
Salju yang terus turun dengan deras dan cuaca dingin yang ekstrim tak menghalangi Fan Jianying untuk memasang tanaman beracun disekitar pagar keliling yang sudah berhasil dibuat oleh para prajurit.
Setelah selesai, dia segera naik untuk memasang teleskop di beberapa pos penjagaan agar mereka bisa melihat lebih jauh pergerakan musuh yang datang mendekat.
Selain teleskop, Fan Jianying juga meletakkan beberapa busur panah beracun yang diambilnya dari gudang perlengkapan dan diolesi dengan racun.
Di pos, Fan Jianying juga memberikan alat sensor pendeteksi hewan mutasi. Jadi jika ada hewan mutasi yang berusaha mendekati wilayah perbatasan, dari jarak dua ratus meter pergerakan mereka bisa terdeteksi.
Setelah semua beres, Fan Jianying segera pergi kedapur karena tadi koki Lizeng menyuruhnya untuk membantunya membuat bumbu yang akan dijadikan olesan daging kelinci mutasi yang baru saja mereka dapatkan.
“ Peti dingin ini cukup membantu. Selain bahan makanan bisa awet dan tetap fresh, kita juga menimbun makanan lebih banyak disana selama musim dingin ini…”, ucap koki Lizeng bahagia.
Bagaimana tidak bahagia, sejak ada peti dingin perkerjaan koki Lizeng jauh lebih mudah karena dia tinggal memasukkan daging berbumbu kedalam panci atau wajan yang ada disana.
Bisa juga dia membakar daging tersebut ataupun menggoreng sosis dan nuget hasil buatan Fan Jianying yang tersimpan di peti dingin tersebut.
Hal tersebut menurutnya lebih menghemat waktu dan bisa menghasilkan makanan yang beraneka varian serta kaya akan nutrisi untuk para prajurit.
Dimana hal itu sangat sulit untuk didapatkan sebelumnya. Karena menipisnya bahan makanan dan banyaknya hewan yang mengalami mutasi dan beracun, para prajurit terpaksa harus memakan bubur setiap hari.
Mereka baru akan dapat lauk tambahan jika ada keluarga mereka dari ibukota mengirimi mereka paket makanan. Jika tidak, maka mereka akan makan dari bahan yang tersedia di kamp militer saja.
Setelah semua urusan selesai, Fan Jianying pun bergegas menuju tenda Hira tempat pangeran Xioran dirawat untuk menuntaskan rasa penasarannya akan pemuda tersebut.
Begitu Fan Jianying masuk kedalam tenda, Hira segera bangkit dan keluar begitu nyonya mudanya itu memberi isyarat.
Setelah Hira keluar, Fan Jianying segera memasang pelindung agar tidak ada orang yang bisa mendengar percakapan mereka.
Begitu pelindung selesai dipasang, Fan Jianying mulai duduk dan menatap wajah tampan pangeran Xioran dengan intens.
Bukan ketampanan pangeran Xioran yang membuat Fan Jianying tertarik. Melainkan aura lain yang dirasakannya sejak pertama kali melihat pemuda tersebut.
Dia merasa seakan – akan pemuda dihadapannya itu memiliki dua jiwa yang berbeda. Dimana satu jiwa yang ada didalam tubuh pangeran Xioran tersebut sangat familier dengannya.
__ADS_1
Perlahan, pangeran Xioran bangun dengan sorot mata berwarna hijau terang. Berbeda dengan retina mata aslinya yang berwarna coklat tua.
Setelah matanya terbuka sempurna, pangeran Xioran yang masih belum bisa bangun hanya menganggukkan kepala sebagai sikap hormat.
“ Selamat datang Ratu….maaf, saya telat memberi salam…”, ucapnya sopan.
Dipanggil seperti itu Fan Jianying hanya bisa menautkan dua alisnya dan menatap pemuda tersebut dengan heran.
“ Siapa kamu ?...”, Fan Jianying bertanya sambil memicingkan matanya dengan curiga.
“ Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Saya peramal Yan. Karena tubuh asli saya menghilang setelah saya berhasil menguasai kekuatan pemindah roh, jadi saya mencari tubuh lain untuk saya masuki. Selama ini saya selalu berpindah – pindah tubuh dan terus memantau kelahiran kembali anda, Ratu. Begitu Ratu dilahirkan kedalam tubuh putri kaisar Huang sayapun memutuskan untuk menetap di tubuh pangeran Xioran yang pada saat itu dalam kondisi kritis. Dan sejak saat itu saya terus menanti tanda – tanda kehadiran anda di hutan kematian dari negara Yulin…”, ucap peramal Yan menjelaskan.
Fan Jianying terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam waktu mendengar kata “ Peramal Yan ”.
Suatu nama yang cukup familiar ditelinganya hingga sekelebat ingatan muncul di kepalanya, membuatnya mengerti.
