
.
.
.
ke esokan harinya,
Adi memilih tetap diam tentang Ridwan, Ia juga tidak bertanya pada Anna karna tidak mau membuat Anna kesal seolah Adi tidak percaya pada Anna.
"sayang?". panggil Adi.
"hmm?". sahut Anna memutar kepalanya ke arah Adi.
"apa kamu masih menyukai Pria yang pernah kamu suka, cinta monyetmu itu?". tanya Adi dengan hati-hati.
"bagaimana kalau tiba-tiba dia muncul dan menyatakan perasaan padamu, dia ingin memulai semuanya dari awal bagaimana? apa kamu akan meninggalkanku sayang?". tanya Adi dengan mata berkaca-kaca.
Adi tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada Istrinya itu. Anna mengerutkan keningnya sepertinya Anna langsung tau maksud perkataan suaminya yang sepertinya tau sesuatu tentang Ridwan,
"tidak..! aku sudah bilang kalau itu masalaluku suamiku, dia memang duda tapi aku tidak akan meninggalkan suamiku demi dia". jawab Anna dengan serius.
Adi melebarkan senyumannya, "benarkah?".
Anna tersenyum dan mengangguk, "aku bahagia denganmu suamiku, aku tidak mau Pria lain walaupun dia jauh lebih baik dari suamiku tapi jiwa-ragaku telah aku berikan padamu suamiku".
Adi mendekati Anna dan menciumi wajah Anna, "itu sudah cukup bagiku sayang".
Anna memeluk Adi dengan manja, "jangan pertanyakan perasaan dan kesetiaanku lagi suamiku". pinta Anna memelas.
"iya sayang, aku berjanji tidak akan meragukanmu lagi walau hanya setitik". jawab Adi dengan lembut,
Anna tertawa pelan, "aku tidak sabar menunggu anakku lahir suamiku".
"anakku juga". balas Adi mengecup lama kening Anna.
"anak kita". ralat Anna tersenyum lebar mendongakkan pandangannya.
Adi mencium kening Anna lalu mereka kembali berpelukan sebisanya, Anna mengelus perutnya dengan senang.
"iya sayang..! Anak kita berdua". jawab Adi mengakui.
"iya.. Adi.. kamu dengar sendiri kan? Anna mencintaimu, walaupun Pria itu lebih baik darimu Annamu tidak akan meninggalkanmu". batin Adi tersenyum lebar.
Adi merasa lebih baik dan tidak memikirkan masalah Ridwan lagi yang pernah singgah dihati Anna.
__ADS_1
.
.
mereka melalui suka-cita perkembangan calon bayi-bayi Anna dengan Adi hingga tidak terasa kini kandungan Anna sudah berumur 9 bulanan menunggu hari melahirkan saja.
Adi seperti burung hantu selama beberapa hari ini jarang tertidur selalu membantu Istrinya yang tidak bisa tertidur, Ia tidak mengeluh malah menikmati hari-harinya itu sehingga membuat Anna semakin mencintai suaminya.
pagi-pagi,
"kamu tidak bekerja Hubby?". tanya Anna penasaran melihat suaminya tidak berganti pakaian.
"tidak sayang..! hari ini kita akan menginap di Rumah Sakit ya? aku tidak mau kamu tiba-tiba melahirkan dimalam hari dan kami ketar-ketir membawamu dan anak-anak kita, aku harus melakukan yang terbaik menjaga mu juga anak-anakku kan". jawab Adi sambil mengecup pipi Anna berkali-kali.
Anna tersenyum lebar lalu menangkup rahang Adi dan mengecup bibir Adi berkali-kali.
"iya deh..! aku setuju apapun yang baik menurutmu Hubbyku ini". jawab Anna lalu mengelus perutnya yang besar.
Adi bersimpuh lalu menciumi perut Anna, Anna sungguh kuat bisa berjalan dengan perut sebesar itu bahkan duduk saja Anna tidak terlalu bisa karna terlalu menekan perutnya.
"aku dengar Reyhan juga sudah menyewa kamar sebelah kita, dia juga akan menginap dengan Sekar, istriku ini bisa punya teman kan?". gemas Adi berdiri menoel-noel pipi Anna.
"benarkah? apa kami akan melahirkan sama-sama?". tanya Anna berbinar.
