CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Fan Jainying segera menghilangkan pelindungnya saat mendengar sang suami berjalan mendekat kearahnya agar tak menimbulkan kecurigaan.


Bai Cheung kembali dipenuhi rasa cemburu waktu melihat istrinya dengan lembut mengusap peluh pangeran Xioran dengan saputangan milik gadis itu.


Menyadari tatapan mata suaminya gelap dan tak bersahabat, Fan Jianying yang tidak ingin melibatkan pangeran Xioran dalam hubungan buruk antara dirinya dan suami memilih untuk keluar dari dalam tenda.


" Masih ada urusan yang harus aku kerjakan. Jika tubuhmu merasa sakit, kamu bisa memberitahu Hira atau Liam yang nantinya akan bergiliran untuk menjagamu...", ucap Fan Jianying tersenyum lembut.


Meski pangeran Xioran masih ingin gadis cantik itu menemaninya, namun dirinya juga tak bisa egois melihat gadis cantik itu sudah di jemput oleh seorang lelaki yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.


Setelah Fan Jianying berada di luar tenda, sambil menekan api cemburu yang mulai menyala dalam dirinya Bia Cheung pun bersuara.


“ Bagaimana, apa kamu menemukan sesuatu ?...”, tanya Bai Cheung penuh selidik.


“ Kamu pergi ketempat jenderal besar Tian dulu…sebentar lagi aku akan menyusul…”, ucap Fan Jianying datar.


Kedua tangan Bai Cheung terkepal melihat Fan Jianying berbicara tanpa menatapnya dan malah hendak pergi meninggalkannya..


Dengan kasar, dia menarik tangan istrinya dan menghempaskan saputangan yang tadi digunakan untuk menyeka peluh pangeran Xioran ke tanah begitu saja.


“ Apa yang kau lakukan ?...”, tanya Fan Jianying dengan mata melotot.


“ Kamu masih istriku !!!...dan tak pantas bagimu menyimpan saputangan bekas keringat lelaki lain !!!...”, Bai Cheung mengeram dengan nada rendah dan datar.


Diapun segera menarik tangan sang istri dan membawanya menjauh  dari dalam tenda tempat pangeran Xioran dirawat.


Hira yang baru saja datang dari arah dapur hanya bisa  melotot waktu melihat tuan mudanya itu menarik  tangan nyonya mudanya dengan kasar.


“ Lepaskan  aku !!!...Bai Cheung…lepas !!!...”, ucap Fan Jianying marah.


Bukannya melepaskan, Bai Cheung langsung mengangkat tubuh munggil Fan Jianying dan menyampirkannya keatas pundaknya, seperti sedang mengangkat sekarung beras.


Fan Jianyingpun berusaha untuk turun dan meronta – ronta. Amarahnya semakin memuncak saat Bai Cheung dengan lancangnya meremas p*******a.


“ Dasar mesum !!!...”, teriak Fan Jianying penuh amarah.


Dan kembali memukul - mukul punggung suaminya dengan kedua tangannya. Sedangkan kakinya juga terus bergerak agar segera diturunkan.


“ Jika kamu tak bisa diam, aku bisa melakukan lebih dari ini…”, ucap Bai Cheung dengan nada menggoda.


Fan Jianying seketika terdiam ketika tangan kekar suaminya kembali meremas p*******a dengan kasar berkali - kali.


Sesampainya di tenda, Bai Cheung segera melemparkan tubuh istrinya keatas ranjang dan mengukungnya.


“ Ap…apa yang ingin kau lakukan ?...”, tanya Fan Jianying dengan kedua bola mata bergerak kesana – kemari dengan gelisah.


“ Menurutmu, apa yang ingin aku lakukan ?...”, Bai Cheung berkata sambil menatap bibir munggil istrinya yang menggoda.

__ADS_1


Fan Jianying berusaha untuk melepaskan diri dari kukungan tubuh sang suami, namun sayangnya kekuatan Bai Cheung lebih kuat darinya.


