
Fan Jianying terlihat sedikit bosan hanya berdiam diri didalam ruangannya karena matriark Bai dan mertuanya melarangnya untuk melakukan kegiatan apapaun yang bisa membuatnya capek.
“ Huahhhh…bosannya….”, guman Fan Jianying sambil menguap.
Dayu yang ada disampingnya berusaha untuk membesarkan hati nona mudanya itu. Diapun segera membawakan beberapa camilan buatannya dan berdiskusi tentang kreasi terbarunya itu agar Fan Jianying tidak merasa bosan.
Usaha Dayu berhasil, Fan Jianying terlihat bersemangat lagi dan mulai mengamati serta mencicipi hasil kue buatan pelayannya itu.
Dayu segera mengeluarkan buku kecil dan mulai mencatat apa saja saran yang diberikan oleh Fan Jianying terhadap hasil kreasinya itu.
Hingga tak terasa waktu makan siang telah tiba. Dari kejauhan dapat Fan Jianying lihat pelayan senior Yu bersama rombongan pelayan dari dapur utama berjalan menuju kediamanannya.
Semua orang segera meletakkan semua makanan yang mereka bawa diatas meja dan menatanya dengan apik.
“ Ini ada sup burung wallet dan sup ikan khusus dibuat oleh koki dapur utama untuk membantu meningkatkan stamina anda, nyonya…. ”, ucap pelayan senior Yu sopan.
Fan Jianying terlihat mengernyitkan dahinya waktu mencium aroma yang sedikit aneh. Diapun mulai menghirup satu persatu aroma makanan yang ada diatas meja.
“ Apa ada yang salah nyonya ?....”, tanya pelayan senior Yu cemas.
“ Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja….”, ucap Fan Jainying yang sudah menyisihkan empat piring makanan yang dianggap memiliki aroma yang sedikit aneh.
Dari balik lengannya dia mulai mengambil jarum perak dan menusukkannya ke empat piring yang dicurigainya tadi.
Ternyata benar dugaannya, satu piring berisi daging bumbu merah membuat jarum perak tersebut berubah warna menjadi hitam yang artinya ada racun dalam daging tersebut.
“ Bagaimana bisa ? !!!...”, teriak pelayan Yu spontan.
Fan Jianying hanya tersenyum melihat raut keterkejutan dalam diri pelayan senior Yu yang sama sekali tak menyangka jika makanan yang dibawanya mengandung racun.
Meski ketiga hidangan yang ada dipiring dan mangkuk kecil tak menunjukkan reaksi pada jarum perak, tapi Fan Jianying masih belum terlalu yakin.
Diapun segera mengeluarkan botol kecil dan mulai menetesi ketiga makanan tersebut dengan cairan yang ada didalamnya.
Dua makanan masih memiliki warna yang sama, sedangkan sup ikan sudah berubah warna menjadi hijau dan ikannya langsung membusuk, mengeluarkan aroma tak sedap.
Lagi – lagi pelayan senior Yu sangat terkejut dengan fakta yang ada dihadapannya. Diapun segera berlutut dan memohon ampunan dari Fan Jianying.
“ Bawa koki yang memasak makanan ini kemari. Dan jangan lupa, suruh dia membawa masing – masing makanan yang aku curigai beracun tadi kesini…..”, perintah Fan Jianying tegas.
Pelayan senior Yu pun segera bangun dan bergegas untuk kembali kedapur, menjalankan perintah Fan Jianying.
Pada saat pelayan senior Yu dan pelayan dapur utama hendak melangkah, Fan Jianying kembali berteriak dengan lantang hingga membuat semua orang menghentikan langkahnya.
“ Hanya pelayan Yu yang boleh meninggalkan ruangan ini. Heyna….Hira…awasi !!!...jangan biarkan siapapun meninggalkan ruangan ini hingga pelaku sebenarnya tertangkap !!!....”, perintah Fan Jianying tegas.
Heyna dan Hira dengan sigap langsung menjalankan perintah Fan Jianying. Sementara itu, pelayan dapur utama yang berada dalam ruangan tersebut tubunnya bergetar hebat karena ketakutan.
Meski beberapa diantara mereka tak merasa bersalah, tapi melihat adanya racun dalam makanan yang mereka bawa, bukan tidak mungkin mereka akan mendapatkan hukuman berat karena permasalahan ini.
Matriark Bai yang mendengar kekacauan didapur utama setelah pelayan senior Yu menginterogasi sang koki dan menyuruhnya menghadap madam ketiga Bai segera bergegas menuju kediaman cucunya tersebut.
