CINTA Dan PENGKHIANATAN

CINTA Dan PENGKHIANATAN
PULANG


__ADS_3

Begitu derap kaki kuda mendekat, sekelompok orang yang sudah bersembunyi di samping kiri dan kanan jalan yang utama menuju ibukota saling melempar isyarat untuk menyerang.


Crashhhh….


Pedang  musuh menyabet kaki kuda dengan cepat hingga membuat para prajurit yang berada diatasnya terpental jatuh.


Para musuh segera menyerang Bingwen dan rekan – rekannya secara membabi buta. Keenam orang tersebut dikepung puluhan musuh yang datang menghadang perjalanan mereka


Tringggg….tringgg….tringgg......


Bunyi pedang yang saling bersentuhan terdengar nyaring ditelinga, memecah kesunyian. Tak ingin terlalu banyak membuang tenaga, Bingwenpun segera mengeluarkan senjata yang diberikan oleh Fan Jianying kepadanya.


Lewat isyarat mata, Bingwen dan rekan – rekannya langsung melesat keatas dan melemparkan bola hitam seukuran bola kasti kearah musuh.


Duarrr…..


Duarrr…..


Duarrr…..


Asap putih membumbung tinggi begitu bom tersebut meledak diiringi dengan teriakan kesakitan dari musuh yang langsung tewas seketika.


Begitu dentuman bom terdengar,Fan Jianying yang berada tak jauh dari lokasi kejadian memberikan senyuman lebar.


“ Akhirnya beres juga….”, guman Fan Jianying senang.


Begitu rombongan kereta kuda Fan Jianying terlihat, Bingwen dan rekan – rekannya segera bergabung dengan mereka dan melanjutkan perjalanan ke ibukota.


Semua orang terbelalak waktu melihat  banyak darah dan cacahan tubuh musuh menjadi hancur lebur seperti itu.


Mereka sama sekali tak menyangka jika bola hitam kecil yang dirakit oleh Fan Jianying mampu membunuh dan memporak – porandakan musuh dalam sekejap.


Bahkan tubuh musuhpun sudah tak utuh lagi, menyisakan potongan daging cacah yang tercecer dimana – mana.


Bai Wang yang mendapatkan kabar jika pasukan terakhir yang menghadang gagal menjalankan tugasnya terlihat sangat marah.


Diapun menghajar para pasukan rahasia yang dilatihnya untuk melampiaskan emosi. Para prajurit yang dijadikan samsak tinju oleh Bai Wang hanya bisa pasrah tanpa bisa melawan.


Pada pintu gerbang ibukota sudah terlihat, Fan Jianying pun segera merubah penampilannya menjadi gadis polos yang lemah.


Bingwen segera menunjukkan plankat miliknya kepada penjaga begitu rombongan sampai di depan pintu gerbang.


Melihat jenderal muda Bai Cheung ada dalam rombongan, para penjaga segera memberikan sikap hormat sampai rombongan kereta kuda tersebut memasuki wilayah ibukota.


“ Nyonya tua…nyonya tua….”, teriak salah seorang pelayan di kediaman utama.


“ Kenapa berteriak ? !!!...dimana sopan santunmu !!!...”, hardik pelayan senior Yu penuh teguran.


Belum juga pelayan wanita yang ditegur oleh pelayan senior Yu tersebut berbicara, dari dalam rumah matriark Bai muncul dengan santai.

__ADS_1


“ Ada apa ?...kenapa kalian berisik sekali ?....”, ucap matriark Bai sarat teguran.


“ Hamba mengaku salah dan patut dihukum….”, ucap pelayan tersebut sambil melakukan kontow (membenturkan jidat kelantai ) berkali – kali.


“ Sekarang katakan, ada apa ?....”, tanya matriark Bai penasaran.


“ Tuan muda ketiga sudah kembali. Saya baru saja mendapatkan kabar jika tuan muda ketiga sudah memasuki ibukota bersama madam muda ketiga dan tabib Shilin….”, ucap pelayan tersebut masih dengan posisi bersujud dilantai.


