CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
BERKORBAN DEMI CINTA


__ADS_3

“ HEIAN…HENTIKAN !!!....”, teriak Cheng Lu murka.


Ini untuk kesekian kalinya dia memergoki ketua pasukan iblis kegelapan tersebut berburu manusia disekitar lembah.


“ Kau akan merusak semua rencana kita jika tak bisa menahan hasratmu itu !!!....”, Cheng Lu berkata sambil mengeram marah.


“ Hey kawan…santai sedikit lah. Kaisar busuk itu tak akan curiga jika hanya kehilangan segelintir orang tak berguna ini….”, ucap Heian santai.


Melihat Cheng Lu mengeluarkan bola api dari telapak tangannya, Heian pun buru – buru menghilang dari hadapan raja Foresty tersebut.


“ Sialan !!! awas saja kamu Heian !!!...jika sampai ketahuan lagi memburu manusia, akan aku musnahkan menjadi abu saat itu juga!!!....”, ucap Cheng Lu geram.


Cheng Lu yang merasa jika aura kristal kehidupan semakin lama semakin bertambah kuat, tak ingin akibat keteledoran yang dilakukan Heian semua rencananya menjadi gagal.


Diapun segera pergi meninggalkan tempat yang penuh dengan mayat terbujur kaku dengan mulut mengangga dan kedua mata melotot setelah seluruh energy jiwa mereka dihisap oleh ketua pasukan iblis kegelapan tersebut dengan bengis.


Di lain sisi, Fan Jianying terlihat gelisah mencoba untuk berpikir bagaimana caranya meminta ijin kepada sang suami agar bisa melakukan ritual pengeluaran kristal kehidupan dalam tubuhnya bersama sang kakak.


Mengingat jika suaminya sangat pencemburu, hal tersebut tentunya tak akan mudah. Untuk itu Fan Jianying berusaha untuk mencari alasan yang masuk akal dan tepat agar hati suaminya tenang.


“ Apa ada yang istri ingin katakan ?....”, tanya Bai Cheung sambil mengusap lembut rambut hitam panjang Fan Jainying yang pagi ini dibiarkan terurai.


“ Waktu kita tak banyak. Kita tak tahu kapan Heng Yuan bersama pasukannnya akan datang menyerang. Kristal kehidupan ini harus segera dikeluarkan dan disimpan ditempat yang aman….”, ucap Fan Jianying gelisah.


“ Jika kondisi istri sudah membaik, kita bisa mencobanya lagi….”, ucap Bai Cheung masih dengan intonasi lembutnya.


“ Tidak…satu orang hanya bisa mencobanya satu kali. Jika gagal, maka aku harus mencoba ritual tersebut dengan orang lain….”, Fan Jianying terlihat mulai mengerucutkan pembicaraan yang ada.


“ Siapa ?...”, tanya Bai Cheung penasaran.


“ Aku berencana mencoba dengan kedua kakakku. Jika masih gagal, alternative terakhir adalah dengan ayahanda….”, Fan Jianying terlihat berkata dengan sangat hati – hati agar suaminya tak tersinggung dengan ucapannya.


“ Apakah kamu ingin mencobanya dengan putra mahkota Qin Shi Huang ?...”, tanya Bai Cheung dengan nada datar dan dingin.


Spontan saja aura dalam ruangan menjadi sangat dingin dan mencekam. Wajah Bai Cheung pun sudah mulai menggelap.


Fan Jianying yang menyadari hal tersebut langsung mengenggam kedua tangan suaminya dengan lembut.


“ Saat ini kekuatan ayahanda semakin melemah karena terserap kristal kehidupan. Aku hanya bisa mengandalkan kakak saat ini….”, ucap Fan Jianying sedih.


Meski pahit, namun Bai Cheung membenarkan ucapan sang istri. Selaian kaisar Huang, saat ini yang memiliki kekuatan besar didalam istana ini hanyalah putra mahkota Qin Shi Huang.


