CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PENYELIDIKAN


__ADS_3

Ratu Qinly yang menyelidiki tentang Fan Jianying merasa sangat terkejut saat mengetahui jika gadis itu memiliki hubungan dengan pangeran ke empat.


“ Apa ini ada kaitannya dengan kepergian Bai Cheung kewilayah perbatasan wilayah timur ?...”, batin Ratu Qinly penuh tanda tanya.


Diapun segera mendiskusikan hal tersebut dengan putranya, pangeran Song Yu. Mendengar kabar dari ibundanya, pangeran kedua yang sudah mengetahui informasi tersebut tampak sedikit gusar.


Apalagi setelah dia mendapatkan laporan jika hampir separuh hewan mutasi telah berhasil dibasmi oleh Bai Cheung beserta timnya sebelum dipindahkan.


“ Kamu harus secepatnya menangkap mata – mata itu jika tidak ingin semua yang sudah kita rencanakan hancur berantakan…”, ucap Ratu Qinly tajam.


Melihat putranya sedikit kalut, Ratu Qinly yang ingin menceritakan kecurigaannya tentang identitas Fan Jianying yang diduga adalah adik tirinya, terlihat mengurungkan niatnya.


“ Biarlah masalah ini aku urus sendiri…”, batin Ratu Qinly sambil menatap kepergian pangeran Song Yu dengan tajam.


Kali ini Ratu Qinly akan benar – benar membunuh Fan Jianying dengan tangannya sendiri jika benar gadis itu adalah putri bungsu kaisar, suaminya.


Setelah mendengarkan semua penjelasan dari ibundanya, pangeran Wei Jie yang hari ini kebetulan ada urusan didalam pengadilan sengaja pergi untuk menemui Fan Shaosheng.


Karana pangeran ke empat tidak terlalu akrab dengan ayah Fan Jianying, untuk memulai obrolan dia sengaja memilih topik keberhasilan Bai Cheung membasmi hewan mutasi diperbatasan bagian timur.


Dalam perbincangan tersebut dapat pangeran Wei Jie lihat jika Fan Shaosheng sangat kecewa dengan sikap yang dilakukan oleh Bai Cheung dan keluarga Bai karena yang telah memperlakukan putri keduanya dengan buruk.


Pangeran Wei Jie yang sudah mengetahui mengenai hal itupun memasang wajah prihatin dan ikut bersimpati atas nasib buruk yang menimpah nona kedua Fan itu.


Bahkan pangeran Wei Jie juga tak segan – segan mengomentari perlakuan buruk sahabatnya itu agar mendapat simpati dari Fan Shaosheng.


Melihat pangeran ke empat begitu perhatian, apalagi dia juga mendengar jika Fan Jianying diundang secara pribadi oleh permaisuri Wei kedalam istana membuat hati Fan Shaosheng sedikit tenang.


Setidaknya, putrinya itu memiliki orang kuat yang siap untuk membantunya seandainya keluarga Bai kembali mengingkari janji yang telah mereka ucapkan dan menyakiti hati Fan Jianying.


Setelah melihat kepercayaan dari Fan Shaosheng, pangeran Wei Jie pun mulai menggiring pembicaraan agar tujuannya tercapai.

__ADS_1


“ Ternyata benar dugaanku. Jika ayahanda menutupnya rapat – rapat, pasti tidak akan ada orang yang bisa membukanya. Bahkan Fan Shaosheng mendapatkan Fan Jianying dari tangan ayahanda, bukan dari bikuni yang membantu proses kelahirannya….”, batin pangeran Wei Jie bermonolog.


Selanjutnya, pangeran Wei Jie pun mencoba datang ke kuil Guandong. Dia berharap menemukan setitik informasi tentang kelahiran sang adik disana.


Seperti yang permaisuri Wei bilang, biksu dan bikuni yang ada disana adalah para junior dimana waktu kejadian berlangsung mereka masih belajar di bukit Wui.


Sedangkan untuk para senior mereka, terutama yang berkaitan dengan insiden tersebut menghilang secara misterius.


Pangeran Wei Jie sangat yakin jika ini adalah ulah dari ayahandanya. Hanya kaisar yang bisa menghilangkan beberapa orang yang masih hidup tanpa jejak seperti ini.


“ Ternyata masalah ini lebih rumit dari yang ku bayangkan…”, batin pangeran Wei Jie sambil mendesah pelan.


Baru saja pangeran Wei Jie naik keatas kuda tiba – tiba sudut matanya menatap sesosok biksu tua sedang memotong beberapa bamboo di hutan yang tak jauh dari tempatnya sekarang.


Entah kenapa hati kecilnya menyuruhnya untuk turun dan berbicara dengan biksu tua tersebut.


