
Pagi ini, Bai Cheung yang sudah menyiapkan hadiahnya dan ingin memberi kejutan kecil untuk sang istri dihari kelahirannya terpaksa harus mengurungkan niatnya waktu melihat Fan Jianying terbangun sambil memegangi perutnya dan mengerang kesakitan.
“ Istri kenapa ?...bagian mana yang sakit ?....”, tanya Bai Cheung sangat khawatir.
Fan Jianying tak bisa berkata hanya memegangi perutnya sambil menahan rasa sakit yang tiba – tiba datang menderanya.
Melihat istrinya hanya terdiam sambil menahan rasa sakit yang datang Bai Cheungpun terlihat bertambah panik dan langsung memanggil pelayan yang berjaga diluar kamar.
“ Pelayan !!!....”, teriak Bai Cheung lantang.
Pelayan senior Gaeng dan Dayu yang berada diluar segera masuk begitu tuan muda ketiga Bai tersebut berteriak sangat lantang dari dalam ruangan.
“ Cepat panggil tabib Shilin sekarang juga !!!....”, perintah Bai Cheung dengan wajah panik.
“ Ba…baik tuan muda….”, ucap Dayu sambil tergopoh – gopoh pergi untuk memanggil tabib Shilin.
Sementara pelayan senior Gaeng segera menyiapkan air hangat dan handuk kecil agar Bai Cheung bisa mengusap keringat yang mengucur deras ditubuh istrinya itu.
Tabib Shilin tampak berjalan tergesa – gesa karena Dayu terus menyuruhnya untuk berjalan cepat mengingat jika nyonya mudanya sedang kesakitan saat ini.
Begitu tiba didalam kamar, tabib Shilin segera memeriksa kondisi Fan Jianying yang terbaring lemas tak berdaya diatas ranjang.
Dia yang awalnya tampak cemas melihat madam muda ketiga Bai tersebut berwajah sangat pucat dengan keringat dingin yang terus mengucur deras dari tubuhnya mulai dapat bernafas dengan lega waktu mengetahui secara pasti jika ibu dan bayinya dalam kondisi baik – baik saja.
“ Madam muda ketiga hanya mengalami kejang perut ringan saja. Ini biasa terjadi pada kehamilan awal seperti ini. Setelah meminum obat yang saya berikan dan beristirahat cukup kondisi madam muda ketiga Bai akan pulih seperti sedia kala….”, ucap tabib Shilin menjelaskan.
Pelayan senior Gaeng segera merebus obat yang diberikan oleh tabib Shilin agar bisa segera diminum oleh Fan Jianying.
Setelah meminum obat tersebut, perlahan rasa sakit yang tadi dia rasakan sedikit berkurang. Hingga Fan Jianying mulai bisa memejamkan kedua matanya.
Bai Cheung yang melihat kondisi istrinya masih belum pulih total memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya dari rumah sambil menunggui sang istri yang terbaring lemah diatas ranjang.
Meski tabib Shilin mengatakan jika kram perut disaat hamil mudah itu tak terlalu beresiko asal tak sering terjadi.
Namun tetap saja hal tersebut membuat Bai Cheung cemas hingga dia sama sekali tak meninggalkan Fan Jianying barang sejenak.
__ADS_1
Semua hal yang berhubungan dengan pekerjaaannya, Liam lah yang harus bolak – balik untuk menyediakannya.
Meski begitu, pengawal pribadinya itu sama sekali tak mengeluh karena dia juga paham bagaimana cemasnya tuan mudanya itu dengan kondisi istrinya yang tengah hamil muda saat ini.
Bai Cheung langsung meletakkan berkas yang ada ditangannya begitu melihat istrinya sudah terbangun.
“ Bagaimana perutnya, apa masih sakit ?....”, tanya Bai Cheung penuh perhatian.
“ Sudah agak mendingan….”, ucap Fan Jianying lemah.
Bai Cheung segera membantu istrinya untuk bangun dan mengambilkan air minum yang berada diatas nakas karena Fan Jianying merasa jika tenggorokannya tiba - tiba terasa sangat kering.
Selanjutnya, Fan Jianying pun kembali rebahan diatas ranjang. Melihat sang istri masih memegangi perutnya, Bai Cheung dengan penuh perhatian mengelus perut istrinya dengan lembut hingga akhirnya Fan Jianying terlelap kembali karena efek obat yang tadi diminumnya.
Putri Wei Xieun yang tanpa sengaja berpapasan dengan tabib Shilin waktu hendak masuk kedalam kediaman Bai langsung menginterogasi pemuda yang disukainya itu.
Tabib Shilin yang sudah mengetahui identitas asli madam ketiga Bai pun tak lagi menyembunyikan apapun dari adik pangeran Wei Jie tersebut dan menceritakan kondisi kesehatan Fan Jianying yang sedikit memburuk hari ini.
" Lalu, apa itu tak terlalu berbahaya bagi janinnya ?....", tanya putri Wei Xieun cemas.