Dia sangat murka waktu mengetahui jika dua makanan yang dibawa dari dapur utama untuk cucu menantu perempuan ketiganya itu mengandung racun.
__ADS_1
Begitu koki datang, Fan Jianying langsung menyuruh koki tersebut untuk meletakkan makanan yang tadi dimasaknya diatas meja.
Semua orang terlihat sangat cemas dan takut tentang hasil yang akan didapatkan. Kepala koki dapur utama, Luo Nan terlihat menautkan kedua jemari tangannya dengan keringat dingin mengucur deras ditubuhnya.
Satu persatu makanan di coba menggunakan dapur perak dan hasilnya aman. Fan Jinying kemudian memberikan makanan tersebut tetesan obat dari dalam botol miliknya juga aman tak berubah warna.
“ Seperti dugaanku….”, batin Fan Jainying tersenyum lebar.
Hal tersebut membuat kepala koki kediaman utama, Luo Nan bisa bernafas dengan lega. Namun tidak dengan matriark Bai yang terlihat mengkerutkan alisnya cukup dalam.
“ Apa maksudnya ini Fan’er ?....”, matriark Bai terlihat menuntut penjelasan.
“ Ini artinya, racun bukan diberikan pada saat makanan di masak oleh koki. Melainkan, dimasukkan pada waktu akan dihidangkan….”, ucap Fan Jianying menjelaskan.
“ Tapi, saya sendiri yang menyajikan makanan tersebut dinampan. Jadi tidak mungkin ada yang bisa memberikan racun tanpa sepengetahuan saya….”, ucap Luo Nan menjelaskan.
“ Saya tadi bilang, jika racun ini tidak berasal dari dapur anda melainkan dimasukkan dalam perjalanan kemari….”, ucap Fan Jianying penuh penekanan.
“ Maksudmu, pelayan yang membawa makanan ini yang memasukkan racun tersebut kedalam makananmu… ”, ucap matriark Bai menebak.
“ Tepat sekali nenek….”, ucap Fan Jainying bersorak girang.
“ Heyna…Hira…geledah semua pelayan dapur utama yang ada disini. Aku yakin, racun tersebut masih ada dibadan mereka…”, perintah Fan Jiannying lantang.
Semua orang terlihat pucat dan ketakutan wkatu Heyna dan Hira mulai menggeledah tubuh mereka.
“ Ini dia orangnya nyonya….”, ucap Heyna dan Hira berbarengan.
“ Ampun nyonya…saya tidak bersalah….”, ucap kedua pelayan tersebut bersujud dihadapan Fan Jianying.
Fan Jianying segera mengambil botol kaca kecil dari tangan Heyna dan Hira untuk meneliti kandungan racun didalamnya.
“ Racun bunga es. Tampaknya kakak ipar masih belum juga instropeksi diri….”, ucap Fan Jianying sinis.
Melihat kedok majikannya sudah terbongkar, salah satu pelayan yang bersujud tersebut diam – diam mengambil pisau dari balik kaos kakinya.
Belum juga dia berhasil menyerang Fan Jianying dengan pisau yang ada ditangannya, kepala pelayan tersebut sudah terlebih dahulu terlepas dari tubuhnya.
Crashhhh.....
Gludukkk....gluduk.....
Klontang....
Kepala penuh darah tersebut segera mengelinding diatas lantai dan pisau yang hendak digunakan untuk menikam Fan Jianying otomatis langsung jatuh ketanah.
Untung Hira sigap dan langsung melemparkan pedang yang tergantung disamping tubuhnya kepada Fan Jianying hingga gadis tersebut langsung bisa menebas kepala pelayan tersebut begitu dia berdiri sambil mengangkat pisau yang ada ditangannya.
Fan Jianying segera mengembalikan pedang penuh darah yang dilemparkan Hira tadi kepadanya waktu melihat gerak - gerik pelayan tersebut mencurigakan.
Melihat temannya meninggal, pelayan yang ada disebelahnya berteriak histeris. Begitu juga matriark Bai yang langsung terduduk lemas diatas kursinya.
Semua pelayan yang ada disana langsung terduduk dilantai karena tubuh mereka sangat lemas ketakutan melihat Fan Jianying dengan dingin menebas kepala pelayan yang ingin menyerangnya tersebut hanya dengan satu gerakan.
__ADS_1
Semua orang menatap ngeri kepada madam ketiga yang terlihat lemah lembut diluaran namun memiliki sisi keji didalamnya.
Bahkan ada beberapa yang langsung ingin muntah melihat darah segar tercecer dimana - mana.
