambar Vera dan Damian. Karena itu, Bu Farida meminta ponsel Damian dan menyuruh Vera serta Damian untuk difoto. Vera dan Damian tidak bisa menolak keinginan Bu Farida. Mereka berdiri didepan mulut goa dengan posisi berjauhan. Bu Farida menarik napas panjang dan meminta mereka untuk lebih dekat. Tidak hanya satu kali, tetapi beberapa kali Bu Farida mengambil foto mereka berdua.


Vera mengajak Damian melihat kapal bebek yang terlihat penuh warna warni. Beberapa anak-anak dan pasangan muda mudi, naik kapal bebek dan mereka terlihat sangat senang.


"Vera, kita naik kapal bebek itu. Aku pingin coba," ajak Damian.


"Tapi, aku takut," jawab Vera sedih.


"Loh, kok takut? Memangnya kamu tidak pernah naik?"


"Nggak. Rasanya, bayanganku kayak mau jatuh terbalik. Jadi ...." Vera terdiam dan dia hanya bisa menarik menarik napas panjang.

__ADS_1


"Jangan takut Vera. Kan ada aku. Aku akan bertanggung jawab. Percayakan hidupmu padaku, aku akan menjaganya, meskipun nyawaku taruhannya," ucap Damian sungguh-sungguh.


"Kenapa ucapanmu seperti ...." Vera tidak melanjutkan ucapannya dan hanya tersenyum.


"Seperti apa, mau tidak?" tanya Damian lagi.


"Iya. Tapi, kamu harus benar-benar jaga aku," jawab Vera sambil menatap Damian.


"Siap," jawab Damian dengan cepat.


Mereka kemudian membeli tiket dan segera naik kapal bebek. Saat akan naik, Vera benar-benar merasa ketakutan. Damian dengan sabar membantu memegangi tangan Vera. Damian memanfaatkan keadaan ini, karena Vera tidak merasa malu menggenggam tangannya. Vera tidak berpikir jauh, karena rasa takutnya sangatlah besar.


Setelah duduk, Vera memejamkan matanya dengan terus menggenggam tangan Damian. Sampai saat kapal bebek bergerak setelah Damian mengayuhnya, Vera masih merasa takut.


"Vera, coba perlahan buka mata kamu. Kamu tidak usah takut, karena aku ada di sampingmu. Apa belum cukup kamu menggenggam tanganku? Apa perlu aku peluk, supaya kamu lebih berani?" tanya Damian menggoda Vera.


"Damian, kamu jangan bercanda," ucap Vera sambil melepaskan pegangan tangan Damian.


Tiba-tiba, kapal bebeknya sedikit oleng sehingga membuat Vera kembali memegang tangan Damian. Vera kali ini baru sadar, jika dia sejak awal sudah menggenggam tangan Damian. Dia baru merasakan, aliran darahnya sedikit panas dan wajahnya memerah karena malu.


Damian sendiri tidak jauh berbeda. Bahkan, dia merasa tangan Vera mengalirkan listrik ke dalam tubuhnya. Detak jantungnya sangat cepat dan dia agak takut jika Vera menyadari itu, dia pasti akan malu. Dia belum siap berterus-terang karena takut ditolak oleh Vera. Damian ingin memastikan, jika ungkapan cintanya akan diterima oleh Vera.


Tetapi, jika dia teringat pada Doni, Damian merasa waktu untuknya tidaklah cukup. Jadi, dia harus bertindak secepatnya dan memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin.


Seperti saat ini, Vera sudah merasa nyaman berdekatan dengannya.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2