CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
Bab 28. Bertemu Mami Farida


__ADS_3

Perasaan Vera menjadi tak karuan. Rasa cemas, khawatir dan takut menjalar ke seluruh aliran darahnya. Matanya tak berani melihat ke depan. Apalagi melihat rombongan keluarga Damian datang. Tetapi, demi bisa bekerja sesuai impiannya, Vera berusaha menahannya sebaik mungkin.


Hanya satu hari ini saja, besok mereka pasti sudah akan pergi meninggalkan yayasan ini. Jadi, Vera hanya harus bisa bertahan hari ini saja. Tetapi, satu hari ini, begitu sulit untuk dilakukan. Vera hanya bisa menarik napas panjang untuk menghilangkan rasa khawatirnya saat ini.


Vera masih beruntung, ketika Bu Farida berhenti didepannya, Damian segera memintanya untuk terus melangkah. Jantung Vera berdetak sangat kencang dan serasa mau berhenti.


Hari ini, akan diumumkan nama yayasan yang ternyata masih menjadi rahasia. Sebenarnya hanya sebuah nama, kenapa harus dirahasiakan. Apakah akan ada kejutan?


Vera dan semua staf pengajar duduk di kursi yang sudah disediakan bersama tamu undangan. Saat dia melihat ke arah Damian, Damian juga sedang menatapnya. Banyak hal yang ingin Vera tanyakan pada Damian. Akan tetapi berhubung sekarang Damian adalah atasannya, Vera akan berusaha melupakan semuanya dan memulai dari awal hubungan antara atasan dan bawahan.


Damian naik podium untuk memberikan sepatah dua patah kata di acara peresmian i yayasan tersebut. Tibalah saat Damian mengumumkan nama yayasan ini.


"Yayasan Vera Cantika," ucap Damian dengan cukup keras.


Tentu saja Vera sangat terkejut mendengar nama yayasan yang disebutkan Damian. Nama yayasan itu seperti nama dirinya. Tapi apa iya, itu adalah namanya? Beberapa pasang mata menatap kearahnya. Mereka seolah ingin mempertanyakan kebenaran nama yayasan itu dengan namanya.


Vera berpura-pura tidak melihat reaksi teman-temannya. Bahkan dia berusaha cuek dan santai saja dengan semua itu. Sampai akhirnya, dia diminta oleh Kepala sekolah untuk menjadi wakil yang ikut maju ke depan untuk ikut memotong tali yang sudah disiapkan.


Vera tidak bisa menolak, karena semua mata tertuju padanya. Dengan hati ragu, Vera berjalan perlahan menuju Damian dan tau penting lainnya.


"Baiklah. Saya akan berkolaborasi dengan salah satu perwakilan pengajar di yayasan kita ini. Silahkan maju, Bu guru dari perwakilan pengajar," ucap Damian semakin membuat Vera bingung.


Beberapa orang meminta Vera untuk segera maju menemani Damian. Vera terpaksa mengikuti acara hari ini dengan perasaan was-was jika Bu Farida tiba-tiba mengenalinya. Vera memegang satu gunting yang sudah dihias, demikian juga dengan Damian. Semua orang ikut menghitung dimulai dari angka tiga. Setelah sampai diangka satu, Damian dan Vera bersama-sama memotong tali tersebut disambut tepuk tangan dari semua yang hadir.


Selesai acara memotong tali, acara resmi sudah selesai dan berganti acara makan bersama. Vera bergegas melangkah pergi, ketika sebuah suara memanggilnya.

__ADS_1


"Vera, ini kamu?"


Vera sempat terkejut dan yakin jika suara itu adalah suara ibu Farida. Orang yang sudah dibohongi olehnya dulu. Vera berhenti dan dia mencoba untuk bisa menghadapinya. Karena, seberapapun ingin dihindari, pada akhirnya juga akan bertemu.


"Selamat siang, Bu" ucap Vera gugup.


"Jadi benar, ini kamu. Kita duduk di sana, ibu ingin bicara," ajak Bu Farida lalu berjalan ke arah tempat duduk yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sementara, Vera mengikuti langkah Bu Farida dengan lesu.


"Duduklah." Bu Farida mempersilahkan Vera sambil tersenyum.


