
Bu Hena bergegas menemui Bu Farida. Bu Hena merasa agak sungkan bertemu dengan Bu Farida yang orang kaya dan berpengaruh. Apalagi sekarang, Vera bekerja padanya. Tetapi Vera terus memberikan ibunya semangat bahwa semua manusia itu sama. Tidak ada orang kampung ataupun orang kota . Yang ada hanya orang jahat atau orang baik. Dan Bu Farida adalah orang yang sangat baik.
Bu Farida dan Damian langsung berdiri saat melihat Bu Hena dan tersenyum ramah. Bu Hena segera menyalami Bu Farida dan Damian. Bu Hena membalas senyum mereka dengan senyuman pula. Setelah itu, Bu Hena mempersilahkan Bu Farida duduk.
"Vera, ibu ingin bicara empat mata dengan ibumu. Kamu ajak Damian keluar sebentar," ucap Bu Farida sambil melihat Vera dan Damian.
Vera dan Damian melangkah pergi, membiarkan ibu-ibu mereka berbicara empat mata. Mereka sebenarnya tidak mengerti untuk apa Bu Farida ingin menyembunyikan pembicaraan mereka.
Vera dan Damian duduk di teras rumah sambil melihat lalu lalang anak-anak yang sedang pergi ke TPQ untuk belajar mengaji. Vera sampai lupa mengatakan minuman pada Damian.
"Maaf, aku lupa kasih air minum," ucap Vera gugup.
"Tidak usah. Bukannya kita sudah kenyang makan di yayasan tadi. Sudah, duduk saja. Ada yang ingin aku katakan," kata Damian sambil menatap Vera.
Vera sangat gugup ketika Damian menatapnya aneh. Aneh, karena tatapan itu, seperti tatapan Rendra saat bersamanya.
"Ada apa?" tanya Vera pura-pura tidak terusik dengan tatapan Damian.
"Maafkan aku. Dulu aku yang memintamu untuk bekerja padaku. Tapi, malah Tristan memecat kamu. Aku harap kamu mengerti dan tidak membenciku," ucap Damian ragu.
"Paka Damian. Saya mengerti kesulitan Pak Damian saat itu. Pak Damian juga tidak perlu meminta maaf. Semua adalah takdir, dan saya menerimanya dengan ikhlas," jawab Vera santai.
"Vera, bisakah kamu tidak berbicara formal denganku. Bisakah,kita menjadi teman seperti dulu?" tanya Damian sambil menatap intens.
"Baiklah. Tapi apa itu pantas untuk saya yang hanya bawahan anda?"
"Tapi ini tidak di tempat kerja. Bisakah lebih santai?"
Vera menatap lembut Damian yang juga terus memandanginya. Senyum malu Vera, membuat Damian juga ikut terbawa suasana. Mereka menikmati perasaan gugup seperti kisah cinta anak SMA. Mereka seperti remaja yang masih malu-malu mengakui perasaan yang mereka rasakan.
__ADS_1
"Vera." Terdengar suara seorang pria yang mengejutkan Damian dan vera.
"Doni," gumam Vera.
Wajah Damian yang tadinya malu-malu kucing, kini berubah tegang. Damian merasa ada sesuatu yang tidak biasa diantara Vera dan Doni. Sangat jelas terlihat, jika mereka memiliki kedekatan yang spesial.
"Duduk dulu, Don. Aku ambilkan minum," ucap Vera sambil berdiri.
"Tidak perlu. Aku kesini bukan untuk minum. Kamu sedang ada tamu. Ini Pak Damian, bukan? Hallo, apa kabar?" jawab Doni sambil menyapa Damian dan mengulurkan tangannya.
"Hallo juga. Kabarku, baik," jawab Damian sambil membalas jabatan tangan Doni.
"Vera, ini ada tamu dari jauh. Nggak kamu kasih minum? Kasihan, pasti haus. Benar, kan?" tanya Doni sengaja.
"Baiklah. Aku buatkan minuman, untuk kalian berdua," ucap Vera lalu beranjak pergi.
Tinggallah kini Damian dan Doni yang segera duduk didekat Damian. Doni sengaja ingin membuat Damian menyerah. Karena Doni tahu jika Damian mencintai Vera.
"Sudah. Kenapa?" jawab Damian dingin.
"Tapi, pastinya lebih lamaan aku. Kita berteman dari kecil," jawab Doni pamer.
Mendengar semua ucapan Doni, hati Damian sangat kesal. Ditambah lagi, Doni pamer jika dia lebih dahulu jatuh cinta pada Vera. Jadi dia yang lebih berhak bersama Vera dari pada orang lain. Itu jelas menyindir dirinya.
Lebih parahnya lagi, dia juga pamer jika orangtua Vera sudah setuju jika Doni menikah dengan Vera.
"Apa Vera setuju menikah denganmu?" tanya Damian semakin kesal.
"Tentu saja dia setuju. Tunggu saja undangan pernikahan kami," jawab Doni yang membuat Damian sangat marah.
__ADS_1
Damian bergegas berdiri dan berniat kembali ke mobilnya. Hal itu membuat Doni sangat senang dan dia merasa menang.
"Damian, mau kemana?" tanya Vera saat melihat Damian akan pergi.
"Aku capek, aku mau istirahat di mobil saja," jawab Damian berusaha tenang.
Vera hanya menghela napas panjang melihat sikap Damian yang tiba-tiba berubah.
"Vera, sudahlah. Pak Damian akan melakukan perjalanan jauh, jadi dia butuh istirahat yang cukup," ucla Doni meyakinkan Vera.
Vera dan Doni berbicara sambil sesekali tertawa. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat. Vera tidak menyadari jika Damian sangat tidak senang melihat keakraban mereka.
Salah Damian juga, dia tidak memperjuangkan cintanya. Setelah penolakan dari ayahnya Vera, Damian merasa tidak percaya diri. Hampir 6 bulan lamanya, Damian lari dari kenyataan. Menyembunyikan diri dan mencoba berbagai cara untuk melupakan Vera.
Pada akhirnya, Damian yakin jika dia memang sudah jatuh hati pada Vera. Apakah dia akan menyerah hanya karena mendengar berita, jika Vera akan menikah dengan Doni?
Damian menarik napas panjang. Benar apa yang dikatakan Tristan. Cinta butuh perjuangan. Atas dasar ini, Damian membulatkan tekad untuk memperjuangkan cintanya.
Damian turun dari mobil lalu mendekati Vera yang masih asyik mengobrol dengan Doni. Damian mulai yakin dengan satu hal. Jika memang Vera adalah jodohnya, maka meskipun Vera berencana akan menikah dengan siapapun, pasti akan tetap menikah dengannya.
"Vera, aku haus," ucap Damian saat sampai di dekat Vera.
"Tapi, ini sudah terlanjur aku minum. Aku buatkan lagi ya?" tanya Vera kaget.
"Tak perlu, itu saja," ucap Damian sambil mengambil gelas minuman Vera dan meminum isinya.
Vera dan Doni sangat terkejut dengan ulah Damian. Tapi Damian tidak perduli dengan semua itu. Dia lalu duduk di samping Vera dan berusaha ikut berbicara meskipun tidak nyambung.
Sementara itu, Bu Farida sudah selesai berbicara dengan Bu Hena. Bu Farida tampak puas dan seolah memiliki harapan baru.
__ADS_1
Bersambung