Sedangkan untuk pangeran Wei Jie, kekuatannya hampir setara dengan dirinya. Bahkan ada beberapa sisi  Bai Cheung lebih unggul jika dibandingkan dengan kakak iparnya tersebut.


Meski berat, namun demi keselamatan calon anak yang ada dalam kandungannya dan mengamankan kristal kehidupan sebelum dikembalikan ke kerajaan langit Bai Cheung pun terpaksa memberi ijin istrinya untuk melakukan ritual tersebut bersama kakak iparnya.

__ADS_1


“ Baiklah…lakukanlah….”, ucap Bai Cheung pasrah.


Fan Jianying melotot tak percaya mendengar suaminya dengan mudah mengijinkannya. Dia pada awalnya merasa jika dia memerlukan alasan yang lebih masuk akal lagi agar diijinkan.


“ Terimakasih suamiku…..”, ucap Fan Jianying sambil memeluk suaminya erat dengan senyum mengembang dibibirnya.


Namun senyum mengembang tersebut tak bertahan lama diwajah Fan Jianying waktu dia menyadari telah menipu suaminya.


“ Maafkan aku suamiku. Aku telah membohongimu dengan mengatakan bahwa ritual tersebut membutuhkan sosok yang memiliki kekuatan besar untuk menjadi patnerku. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, aku takut itu akan melukaimu lebih dalam….”, batin Fan Jianying sedih.


Bai Cheung yang melihat sang istri menghapus air matanya dengan cepat agar dirinya trak mengetahui, membuat hatinya sedih.


“ Istri tak perlu bersedih, aku baik – baik saja dengan semua ini. Aku percaya sepenuhnya padamu….” , ucap Bai Cheung sambil mengecup kening sang istri cukup lama.


Mendengar ucapan sang suami, rasa bersalah dalam diri Fan Jianying semakin besar. Meski dia tak ingin hal ini terjadi, namun takdir mengharuskannya melakukan semua ini.


“ Sudah…jangan bersedih lagi…waktu kita tak banyak. Aku akan berjaga disini selama kamu berada didalam cincin ruang bersama kakak….”, ucap Bai Cheung berusaha tersenyum dengan nada penuh pengertian.


Demi rasa cinta untuk sang istri, Bai Cheung mencoba untuk menyingkirkan rasa cemburu yang mulai hadir didalam hatinya.


Begitu putra mahkota Qin Shi Huang datang, Fan Jianying langsung membawa sang kakak untuk masuk kedalam cincin ruangnya.


Tak membuang waktu lagi, setelah Fan Jianying menjelaskan semuanya keduanya segera melakukan ritual untuk mengeluarkan krisatl kehidupan dari dalam tubuhnya.


“ Sudah dimulai….”, guman Bai Cheung sambil mendesah pelan.


Cheng Lu yang berada dibawah lembah tak jauh dari perbatasan ibukota, merasa jika kristal kehidupan semakin kuat terasa terlihat tak sabar lagi untuk menyerang ibukota dan menakhlukkan kerajaan Huangwe.


“ Sabar…sebentar lagi keingginanmu akan segera terealisasi….”, ucap Hang Yuan sambil menepuk pundak Cheng Lu pelan.


Saking kuatnya aura yang keluar selama ritual berlangsung hingga sampai menembus lapisan langit, membuat seorang yang duduk gagah disinggahsananya tersenyum lebar.


“ Akhirnya, kristal kehidupan berhasil ditemukan….”, ucap kaisar langit tersenyum puas.


Dilain sisi, kaisar Huang merasa dadanya sangat sesak dan tenaganya tiba – tiba menghilang dengan sangat cepat membuatnya  terkulai lemas di singgahsananya.


Untung kondisi istana dalam keadaan sepi sehingga tak ada siapapun yang melihat kondisinya yang memprihatinkan seperti itu.


Melihat junjungannya tak berdata, langsung saja kasim Lu dan para pengawal yang bertugas disana menggotong tubuh kaisar untuk dibaringkan diatas ranjangnya agar bisa beristirahat sejenak.


“ Panggil tabib istana segera !!!.....”, perintah kasil Lu lantang.


