
Madam Chou terlihat menghentikan langkah kakinya untuk masuk kedalam ruangan pada saat melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
Entah kenapa melihat keakraban antara Fan Jianying dengan matriark Bai membuat dada madam Chou terasa sedikit sesak.
Meski begitu, madam Chou berusaha untuk mengembalikan ekspresinya seperti semula.
Sambil tersenyum tipis diapun segera menghadap matriark Bai sambil membawakan wanita tua itu semangkuk sup ginseng berusia ribuan tahun dari ayahnya.
“ Nenek, cucu membawakan anda sup ginseng pemberian ayahanda…”, ucap madam Chou lembut.
Saat matanya melirik apa yang dipegang oleh Fan Jianying, kecemburuan dalam hatinya kembali muncul membuat senyum diwajahnya perlahan mulai luntur.
Fan Jianying yang menyadari hal tersebut pun langsung menyapa kakak iparnya itu dengan ramah. Meski selama ini madam Chou sangat baik kepada dirinya.
Tapi dia sendiri tidak terlalu tahu pasti bagaimana kepribadian kakak ipar pertamanya itu karena sama sekali tidak dijelaskan dalam novel.
Namun, saat ini dia tidak ingin memiliki musuh dalam kediaman Bai karena itu akan menyulitkan hari – harinya saja.
Matriak Bai yang melihat kedua alis madam Chou bertaut menyadari jika ada sesuatu kesalah pahaman yang terjadi.
Tidak ingin ada pertengkaran didalam keeluarga, matriark Bai pun kemudian mulai menjelaskan jika dia memberikan Impereal Restoran kepada Fan Jainying sebagai bentuk pertanggung jawabannya karena Bai Cheung meninggalkan istrinya begitu saja.
Madam Chou mendengar semua penjelasan matriark Bai dengan seksama. Waktu mengingat jika selama dirinya membantu mengelola property matriark Bai, Impereal Restoran adalah yang paling buruk, hati madam Chou sedikit tenang.
Dirinya sudah berulang kali menyarankan agar neneknya itu menjual property yang buruk itu dan menggantinya dengan property baru yang letaknya lebih strategis.
Namun entah kenapa neneknya tersebut masih mempertahankan property yang sama sekali tidak menghasilkan apapun dalam sepuluh tahun terakhir.
“ Itu hanya restoran berwarna merah yang terbengkalai dan nenek juga sudah menjelaskan semuanya padaku. Apapun tujuan nenek, aku sendiri tak masalah selama itu tak menganggu apa yang sudah aku kerjakan…”, batin madam Chou sedikit tenang.
Mereka bertigapun mulai berbincang dengan akrab dan hangat hingga kemudian matriark Bai menyinggung tentang hadiah yang berhasil didapatkannya setelah keluar dari masalah yang dibuat oleh madam Ming kelima.
“ Aku sudah memikirkan semuanya nek…Mungkin aku akan mengirimi mereka kudapan ringan nanti, sekalian promosi gratis.…”, ucap Fan Jianying ceria.
“ Promosi…apa kamu sudah memikirkan ingin menyajikan apa di restoranmu itu ?...”, tanya matriark Bai penuh selidik.
__ADS_1
“ Nanti jika daftar menunya sudah ada, aku akan memberitahu nenek…”, Fan Jianying berkata sambil tersenyum lebar.
“ Untuk pembelian bahan makanan dan lain – lain, jika kamu tidak paham tentang semua hal, kamu bisa bertanya pada kakak iparmu…”, matriark Bai memberi saran sambil mengusap kepala Fan Jianying lembut.
“ Adik ipar bisa datang kekediaman kapan saja ada wwaktu senggang… ”, ucap madam Chou mempersilahkan.
“ Terimakasih kakak ipar. Jika begitu, aku tak akan sungkan lagi padamu…”, ucap Fan Jianying sambil tertawa.
Setelah cukup lama mereka bertiga ngobrol, Fan Jianying dan madam Chou pun pamit undur diri agar matriark Bai bisa beristirahat.
Fan Jianying bertekad untuk mengelola restoran tersebut secepat mungkin. Hal pertama yang harus dikerjakannya adalah melihat kondisi bangunan restoran tersebut besok pagi.
Dan hari ini dia akan fokus untuk membuat beberapa camilan yang akan dia kirim kepada seluruh wanita bangsawan yang kemarin hadir dan ikut dalam berpartisipasi disana..
Setidaknya ini adalah langkah awal baginya untuk melakukan promosi gratis sebelum dirinya benar – benar membuka bisnis tersebut.
Sekalian dia juga akan memenuhi undangan dari koki Aming. Setidaknya dia akan melihat menu apa yang dimilikinya, sehingga dia bisa membuat yang berbeda dengannya.
Agar pangsa pasar yang ditujunya bisa menjadi jelas dan menentukan menu andalan restoran yang dimilikinya nanti.
