
Pagi harinya kamp militer wilayah perbatasan timur dibuat gempar oleh teriakan sang koki waktu membuka pintu gudang persediaan bahan pangan.
Lizeng masih dengan mata melotot masuk kedalam gudang penyimpanan bahan makanan dan mendapati semua bahan makanan sudah rusak dan membusuk diselimuti jaring laba - laba.
saat ini kondisi gudang seperti banggunan terbengkalai yang sudah tidak dihuni puluhan tahun melihat banyaknya jaring laba - laba hampir bertebaran disepanjang sudut ruangan.
“ Ya Tuhan…”
“ Bagaimana ini….”
“ Semua bahan makanan rusak dan busuk dalam satu malam….”
“ Sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup dipadang gersang ini……”
Lizeng kembali berteriak histeris di dalam gudang penyimpanan membuat para prajurit yang baru saja bangun langsung berlari menuju dimana gudang penyimpanan bahan makanan berada.
Jenderal besar Tian terlihat sangat murka waktu mengetahui jika seluruh bahan makanan untuk beberapa bulan kedepan sudah rusak dan membusuk.
Rahang jenderal besar Tian sudah mengeras dengan tatapan tajam menghunus, melihat banyaknya jaring laba – laba yang menyelimuti bahan makanan yang rusak dan membusuk tersebut.
Semua prajurit yang berjaga malam terlihat gemetaran waktu mengetahui jika mereka telah kecolongan karena tak menyadari musuh yang menerobos masuk kedalam wilayah mereka.
Beberapa orang yang awalnya terlihat mengantuk dan ingin segera beristirahat waktu pergantian shift seketika melotot tajam waktu mendengar suara teriakan jenderal besar Tian.
Rasa kantuk yang sedari tadi menyerang langsung hilang begitu jenderal besar Tian menyuruh semua pasukan jaga malam untuk berkumpul.
Bai Cheung segera memerintahkan Liam untuk menenangkan sang koki yang tampak lemas karena tak tahu harus memasak apa untuk sarapan para prajurit hari ini.
Untung saja stock makanan yang dikirim dari kediaman Bai tidak sepenuhnya diberikan oleh Bai Cheung kepada sang koki.
Dia menyimpan sebagian besar makanan tersebut didalam tendanya untuk menghadapi musim dingin yang sebentar lagi akan datang.
“ Tenanglah, mari ikut saya untuk mengambil bahan makanan yang masih ada ditenda saya…”, ajak Bai Cheung ramah.
Koki Lizeng segera mengikuti langkah Bai Cheung menuju tendanya dan mengambil beberapa bahan makanan untuk dibuat sarapan pagi ini.
“ Jenderal, sebaiknya bahan makanan ini tetap disini agar aman…”, ucap sang koki waktu Bai Cheung ingin mengangkut setoples besar kimci dan acar segar.
Setelah Lizeng mengambil sevukupnya bahan makanan untuk sarapan pagi ini, diapun segera berpamitan kepada Bai Cheung.
Sementara itu jenderal besar Tian terlihat sedang menyelidiki sekitar kamp militer namun sama sekali tak menemukan petunjuk.
“ Dari mana laba – laba mutasi ini muncul ?...”, batin jenderal besar Tian penasaran.
Setelah memasak bubur gandum yang jumlahnya tidak terlalu banyak tersebut, sang koki segera menyajikannya diatas mangkuk.
Bubur gandum encer yang ditambahi acar dan kimci membuat para prajurit melupakan kesedihan mereka karena bahan panggan untuk beberapa bulan kedepan musnah begitu saja dan mulai menyantap makanan yang ada dihadapan mereka saat ini.
Bai Cheung bersama dengan Liam dan dua orang prajurit terlihat menyisir pagar pembatas wilayah setelah makan pagi usai.
“ Tuan muda, ini…..”, ucap Liam sambil mengambil menunjuk jarring laba- laba yang tersangkut dipagar kawat perbatasan.
“ Jangan dipegang ?...”, teriak Bai Cheung lantang waktu tangan Liam sudah hampir menyentuh benang putih dan lentur itu.
Bai Cheung segera menginstruksikan agar menutup sela – sela lubang yang ada dipagar kawat dengan daun – daun kering agar laba – laba mutasi tidak bisa masuk kedala wilayah mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Fan Jianying yang semalam menemukan gua kecil disamping bukit wushu dan memutuskan bermalam disana, pagi ini mulai meneruskan perjalanan dengan formasi yang sudah direncanakan semalam.
