CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
KONSPIRASI


__ADS_3

Fan Jianying terbangun dari tidurnya dengan tubuh lebih segar. Dia sama sekali tak menyangka jika menangis akan menghabiskan energy begitu banyak.


Maklum, selama hidupnya Fan Jianying tidak pernah sekalipun menangis, meski kehidupan yang dijalaninya cukup pahit dan sulit.


Terakhir kali dia menangis adalah saat kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil waktu usianya delapan tahun.


Selanjutnya, sesulit apapun hidupnya dia akan berusaha menjalaninya dengan tegar. Karena menangis hanya akan membuat dirinya lemah.


Baru saja Fan Jainying selesai menyantap makan malam yang diantar dari kediaman utama,dia merasakan pergerakan asing seseorang dikediaman tuan muda kedua keluarga Bai.


Setelah memberitahu para pelayannya jika dia ingin beristirahat lebih awal, Fan Jianying pun segera menyamar menggunakan baju serba hitam dengan cadar yang menutup sebagian wajahnya, keluar lewat jendela kamarnya.


Seperti dugaan, lelaki berbaju hitam – hitam yang Fan Jianying curigai sebagai Bai Wang, tuan muda kedua keluarga Bai saat ini terlihat sedang bersama dengan seorang laki - laki asing dengan pakaian yang sama dengannya.


Keduanya segera melesat keluar dari kediaman keluarga Bai menuju kediaman Wudao Jia, rumah bordil yang tempo hari sempat Fan Jianying datangi waktu mengikuti kakak iparnya itu.


" Ternyata tempat itu menjadi markas pertemua mereka....", batin Fan Jianying tersenyum


Zoelu yang baru saja keluar dari dalam kedai melihat bayangan hitam melesat dengan cepat diatasnya  otomatis kedua matanya mengikuti kemana arah banyangan hitam tersebut pergi.


“ Madam ketiga…”, guman Zoelu sambil berusaha untuk mencari aura Fan Jianying yang baru saja dia rasakan.


Meski Zoelu berkata sangat pelan, namun pangeran Wei Jie mendengar dengan jelas setiap kata yang dia ucapkan.


Melalui isyarat mata, keduanya segera mencari jejak Fan Jianying yang diyakini masih belum terlalu jauh pergi.


“ Kediaman Wudao Jia ?...”, batin keduanya penuh pertanyaan.


Tapi karena rasa penasaran yang cukup tinggi tentang apa yang membuat Fan Jianying datang ketempat tersebut dan menyamar menjadi laki – laki, membuat keduanya mulai bergerak masuk.


Fan Jianying yang fokus pada gerakan kakak iparnya dan lelaki misterius yang berada disampingnya tak menyadari jika sedari tadi ada yang mengamati dan mengikuti pergerakannya.


Pangeran Wei Jie dan Zoelu langsung bersembunyi dibalik dinding begitu mereka melihat sosok yang cukup familier.


“ Pangeran kedua ?...”, batin pangeran Wei Jie sambil menyipitkan sebelah matanya curiga.


Melihat Fan Jianying masuk di salah satu ruangan yang berada tepat disebelah ruangan yang dimasuki oleh pangeran kedua dan dua orang yang tadi diikuti gadis itu, membuat pangeran Wei Jie dan Zoely ikut masuk kedalam ruangan itu juga.


Baru saja Fan Jianying hendak menutup pintu, tiba - tiba dia merasakan ada dua orang yang ikut masuk bersamanya.


Fan Jianying yang sedikit terkejut sempat ingin berteriak namun tangan pangeran Wei Jie sudah berhasil membungkam mulutnya.


Membuat gadis itu hanya bisa melotot tajam menatap lelaki yang membungkam mulutnya tersebut. Diapun berusaha untuk melepaskan diri, namun gagal.


Serangan yang dilakukan oleh Fan Jianying terus saja dihindari tanpa ada perlawanan yang berarti, membuat Fan Jianying sedikit geram.


" Sialan !!!...dia terus menghindariku tanpa menyerang !!!....", batin Fan Jianying kesal.


