CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
MENGHADANG PERGERAKAN MUSUH


__ADS_3

Putra mahkota Qin Shi Huang yang baru saja masuk kedalam ruangan yang disewanya disebuah penginapan melalui jendela kamar langsung bersikap waspada begitu merasakan ada orang lain dalam ruangannya.


Dia sedikit tersentak dan langsung mengeluarkan senjata dari lengan bajunya begitu ada tangan menyentuh pundaknya.


“ Wow…wow…Tenanglah.... ini kami…”, ucap pangeran Wei Jie sambil mengangkat kedua tangannya keatas dengan terkekeh.


Begitu penerangan dinyalakan dan melihat adiknya tersenyum lebar, putra mahkota Qin Shi Huang merasa tak senang.


“ Dasar pengganggu !!!....”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sinis.


Melihat kakaknya bersikap dingin dengan sorot mata tajam kearahnya, pangeran Wei Jie tak dapat lagi untuk menahan tawanya.


Meski ada topeng yang menghalangi pandangan, tapi dapat dia lihat jika wajah sang kakak pasti sekarang sangat menyeramkan.


Begitu melihat melihat jika sang adik tidak datang sendiri, putra mahkota Qin Shi Huang mulai sedikit melunak.


Begitu melihat sosok yang begitu dirindukannya ada dihadapannya, wajah putra mahkota Qin Shi Huang langsung bersinar cerah.


Putra mahkota Qin Shi Huang yang melihat Fan Jianying ada dibelakang pangeran Wei Jie pun langsung berjalan mengahmpiri.


“ Fan'er....duduklah disini,….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang hangat.


“ Terimakasih….”, ucap Fan Jianying sambil tersenyum manis.


Hati putra mahkota Qin Shi Huang langsung menghangat begitu melihat Fan Jianying tersenyum manis kepadanya.


“ Kak…kenapa kamu lebih perhatian pada Fan’er dibandingkan denganku….”, ucap pangeran Wei Jie merajuk.


Dibalik sikapnya yang seperti anak kecil, pangeran Wei Jie menyembunyikan kegundahan hatinya.


Rasa cemburu dalam hatinya mulai hadir waktu melihat putra mahkota Qin Shi Huang memperlakukan Fan Jianying dengan lembut dan hangat.


Zoelu yang menyadari hal tersebut hanya bisa menepuk bahu  junjungannya tersebut beberapa kali dengan pelan, untuk menguatkannya.


Heyna yang lebih sensitive diantara semuanya, melihat interaksi antara Zoelu dan pangeran Wei Jie serta tatapan mereka kearah nyonya mudanya merasa ada sesuatu yang salah.


Meski begitu, dia berusaha untuk tidak turut campur akan masalah tersebut selama hal itu tak membahayakan majikannya.


Putra mahkota Qin Shi Huang menceritakan hasil penyelidikannya setelah mendapatkan surat dari Fan Jianying.


“ Ternyata dugaanmu benar, pasukan tersebut memang disiapkan oleh Ratu Qinly sebagai ganti pasukan rahasia milik pangeran Song Yu yang berhasil dimusnahkan oleh ayahanda kaisar….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang dengan wajah serius.


“ Kenapa Ratu Qinly memilih pembunuh bayaran dan bandit sebagai komplotan. Bukankah jika ada ketidak seimbangan didalam itu akan sangat riskan...”, ucap pangeran Wei Jie terlihat berpikir keras.


“ Justru itu celah yang harus kita gunakan. Kita harus mencari tahu imbalan apa yang mereka terima sehingga mau bergabung bersama Heng Yuan?...”, ucap Fan Jianying menyarankan.


Semua orang terlihat terdiam untuk sesaat, berusaha mencari jawaban atas ucapan yang dilontarkan oleh Fan Jianying tersebut.


“ Karena pemikiran Heng Yuan tidaklah sederhana, maka aku sudah menyusun rencana…”, ucap Fan Jianying sambil mengeluarkan coretan yang dibuatnya tadi bersama suami dan kakaknya sebelum berangkat.


Fan Jianying pun mulai mengemukakan beberapa  rencana yang telah disusunnya tersebut kepada semua orang dengan jelas.

__ADS_1


Semua orang terlihat memperhatikan dengan seksama semua rencana yang dijelaskan secara gamblang oleh Fan Jianying sambil sesekali mereka memberikan tambahan ide pada rencana tersebut.


