
Sesuai saran dari sang ayah, Fan Jianying pun mulai mengumpulkan seluruh anggota keluarganya yang ada didalam istana dengan mengajak mereka makan malam bersama.
Pada awalnya makan malam berjalan dengan lancar. Semua menikmati sajian yang telah disediakan di Meigui Palace sambil bercengkerama hangat.
Suatu hal yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan karena banyaknya peristiwa yang terjadi hingga mengakibatkan semua orang jarang bertemu meski mereka tinggal dalam lingkungan yang sama.
Tapi dalam makan malam kali ini permaisuri Wei sedikit lebih pendiam daripada biasanya, dia tak banyak berbicara dan hanya menyungingkan sesnyum termanis untuk keluarganya.
Entah kenapa hati wanita tersebut merasa tak tenang sejak tadi, apalagi jika dia melihat wajah putri bungsunya yang sebentar lagi akan melahirkan tersebut.
“ Kenapa hatiku merasa tidak tenang dari tadi. Setiap kali memandang Fan’er, aku seperti memiliki firasat buruk. Semoga saja tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan hingga bayinya lahir kedunia….”, batin permaisuri Wei bermonolog.
Melihat sang ibunda beberapakali tertangkap basah meliriknya dengan tatapan sedih membuat Fan Jianying semakin gugup dibuatnya.
“ Tarik nafas dalam – dalam…tenanglah….”, bisik Bai Cheung sambil mengenggam satu tangan sang istri yang terasa mulai basah.
Mengikuti saran sang suami, Fan Jianying terlihat menghirup nafas dalam beberapa kali sambil sesekali memejamkan kedua matanya sebelum akhirnya bersuara.
“ Maaf untuk semuanya, apa saya bisa meminta waktu kalian sebentar….”, ucap Fan Jianying menginterupsi kegiatan yang ada.
Semua orang langsung mengalihkan atensi mereka begitu gadis tersebut bersuara. Tanpa basa – basi Fan Jianying langsung mengutarakan apa tujuannya mengadakan makan malam bersama hari ini.
Semua orang terlihat sangat terkejut, kecuali sang ayah dan Qin Shi Huang yang sudah mengetahui kabar tersebut terlebih dahulu dan hanya bisa menunduk dengan wajah sedih.
“ Fan’er akan kembali keduania asalnya.....apa ini maksudnya ?....”, tanya putri Wei Xieun binggung.
Melihat kebinggungan diwajah sang kakak, Fan Jianying pun menjelaskan dari awal jika dirinya adalah jiwa dari dunia lain yang kebetulan masuk kedalam tubuh Fan Jianying ketika dia sudah meninggal.
Dan karena tugasnya dianggap telah selesai didunia ini maka mau tidak mau diapun harus kembali kedunia asalnya berada.
Putri Wei Xieun tampak terdiam sejenak dengan wajah serius, berusaha mencermati setiap kata yang adiknya ucapkan tadi.
" Pantas saja Fan'er bisa hidup kembali setelah dinyatakan meninggal. Jadi karena itu dia menjadi sang terpilih....", batin putri Wei Xieun bermonolog.
" Jika Fan'er bisa datang kesini namun pada akhirnya harus kembali lagi keduanianya, hal itu berarti diapun juga bisa tetap berada disini jika ingin...", batin putri Wei Xieun lebih bersemangat dengan pemikiran yang baru saja terlintas dikepalanya.
Untuk memastikan apa yang ada dalam pikirannya tersebut bisa terealisasi atau tidak, putri Wei Xieun pun mulai mengemukakan pertanyaan dengan wajah penasaran.
“ Lalu, apakah tidak ada cara lain agar Fan’er tetap berada disini….”, ucap putri Wei Xieun penuh selidik.
Pertanyaan yang sering Fan Jianying temui ketika dia mengatakan akan kembali kedunianya, membuat gadis itu hanya bisa menggeleng lemah.
__ADS_1
“ Peluang untuk kembali kesini masih ada, meski sangat kecil. Namun, semua kembali lagi kepada keputusan langit….”, ucap Huang Lo mendesah pelan.
Putri Wei Xieun yang mendengar ucapan ayahandanya terlihat snagat bersemangat jika adiknya bisa kembali dan berkumpul bersama mereka lagi jika langit menghendaki.
“ Bukankah ayah dan kakak memiliki kekuatan hebat. Kenapa kalian tidak mencoba untuk naik kelangit dan memohon agar Fan’er tidak perlu kembali ke dunia asalnya sekarang….”, ucap putri Wei Xieun penuh semangat.
Qin Shi Huang dan Huang Lo hanya bisa saling berpandangan dan menggeleng lemah atas pertanyaan yang dilontarkan putri Wei Xieun kepada mereka.
“ Aku sudah bernegoisasi dengan kaisar langit dan hasilnya aku hanya diberi kesempatan hingga bisa melahirkan anakku kedunia ini. Untuk masalah apakah aku nantinya bisa kembali atau tidak, kaisar langit pun tak bisa memberi jaminan apapun….”, ucap Fan Jianying lemah.
Mendengar penjelasan dari sang adik, tubuh putri Wei Xieun pun mulai merosot. Namun, dalam hati kecilnya yang paling dalam dia masih meyakini jika sang adik suatu saat nanti pasti akan kembali lagi kesini dan berkumpul bersama keluarganya lagi.