"Terima kasih," jawab Vera lalu duduk perlahan.


"Hampir saja, ibu tidak mengenalimu. Kamu tampak berbeda dari Vera yang ibu kenal dulu," ucap bu Farida sambil terus menatap Vera.


"Vera ... Vera ingin meminta maaf pada Bu Farida, karena Vera pernah melakukan kesalahan. Vera ...," ucap Vera sangat gugup dan penuh kekhawatiran.


"Terima kasih. Saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Vera malu.


"Ibu senang melihatmu. Kamu ternyata seorang guru. Pasti, kamu sayang sekali pada anak-anak," ucap bu Farida.


"Begitulah, Bu. Anak-anak itu bisa menjadi dorongan semangat untuk Vera bisa melangkah maju, menghadapi masalah yang ada," jawab Vera sangat lega, ternyata Bu Farida tidak membencinya seperti yang Vera takutkan.


"Cocok. Bolehkah aku bertemu dengan orangtuamu? Jangan berpikir buruk dulu, ibu hanya ingin meminta izin pada orangtuamu untuk membawa kami melihat-lihat keindahan kampung ini," ucap bu Farida yang sempat membayar Vera kaget.


"Oh, boleh. Nanti setelah acara ini selesai, Vera akan membawa ibu bertemu ayah dan ibu Vera," jawab Vera sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Mami, Mami mau makan apa? Biar Damian ambilkan," tanya Damian pada Bu Farida.


"Vera mau makan apa? Mumpung ada pelayan baru, biar sekalian," tanya Bu Farida pada Vera yang tampak gugup.


"Terserah saja. Semuanya Vera suka," jawab Vera sambil menatap Damian.


"Damian, Mami mau coba gudeg. Kayaknya mami pernah dengar, kalau gudeg itu enak. Ambilkan dua porsi," ucap Bu Farida bersikap seolah Damian adlah pelayan.


"Tunggu, biar Vera saja yang ambilkan. Pak Damian duduk saja," ucap Vera yang membuat Damian berhenti melangkah.


"Sudah-sudah, sana kalian berdua saja yang ambil. Mami tunggu di sini," ucap Bu Farida tertawa kecil melihat Damian dan Vera.


Vera berjalan mengikuti langkah Damian. Damian meminta Vera untuk membantunya memegang piring yang berisi makanan. Sementara, Damian mengambil piring lagi untu porsi kedua.


Setelah itu, mereka berdua membawa tiga buah piring berisi makanan dan duduk dimeja yang sama. Mereka bertiga makan bersama dan sesekali Bu Farida melihat kearah Damian yang terus memperhatikan Vera. Sedangkan Vera terus saja menunduk dan berusaha segera menghabiskan makanannya agar dia bisa segera terbebas dari rasa canggung ini.


Damian memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengambilkan tiga gelas minuman untuk mereka bertiga. Tidak berapa lama, minuman pesanan Damian datang. Vera tiba-tiba tersedak karena terlalu cepat ingin segera habis. Damian dengan lembut memberikannya segelas minuman yang baru saja datang.


Meskipun sempat terkejut, Vera segera meminumnya bahkan hampir separonya habis diminum. Damian hanya tersenyum melihat Vera. Sementara Bu Farida terlihat sangat senang melihat sikap dan perhatian Damian kepada Vera.


Hal itu juga menjadi perhatian rekan pengajar Yang lain, dan menjadi bahan gosip diantara mereka. Mereka saling berandai-andai tentang hubungan antara Vera dan pemilik yayasan.


Seperti permintaan Bu Farida, selesai acara peresmian, Vera mengajak Bu Farida dan Damian pergi ke rumahnya. Perjalanan yang tidak terlalu jauh. Bu Farida tampak heran karena tanpa bertanya pada Vera, Damian sudah tahu rumah Vera. Akan tetapi, Bu Farida tetap diam dan akan bertanya nanti jika sudah sampai di rumah.


Mereka bertiga turun dan berjalan menuju pintu rumah Vera. Vera segera membuka pintu dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Vera lalu mencari orangtuanya yang ternyata hanya ada sang ibu yang sedang menonton televisi. Vera bergegas meminta ibunya untuk menemui Bu Farida.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2