Bahkan suaminya itu sudah mengunci kedua tangannya keatas dan mulai membelai lembut wajahnya dengan satu tangannya yang bebas.


Bagaimanapun Fan Jianying adalah jiwa wanita dewasa. Mendapat sentuhan lembut seperti itu, membuat wajahnya merona seketika.


Dalam hati Bai Cheung tersenyum penuh kemenangan. Ingin rasanya saat ini juga dia menerkam istrinya dan meminta haknya yang selama ini belum dia dapatkan.


Namun saat menyadari jika dia lakukan hal itu sekarang, maka Fan Jianying akan semakin membencinya, dan akhirnya niat tersebut dia urungkan sejenak.


Saat ini dia masih ingin melihat wajah mengemaskan sang istri saat merah merona seperti ini. Perlahan, Bai Cheung semakin memajukan wajahnya hingga nafas hangatnya menyentuh wajah Fan Jianying.


“ Dasar Gila !!!...apa yang ingin laki – laki ini lakukan ? !!!...”, batin Fan Jianying geram.


Berulang kali Fan Jianying berusaha untuk menelan ludahnya waktu melihat wajah sang suami semakin dekat dengan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan.


Namun, entah kenapa Fan Jianying merasa sangat kehilangan waktu tiba – tiba suaminya itu menjauhkan wajahnya.


“ Kenapa istriku ini terlihat kecewa ?...apa kamu ingin sekali aku menciummu ?...”, tanya Bai Cheung terkekeh.


Fan Jianying yang merasa malu langsung membuang muka kesamping sambil meredakan detak jantungnya yang entah sejak kapan mulai tak beraturan.


“ Sial !!!...laki – laki b******k ini berani mempermainkanku !!!...”, batin Fan Jianying marah.


Melihat istrinya menatapnya tajam dengan penuh amarah, Bai Cheung akhirnya terkekeh karena menganggap wajah istrinya jika marah semakin menggemaskan, satu hal yang selama ini tidak pernah disadarinya.


Belum juga dia melaksanakan aksinya, Bai Cheung langsung mendekapnya dengan erat dan menyusupkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


“ Diamlah dulu…biarkan aku begini sebentar….”, ucap Bai Cheung dengan suara serak dan rendah.


Tubuh Fan Jianying seketika membeku waktu mendengar suara serak sang suami yang seperti sedang menahan gairahnya.


Apa yang Fan Jianying pikirkan memang benar adanya. Saat ini Bai Cheung berusaha untuk menahan gairah nafsunya yang timbul akibat keisengannya mengerjai sang istri.


Untuk itu dia berusaha menenangkan diri agar gadis itu tidak takut dan berakhir dengan semakin membenci dirinya.


Bai Cheung yang sejak sadar setelah ditolong oleh sang istri dari kematian, bertekad untuk berubah menjadi suami yang baik.


Untuk itu, dia akan berupaya sekuat tenaga agar bisa membuat istrinya membuka hati dan jatuh cinta kepadanya.


Namun tidak dengan cara memaksa, karena jika hal itu dia lakukan maka kedua belah pihak akan merasakan sakit, bukan kebahagiaan yang akan diperoleh.


“ Hey…,tubuhmu sangat berat….”, ucap Fan Jianying mengadu.


“ Maaf….cup...”, ucap Bai Cheung sambil mengecup bibir istrinya sekilas sebelum bangkit dari ranjang.


Fan Jianying seketika membulatkan kedua matanya dengan sempurna setelah mendapatkan ciuman mendadak seperti itu.

__ADS_1


“ Ciuman pertamaku !!!...”, teriak Fan Jianying yang langsung bangkit dari ranjang penuh amarah.


Dengan kekuatan penuh diapun mulai melayangkan tinju dan menyaerang sanga suami secara bertubi – tubi. Namun, sayangnya serangan tersebut masih bisa dihindari dengan mudah oleh Bai Cheung.


Ingin meredakan amarah istrinya, Bai Cheung langsung memeluk tubuh munggil Fan Jianying begitu ada kesempatan dan membiarkan gadis tersebut terus memukuli dadanya berulangkali.


