CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
BERLIMPAH PUJIAN


__ADS_3

Seperti sebelum – sebelumnya, matriark Bai terus saja memuji keahlian Fan Jianying sambil memakan satu persatu kue yang tersaji dihadapannya.


“ Kue ini sangat kecil jadi aku tidak merasa kenyang meski harus menghabiskannya sepiring sendiri…”, ucap matriark Bai sambil tersenyum.


Pelayan senior Yu yang berada disampingnya merasa sangat bahagia karena junjungannya ini selama beberapa hari terakhir terlihat bahagia dan sering tersenyum lepas jika bersama Fan Jianying.


Pemandangan yang sangat jarang didapatkannya sejak kematian suaminya, delapan tahun yang lalu. Kediaman utama yang hangat dan ceria tiba – tiba menjadi sunyi dan suram.


Baru setelah Fan Jianying datang dan menjadi bagian keluarga Bai, kediaman utama ini kembali hidup dan lebih berwarna.


“ Gadis itu memang benar – benar bintang keberuntungan keluarga Bai. Tapi sayangnya tuan muda masih belum menyadari hal itu…”, batin pelayan senior Yu sedih jika kembali mengingat bagaimana tuan mudanya itu telah menyia – nyiakan istrinya dengan kejam seperti itu.


Sama dengan yang ada dikediaman utama, dikediaman nyonya pertama saat ini Lien Hua yang beberapa hari terakhir tidak memiliki nafsu makan, telah menghabiskan lima kue  dan sekarang masih mengambil satu kue lagi untuk dia makan.


Selama dirawat oleh menantunya itu, lidah Lien Hua yang sudah terbiasa dimanjakan oleh masakan Fan Jianying merasa hambar saat masakan tersebut disajikan oleh orang lain.


Bai Wang yang sedang luang dan berniat menjenguk ibundanya terlihat sedikit terkejut waktu melihat ibundanya itu makan kue dengan sangat lahap.


“ Apakah ini kue buatan adik ipar ?...”, tanya Bai Wang begitu memasuki ruangan.


Melihat putra keduanya yang terbilang sangat sibuk menjenguknya hatinya tentu sangat bahagia sekali. Dengan satu tangannya dia melambai agar putra keduanya itu mendekat.


“ Mari duduk nak…ayo, coba makan…ini sangatlah lezat…”, ucap Lien Hua sambil menyodorkan piring berisi kue tersebut kepada anak keduanya itu.


Kedua mata Bai Wang melotot sempurna waktu merasakan kue kenyal dan lembut tersebut masuk kedalam mulutnya.


Meski kemarin dia sudah merasakan kue persik panjang umur yang sangat lezat, namun saat merasakan kue yang ada dimulutnya saat ini lidah terasa keluah untuk berkata - kata.


Meski sama - sama lezat, kue ini berbeda dari yang kemarin. Kue yang masuk kedalam mulutnya ini selain kulit luarnya sangat lembut, isian daging ayam yang juicy, gurih dan lezat.


Bahkan lidahnya tak bisa berhenti bergoyang menikmati semua perpaduan rasa yang sepurna. Bai Wang kembali mengambil satu roti yang ada dihadapannya.


Kali ini dia mengambil roti berbentuk seperti rambut dikepang. Matanya kembali melotot waktu dia merasakan rasa gurih dari aneka macam kacang - kacangan.


Meski agak terasa aneh, tapi ini sangat lezat dimana kacang cincang kasar tersebut bercampur dengan selai kacang yang sangat gurih dan lezat.


Diapun kemudian mengambil satu kue lagi dengan bentuk yang berbeda. Matanya kembali terbelalak waktu mengetahui jika isian yang ada dalam kue tersebut berbeda dari sebelumnya.


“ Apakah semua kue yang berbeda bentuk ini berbeda rasa ?...”, tanya Bai Wang penasaran.


Perpaduan yang cukup unik namun tetap enak dilidah. Tak terasa Bai Wang sudah menghabiskan lima roti tanpa terasa.


“ Tentu saja…maka dari itu, ibunda ingin mencoba semuanya. Rasa manis dan gurih semuanya terasa sangat lezat…”, ucap Lien Hua tersenyum bahagia.


Melihat ibundanya tersenyum seperti itu, hati Bai Wangpun terasa hangat.  Diapun kemudian menceritakan bagaimana ekspresi semua orang diacara perjamuan tuan besar Ming kemarin waktu memakan kue perik panjang umur buatan Fan Jianying yang sangat lezat itu.