Pangeran Wei Jie pun kembali turun dari atas kudanya dan perlahan mulai berjalan mendekati biksu tua yang sibuk memotong bamboo yang ada dihadapannya.


Melihat pemuda tampan dan gagah yang ada dihadapannya bukanlah orang biasa jika dilihat dari pakaian yang dikenakan serta atribut yang dipakai membuatnya mengangguk hormat.


Setelah berbasa – basi sedikit tentang kuil dan kondisi kuil yang kebetulan ada bangunan sebelah barat yang terlihat hampir roboh, membuat pangeran Wei Jie mendapatkan bahan obrolan.


Melihat biksu tua tersebut terlihat mulai terbuka, pangeran Wei Jie pun mulai masuk kedalam inti pembicaraannya.


Pengeran Wei Jie semakin bersemangat waktu mengetahui jika biksu tua ini sudah berada di kuil Guandong selama dua puluh tahun.


Itu artinya, dia mungkin mengetahui peristiwa yang terjadi empat belas tahun yang lalu. Melihat peluang kecil tersebut, pangeran Wei Jie tak bisa lagi untuk menutupi kegembiraannya.


“ Peristiwa empat belas tahun yang lalu ?...”, ucap biksu tua tersebut dengan menatap keatas.


Diapun mulai menggali ingatannya tentang apa saja yang telah terjadi  empat belas tahun silam.

__ADS_1


Namun tak banyak yang bisa dia ceritakan pada pangeran Wei Jie karena pada tahun – tahun tersebut dia lebih banyak mendapatkan tugas diluar kuil.


Tapi ada satu hari yang masih dia ingat sampai sekarang yaitu kondisi bangunan kuil yang hancur berantakan dengan noda darah dimana – mana.


Seperti telah terjadi pertempuran sengit disana. Namun dia tidak mengetahui secara detail peristiwa apa yang sebenarnya terjadi karena semua orang tampak bungkam tentang kejadian tersebut.


“ Meski tidak tahu peristiwa secara detailnya, tapi saya rasa ada hal besar yang terjadi karena ada kaisar juga peramal Yan disana…”, ucap biksu tua tersebut mengingat kembali moment dimana dia melihat peramal Yan keluar dari dalam kuil bersama kaisar.


“ Peramal Yan ?...”, tanya pangeran Wei Jie penuh selidik.


“ Benar, peramal Yan. Saya pernah sekali bertemu dengan peramal tersebut, jadi waktu berpapasan dengannya di kuil saya mengenalnya. Dan hari itu sepertinya hari terakhir peramal Yan menunjukkan dirinya…”, ucap biksu tua tersebut menjelaskan.


Memang benar apa yang dikatakan biksu tua tersebut, semenjak muncul pada waktu kelahiran Fan Jianying, peramal misterius yang terkenal dengan mulut emasnya itu tidak pernah terlihat kembali.


Itu tandanya dia sudah empat belas tahun menghilang. Entah sekarang peramal Yan ini masih hidup atau sudah mati, tidak ada satupun orang yang mengetahuinya.


Bukan hanya kehadirannya yang sangat misterius, tapi juga keberadaannya dimana tidak ada seorangpun yang mengetahui tempat tinggal dan keluarganya.


Dia hanya dipercaya hadir diwaktu – waktu tertentu dimana setiap kata yang diucapkannya selalu menjadi kenyataan.


Hanya para pemimpin negeri dan orang – orang terpilih saja yang berhasil bertemu dan berbicara dengannya.


“ Sekarang, aku bertemu dengan Fan Jianying juga tak akan mendapatkan petunjuk apapun karena kuncinya ada di ayahanda kaisar…”, batin pangeran Wei Jie bermonolog.


Sementara itu di Chaotian Palace, putra mahkota Qin Shi Huang terlihat sedikit terkejut waktu mendengar laporan jika Fan Jianying kemungkinan besar adalah putri permaisuri Wei yang diketahui oleh semua orang telah meninggal dunia begitu dilahirkan.


Dan mengenai tanda kupu – kupu merah darah yang ada dipunggung gadis itu, hanya putra mahkota lah yang sudah melihatnya dengan jelas.


“ Apa hubungan tanda tersebut dengan tujuan ayahanda kaisar menyembunyikan identitas putri selama ini ?...”, putra mahkota terlihat mengetuk – ngetukkan jemarinya diatas meja sambil menerawang jauh kedepan.


Jika kaisar sampai menyembunyikan semua itu dengan baik, bahkan Fan Shaosheng yang merawatnyapun tak mencurigainya, berarti ada hal besar yang tersembunyi dibalik itu.

__ADS_1


“ Aku sangat penasaran, hal besar apa yang tersembunyi dari gadisku ini…”, batin putra mahkota bermonolog.


__ADS_2