Dia biarkan Fan Jianying meluapkan semua amarah yang selama ini dipendamnya dalam hati. Setelah agak tenang, Bai Cheungpun mulai mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut beberapa kali.


Fan Jianying segera mendorong tubuh suaminya dengan kasar waktu laki – laki itu mengecup pucuk kepalanya.


Dia mulai bersikap waspada, meski hal itu wajar dilakukan oleh sepasang suami istri.


Tapi, dengan hubungan keduanya yang tidak seperti itu membuat Fan Jianying canggung  dan ada keraguan untuk menerima Bai Cheung yang tiba – tiba bersikap lembut kepadanya setelah membawa dirinya dengan kasar kembali kedalam tenda.


Melihat jika sang istri berusaha untuk menghindarinya, Bai Cheung segera menarik kedua tangan Fan Jianying dan memegangnya dengan erat.


“ Fan’er…maafkan aku atas semua kesalahan yang telah aku perbuat dimasa lalu kepadamu...", ucap Bai Cheung dengan wajah sedih.


" Maaf ?.....", ucap Fan Jianying berapi - api sambil menghempaskan dengan kasar tangan Bai Cheung yang mengenggam erat kedua tangannya.


Fan Jianying sama sekali tak mengerti bagaimana laki - laki itu bisa dengan mudahnya mengatakan kata tersebut setelah menyakitinya berulang kali.


Melihat istrinya masih terdiam sambil menatapnya tajam, Bai Cheung sedikit merasa gugup dan berusaha untuk menelan ludahnya dengan susah payah.


" Aku tahu jika selama ini aku sudah banyak menyakiti hatimu dan menindasmu. Bahkan aku juga beberapakali menginginkan kematianmu. Andai saja kamu tahu apa yang menjadi penyebab semua itu, mungkin kamu juga tidak akan menyalahkanku sepenuhnya….”, ucap Bai Cheung dengan penuh penyesalan.


“ Ohhh...jadi kamu mempunyai alasan yang masuk akal memperlakukan aku dengan kejam seperti itu. Sekarang katakan, apa alasanmu....”, ucap Fan Jianying nyalang.


Sejenak, Bai Cheung terlihat mengambil nafas dalam beberapa kali waktu melihat sorot mata penuh amarah diwajah sang istri.


“ Mungkin inilah saatnya aku menjelaskan semuanya padanya agar kesalah pahaman ini bisa terselesaikan…”, Bai Cheung berkata dalam hati sambil menatap sang istri dengan sendu.


Bai Cheung segera menangkup wajah sang istri dengan kedua tangan kekarnya dan menatap dengan penuh kerinduan.


“ Apa kamu mau mendengar semua penjelasanku ?...”, tanya Bai Cheung dengan suara lembut dan sorot mata sendu


Melihat sorot mata sang suami yang menyimpan kepedihan yang cukup dalam, hati Fan Jianying yang awalnya keras perlahan mulai melunak.


Setidaknya dia ingin mendengar penjelasan apa yang membuat suaminya itu membencinya dan tak segan – segan untuk membunuhnya jika ada kesempatan.


“ Tentu saja jika kamu mau mengatakannya…”, ucap Fan Jianying lugas.


Bai Cheungpun segera mengajak Fan Jianying duduk diatas ranjang. Sambil menunduk dan memegang tangan istrinya, diapun mulai menceritakan semuanya.


Berharap dengan menceritakan semua kisah yang ada dalam hidupnya dia bisa menghilangkan sedikit beban yang selama ini menganjal hatinya.


Dia juga tidak kuat lagi untuk terus menahan rasa cinta yang sudah tumbuh subur didalam hatinya saat ini dan berpura - pura untuk tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Meski setelah mendengarkan penjelasan darinya dan Fan Jianying masih belum bisa memaafkannya, setidaknya dia sudah berusaha untuk jujur terhadap dirinya sendiri dan istrinya.


__ADS_2