CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
MURKA


__ADS_3

Bingwen dan rekan – rekannya segera menghadap kepada kaisar Huang begitu sampai di istana Huangwe.


Kebetulan malam itu kaisar Huang sedang berdiskusi mengenai bencana kelaparan yang ada dikota Xiantaro dengan putra mahkota Qin Shi Huang dalam ruangannya.


Kabar dan barang bukti yang dibawa Bingwen tentunya menjadi angin segar bagi keduanya yang merasa mengalami jalan buntu dalam menangangani krisis pangan di kota Xiantaro.


“ Apa ini ?!!!!....”, teriak kaisar Huang penuh amarah.


Kaisar Huang terlihat sangat murka waktu melihat catatan jika seluruh bahan pangan yang dikirim dari ibukota untuk membantu korban bencana kelaparan di kota Xiantaro di ambil dan dijual lagi dengan harga tinggi oleh pejabat setempat.


Amarahnya semakin memuncak waktu dia melihat catatan pengelapan dana pajak dan pungutan liar yang terjadi di kota Banjiwen.


Putra mahkota Qin Shi Huang pun juga terbelalak waktu melihat betapa besar nilai yang dikorup oleh para pejabat setempat.


Dengan penuh amarah, kaisar Huang segera memanggil penasehat kekaisaran untuk menyelidiki semua pejabat yang terkait secara diam – diam dan menghukumnya dengan sangat berat.


Dia bahkan secara khusus menugaskan kepada putra mahkota Qin Shi Huang untuk mengawal proses penyelidikan tersebut.


Dalam kesempatan tersebut, Bingwen juga menuturkan temuannya atas pasukan rahasia yang dibentuk oleh pangeran kedua Song Yu di ujung selatan kota Xiantaro yang berbatasan dengan kota Banjiwen.


Juga keterlibatan Bai Wang sebagai asisten dari menteri ekonomi dan diplomatic Wang ho dalam penggelapan dana pajak dan aliran pungutan liar di kota Banjiwen.


Serta dugaan jika anak kedua Bai Hongli tersebut diam – diam melatih pasukan rahasia yang telah disiapkan oleh pangeran Song Yu diwilayah perbatasan kota Xiantaro dan Banjiwen.


Kaisar Huang sama sekali tak menyangka jika dia akan mendapatkan temuan sebesar ini dalam menugaskan pasukan bayangan miliknya untuk mengawal sang putri menuju hutan kematian.


“ Ayahanda, kita harus secepatnya memusnahkan pasukan tersebut sebelum adik kedua menyadarinya….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang memberi saran.


Kaisar Huang merasa jika ucapan putra sulungnya tersebut sangat tepat.


Maka dari itu, dia memerintahkan pasukan bayangan miliknya yang lebih senior dari Bingwen agar melenyapkan pasukan rahasia milik pangeran kedua Song Yu malam ini juga.


Bayangan hitam yang baru saja dipanggil tersebut segera melesat pergi begitu kaisar Huang selesai memberi perintah.


Putra mahkota Qin Shi Huang pun segera undur diri sambil membawa bukti – bukti yang telah didapatkan untuk dipelajari.


Sementara itu, di kamp pasukan rahasia milik pangeran kedua Song Yu tiba – tiba terjadi kebakaran yang sangat besar.


Tidak ada yang mengetahui dari mana asal api tersebut dalam cuaca bersalju seperti ini.


Dalam kepanikan, pasukan bayangan milik kaisar Huang Lo segera membabat habis seluruh pasukan yang tersisa.


Crashhhh….Crashhhh….Crashhhh….


Darah segar mulai membanjiri area kamp pasukan rahasia milik pangeran kedua Song Yu. Merubah lapisan putih yang menyelimuti area menjadi sungai darah malam itu.


Melihat pembataian yang secara tiba – tiba, Bai wang pun segera melarikan diri dan pergi menuju kota Banjiwen.


Setidaknya di dalam kota tersebut nyawanya bisa terselamatkan. Pasukan bayangan milik kaisar Huang Lo benar – benar membabat habis seluruh parjurit yang ada didalam kamp tanpa menyisakan satu orang pun.


Hanya saja mereka tak sadar jika Bai Wang, selaku pemimpin pasukan tersebut berhasil kabur dan bersembunyi di kota tetangga dengan wajah cemas.


Dengan nafas tersenggal – senggal, Bai Wang segera memasuki penginapan yang sudah dia sewa selama menjalankan tugas disini.


“ Apa yang harus aku katakan kepada pangeran kedua dan ratu Qilin sekarang ?....”, batin Bai Wang cemas.