“ Aku titipkan buah hatiku pada kalian….aku harap dia tak akan kesepian meski ibundanya tak ada lagi disisinya….”, ucap Fan Jianying dengan kedua mata berkaca – kaca.
" Tidak !!!...Fan'er jangan berkata seperti itu !!!...kamu akan tetap disini dan tidak kemana - mana !!!....", ucap permaisuri Wei berderai air mata.
Seluruh anggota keluarga terlihat sangat bersedih hati, terutama permaisuri Wei yang tak berhenti menangis sambil memeluk sang buah hati yang baru juga dia dapatkan setelah empat belas tahun terpisah.
“ Ibunda jangan sedih. Semoga langit mendengar doa kita dan ananda bisa kembali dan berkumpul kembali dengan keluarga ini secepatnya….”, ucap Fan Jianying berusaha menghibur hati ibundanya.
Mendengar ucapan putri bungsunya, air mata permaisuri Wei semakin deras mengalir di pipinya. Dia masih belum rela jika sang putri harus meninggalkannya, meski untuk sesaat.
“ Disini ada bunda dan kakak, serta suamiku. Dia tak akan kekurangan rasa cinta dan kasih sayang meski aku tak ada….”, ucap Fan Jianying dengan suara bergetar.
Membayangkan tangisan sang anak yang kemungkinan akan dilahirkannya beberapa hari lagi itu membuat hati Fan Jianying semakin terasa pedih.
Meski berat, namun dia tetap harus menjalani takdir tersebut tanpa bisa melakukan apapun untuk mengubahnya.
Semua orang langsung cemas dan khawatir begitu Fan Jianying berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.
“ Cepat !!!!...panggil tabib istana !!!...”, teriak kaisar Qin Shi Huang panik.
“ Apakah sudah waktunya ?....”, tanya permaisuri Wei berderai air mata.
Wanita lembut tersebut terlihat mengenggam tangan putrinya sambil memberikan kata – kata untuk menguatkannya.
Sedangkan anggota yang lain hanya bisa menatap wajah Fan Jianying yang sudah penuh dengan peluh dengan perasaan campur aduk tak karuan karena mereka tak tahu harus berbuat apa.
Setelah tabib datang dan memeriksa tubuh Fan Jianying, diapun segera menyuruh semua orang untuk keluar.
“ Sudah waktunya….”, ucap tabib tersebut sambil menyuruh para pelayan mempersiapkan semuanya.
__ADS_1
Semua pelayan terlihat sibuk mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk menjalani proses melahirkan.
Sedangkan anggota keluarga kerajaan hanya bisa menunggu diluar kamar hingga proses melahirkan selesai dengan wajah cemas.
Permaisuri Wei sangat berharap, setelah cucunya lahir Fan Jianying masih diberi kesempatan untuk berbicara dengannya sebelum kembali kedunia asalnya.
Sementara itu didalam kamar, Fan Jianying terlihat berusaha keras untuk bisa melahirkan buah hatinya kedunia.
Peluh sudah mengucur deras ditubuhnya, sambil mengigit kain yang disumpalkan kedlam mulutnya Fan Jianying terlihat berusaha keras untuk mengeluarkan snag buah hati.
“ Tarik nafas putri…dan dorong….”, ucap tabib kembali memberi aba – aba untuk kesekian kalinya.
Dayu terlihat mengusap peluh yang mengalir deras diwajah Fan Jianying dengan handuk kecil dengan wajah cemas.
Terkadang Dayu ikut mengambil nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan, seolah ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh nona mudanya tersebut.
“ Nona…ayo terus berjuang…tinggal sedikit lagi….”, ucap Dayu memberi semangat.
Fan Jianying sama sekali tak pernah membayangkan jika proses melahirkan akan sangat menyakitkan seperti ini.
Dia merasa seluruh tulang yang ada dalam tubuhnya remuk seketika, namun Fan Jianying tetap bertahan dengan rasa sakit yang ada demi lahirnya sang buah hati tercinta.
Setelah perjuangan cukup panjang dan melelahkan akhirnya suara tangis bayi membuat hati semua orang merasa sangat lega.
“ Oekkk….oekkkk…oekkkk……”, tangis bayi lelaki munggil tersebut begitu lahir kedunia.
Suara tangisnya yang lantang membuat semua orang meneteskan air mata. Belum juga kebahagiaan tersebut dicecap, tabib istana dan beberapa pelayan yang membantu proses kelahiran dibuat tercengang begitu tubuh Fan Jianying bersinar sangat terang.
Sontak Bai Cheung langsung mendobrak pintu kamar begitu melihat cahaya terang yang tak biasa tersebut.
“ Jaga anakku baik – baik hingga aku kembali lagi….”, ucap Fan Jianying sambil tersenyum.
Dan hanya sekejap mata tubuh Fan Jianying berubah menjadi sinar kuning yang sangat terang dan terbang keatas langit.
Semua orang tak percaya melihat semua fenomena tersebut dan hanya bisa menatap kepergian gadis itu dengan hati pedih.
“ Fan’er !!!!....”, teriak permaisuri Wei sebelum jatuh pingsan.
Tubuh semua orang langsung lemas seketika begitu sinar tersebut menghilang diudara tanpa bekas dengan wajah sedih.
Semua orang hanya terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun, seolah mulut mereka terkunci rapat – rapat. Hanya raut kesedihan yang snagat dalam tercetak jelas disana.
__ADS_1