Diapun segera mengambil kepala tersebut dan diletakkannya diatas nampan sebelum memberikannya kepada Heyna agar disimpan.
“ Sebaiknya kalian ingat hari ini. Aku akan baik pada orang yang menghormati dan menghargaiku. Tapi, aku tak segan – segan membunuh pengkhianat dengan keji seperti ini…”, ucap Fan Jianying dengan tatapan tajam.
Matriark Bai hanya bisa melirik cucu perempuan menantu ketiganya itu dengan tatapan campur aduk.
Pada awalnya dia masih sangsi dengan perkataan putri Wei Xieun yang menyebutkan jika Fan Jianying adalah adiknya.
Matriak Bai menganggap mungkin karena putri Wei Xieun sangat menginginkan saudara perempuan sejak dulu.
Dia akhirnya mengangkat Fan Jianying sebagai adiknya. Apalagi ibunda putri Wei Xieun, permaisuri Wei juga sangat menyukai istri Bai Cheung tersebut.
Tapi sekarang, dengan kedua matanya sendiri dia melihat betapa dingin dan kejinya Fan Jianying kepada orang – orang yang mengkhianatinya.
Sifat yang sama dengan yang dimiliki oleh Kaisar Huang Lo yang sama sekali tak akan memberi toleransi apapun kepada pengkhianat.
“ Nenek, permasalahan ini bisakah aku yang menggurusnya sendiri….”, tanya Fan Jianying dengan lembut.
Setelah melihat semuanya, matriark Bai pun memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada rumah ketiga karena kejadian tersebut ada dikediaman tersebut.
“ Baiklah…aku serahkan semuanya kepada Fan’er….”, ucap matriark Bai pasrah.
“ Hira, kurung pelayan tersebut hingga suamiku kembali… Dan, Heyna simpan kepala pelayan ini karena akan ku kirimkan kepada orang yang memerintahkan mereka….”, ucap Fan Jianying dingin.
Heyna dan Hira segera bergerak mendengar perintah nyonya mudanya itu, sementara pelayan yang lainnya terlihat masih terduduk dilantai karena syok.
“ Nenek, cucu sudah tidak lapar lagi dan ingin beristirahat didalam kamar sekarang….”, ucap Fan Jianying berniat pamit undur diri.
“ Untuk peristiwa hari ini, nenek minta maaf. Lain kali, nenek akan lebih hati – hati lagi dalam penyajian makanan untukmu….”, ucap matriark Bai merasa bersalah.
“ Ini semua bukan salah nenek. Agar suami tak khawatir, untuk kedepannya biarkan dapur kediaman ketiga sendiri yang memasak makanan untuk Fan’er….”, ucap Fan Jianying sambil mengenggam kedua tangan matriak Bai dengan hangat.
Semua orang kembali terperajat melihat tingkah Fan Jianying yang seperti anak kecil jika merajuk seperti itu. Jika tak melihat dengan mata kepala sendiri, mereka pastinya tak akan percaya gadis muda tersebut mampu membunuh seseorang dengan keji.
Tak ingin mengambil resiko lebih dalam, matriark Bai pun menganggukkan kepala tanda setuju dengan permintaan cucunya itu.
Setelah membungkuk hormat, Fan Jianying pun masuk kedalam kamarnya. Semua pelayan terlihat menunduk takut waktu madam ketiga Bai tersebut menatap mereka tajam.
“ Kenapa tubuhmu gemetaran seperti itu ?….”, tanya Fan Jianying kepada Dayu begitu mereka berada didalam kamar.
“ Kalian harus mulai membiasakan melihat hal seperti ini, karena peristiwa seperti ini tidak mungkin bisa kita hindari lagi kedepannya. Jadi, jangan takut….”, ucap Fan Jianying sambil menatap Dayu dan pelayan senior Gaeng secara bergantian.
Setelah kepergian Fan Jianying, matriark Bai segera berlalu dan menyuruh para pelayan untuk membersihkan darah yang tercecer dilantai.
Dia akan menghukum seluruh pelayan yang ada didapur utama karena dianggap telah lalai hingga dua anggota mereka berkhianat.
Pelayan senior Yu hanya bisa pasrah menerima hukuman tersebut. Bagaimanapun juga dia adalah penanggung jawab seluruh pelayan yang ada dikediaman utama.
Meski hukuman yang akan diterimanya tak seberat hukuman kepala pelayan dapur utama, semua orang hanya bisa pasrah dan menanti hukuman yang sedang menunggu mereka.
__ADS_1