Pada saat semua orang sedang serius dalam pembahasan, tiba – tiba Fan Jianying terdiam dan langsung  memejamkan kedua matanya.


Semua orang terlihat tegang menunggu hasil penglihatan mata batin Fan Jianying.


Kening Fan Jianying berkerut cukup dalam waktu melihat ada gerombolan bandit yang datang mendekat dalam jumlah cukup besar.


Dalam mata batinnya dia melihat jika para pasukan bandit tersebut adalah bandit yang paling ditakuti di kota Ningboce .


“ Mereka sudah bergerak…”, ucap Fan Jianying tajam.


Semua orang langsung bersiap menjalankan rencana yang baru saja dijelaskan tadi setelah mendengar ucapan Fan Jianying.


Setelah mengenakan topeng diwajah, semua orang langsung bergerak untuk menghadang musuh yang bergerak dari kota Benzie menuju kota Banjiwen.


Pasukan yang dipimpin oleh Muro tak menyadari jika di perbatasan kota Benxie dan kota Banjiwen ada sekelompok orang yang menunggu kedatangan mereka.


“ Apakah menurutmu kita akan mendapatkan keuntungan besar dari pergerakan malam ini….”, ucap salah satu orang dalam kawanan tersebut.


“ Tentu saja !!!...apa kau masih meragukan betapa kayanya para penduduk Banjiwen. Jika tak memiliki kesepakatan ini, kita tak akan mungkin bisa kesana….”, ucap temannya menimpali.


Meski kota Banjiwen sangat dekat dengan kota Ningboce, tapi gerombolan mereka sama sekali tak bisa memasuki kota perniagaan terbesar di negara Huangshan tersebut karena penjagaan ketat yang dilakukan oleh keluarga besar Ding.


Dan sekarang, ketika mereka bekerja sama dengan Ratu Qinly maka secara otomatis mereka mendapatkan bypass menuju kota Banjiwen meski keluarga Ding sudah tidak berkuasa lagi disana.


Kekosongan yang ada selama pelengseran pejabat yang mayoritas merupakan anggota keluarga Ding digunakan oleh Heng Yuan untuk menjalankan rencananya.


Kawanan bandit tersebut segera melesat dengan kecepatan penuh  menuju kota Banjiwen dengan penuh antusias.


Bayangan banyaknya harta yang akan bisa mereka dapatkan malam ini membuat semangat mereka membara.


“ Mereka datang !!!....”, ucap Fan Jianying setelah sayup – sayup mendengar derap kaki kuda berjalan semakin dekat.


Semua orang terlihat sudah bersiap diposisinya masing – masing. Dalam kegelapan malam, hanya topeng perak dan sepasang mata yang menatap awas kedepan yang dapat terlihat.


Setttt….settt…settt….


Pedang Fan Jianying dan rekan – rekannya bergerak dengan lincah menembus tubuh para bandit dalam kegelapan malam.


Menimbulkan suara teriakan dan erangan kesakitan dimana – mana. Pasukan yang dipimpin oleh Muro yang tak siap dengan serangan tersebut dibuat kocar – kacir.


Suara ringgikan kuda terdengar bersautan dan disertai suara tubuh para bandit yang jatuh ketanah dengan keras, membuat konsentrasi anak buah Muro terpecah.


Gerakan lincah kelompok yang dipimpin oleh putra mahkota Qin Shi Huang dalam gelap mampu membabat lebih dari separuh bandit dalam waktu sekejap.


Gerakan mereka yang sangat cepat terlihat seperti bayangan hitam, membuat kawanan bandit tersebut kewalahan dan terpaksa bergerak mundur waktu melihat banyak anggota mereka yang tumbang.


“ Sial !!!...siapa mereka sebenarnya ?!!!....”, teriak Muro penuh amarah.


Putra mahkota Qin Shi Huang terlihat sangat puas waktu melihat para musuh berlari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


Didalam kamp yang ada di ujung kota Benxie, Heng Yuan menautkan kedua alisnya waktu melihat kelompok Muro datang kembali.


Bukan hanya alisnya semakin menekuk kebawah, dahi Heng Yuan terlihat berkerut sangat dalam waktu melihat wajah ketakutan dari para pasukan yang dipimpin Muro tersebut.