__ADS_1


Dia sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya pangeran Song Yu waktu mengetahui jika pasukan rahasia yang sudah disiapkan cukup lama tersebut lenyap begitu saja hanya dalam waktu semalam.


Bai Wang sangat terkejut waktu ada bayangan hitam datang menghampiri dalam kamar gelap minim penerangan tersebut.


“ Hey…kenapa kamu ketakutan seperti itu ?....”, tanya Heng Yuan sambil menepuk pundak Bai Wang dengan keras.


Mengetahui jika lelaki yang menghampirinya adalah Heng Yuan, Bai wang dapat bernafas dengan lega.


Diapun kemudian mulai menceritakan semua hal buruk yang telah dialaminya beberapa hari terakhir hingga menyebabkan pasukan rahasianya musnah dalam waktu semalam kepada sahabatnya itu.


“ Kurasa, ini ada campur tangan kaisar Huang….hanya dia yang bisa melakukan hal seperti ini…”, Heng Yuan terlihat berbicara dengan mimik wajah serius.


Bai wang tak bisa untuk tak terbelalak waktu sahabatnya itu mengatakan jika masalah musnahnya pasukan rahasia yang di latihnya itu ada campur tangan kaisar Huang.


“ Ja…jadi menurutmu kaisar Huang sudah mengetahui semua hal ini….”, ucap Bai Wang gugup.


Dia terlihat menelan ludahnya beberapa kali dengan sedikit kesusahan waktu mengetahui jika penguasa negara Huangsahan tersebut sudah mengetahui rencana yang telah dibuat oleh pangeran Song Yu dan Ratu Qilin.


“ Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang ?....”, tanya Bai Wang panik.


Heng Yuan hanya bisa berdecak kesal melihat sahabatnya itu langsung menjadi bodoh jika sedang panik seperti ini.


“ Tenanglah dulu…akan kupikirkan caranya….”, ucap Heng Yuan sedikit kesal.


Dia sudah menyangka dari awal jika kaisar Huang ada dibalik semua kegagalan serangan yang dilakukannya selama ini.


Bahkan dia juga kehilangan tujuh pasukan rahasia miliknya yang sangat bertalenta di tangan Bai Cheung dan rekan – rekannya.


Api dendam mulai berkobar dalam hati Heng Yuan. Apalagi waktu mengingat kembali wajah pucat  Fan Jianying di pavilun Huangwe membuat darahnya semakin mendidih.


Tak ada pilihan lain, Bai Wang pun mengikuti Heng Yuan untuk kembali ke ibukota malam ini juga.


Meski dia sangat takut akan mendapatkan hukuman berat dari ratu Qilin karena tidak bisa menjaga pasukan rahasia milik putranya itu dengan baik.


“ Tenang saja…Ratu Qilin tak akan membunuhmu karena dia masih membutuhkan bantuanmu…”, ucap Heng Yuan santai.


Bai Wang sedikit lega waktu mendengar kalimat penghibur yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


Selain Ratu Qilin, Bai Wang juga harus menyiapkan diri menghadapi keluarga besarnya.


Dia sangat yakin jika Bai Cheung sudah mengetahui sepak terjangnya selama ini. JIka perbuatannya teruangkap, nama baik keluarga Bai akan tercoreng.


Bahkan lebih buruknya, Bai Wang akan dianggap sebagai pengkhianat dalam keluarga Bai jika mereka mengetahui semua perbuatannya.


Sementara itu, setelah makam malam selesai dan semua orang sudah kembali ke kediaman masing – masing.


Dalam perjalanan menuju kediamnnya, Fan Jianying menyunggingkan senyum lebarnya waktu mengetahui jika masalah di perbatasan Selatan kota Xiantaro sudah beres.


“ Permainan sudah berakhir….”, guman Fan Jianying lirih.


“ Apakah kaisar Huang sudah bertindak ?....”, ucap Bia Cheung dengan kedua mata terbuka lebar.


Bai Cheung tak bisa menyembunyikan lagi rasa keterkejutannya dengan tindakan cepat yang akan diambiol oleh kaisar Huang terhadap permasalahan ini.


" Tidak baik jika ditunda terlalu lama....", guman Fan Jianying tersenyum samar.

__ADS_1


Melihat sorot bahagia diwajah sang istri, Bai Cheung merasa miris karena perjuangan kakaknya dalam membesarkan pasukan rahasia milik pangeran Song Yu berakshir sia – sia.