Dibalik cadar yang menutup wajahnya pangeran Wei Jie tersenyum simpul waktu melihat gadis yang ada dihadapannya itu terus menyerangnya secara membabi buta.


Fan Jianying hanya bisa membuat musuhnya lengah untuk sesaat. Pada saat lawannya terlihat mulai legah, Fan Jainying yang hendak mengeluarkan pisau dari lengan bajunya terpaksa menghentikan aksinya waktu pangeran Wei Jie membuka cadar yang menutupi wajah tampannya.


" Pangeran ke empat ?..." batin Fan Jianying  terkejut.


“ Ada urusan apa pangeran ke empat kesini ?...apa dia mengikutiku ?...”, batin Fan Jianying waspada.


“ Anda sebaiknya tidak menatap saya seperti itu jika tidak ingin suami anda merusak wajah tampan saya yang berharga ini…”, ucap pangeran Wei Jie berkelakar.


Fan Jianying yang merasa jika pangeran ke empat tersebut sangat narsis hanya mencibir dalam hati dan mulai mengacuhkannya waktu melihat tidak ada yang sesuatu yang berbahaya dari keduanya.


Saat megingat misinya, Fan Jianying pun mulai berjalan menuju tembok pembatas dan langsung menempelkan telingganya, mencuri dengar pembicaraan yang sedang terjadi diruang yang ada disebelahnya itu.


“ Siapa sebenarnya gadis ini ?...ini tidak seperti yang ada dalam rumor dan tidak seperti kesan pertama yang kudapatkan waktu itu ?...ilmu beladirinya juga lumayan....meski kekuatannya disembunyikan, aku yakin jika dia minimal sudah berada di tingkat bumi....”, batin pangeran Wei Jie bermonolog.


Pangeran Wei Jie mulai berjalan mendekat kearah Fan Jianying dan mengamati setiap pergerakan yang dibuat oleh gadis yang ada dihadapannya itu dengan seksama.


Mulai dari bagaimana cara  gadis itu berpakaian dan mengingat kembali  jika  Fan Jianying sempat akan mengeluarkan senjata dari balik lengannya namun diurungkan begitu dirinya membuka cadar yang menutup wajahnya.


" Dia jelas bukanlah  gadis bangsawan biasa yang hanya tahu tentang cara merias diri saja....", batin pangeran Wei Jie semakin peansaran.


“ Aku jadi ingin mengenalnya lebih dalam….”, pangeran Wei Jie kembali berkata dalam hati sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


Semua tindakan dan ekspresi yang ditunjukkan oleh pangeran Wei Jie tidak luput dari perhatian Zoelu yang sudah sejak tadi mengamati junjungannya itu.


“ Tidak mungkin kan yang mulia jatuh cinta dengan istri sahabatnya itu ?....”, Zoelu berkata dalam hati sambil menggeleng – nggelengkan kepalanya, menolak pemikiran tersebut.


Sementara itu, diruangan samping tampak seorang lelaki tampan dengan wajah tegas menatap nyalang semua orang yang ada dihadapannya.


“ Bagaimana Bai Cheung bisa mengetahui rencana kita dan bergegas pergi keperbatasan !!!... cari tahu dan tangkap orang yang membocorkan informasi itu segera !!!...”, teriak  pangeran kedua, Song Yu marah.


“ Dan kamu !!!...apa yang kamu lakukan hingga pergerakan adikmu saja  kau tidak tahu !!!...bahkan kedatangan pangeran ke empat ke kediamanmu juga tidak kau laporkan !!!.....Dasar tidak becus !!!...”, hardik pangeran Song Yu  murka.


Bai Wang sama sekali tak menyangka jika sang adik dapat mengetahui apa yang pangeran kedua rencanakan dan bergerak secepat itu.


Dia juga sembat kecolongan dan baru mengetahui tadi pagi dari kakak iparnya jika pangeran ke empat mengunjungi kediamannya kemarin siang.


Itu artinya pangeran Wei Jie datang dan berbicara secara rahasia dengan nenek dan ibundanya tepat sebelum adiknya pergi ke wilayah perbatasan bagian timur secara sembunyi – sembunyi.


