
.
.
.
beberapa minggu kemudian,
Anna menjatuhkan gelas yang dipegangnya saat Linda memberitau kabar dari telepon kalau Intan tengah berada di Rumah Sakit, Usia kandungan Intan masih 7 bulanan sama dengan Nana sedangkan Anna belum cukup 3 bulan (kurang lebih masih 2 bulanan).
"Nona..?". pekik Linda mendekati Anna dan melihat Kaki Anna yang membuatnya lega Anna baik-baik saja.
"bagaimana Nona? ". tanya Linda.
"tidak apa". jawab Anna gemetaran.
"ayo kita ke Rumah Sakit Linda..! ". ajak Anna hendak beranjak tapi Linda menahannya.
"Tuan dalam perjalanan kemari Nona..! bersabarlah sampai saya bersihkan pecahan kaca ini". pinta Linda serius.
Anna terdiam lalu Linda memapah Anna duduk di kursi meja makan, "bagaimana aku bisa tenang Linda..?? Kak Intan sedang dalam bahaya, aku takut kandungannya tidak selamat padahal El sudah lama ingin punya adik".
"bukankah Nona bilang kalau Nyonya Intan sudah ikut ritual 7 bulanan keluarga Wijaya? semoga saja semua akan tetap baik-baik saja dan Nona jangan terlalu khawatir nanti bahaya pada kandungan Nona, tadi saya sudah kabari Tuan Muda dan Ia akan datang kesini". Linda.
"dimana..? kenapa lama sekali? ". tanya Anna gelisah sambil menggigit bibir bawahnya.
"pasti dalam perjalanan kemari Nona..!". jawab Linda setelah menyapu semua pecahan gelas kaca.
Adi berlari memasuki Mansion mengedarkan pandangannya sambil memanggil Anna, lalu Anna berdiri dan menyahut tidak bisa berlari karna dijaga oleh Linda.
"sayang..? kamu baik-baik saja kan?". tanya Adi menangkup pipi Anna dan memperhatikan tubuh Anna dengan teliti.
"aku baik-baik saja Hubby..! bagaimana kak Intan bisa di Rumah Sakit sebelum waktunya tiba? ". tanya Anna khawatir memegang punggung tangan Adi yang menangkup pipinya.
"bang Celvin bilang Kak Intan tergelincir terus ketubannya pecah". jawab Adi melepaskan jasnya lalu memasangnya di tubuh Anna.
"ayo kita ke Rumah Sakit..! ". desak Anna.
"iya sayang iya". jawab Adi.
Adi menoleh ke Linda, "Linda, kau datang belakangan tapi susun beberapa stel pakaian bersih untuk Istriku, kemungkinan Istriku akan menginap disana bersama yang lainnya".
__ADS_1
"baik Tuan". jawab Linda dengan patuh.
"cepat Hubby..! ". desak Anna semakin tidak sabaran.
Adi membawa Anna yang sudah tidak sabaran menuju mobil, didalam perjalanan Anna terus mendesak sebab Adi melaju sangat pelan dan itu membuat Anna kesal.
"sayang..? kamu sedang hamil, aku tau kalau kita terburu-buru tapi kita harus ingat ada nyawa yang harus kita jaga sayang". oceh Adi.
"kalau begini kapan sampainya?? aku bisa mati duduk disini". geram Anna mencoba melepas seatbeltnya membuat Adi panik.
"iya sayang.. iya..! aku akan tambah kecepatan tapi kamu tetap diam ya? tenang? jangan bergerak dan cari pegangan?". bujuk Adi.
"cepetan..! ". desak Anna.
"iya". jawab Adi pun terpaksa menuruti Istrinya yang sudah seperti cacing kepanasan.
.
setibanya di Rumah Sakit,
Anna berlari terburu-buru, Adi mengejar Anna dan terus saja mengomeli Istrinya.
"Kak??". Anna tiba dalam keadaan terengah-engah dan Nana menoleh sambil berkaca-kaca.
"Bagaimana keadaan Kak Intan? ". tanya Anna.
"dimana Kakek? ". tanya Anna mengedarkan pandangannya.
"Kakek Leonard sedang ke toilet bersama Tuan Aman". jawab Reyhan.
Caca dan Sekar mendekati Anna, mereka menangis bertiga membuat yang lainnya ikut menangis.