“ Cheung dan istrinya sudah kembali !!!…..”, teriak matriark Bai terkejut.


Meski dalam benaknya ada pertanyaan “ Bagaimana bisa Bai Cheung bisa kembali bersama istrinya,padahal mereka tidak berada dalam satu tempat yang sama….”.


Tapi pertanyaan – pertanyaan yang mulai muncul dikepalanya itu berusaha untuk diabaikannya dan diapun mulai sibuk menyuruh semua orang untuk mempersiapkan makanan dan menghias rumah menyambut kedatangan  Bai Cheung dan Fan Jianying di kediaman.


Lien Hua dan madam Chou terlihat menaikkan satu alisnya heran melihat matriark Bai sibuk kesana kemari, menginstruksikan para pelayan untuk menghias ruangan dan menyajikan beraneka macam kudapan diaula utama.


“ Ibu…apa ada tamu penting yang akan datang ?...”, tanya Lien Hua penasaran.


Melihat menantu dan cucu menantu pertama perempuannya datang, matriark Bai segera memberikan senyuman lebar dan langsung menghampiri keduanya dengan bola mata berbinar.


“ Cheung dan istrinya sudah kembali….”, ucap matriark Bai bahagia.


Mendengar anak bungsu dan menantunya kembali, Lien Hua pun tak bisa menyembunyikan tangis haru kebahagiannya.


“ Dimana mereka ?....”, ucap Lien Hua penasaran.


“ Mereka masih dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi akan tiba…”, ucap matriark Bai dengan wajah ceria.


Lien Hua pun segera membantu sang mertua untuk menyambut kedatangan anak dan menantu yang sangat dirindukannya tersebut.


Semua orang terlihat bahagia, tapi tidak dengan madam Chou. Meski mulutnya tersenyum namun hatinya merasa sangat marah.


Meski usahanya untuk membunuh adik iparnya  waktu dalam  perjalanan menuju gunung Weixi gagal.


Tapi dia sama sekali tak menyangka jika Fan Jianying akan sembuh dari penyakitnya dan kembali ke kediaman bersama suaminya.


Padahal dia mengira jika adik iparnya itu akan mati di gunung Weixi, mengingat kabar yang diberikan oleh Fan Nuan jika kakak tirinya tersebut dalam keadaan sangat parah tiga bulan yang lalu waktu Fan Shaosheng menjenguknya.


Madam Chou semakin dekat dengan Fan Nuan waktu dia tak sengaja bertemu dengan nona ketiga keluarga Fan tersebut di sebuah toko perhiasan.


Fan Nuan yang memang tidak pernah menyukai Fan Jianying pun berusaha untuk menghasut madam Chou.


Madam Chou yang waktu itu memiliki kecemburuan yang sangat dalam kepada Fan Jianying karena seluruh keluarga Bai menyayanginya akhirnya masuk kedalam perangkap yang telah disiapkan Fan Naun untuknya.


Semua ucapan Fan Nuan membuat telingga dan hati madam Chou terasa sangat panas.


Apalagi suaminya Bai Axiang juga sering memuji masakan lezat adik iparnya itu yang akhirnya membuat madam Chou gelap mata dan berusaha untuk membunuh adik iparnya itu setelah mendapatkan saran dan Fan Nuan.


Lamunan madam Chou buyar setelah suara penjaga yang ada digerbang kediaman Bai menggema keseluruh ruangan utama.

__ADS_1


“ Tuan muda ketiga dan madam ketiga telah kembali….”, teriak penjaga pintu gerbang kediaman Bai lantang.


Semua orang pun bergegas untuk keluar dan menyambut keluarga kecil tersebut dengan wajah penuh kebahagiaan.


Matriark Bai tak bisa lagi menyembunyikan tangis haru waktu melihat Bai Cheung dengan lembut membantu Fan Jianying turun dari atas kereta.