Jadi, drama tadi pagi tampaknya sengaja di buat oleh nenek untuk menutupi kecurigaan semua orang. Dan secara tidak langsung juga dapat digunakan sebagai alibi untuk melepaskan diri dari keterlibatan anggota keluarga atas tindakan yang dilakukan oleh Bai Cheung.


“ Sial !!!...aku kecolongan !!!...”, batin Bai Wang geram.


Tubuh semua orang terlihat menegang begitu junjungan mereka murka, tak terkecuali Fan Jianying yang mencuri pembicaraan mereka dari samping waktu mendengar nama suaminya disebut.


“ Sekarang putra mahkota dan pangeran ke empat sudah mulai bergerak. Jangan sampai lengah !!!…”, ucap pangeran Song Yu tajam.


“ Jika kesempatan emas yang kita miliki ini gagal, maka bisa kupastikan kepala kalianlah yang akan kujadikan sebagai gantinya !!!...”, tunjuk pangeran Song Yu ke masing – masing orang dengan tatapan membunuh.


Semua orang hanya bisa menelan ludahnya beberapa kali  dengan keringat dingin mulai mengucur deras dari dalam tubuhnya.


Sekarang, semua orang harus segera bertindak cepat dan mencari jalan keluar terbaik terhadap permasalahan tersebut.


" Tampaknya, kita harus segera membuat hewan mutasi tersebut bergerak lebih cepat dari rencana awal. Jika Cheung berangkat pagi ini, paling cepat dia sampai diperbatasan wilayah timur esok petang. Jika bisa sebelum itu hewan mutasi sudah mulai mengacau...", Heng Yuan mulai memberi saran yang terdengar masuk akal bagi semuanya.


Melihat rencana cerdik  yang diutarakan oleh Heng Yuan tak ayal membuat senyum diwajah pangeran Song Yu pun mulai mengembang.


Diapun segera menginstruksikan kepada lelaki tersebut untuk segera mengirim kabar ke mata - mata yang ada diwilayah perbatasan bagian timur agar segera memberikan obat yang dapat membuat hewan mutasi menggila dalam waktu cepat.


" Hewan mutasi ?..jadi hewan itu benar - benar ada....", batin Fan Jianying bergidik ngerti.


Bahkan banyak orang lebih baik melawan ribuan orang pemberontak dari pada harus membasmi segerombolan hewan mutasi.


Dan sekarang hewan tersebut akan diberi ramuan yang bisa membuatnya hilang kendali, tentu hal itu akan sangat sulit untuk ditangani.


Tiba - tiba saja Fan Jianying merasa kasihan dan cemas dengan nasib suaminya yang baru saja datang diwilayah perbatasan dan harus langsung menghadapi hewan mutasi yang gila dan hilang kendali tersebut.


" Ehhh....tunggu. Kenapa juga aku kasihan dengan lelaki jahat itu !!!....", batin Fan Jianying berusaha menghilangkan rasa simpatinya.


" Bukankah akan lebih baik jika dia mati dan aku jadi janda kembang. Setidaknya aku janda tapi masih virgin, jadi pasti aku bisa mendapatkan laki - laki yang lebih baik dan sayang kepadaku. Apalagi aku cantik dan masih muda, pasti akan banyak yang antri untuk jadi suamiku....", batin Fan Jianying bangga.


Fan Jianying yang terus saja bermonolog dengan dalam hatinya tak menyadari jika pangeran Wei Jie berada didepannya dan mengamati semua pergerakan serta ekpresi yang dikeluarkannya.


Tak sengaja, kedua mata mereka saling bertatapan hingga membuat Fan Jianying spontan bergerak mundur karena terkejut.


Hal itu tak ayal membuat pangeran Wei Jie terkekeh melihat tingkah mengemaskan dari Fan Jianying. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, pangeran ke empat segera mengajak Fan Jianying duduk.


Melihat jika pangeran ke empat dan lelaki yang diduga adalah pengawalnya tampak tak berbahaya dan tidak memiliki niat jahat, Fan Jianying pun menerima undangan tersebut.