Setelah tabib Shilin undur diri, putri Wei Xieun pun bergegas menuju kediaman sang adik. Didepan kamar, Dayu mengatakan jika Fan Jianying saat ini sedang tertidur karena efek dari obat yang baru saja diminumnya.
Mendenagr hal itu, putri Wei Xieun pun mengurungkan diri untuk menjenguk sang adik dan mulai melangkah ke kediaman utama tempat makan malam nanti diadakan.
Beberapa kali putri Wei Xieun terlihat memanggil Dayu atau pelayan senior Gaeng untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi kesehatan sang adik sambil menyiapkan semua hal untuk acara nanti malam.
Dia sangat berharap kondisi adiknya tersebut bisa segera membaik waktu makan malam nanti. Kabar mengenai Fan Jianying yang sedang sakit tak diberitahukan kepada sang ibunda.
Putri Wei Xieun takut ibundanya akan cemas dan panik pada saat mendengar kabar jika adiknya sedang sakit.
Untuk itu dia menjaga agar rahasia tersebut tak bocor dan sampai ke telinga ibundanya. Dia berusaha untuk menghandle semua hal yang ada dikediaman Bai.
Sementara itu, Fan Shaosheng yang sudah mengetahui fakta jika Fan Jianying bukanlah darah dagingnya hanya bisa pasrah menerima.
Bagaimanapun bayi munggil itu sangat dilindungi sang istri sampai rela mengorbankan nyawanya.
__ADS_1
Maka dari itu, Fan Shaosheng pun akan melakukan hal yang sama. Dia akan melindungi Fan Jianying dari segala marabahaya yang mengancamnya, meski harus mengorbankan nyawanya sekalipun.
Untuk itu, waktu Fan Shaosheng mendengar jika Ming Chou dan Ming Huan berencana untuk membunuh Fan Jianying.
Darah dalam tubuhnya seketika mendidih. Meski bukan ayah kandung, namun Fan Shaosheng yang sudah membesarkan Fan Jianying seorang diri tanpa ibu sangat menyayangi putri keduanya itu.
Diapun segera menemui Bai Cheung dan membongkar semua kebusukan kepala keluarga Ming yang berhasil dia dapatkan setelah kasus penggelapan dana Bai Wang mencuat.
Pada awalnya Fan Shaosheng hendak memberikan bukti – bukti tersebut kepada kaisar Huang pada saat sudah lengkap hingga Ming Huan tak akan berani lagi untuk menggelak.
Namun setelah mendengar jika Ming Huan mengincar nyawa putrinya, maka diapun tak akan segan lagi untuk segera menyeret lelaki tua tersebut agar segera mendekam dibalik jeruji penjara meski taruhannya dia akan berhadapan langsung dengan Ratu Qinly.
Sementara itu, Jian yang berada di negara Banjiwen yang mendapatkan informasi jika pasukan Yunyi milik Ratu Qinly mulai bergerak menuju ibukota segera memberi kabar besar tersebut kepada putra mahkota Qin Shi Huang agar segera bersiap.
Sementara dirinya bersama Guang juga sudah mempersiapkan pasukan yang mereka latih secara rahasia dikota Banjiwen waktu kabar mengenai pergerakan pasukan rahasia milik Ratu Qinly tersebut mulai terdengar.
“ Tampaknya ibunda Ratu sudah tak sabar lagi ingin segera membuat adik secepatnya naik tahta….”, guman putra mahkota Qin Shi Huang sinis.
“ Kurasa, kita harus mendiskusikan semuanya dengan Fan’er nanti malam. Jika Fan’er yang berbicara, ayahanda kaisar tentunya akan lebih percaya daripada kita yang menghadap….”, pangeran Wei Jie terlihat memberikan jalan atas permasalahan yang ada.
“ Benar apa katamu…malam ini kita harus membicarakan semuanya dengan Fan’er dan Cheung…”, guman putra mahkota Qin Shi Huang sambil menatap luar jendela dengan tatapan penuh makna.
Malam ini juga putra mahkota Qin Shi Huang akan berusaha membujuk Fan Jianying untuk segera masuk kedalam istana. Kehadiran gadis itu sangat diperlukan dalam situasi seperti ini.
Putra mahkota Qin Shi Huang merasa jika Fan Jianying berada disampingnya, dia bisa datang berkonsultasi dengannya kapan saja.
Tanpa perlu mengendap – endap seperti pencuri hanya untuk sekedar bertemu dan mengobrol dengannya.
“ Sebaiknya kita tidak pergi bersama ke kediaman Bai agar tidak menimbulkan kecurigaan….”, putra mahkota Qin Shi Huang memberikan saran.
Pangeran Wei Jie merasa jika ucapan sang kakak ada benarnya. Apalagi saat ini Ratu Qinly semakin awas menatap semua pergerakan yang mereka lakukan.
Untuk itu, dia akan menyuruh sang adik mengajak ibunda permaisuri pergi pada sore hari sedangkan dirinya akan menyusul pada malam harinya.
Selain ibundanya bisa lebih lama bertemu dengan adiknya, kepergiannya bersama dengan putri Wei Xieun tentunya tak akan menimbulkan kecurigaan yang berarti.
__ADS_1