“ Oh…benarkah ?...apakah ekspresi mereka selucu itu ?…”, ucap Lien Hua tertawa lepas.


“ Benar ibu, bahkan ada yang sangat rakus hingga memasukkan tiga kue sekaligus karena tidak puas hanya makan satu kue yang kecil seperti itu…”, ucap Bai Wang sambil tertawa.

__ADS_1


Keduanyapun terlihat tertawa dengan lepas sambil mendengar semua cerita Bai Wang hingga air mata Lien Hua keluar saking bahagianya.


“ Sayangnya adikmu tidak berpikir demikian dan meninggalkan istri berharganya itu begitu saja…”, Lien Hua tiba – tiba menjadi murung waktu mengingat kelakuan Bai Cheung.


“ Ibunda jangan sedih, Cheung melakukan ini pasti ada alasannya…”, ucap Bai Wang berusaha menenangkan.


Meski Bai Wang sangat tahu dengan jelas apa alasan adiknya itu pergi keperbatasan timur, namun dia diam saja karena tak ingin ibundanya merasa khawatir.


Bai Wang sendiri sampai saat ini masih menyelidiki bagaimana adiknya bisa tahu masalah hewan mutasi yang sudah terkena racun hingga hilang kendali dan rencan pembunuhan jenderal besar Tian.


Padahal dirinya sudah serapi mungkin untuk menyusun rencananya bersama Heng Yuan dan pengeran kedua.


Bahkan Bai Wang sangat yakin jika adiknya itu sama sekali tidak mengetahui tentang pergerakannya. Jika dia tahu, mana mungkin dia diam saja atas peledakan dapur utama yang dilakukannya tempo hari.


Bai Wang yang larut dalam pikirannya tiba - tiba dikejutkan oleh suara ibundanya yang terlihat sedang membahas hal yang sangat ingin dia hindari.


“ Lalu…kapan kamu akan menikah ?...meski tidak bisa, setidaknya cobalah….”, ucap Lien Hua sedih.


“ Putra ini juga sudah berusaha bu…tapi, masih belum bisa…”, ucap Bai Wang sedih.


Lien Hua hanya bisa mengenggam kedua tangan putra keduanya itu dengan erat untuk menguatkannya. Meski Bai Wang berbeda, namun bagaimanapun juga dia adalah putra kandungnya.


Sebisa mungkin Lien Hua akan terus mendukungnya. Besar harapannya jika Bai Wang bisa kembali normal sehingga hari – harinya tidak akan sulit seperti ini.


Sementara itu di kediaman Lady Rose, Helbert yang baru saja kembali dari rumah pertukaran uang atau penyimpanan uang yang disebut Bank dalam dunia modern miliknya terlihat sangat lelah.


Melihat salah satu pelayannya masuk dengan membawa sebuah kotak yang sangat indah, diapun langsung memberhentikan langkah pelayan itu.


“ Apa itu ?...”, tanya Helbert penasaran.


“ Membalas tuan besar, ini dikirim dari kediaman Bai. Mereka mengatakan ini adalah hadiah untuk Lady Rose dari madam ketiga Bai. Dan salah satu pesannya, makanan ini akan lebih nikmat jika disantap dalam keadaan hangat jadi saya ingin segera membawanya kedalam…”, ucap pelayan wanita tersebut menjelaskan.


“ Letakkan disini…”, perintah Helbert tajam.


Melihat pelayan wanita tersebut masih diam tak bergeming, Helbert yang badan dan pikirannya lelah terlihat mulai marah.


“ Apa kamu tuli !!!...letakkan dimeja sekarang !!!...”, teriak Helbert marah.


Dengan tubuh bergetar pelayan wanita itupun segera meletakkan makanan tersebut diatas meja dan segera pamit undur diri.


Melihat bau yang keluar dari dalam kotak bamboo tersebut, Helbert pun tak sabar untuk membukanya.


Asap naik membawa aroma kelezatan pada saat tutup kota dibuka, membuat Helbert menelan ludahnya berkali – kali.


“ Kue apa ini ?...”, batin Helbert penasaran.


Diapun lalu mengambil satu buah kue berbentuk bunga mawar yang sangat indah. Hanya dalam satu kali gigitan, kue tersebut langsung dimakan habis.


“ mmm…apakah ini kismis ?...”, batin Helbert sambil terus mengunyah rasa yang menyegarkan dan renyah tersebut.