Untuk memancing Fan Jianying, pangeran Wei Jiepun mulai membuka percakapan dengan menyebutkan siapa saja yang berada diruang yang ada disebelah mereka.


“ Ternyata sesuai dugaanku, ini masalah perebutan kursi kekuasaan. Mereka tampaknya ingin melengserkan putra mahkota sebagai kandidat paling kuat sebagai pengganti kaisar…”, batin Fan Jianying bermonolog.


Melihat jika gadis yang ada dihadapannya tidak berbahaya dan memiliki kesamaan misi dengannya, pangeran Wei Jie diam – diam dalam hati merasa sangat lega.


Karena dia tidak akan bermusuhan dengan Fan Jianying, meski Fan Nuan ada di pihak pangeran kedua beserta Heng Yuan.


" Apakah diperbatasan timur banyak hewan mutasi ?  jika mereka dibuat menggila, apakah itu bisa mudah untuk diatasi ?....", Fan Jianying pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah dia tahan sejak dari tadi.


Melihat ada nada kecemasan dalam pertanyaan Fan Jianying, entah kenapa hati pangeran Wei Jie merasa tidak senang, namun hal tersebut bisa dia tutupi dengan senyum manis yang sejak tadi setia mengembang diwajahnya.


" Kamu tenang saja, Cheung sudah terbiasa menghadapi hewan mutasi, jadi kamu tak perlu cemas....", ucap pangeran Wei Jie berusaha menghibur gadis yang ada dihadapannya itu.


" Untuk apa aku cemas. Jika dia berani kesana, tentunya dia sudah paham akan resiko yang akan dihadapinya nanti....", ucap Fan Jianying santai.

__ADS_1


Namun, sikap santai Fan Jianying ini disalah artikan oleh pangeran Wei Jie yang kembali mengingat perkataan Dayu jika nonanya tak suka menunjukkan kesedihan yang dia rasakan kepada siapapun dan selalu berusaha untuk terlihat baik - baik saja.


" Meskipun aku sedikit lega dia tegar melewati smeuanya, tapi kenapa hatiku kecewa....", batin pangeran Wei Jie binggung.


Selanjutnya mereka berduapun mulai membicarakan perihal rencana pangeran kedua yang ingin menggunakan kesempatan itu untuk membantu para pemberontak dan negara musuh mendapatkan sebagian wilayah timur.


Pangeran Wei Jie kembali dibuat terkejut dengan pemikiran Fan Jainying tentang solusi cara penanganan permasalahan tersebut.


" Apakah dia mendapatkan semua ilmu itu dari ayahnya ?...", batin pangeran Wei Jie dengan tatapan menyelidik.


Meski Fan Shaosheng sangat ahli dalam negoisasi politik dan cerdas dalam menangani setiap permasalahan yang ada, membuat ayah Fan Jianying menjadi tangan kanan kaisar saat ini.


Selain itu, keluarga Fan merupakan keluarga yang paling berjasa dalam mengantarkan mendiang kekek buyutnya menduduki kursi kekaisaran yang berlangsung sampai sekarang, selain keluarga Bai yang mendukung di bidang militernya.


Jadi, persatuan dua keluarga ini melalui pernikahan antara Bai Cheung dan Fan Jianying cukup membuat banyak orang merasa ketar - ketir.


Namun hal itu juga semakin membuat kedudukan kekaisaran tidak mudah tergoyahkan oleh apapun, mengingat dua keluarga itu memiliki peran dan kontribusi yang besar bagi negara.


JIka Fan Nuan terjun dalam politik dan bersekutu dengan pangeran kedua, dirinya masih bisa menganggapnya sebagai sesuatu hal yang wajar karena keahlian gadis yang hanya selisih dua bulan dibawah Fan Jianying itu sejak kecil sudah belajar mengenai hal tersebut.


Bahkan adik tiri Fan Jianying itu juga sering memenangkan berbagai kontes beladiri yang diadakan di ibukota, hingga namanya cukup dikenal.


Hal itu berbeda dengan sang kakak, Fan Jainying yang dikatakan memiliki tubuh yang lemah sehingga harus lebih banyak berada didalam kediaman tanpa melakukan sesuatu yang bisa membuat tubuhnya kelelahan.