“ Ada apa ini ?....kemana pasukanmu yang lainnya ?....”, Heng Yuan pun segera mencerca Muro dengan berbagai macam pertanyaan.


Heng Yuan menatap tajam laki – laki bertubuh gempal dengan kumis dan jenggot lebat  yang ada dihadapannya sambil mengamati jumlah bandit yang kembali bersamanya telah berkurang sangat banyak.


Dengan nafas tersenggal – senggal, Muro pun turun dari atas kudanya dan menceritakan semua kejadian yang menimpanya.


Disamping Heng Yuan ada Kosuke dan Titan yang datang untuk mendengar apa yang sebenarnya menimpah kelompok bandit yang paling ditakuti di kota Nigboce tersebut.


Setelah mendengar cerita Muro, hanya satu kesimpulan yang bisa Heng Yuan ambil. Serangan tersebut diprakarsai oleh putra mahkota yang dia prediksi masih berada di kota Banjiwen saat ini.


“ Lagi - lagi Putra mahkota Qin Shi Huang menhentikanku !!!….”, guman Heng Yuan geram.


“ Berapa orang yang menyerangmu ?....”, tanya Heng Yuan tajam.


“ Pergerakan mereka sangat cepat jadi aku tak bisa mengetahuinya dengan pasti, sekitar sepuluh orang mungkin. Dan mereka semua menggunakan topeng….”, Muro berusaha untuk menjelaskan semuanya.


Wajah Heng Yuan langsung gelap waktu mendengar jika kawanan bandit milik Muro bisa dihabisi dalam waktu secepat itu hanya oleh sepuluh orang saja.


" Benar - benar tak bisa dipercaya !!! Kelompokmu bisa kalah hanya dengan sepuluh orang saja !!!....", ucap Heng Yuan tersenyum sinis.


Meski merasa malu, tapi itulah kenyataan yang baru saja dialami oleh Muro. Dia merasa jika kelompok orang yang menyerangnya bukanlah manusia biasa melainkan iblis pencabut nyawa.


Heng Yuan terlihat berpikir keras mengenai siapa yang kemungkinan besar membantu putra mahkota Qin Shi Huang dalam penyerangan malam ini.


Meski pasukan milik putra mahkota Qin Shi Huang sangat hebat dan cukup terlatih, tapi mereka tak mungkin bisa menghabisi anak buah Muro dalam waktu singkat.


Dan mengenai pergerakan yang disusunnya malam ini, bagaimana putra mahkota Qin Shi Huang bisa mengetahuinya.


Hal inilah yang menjadi tanda tanya besar pada diri Heng Yuan saat ini.


Dia semakin curiga jika ada orang didalam istana Ratu Qinly yang berkhianat sehingga semua rencana yang telah dibuat oleh wanita nomor satu dinegara Huangshan tersebut selalu gagal.


Karena rencana pertamanya malam ini telah gagal maka Heng Yuan pun segera mendiskusikan permasalahan tersebut berasama Kosuke dan Titan.


Heng Yuan berusaha untuk lebih mematangkan rencananya agar tidak kembali gagal dan menghilangkan kepercayaan Ratu Qinly terhadapnya.


Kali ini Heng Yuan akan melakukan segala macam cara untuk membuat kekacauan di kota Banjiwen.


Jika cara kasar yang dia jalankan telah gagal, maka dia akan menggunakan cara halus dengan menghasut para pedagang dan melakukan terror terselubung di pusat kota Banjiwen.


Ternyata apa yang ada dalam pikiran Heng Yuan saat ini juga telah terpikirkan oleh Fan Jianying.


Dan diapun telah menyiapkan beberapa rencana untuk mengantisipasi pergerakan tersebut, meski Fan Jianying tidak tahu pasti apa yang direncanakan oleh Heng Yuan secara spesifik.


Tapi dia masih berharap bisa membaca pergerakan Heng Yuan agar kembali bisa mematahkan semua rencana yang telah disusun oleh lelaki tersebut.


Untungnya waktu melakukan penyelidikan tentang aliran dana pajak dikota Banjiwen, Fan Jianying bisa menjalin kerjasama yang baik dengan para pedagang yang ada di kota tersebut.

__ADS_1


Hal ini tentunya dapat memudahkannya untuk bergerak dan membuat kota Banjiwen aman terkendali sampai pimpinan yang baru menduduki posisi.


__ADS_2