“ Apakah kamu akan mengatakan tentang kakak ipar kepada keluargamu ?...”, tanya Fan Jianying begitu mereka sudah berada didalam kamar.


“ Mungkin aku akan coba berdiskusi dengan kakak dulu sebelum membawa permasalahan ini kepada nenenk dan ayah….”, ucap Bai Cheungsambil menatap nyalang kedepan.


Dalam kedua mata suaminya, Fan Jianying dapat melihat kobaran api amarah dan kekecewaan yang sangat dalam.


“ Aku tak akan pernah membiarkannya melibatkan keluarga Bai dalam tindakan konyolnya itu…”, ucap Bai Cheung tersenyum miris.


Fan Jianying bisa merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh suaminya. Tentunya sangat berat baginya melihat keluarga dan orang terdekat melakukan pengkhianatan seperti ini.


Setelah mengetahui masa lalu suaminya sebelum hidup kembali, tentunya Bai Cheung tidak akan pernah mengampuni segala macam bentuk pengkhianatan.


Meski hal tersebut dilakukan oleh keluarga kandungnya sendiri. Dia akan mengusut sampai tuntas dan mengeluarkan keluarga Bai agar tidak terlibat dalam kelakuan buruk yang dilakukan oleh Bai Wang dibelakang mereka.


Pagi harinya, Bai Cheung membawa permasalahan ini untuk dibahas dengan sang kakak sebelum Bai Axiang kembali bertugas di perbatasan wilayah Barat.


Meski Bai Axiang terlihat sangat marah, namun sebagai anak tertua dia ingin mendiskusikan hal ini dengan matriak Bai sebagai tetua di keluarga  sebelum dirinya membuat keputusan.


Matriark Bai hampir saja terkena serangan jantung waktu mendengar semua hal yang dituturkan oleh kedua cucunya tersebut.


Diapun muali memikirkan cara agar keluarga Bai tidak ikut terlibat dalam permasalahan yang sedang dihadapi oleh Bai Wang tersebut.


“ Axiang, besok sebelum ke wilayah perbatasan Barat kamu mampir dulu ke Xininghal untuk menemui ayahmu dan diskusikan semuanya. Aku akan coba untuk mencari cara agar keluarga kita bisa selamat dari malapetaka yang besar ini… ”, ucap matriark Bai cemas.


Bukan hanya kediaman Bai yang dibuat gempar pagi ini dengan kabar buruk yang mereka terima.


Di istana Huangwe, khusunya kediaman Ratu Qilin juga terjadi kegemparan yang lebih besar dari pada yang ada didalam kediaman Bai.


Seluruh barang sudah pecah berserakan dilantai akibat amarah Ratu qilin yang mendengar jika pasukan khusus milik putra kandungnya, pangeran Song Yu telah di lenyapkan oleh kaisar Huang dalam semalam.


Bahkan suaminya itu jugalah dalang dibalik semua kegagalan yang selama ini dia alami dari rencana yang disusunnya dengan sangat rapi tersebut.


“ Brengsek !!!!....”, teriak Ratu Qilin murka.


Semua orang tak berani untuk mendekat dan hanya berlutut dihadapan sang ratu untuk menerima amukannya.


“ Pengawal !!!...seret dia keluar dan hukum cambuk seratus kali !!!...”, teriak ratu Qilin sambil menunjuk kearah Bai Wang dengan penuh amarah.


Bai Wang hanya bisa menerima hukuman tersebut dengan lapang dada. Dia masih bersyukur Ratu Qilin tidak langsung membunuhnya meski memberikan hukuman seberat ini.


Setelah melihat nafas ratu Qilin sedikit stabil, Heng Yuan pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan bersuara.


Heng Yaun pun mulai memberikan ide kepada Ratu Qilin untuk menggunakan kekuatan para pemberontak dan pembunuh bayaran di negeri ini.


Setidaknya, pasukan yang mereka miliki jelas sudah terlatih sehingga tidak perlu memberikan pelatihan khusus lagi dan hanya menyiapkan kompensasi yang besar agar mereka tertarik untuk bergabung.


“ Bagus...sangat bagus…”, ucap Ratu Qilin dengan wajah berseri.


Amarah yang tadi meluap dalam hatinya perlahan – lahan mulai surut waktu mendengar ide – ide brilian yang diungkapkan oleh Heng Yuan kepadanya.


“ Jalankan sekarang !!!...semua tugas ini aku serahkan padamu !!!....”, ucap Ratu Qilin tajam.


“ Dipahami….”, Heng Yuan menjawab dengan sopan sebelum akhirnya undur diri.

__ADS_1


__ADS_2