Hanya karena Fan Jainying adalah anak yang sah dari Fan Shaosheng sedangkan Fan Nuan hanyalah anak dari selir ayahnya membuat gadis itu hanya bisa terdiam iri dengan berbagai macam keuntungan yang didapatkan oleh sang kakak tanpa bekerja keras seperti dirinya.


Meski usahanya selama ini tidak pernah sekalipun dihargai ataupun di pandang oleh keluarga besar Fan. Dan menjadi orangnya pangeran kedua membuat Fan Nuan bisa mengapresiasikan dirinya dengan baik disana.


Setelah berbicara cukup banyak dengan pangeran Wei Jie, Fan Jianying merasa jika keduanya memiliki kesamaan pemikiran dalam mengatasi sebuah permasalahan.


Meski begitu, dia tidak mau masuk kedalam lingkaran konflik yang ada di dalam istana. Sebisa mungkin Fan Jianying akan berusaha menjadi pihak yang netral.


Seperti tujuan awal dia masuk kedalam novel ini, hanya ingin hidup dan menikmati kehidupan ini dengan bahagia.


Namun, tampaknya hal itu akan sulit untuk Fan Jianying realisasikan mengingat dirinya memiliki rasa penasaran yang tertinggi akan sesuatu.


Seperti saat ini, dalam diam Fan Jianying masih belum bisa menemukan jawaban atas tindakan yang dilakukan oleh kakak iparnya itu beberapa waktu yang lalu.


“ Lalu  apa motivasi kakak ipar meledakkan dapur ? apa tujuan sebenarnya ?...”, batin Fan Jianying penuh tanda tanya.


Melihat gadis yang ada dihadapannya mengkerutkan kening sangat dalam membuat pangeran Wei Jie pun tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.


“ Hal apa yang bisa membuat madam ketiga mengkerutkan kening sedalam itu ?...”, tanya pangeran Wei Jie dengan suara sangat lembut dan penuh perhatian.


Bukan hanya Fan Jianying yang terkejut dengan cara bicara dan tatapan mata pangeran Wei Jie yang sangat hangat itu.


Zoelu saja terlihat hampir muntah darah melihat junjungannya itu bisa bersikap lembut dan penuh perhatian seperti itu kepada seorang gadis.


Hal yang hampir tidak pernah Zoelu bayangkan bisa dia lihat dalam kehidupannya. Bahkan terhadap adik perempuan satu – satunya saja pangeran Wei Jie tidak pernah bersikap seperti itu.


Demi menjaga kesopanan dan nama baik keluarga Bai yang saat ini melekat dalam dirinya, Fan Jianying berusaha untuk menghilangkan keterkejutannya dan tersenyum manis.


Melihat gadis yang ada dihadapannya tersenyum lembut sambil menatapnya, pangeran Wei Jie seperti terkena mantra dan larut dalam pesona kecantikan Fan Jianying.


“ Oh dewa…ini kah yang dinamakan cinta ?...”, bunga – bunga mulai bermekaran dalam hati pangeran Wei Jie saat ini.


Bongkahan es yang selama ini menyelimuti hatinya perlahan mulai mencair dan digantikan oleh sinar mentari yang hangat.


Mendekapnya erat dalam kerinduan akan hadirnya seorang malaikat cantik yang bisa memenuhi ruang kosong hatinya selama ini.


Pangeran Wei Jie merasa kupu – kupu dalam perutnya mulai berterbangan, membuat wajahnya mengeluarkan semburat merah yang tak biasa.


Fan Jianying dan Zoelu hanya bisa saling bertatapan mata melihat ekpresi yang dianggap tak biasa itu.


“ Yang mulia…apa anda sedang sakit ?...”, ucap Fan Jianying cemas.


Wajah pangeran Wei Jie semakin merah pada saat punggung tangan Fan Jianying menyentuh keningnya dengan lembut.


“ Tidak panas…”, guman Fan Jianying merasa heran.


Zoelupun berdehem beberapa kali dengan keras untuk mengembalikan kesadaran pangeran Wei Jie dari fantasinya.

__ADS_1


__ADS_2