"jangan menangis ya? berdoa saja semoga Intan dan bayinya selamat". kata Dewi dengan serius padahal Ia juga terlihat khawatir.
Mama Eve dan Papa Andi (Mertua Sekar) saling pandang takjub dengan kedekatan keluarga itu, padahal intan tidak ada hubungan darah dengan keluarga besar Nana tapi rasa sakit Intan terkena efek ke semua orang.
El diam di sudut Ruangan, Rose melihat El tak mengganggunya pun menghela nafas, Ia melepaskan diri dari genggaman Eyang Putri dan Oma Dewi nya.
Arka tengah memeluk Istrinya yang menangis sebab Intan sudah seperti Kakak bagi Nana lalu melihat Putrinya menatap El yang mengasingkan diri, diam-diam Arka tersenyum tipis akan belas kasihan Putrinya itu.
semua orang sibuk dengan kesedihan serta berdoa semoga Intan dan Bayinya selamat, Ibu Ida (Ibu kandung Intan) juga diam namun air matanya terus saja keluar.
__ADS_1
"abang? ". panggil Rose duduk dihadapan El.
El perlahan melihat ke arah Rose, "abang tidak punya adek lagi? abang salah tidak menjaga Mommy, hiks.. hiks".
Rose diam mendengarkan, biasanya mereka selalu bertengkar tapi Rose tau kalau Elvin sangat ingin punya adik dan Rose merasakan kesedihan Elvin.
"Abang? mau Rose peluk? ". tanya Rose.
El menganggukkan kepalanya, Rose mendekati El lalu memeluk El dan tangan kecilnya menepuk-nepuk pundak El yang menangis di pelukan Rose, Ren tiba-tiba datang dan mengelus kepala El sama seperti Mommynya suka mengelus kepala Ren, Ren merasa bahagia jika kepalanya di Elus tapi Ia tidak pernah mengatakan apa-apa.
Ara tak sengaja melihat Anak sulung Intan di hibur oleh Rose dan Ren, Ia kembali menangis di pelukan Abi memohon pada Tuhan untuk menyelamatkan Intan dan bayinya.
Intan di Operasi Caesar sebab usia kandungannya tidak bisa melahirkan normal, jika terus memaksa maka Intan tidak akan selamat, jadi keputusan dokter untuk menyelamatkan bayi dan Ibunya adalah Operasi Caesar.
beberapa jam menunggu,
semua kerabat dekat Intan menangis haru mendengar suara tangis Bayi, bisa dikatakan bayi itu selamat dan tinggal berharap Intan juga baik-baik saja.
suster keluar dari Ruang Operasi dan berkata, "Ibu dan Bayinya selamat Nyonya, Tuan..? setelah ini Pasien akan kami antarkan ke Ruangan lain berbeda dengan bayi Nyonya Intan yang lahir prematur harus kami rawat terlebih dahulu".
mereka mengucapkan syukur, ketegangan beberapa jam diantara mereka terbayarkan karna yang semua sudah baik-baik saja.
Yardan melihat Dewi menghibur Mama nya Intan (Ida) yang menangis sampai bahu nya bergetar-getar karna terharu.
"abang? abang dengar?? dedek abang selamat". kata Rose semangat ke El.
"sudah aku bilang kalau kamu akan punya adik bang El". sahut Ren juga.
"terimakasih kalian selalu ada bersamaku". ucap El dengan tulus.
mereka saling berpelukan satu sama lain, walau tidak memiliki ikatan darah tapi mereka saling menyayangi satu sama lain meski lebih banyak bertengkarnya dari pada sayang-sayangannya.
Pintu Ruang Operasi dibuka, keluarga Nana berlari kecil mengikuti Brankar Intan, Celvin terlihat kacau tapi Ia tidak menyerah menggenggam tangan Istrinya. Celvin sedih karna saat Intan melahirkan El tanpa dirinya, membayangkan hal seperti tadi membuatnya semakin merasa bersalah pada Intan dan Ia berjanji akan menjaga Intan bersama anak-anaknya sampai akhir hayatnya.
"ayo bang..! ". ajak Rose mengulurkan tangannya.
El menyambutnya dan Ren berjalan disamping El tanpa berpegangan tangan, sudah ada Rose yang membuat El baikan.
.
.
__ADS_1
.