Heyna bersama dua orang prajurit berjalan terlebih dahulu untuk memastikan medan yang mereka lewati aman.
Sementara Hira dan beberapa orang prajurit berjaga lima puluh meter dibelakang kereta.
Sedangkan dirinya berusaha untuk bermeditasi guna meningkatkan kekuatannya selama dalam perjalanan dan juga untuk mengetahui jika musuh mulai bergerak.
Fan Jianying sangat yakin jika Black Tiger tidak akan melepaskannya begitu saja. Apalagi dua strategi mereka diawal telah gagal.
Tentunya untuk penyerangan kali ini mereka benar – benar merencanakannya semuanya dengan sangat matang agar tidak kembali menuai kegagalan.
Fan Jianying segera membuka matanya begitu merasa ada pergerakan asing diluar. Tabib Shilin yang paham akan isyarat yang diberikan oleh Fan Jianying terlihat mulai waspada.
Srekkkk….
Ada pedang panjang menembus dari kanopi yang ada diatas kereta. Untung saja Fan Jianying dan tabib Shilin sudah lebih dulu menghindar.
Tak lama kemudian bunyi pedang saling bertabrakan mulai terdengar di luar dan orang yang ada diatas kanpi kuda juga mulai menghunuskan pedangnya beberapa kali dari atas membuat Fan Jianying dan tabib Shilin seketika melesat keluar.
Melihat semakin banyaknya pasukan musuh yang menyerang, Fan Jianying dan tabib Shilinpun segera bergabung dengan para pengawal melawan para musuh yang terus saja menyerang secara membabi buta.
Dapat Fan Jianying rasakan bahwa pasukan yang menyerang mereka hanyalah umpan agar konsentrasi mereka teralihkan.
Hira yang datang dari arah belakang segera pergi keatas bukit bersama Fan Jianying untuk menyerang musuh yang sebenarnya.
Nomura sedikit terkejut waktu posisinya diketahui oleh dua wanita mudah yang sudah langsung menyerangnya.
Pasukan yang diam – diam disuruh kaisar Huang untuk mengawal perjalanan Fan Jianying akhirnya menampakkan batang hidunganya dan membantunya melawan para pembunuh bayaran.
“ Dimana madam ketiga ?...”, tanya Heyna kepada tabib Shilin sambil terus meladeni musuh yang terus menyerangnya dengan pedang mereka.
“ Diatas bukit…”, jawab tabib Shilin singkat.
Begitu dirasa tabib Shilin dan para pengawal mampu menyelesaikan sisa musuh yang ada, Heynapun bergegas menyusul adik kembarnya dan madam ketiga Bai diatas bukit.
Pertempuran diatas bukit berjalan dengan seimbang. Fan Jianying yang merasa jika lelaki bertopeng perak adalah pemimpinnya segera menyerangnya secara bertubi – tubi.
Namun sayangnya, serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Fan Jainying berhasil ditangkis dan dibalikkan oleh Nomura dengan mudah.
“ Pantas saja Ratu Qilin membayarku mahal. Ternyata target tidak semudah yang kubayangkan…”, batin Nomura bermonolog.
Heyna yang melihat madam ketiga Bai sedikit kesulitan segera membantunya menyerang lelaki bertopeng silver tersebut.
Beberapa kali Heyna terpental setelah mendapatkan pukulan yang kuat dari Nomura, namun dia berhasil bangkit dan kembali menyerang.
Begitu juga dengan Fan Jianying, dia berusaha keras untuk mengenai tubuh Nomura dengan senyata beracun miliknya.
Sretttt….sretttt….
Akhiranya sabetan pedang birunya mampu merobek baju dan melukai punggung dan lengan Nomura.
“ Sial !!!...ini racun !!!...”, ucap Nomura sambil merasakan ada jarum menancap tepat di dadanya.
Nomura langsung melarikan diri dari pertempuran waktu mengetahui tubuhnya terkena racun mematikan.
__ADS_1
Beberapa anggota yang masih hidup meski terkena racun, namun mereka masih bisa melarikan diri dan menyusul pimpinan mereka yang mundur dengan kesakitan.
“ Sudah…tidak usah dikejar…”, cegah Fan Jianying begitu melihat Hira ingin mengejar para penjahat tersebut.
Setelah turun ke bawah, semua pengawal yang terluka segera diobati oleh tabib Shilin, begitu juga dengan Heyna yang mendapat luka dalam cukup parah waktu mendapatkan serangan dari Nomura.