Diapun segera membawa Dayu dan pelayan senior Gaeng menuju dapur untuk membuat aneka kudapan yang akan dia kirimkan nanti.
Karena dijaman kuno ini masih belum ada oven, maka dia berniat akan membuat berbagai macam kudapan yang dikukus, sejenis pao seperti roti persik panjang umur yang dibuatnya kemarin.
Tapi kali ini dia akan mengisinya dengan berbagai macam variasi rasa, gurih dan manis agar orang yang menikmatinya tidak bosan.
Ukuran mini menjadi pilihannya, selain tidak membuat orang kenyang karena akan habis hanya dengan dua kali gigit.
Hal ini juga dimaksudkan agar mereka bisa mencoba varian yang lainnya tanpa takut kekenyangan diawal, seperti memakan pao besar yang biasanya ada.
Setelah sampai didapur, langkah awal yang dilakukannya adalah membuat adonan dari tepung, ragi, gula dan garam serta air.
Adonan tepung yang sudah dibuat kalis didiamkan sebentar dan ditutupi kain basah selama beberapa saat hingga mengembang.
Sambil menunggu adonan mengembang, Fan Jianying dibantu beberapa pelayan mulai menyiapkan isian dalamnya.
__ADS_1
Untuk rasa manis dia memakai kacang merah, kacang hijau serta buah – buahan baik yang segar maupun yang kering.
Sedangkan untuk yang rasa asin dan gurih dia akan memasukkan daging cincang, ayam dan aneka kacang – kacangan.
Semua orang menyaksikan semua proses pembuatan roti tersebut dan mencatatnya dalam ingatan untuk bisa mereka eksekusi nantinya.
Servant Meilin mengernyitkan alisnya cukup dalam waktu melihat madam ketiganya itu kembali bergumul dengan tepung didapur.
Meski awalnya masih menyangsikan semua ucapan Hira, tapi kali ini dia kembali dibuat tertegun melihat istri tuan mudanya itu dengan cekatan melakukan semuanya.
Bahkan kue yang dihasilkan juga tak main – main dalam segi bentuk dan rasa. Yang paling mengejutkan adalah kabar yang menyebutkan jika matriark Bai memberikan Impereal Restoran untuk Fan Jianying.
“ Jika dia bisa mengelola restoran tersebut dengan baik, bukan tidak mungkin madam ketiga tidak terlalu mengharapkan kehadiran tuan mudanya lagi karena dia sudah bisa mandiri secara financial…”, batin servan Meilin cemas.
“ Kurasa aku harus segera memberitahukan hal ini kepada tuan muda secepatnya…”, batin servan Meilin beranjak pergi untuk segera memberi kabar kepada Bai Cheung tentang hal ini.
Setelah semua kue matang, diapun segera mengirimnya untuk nenek, ibundanya dan tak lupa kakak ipar dan kedua keponakannya.
Selanjutnya diapun mulai memasukkan kue – kue tersebut kedalam kotak yang sudah disiapkan. Dia memasukkan dua belas kue dalam dalam satu kotak hantaran tersebut sesuai dengan sekat yang tersedia.
Dan menyuruh dua orang pelayannya menaiki kereta untuk mengantarkan kue – kue tersebut agar bisa cepat sampai.
Untuk kediaman Fan, dia memberikan kotak yang lebih besar agar semua anggota keluarganya bisa merasakan kue buatannya dan menyuruh seseorang megantarnya secara terpisah mengingat kue tersebut harus disantap selagi hangat.
Dan pilihannya jatuh kepada Hira, selain memiliki ketrampilan beladiri yang bisa membuatnya sampai lebih cepat. Untuk saat ini hanya dialah salah satu dari ketiga pelayan yang dikirim suaminya yang bisa Fan Jianying percayai.
Semua wanita bangsawan yang mendapatkan souvenir kue dari Fan Jianying sebagai ucapan terimakasih atas semua asesoris dan perhiasan yang mereka berikan kepadanya kemarin merasa sangat bahagia karena bisa merasakan kue lezat buatan madam ketiga Bai tersebut.
Selain mendapatkan dua belas kue cantik dalam satu keranjang bamboo, bunga peony mekar yang ada ditengah – tengah keranjang menambah keindahan yang ada.
Membuat mata penerimanya terasa segar dan bahagia menikmati keindahan seni yang tersaji didalamnya.
Fan Jianying menggunakan pengalamannya didunia modern. Selain rasa sebagai hal yang utama, bentuk dan hal – hal yang mendukung keindahan itu sendiri akan menjadikan minat bagi seseorang untuk memakannya, meski pada awalnya mereka sama sekali tidak memiliki nafsu.
Secara psikologi seseorang yang melihat suatu keindahan, apapun itu pasti akan memiliki minat lebih terhadap hal tersebut.
__ADS_1
Dan itu sudah menjadi nalurih dasar manusia yang akan Fan Jianying terapkan dalam setiap makanan yang akan dia sajikan di restorannya.