__ADS_1


“ Sangat lezat…”, batin Helbert puas.


Diapun terlihat mulai mengambil kue kedua yang berbentuk seperti buah strawberry berwarna merah yang menyegarkan dimana didalamnya terdapat selai buah naga yang manis dan menyegarkan.


Selanjutnya, saat mengambil kue ketiga berbetuk kancing baju yang menonjol. Rasa gurih aneka kacang yang dibuat menjadi selai dan diberi cincangan kasar kacang sedikit membuat tekstur kue sedikit berbeda dari lainnya namun tetap lezat.


Meskipun hampir menghabiskan semuanya, Helbert sama sekali tidak merasa bosan untuk memakan camilan kecil yang berbentuk elegan dan sangat cocok dengan seleranya itu.


Lady Rose yang datang dari pelataran dalam terlihat mentautkan kedua alisnya penuh selidik waktu melihat suaminya duduk diruang tamu sambil menikmati sekotak kue yang ada dihadapannya.


“ Sayang...mengapa siang begini kamu sudah kembali…”, tanya Lady Rose sedikit heran.


“ Apa yang kamu makan hingga tak menghiraukanku seperti ini ?...”, Lady Rosepun langsung duduk disamping sang suami sambil melihat kue yang ada diatas meja dengan mata melotot.


“ Ini hadiah dari kediaman Bai, tadi aku agak sedikit lapar jadi aku memakannya beberapa…”, ucap Helbert sambil mengusap tengkuknya sedikit kikuk.


“ Benarkah hanya sedikit ?...”, tanya Lady Rose sambil memicingkan satu matanya.


Dia merasa jika semua kue sudah dimakan oleh suaminya mengingat sekat dalam kotak bamboo tersebut ada dua belas dan sekarang hanya ada dua kue yang tersisa.


“ Jika tiggal dua, itu berarti dia sudah memakan sepuluh kue…”, batin Lady Rose terkikik.


Karena merasa bersalah telah menghabiskan kue yang ditujukan untuk istrinya, dengan lembut Helbertpun mulai menyuapkan satu kue kedalam mulut Lady Rose.


“ Ini rasa kacang merah yang lembut…”, guman Lady Rose dengan kedua mata berbinar.


“ Cobalah ini…rasanya pasti beda…”, ucap Helbert sambil memasukkan kue terakhir kedalam mulut istrinya.


Lady Rose tak dapat lagi meluapkan kebahagiaannya, rasa kue terakhir yang dia makan berisi daging cincang yang sangat gurih dan lezat.


Bahkan daging cincangnya sangat memanjakan lidah, hingga membuatnya ingin mencobanya lagi. Namun dia harus kecewa waktu mendapati kotak yang ada dihadapannya sudah kosong melompong.


Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan suaminya yang tergiur oleh kelezatan kue buatan madam ketiga Bai itu karena siapapun pasti akan melakukan hal yang sama.


Keluarga Fan yang mendapatkan kudapan tentunya sangat terkejut. Apalagi waktu melihat bentuk kue yang indah dan elegan serta rasanya yang lezat.


“ Ini benar – benar buatan Fan’er ?....”, sang nenek menatap kue tersebut penuh haru.


“ Benar nenek, ini kue buatan Fa’er. Ini roti persik panjang umur yang dibuat kemarin…”, ucap madam Ronger sambil menunjukkan kue berbentuk buah persik seperti yang dia makan dalam perjamuan kemarin siang.


Semua anggota keluarga Fan menikmati kue yang dikirimkan oleh Fan Jianying kedalam kediamannya dengan penuh suka cita.


Menyaksikan semuanya, kedengkian dalam diri Fan Nuan semakin dalam. Dirinya sama sekali tak menyangka jika kakak tirinya yang bertubuh lemah dan tak bisa melakukan apapun itu bisa berubah begitu cepat semenjak masuk kedalam keluarga Bai.


“ Aku harus bertanya kepada tuan muda kedua Bai tentang apa yang sebenarnya terjadi disana? hingga kakakku berubah sedrastis itu...”, batin Fan Nuan penuh kecurigaan.


Sementara itu didalam istana, putri Wei Xieun terlihat sangat senang mendapat kiriman kudapan dari Fan Jianying.


Meski dia masih sangat kesal karena gadis itu telah menarik semua perhatian orang – orang terdekatnya, namun dia tak akan menolak untuk menikmati kelezatan yang diberikan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2