Tabib Shilin segera duduk bersila dibelakang Heyna untuk mengeluarkan racun dalam tubuhnya waktu mengetahui jika gadis tersebut mendapatkan luka dari serangan tapak naga.
Heyna terlihat memuntahkan darah hitam dari mulutnya beberapa kali hingga akhirnya dia jatuh pingsan.
Hirapun segera membawa kakak kembarnya tersebut naik keatas kereta untuk beristirahat.
“ Racun ditubuhnya masih belum sepenuhnya keluar. Jika tidak cepat ditangani akan berakibat fatal….”, ucap tabib Shilin tersenggal – senggal.
Fan Jianying yang melihat jika tabib Shilin sudah kepayahan segera menggunakan jarum untuk mengeluarkan sisa racun dari tubuh Heyna.
Dia juga menotok beberapa bagian tubuh gadis itu agar racunnya tidak cepat menyebar. Tabib Shilin hanya bisa terdiam menyaksikan Fan Jianying menggunakan keahliannya.
Tabib Shilin yang juga terkena racun berusaha untuk menggunakan sisa - sisa tenangnya, mengeluarkan racun tersebut dari dalam tubuhnya.
Hira segera menampung darah pekat yang keluar dari pergelangan tangan kakak kembarnya itu hingga darah tersebut berubah warna menjadi merah cerah.
“ Racunnya sudah hilang. Kita tinggal menunggu kondisi tubuhnya pulih kembali…”, ucap Fan Jianying sambil menyeka peluh yang ada didahinya.
Melihat seluruh pengawalnya kepayahan bahkan banyak diantara mereka yang terluka, Fan Jianyingpun memutuskan untuk beristirahat dipadang rumput yang ada dihadapan mereka.
“ Hira, jaga mereka. Aku akan melihat situasi diluar…”, bisik Fan Jianying pelan.
Fan Jianying berjalan memutari area sambil membentangkan dinding pelindung sehingga tak akan ada orang luar yang bisa melihat keberadaan mereka sekarang.
“ Jangan pergi keluar dari batas yang aku buat. Istirahatlah sebentar…”, ucap Fan Jianying sambil menunjukkan batas yang telah dibuatnya.
Para prajurit hanya bisa mengangguk patuh dan mengistirahatkan badan mereka setelah pertempuran tadi.
Melihat semua prajurit sedang beristirahat dengan tenang, diam – diam Fan Jainying berjalan sedikit kebelakang.
Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya, Fan Jianyingpun mulai masuk kedalam cincin ruang untuk membuat pil pemulih tubuh untuk semua orang dan memasak makanan untuk persiapan tiga hari kedepan.
Agar tidak memakan banyak tempat dan tidak ribet, Fan Jianying akan membuat Roti isi dan biscuit yang kaya nutrisi dan tentunya sangat mengenyangkan.
Selain roti dan biscuit, dia juga membuat minuman berenergi agar stamina semua orang dapat terus terjaga.
“ Tampaknya perjalananku tak kan mudah, untuk itu aku harus membuat persiapan yang benar – benar banyak…”, ucap Fan Jianying yang sudah mulai berkutat dengan tepung didapur pribadinya.
Sementara itu di markas Black Tiger, Nomura terlihat kesakitan waktu racun yang ada dalam tubuhnya berusaha untuk dikeluarkan.
“ Maaf tuan, racun bunga es sudah menyebar diseluruh tubuh. Hanya bunga es yang tumbuh di hutan kematian yang bisa menyembuhkannya.…”, ucap tabib yang mengobati Nomura pasrah.
Nomura meringis kesakitan waktu merasakan jika jantungnya seperti diremas – remas dan tubuhnya menggigil kedinginan.
Ini adalah gejala awal sebagai tanda jika racun bunga es sudah mulai bekerja. Selanjutnya racun tersebut akan menyiksa tubuh si penderita secara perlahan hingga akhirnya ajal menjemput.
Saat udara menjadi dingin, racun tersebut akan bereaksi dengan cepat, membakar tubuh dan perlahan – lahan mengerogoti fungsi tubuh dan melemahkan kekuatan yang ada dalam diri si penderita.
Nomura sama sekali tak menyangka jika selain menghunuskan pedang beracun, Fan Jianying juga menancapkan jarum beracun kedadanya tanpa dia sadari.
__ADS_1
“ Bunuh gadis itu, bagaimanapun caranya !!!....”, ucap Nomura sambil mengeram kesakitan.