“ Tidak usah…aku ingin beristirahat sejenak…..”, ucap kaisar Huang lemah.


Kasim Lu yang sangat khawatir dengan kondisi kaisar Huang hanya bisa pasrah waktu pemimpin negara Huangshan tersebut menyuruhnya untuk keluar dan membiarkannya sendiri.

__ADS_1


Selama ritual berlangsung, energy kaisar Huang yang diserap oleh kristal kehidupan semakin besar membuatnya semakin lemah.


Kaisar Huang terlihat menikmati setiap kesakitan yang dia rasakan saat ini. Bahkan dirinya sudah rela jika hari ini adalah hari terakhirnya berada di dunia.


“ Akhirnya hari ini datang juga. Aku rela melepas semuanya. Ini adalah konsekuensi yang harus aku tanggung demi menghidupkan orang yang sangat kucintai….”, guman kaisar Huang bermonolog.


Saat kristal kehidupan siap keluar, putra mahkota Qin Shi Huang pun langsung menghentikan pergerakannya karena ini adalah saatnya Fan Jianying berusaha sendiri untuk mengeluarkannya.


Perlahan sinar yang ada dalam tubuh Fan Jianying bergerak keatas. Begitu hampir tiba ditenggorokan, tiba – tiba Fan Jianying terlihat kelelahan dan beberapa kali muntah darah.


Putra mahkota Qin Shi Huang yang melihat hal tersebut langsung bergerak maju dan menyalurkan energy yang ada dalam tubuhnya melalui punggung Fan Jianying.


Beberapa kali Fan Jianying terlihat menggelengkan kepala agar putra mahkota Qin Shi Huang menghentikan tindakannya sebelum terlambat.


Namun putra mahkota Qin Shi Huang tak menghiraukan hal tersebut. Baginya yang terpenting saat ini adalah keselamatan Fan Jianying.


Dia akan melakukan apapun agar kristal kehidupan tersebut bisa keluar dan gadis yang dicitainya selamat, meski nyawa adalah taruhannya.


Setelah berusaha cukup keras, akhirnya kristal kehidupan tersebut berhasil dimuntahkan oleh Fan Jianying.


Batu kristal seukuran telapak tangan tersebut berhasil dimuntahkan dari dalam tubuhnya dan berada dalam genggaman kedua tangan Fan Jianying.


“ Kakak !!!!....”, teriak Fan Jianying sambil berlari mendekat.


“ Kenapa kakak lakukan itu….aku sudah peringatkan sebelumnya, itu sangat berbahaya….”, ucap Fan Jianying berderai air mata.


“ Jangan menangis….aku bahagia bisa membantumu….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sambil mengusap pipi Fan Jianying sambil tersenyum lembut.


Uhuk uhukkk…..


Seteguk darah segar berhasil dimuntahkan oleh putra mahkota Qin Shi Huang dan tubuhnya semakin melemah.


“ Berjanjilah untuk selalu bahagia. Aku rela berkorban semua ini demi kamu dan calon anak yang ada dalam kandunganmu….”, ucap putra mahkota Qin Shi Huang sambil tersenyum sebelum menutup kedua matanya.


“ Tidak !!!...tidak !!!....”, ucap Fan Jianying sambil mengguncang – guncang tubuh sang kakak dengan keras.


Fan Jianying terlihat sangat panik waktu tidak merasakan denyut nadi putra mahkota Qin Shi Huang yang ada dalam dekapannya.


“ Tidak !!!...kakak tidak boleh meninggalkan Fan’er !!!...”, ucap Fan Jianying berderai air mata.


“ Kakak !!!....”, teriaknya menangis pilu.


Fan Jianying terus menangis meraung – raung sambil mendekap tubuh sang kakak yang sudah tak bernyawa tersebut dengan erat.


Langit yang cerah tiba – tiba saja menghitam dan petir mulai menyambar bersautan. Tak lama kemudian hujan  deras mengguyur negara Huangshan, seakan langit ikut bersedih atas peristiwa yang terjadi hari ini.

__ADS_1


__ADS_2