“ Tunggu !!!...jadi anda yang menyegel kekuatan yang ada dalam tubuh saya ketika saya baru lahir…”, ucap Fan Jianying menebak.
“ Benar Ratu. Karena waktu itu kekuatan anda meluap tak terkontrol. Jika hal tersebut terjadi dalam waktu yang cukup lama, maka raja iblis akan bangkit kembali. Seperti sekarang, King of Devil muncul begitu anda mengaktifkan kekuatan milik Ratu Elisabeth di hutan kematian… ”, peramal Yan terus saja memberikan penjelasan kepada Fan Jianying.
Dari peramal Yan ini jugalah dia bisa mengetahui kelemahan pasukan King of Devil yang akan menyerang kota Fushou dua hari lagi.
“ Lalu dimana raja iblis sekarang ?...kenapa hanya pasukannya yang muncul jika dia menyadari kebangkitanku ?...”, ucap Fan Jianying penuh tanda tanya.
“ Pasukan ini dikirim untuk meyakinkan pertanda kemunculan anda, Ratu….”, ucap peramal Yan lemah.
Mendengar ucapan peramal Yan, Fan Jianying terlihat sedikit binggung. Melihat Ratunya masih belum menangkap makna dalam ucapannya, peramal Yan pun mulai menjelaskan semuanya.
“ Jadi, saya harap dalam pertempuran nanti anda jangan menggunakan kekuatan anda yang dapat memicu tanda di dahi anda muncul. Dan juga jangan membawa Lexus dan Gao dalam pertempuran karena kedua hewan kontrak tersebut sangat identik dengan Ratu Elisabeth… ”, ucap peramal Yan memberi saran.
Karena tubuh pangeran Xioran masih lemah, maka peramal Yan langsung menghilang setelah menjelaskan point – point penting tersebut kepada Fan Jianying.
Peramal Yan sangat berharap dalam kesempatan kali ini Fan Jianying bisa mengalahkan pasukan King of Devil dengan mudah tanpa menggunakan kekuatannya.
__ADS_1
Sehingga raja iblis tak mencurigainya lagi dan gadis itu dapat membantunya mencari tubuhnya yang asli agar jiwanya bisa kembali lagi.
Tapi sayangnya, dimana letak tubuh aslinya tersebut hanya Ratu Elisabeth yang mengetahui setelah dia berhasil menguasai ilmu perpindahan roh yang dilatihnya.
Untuk itu, dengan berenkarnasinya sang Ratu kedalam tubuh Fan Jianying dan kekuatannya sudah bangkit kembali.
Dia sangat berharap gadis belia itu bisa perlahan – lahan memulihkan ingatannya sehingga dapat membantunya untuk menemukan tubuh aslinya.
Melihat peramal Yan sudah kembali tertidur, Fan Jianyingpun segera memeriksa denyut nadi pangeran Xioran.
Melihat denyut nadinya sangat lemah, Fan Jianying segera mengambil jarum akupuntur dibalik lengan bajunya dan mulai menggunakannya.
Setelah lima menit berlalu, denyut nadi pangeran Xioran sudah kembali normal dan Fan Jianying pun segera mencabut jarum ukupuntur tersebut dan memasukkan kembali diwadah munggil kayu berukiran naga lalu menyimpannya dibawah lengan bajunya.
Pangeran Xioran yang baru saja membuka mata dan melihat gadis cantik duduk dihadapannya seketika merasa jika bunga – bunga bertaburan dimana – mana.
Dia terus saja menelusuri wajah munggil, putih, mulus tanpa celah tersebut dengan indera penglihatannya.
“ Apakah dia bidadari ?...”, batin pangeran Xioran terpesona.
Melihat gadis cantik dihadapannya tersenyum, hati pangeran Xioran berdetak kencang tak beraturan.
“ Gimana perasaanmu ?...apa ada yang sakit ?...”, tanya Fan Jianying lembut.
“ Sa…saya sudah baikan…”, ucap pangeran Xioran gugup.
Mendengar pangeran Xioran terlihat gugup dan retina matanya kembali berwarna coklat tua, Fan Jianying pun tersenyum ramah.
" Jadi begini aslinya pangeran Xioran ..sangat berbeda jauh ketiga peramal Yan mengambil alih tubuhnya...", batin Fan Jianying bermonolog.
Melihat peluh membasahi dahi pangeran Xioran, Fan Jianyingpun segera mengambil saputangan dari sakunya dan mengusap lembut dahi pemuda tersebut tanpa mengetahui ada sepasang mata menyala mengawasi keduanya.
“ Kenapa wanita itu selalu baik kepada semua orang, tapi tidak kepadaku !!!....”, Bai Cheung hanya mengeram marah dalam hati.
__ADS_1
Fan Jianying yang menyadari kedatangan suaminya, memilih untuk mengacuhkannya dan mengambil pil penyembuh level tujuh miliknya dan memberikannya kepada pangeran Xioran agar kondisi tubuhnya bisa cepat pulih.