Bahkan wanita tua itu bisa melihat jika cucu kesayangannya itu menatap lembut dan hangat kepada sang istri.


Suatu pemandangan yang langkah ditemui sejak keduanya resmi menjadi suami istri, membuat hati semua orang yang melihat menjadi hangat.


Bukan hanya matriark Bai saja yang menangis haru. Lien Hua dan pelayan senior Gaeng yang berada disana juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dalam hatinya melihat keharmonisan pasangan muda tersebut.


“ Akhirnya, tuan muda bisa membuka hatinya untuk nyonya…semoga ini bisa bertahan selamanya….”, batin pelayan senior Gaeng bahagia.


Meski sedikit risih, tapi Fan Jianying tetap membiarkan Bai Cheung mengenggam erat satu tangannya karena tak ingin merusak kebahagian semua orang.


“ Bagaimana kesehatanmu ?…bagian tubuh mana yang masih merasa sakit ?.... ”, tanya matriark Bai cemas.


“ Cucu ini sudah sehat…nenek tidak perlu khawatir. Tabib Shilin mengobatiku dengan sangat baik….”, ucap Fan Jianying dengan suara lemah lembut.


Untuk sejenak, semua pengawal yang selama ini bergaul dengan Fan Jianying selama perjalanan menuju hutan kematian dan berjuang bersama di kamp militer pasukan Huangshan tak bisa menutupi rasa keterkejutan mereka melihat gadis itu bersikap lembut dan manis seperti itu.


“ Aku tak menyangka jika nyonya muda ternyata memiliki sisi manis seperti ini….”, batin Bingwen heran.


Mereka merasa jika Fan Jianying memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang. Tapi, mereka juga tak bisa menyinggung gadis muda itu jika tidak ingin menerima konsekuensi yang mengerikan.


Semua orang langsung pamit undur diri waktu matriark Bai mengajak mereka untuk masuk kedalam rumah.


Hanya tabib Shilin yang masih tinggal didalam kediaman Bai karena matriark Bai bersikeras untuk menahannya.


Tak ingin mengecewakan wanita tua tersebut, tabib Shilinpun mengikuti keingginan tetua Bai tersebut untuk makan malam bersama.


Bingwen dan rekan – rekannya segera kembali ke istana setelah memberikan salam kepada seluruh keluarga Bai dengan membawa bukti – bukti yang telah mereka dapatkan untuk diserahkan kepada kaisar Huang.


Semua orang masuk kedalam rumah dengan aura kebahagian yang terus memancar kuat dari dalam tubuh mereka.


Madam Chou terlihat sangat geram, dia bahkan sudah meremas ujung gaunnya kuat – kuat dengan kedua tangannya.


Tabib Shilin yang tak sengaja melihat hal tersebut tersenyum sinis. Dia sama sekali tak menyangka jika wanita lemah lembut dan selalu ramah kepada semua orang tersebut ternyata memiliki hati yang busuk.


Untung saja Fan Jianying memiliki kemampuan seni beladiri yang tinggi sehingga bisa selamat dan menghancurkan para pembunuh bayaran yang dikirimkan oleh kakak iparnya itu.


Tampaknya, setelah ini tabib Shilin harus segera berdiskusi dengan putra mahkota Qin Shi Huang dan pangeran ke empat Wei Jie mengenai rencana pemberontakan yang akan dilakukan oleh Ratu Qilin dan pangeran kedua Song Yu.


Serta kemungkinan keluarga Ming, keluarganya madam Chou bersekutu dan menjadi mendukung pangeran kedua Song Yu dalam diam.


Musuh yang seperti ini lah yang harus diwaspadai karena mereka tidak menunjukkan secara terang – terangan dukungan mereka.


Sehingga kaisar Huang akan menganggap mereka sama sekali tidak tertarik atas kekuasaan yang ada dan memilih untuk bersikap netral.

__ADS_1


__ADS_2