Adi membawa Anna ke Rumah Sakit, Leonard pun ikut menginap sebab Ia sangat tidak sabar menunggu Cicitnya lahir.
.
.
di Rumah Sakit, Ruangan VVIP 1.
Adi dan Reyhan bersama di sofa sementara Istri-Istri mereka tengah berbincang di Brankar mereka masing-masing, walau tetanggaan di Ruangan VVIP 2, tapi rasanya yang dipakai oleh mereka hanya 1 Ruangan saja sebab Sekar selalu ingin didekat Anna. Leonard berbincang dengan Mama Eve dan Papa Andi di Ruangan VVIP 2,
"kenapa Di?". tanya Reyhan.
"aku gugup..! entah kenapa aku takut saat ini, walaupun dokter bilang Anna-ku bisa melahirkan normal tapi aku masih takut". jawab Adi yang duduknya tidak tenang.
"aku juga gugup padahal anakku hanya 1". jawab Reyhan juga serius.
"huh..! kami sudah senam ibu hamil untuk melancarkan otot-otot rahim Anna, tapi aku tetap saja takut". gerutu Adi.
Reyhan menepuk-nepuk pundak Adi, Ia juga takut tapi Adi pasti 2 kali lipat lebih takut darinya sebab anak Adi 3 sekali lahiran dan kalau dipikir-pikir memang cukup menakutkan.
"berdoa saja". kata Reyhan.
__ADS_1
.
di Brankar Anna melihat Sekar disampingnya di Brankar lain dengan posisi sama-sama menyamping.
"perutmu sudah turun Anna, aku pikir kamu akan melahirkan hari ini atau besok". kekeh Sekar.
Anna mengelus perutnya, "aku takut melihat perutku sendiri". tawa pelan Anna.
"kenapa?". tanya Sekar
"seperti balon yang sangat besar kalau di tusuk jarum akan langsung meletus". jawab Anna terkikik.
Sekar pun tertawa lebar, "tentu saja, isinya 3 bukan 1". jawab Sekar.
mereka tertawa bersama lalu Anna tiba-tiba teringat Caca,
"bagaimana dengan Caca?". tanya Anna penasaran.
"kamu tau sendiri bagaimana posesifnya Mami Erie kan? aku rasa besok mereka baru bisa datang atau tidak bisa datang, itu pun kalau bisa datang harus ditemani oleh Mami Erie, kadang dia nangis mengadu sama Radit yang tidak bisa apa-apa". jawab Sekar.
"kasihan punya mertua posesif ya? apalagi Radit? dia tidak akan bisa melawan kehendak Maminya". keluh Anna.
"dia kan anak Mami". jawab Sekar menekuk alisnya yang mengatakan Radit.
"huh..!". mereka membuang nafas panjang, mereka terdiam beberapa saat.
"tidak apa Caca tidak bisa datang, yang penting dia baik-baik saja kan kita bisa VC, sekarang teknologi sudah canggih". kata Anna tersenyum lebar.
"iya, kita lihat saja bagaimana Caca membuat drama dengan mertua nya biar bisa kesini". senyum lebar Sekar.
"bagaimana mertuamu?". tanya Anna berbinar.
"sama saja, huh.. aku tidak menyangka punya Ibu yang sayang pada kita sangat merepotkan, Mama bahkan lebih menyayangiku dari pada Putranya sendiri, saat aku hamil 7 bulanan minta diambilkan mangga muda dan aku mau Reyhan yang mengambilnya lalu Reyhan memang memanjat demi anak kami tapi dia terjatuh, bukannya mengkhawatirkan Reyhan tapi Mama malah mengambil mangga muda itu dan diberikan padaku, apa menurutmu itu masuk akal?". curhat Sekar dalam satu tarikan nafas.
Anna tersenyum lebar, "lalu bagaimana keadaan suamimu saat itu?".
"baik sih cuma lecet aja, waktu Aku bertanya mengapa Mama mengabaikan Putranya katanya demi cucu nya jangan sampai ngences..! aku yakin Mama akan semakin posesif pada anak ku nanti". cerocos Sekar membuat Anna terkikik.
mereka menghabiskan waktu berdua sampai mengantuk dan tidur berpegangan tangan, Adi dan Reyhan hanya menyelimuti istri mereka yang mengalah tidur disofa.
.
.
.
__ADS_1