
.
.
.
Linda berhasil menemukan Ruangan Bayu mendengar petunjuk karyawan tadi.
tok.. tok.. tok..
Linda dengan segala kemampuannya mengetuk pintu,
"masuk". sahut dari dalam.
Linda mendorong dengan sebelah bahunya dan masuk ke Ruangan Bayu,
"Permisi Tuan Bayu?". sapa Linda.
"eeh?". Bayu berdiri dan berlari ke arah Linda dan membantu Linda membawa berkas-berkas pentingnya tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.
Bayu biasa saja sementara Linda sudah gelisah, "terimakasih sudah mengantarkan semua berkas penting ini padaku, kamu meringankan pekerjaanku". ucap Bayu dengan tulus ke Linda.
"sama-sama Tuan". jawab Linda.
"kenapa Tuan sih? kan aku bukan Tuanmu". sungut Bayu.
"eh..? iya kalau begitu aku permisi ya? Nona sudah menunggu ku di tempat parkiran". izin Linda.
"Oupsss..! tunggu dulu". Bayu memegang pergelangan tangan Linda.
"iya?". sahut Linda sebiasa mungkin.
"boleh minta nomor ponselmu? aku akan bertanya perihal Tuan Adi ada di Mansion atau tidak jadi kalau aku antar berkas penting sangat aman tanpa harus bolak-balik lagi". tanya Bayu.
"boleh". Linda pun mengangguk pelan.
Bayu memberikan ponselnya ke Linda yang sibuk mengetik angka nomor ponselnya lalu memberinya ke Bayu.
"udah disimpan langsung?". kekeh Bayu merasa gemas dengan nama yang tertera adalah Pengawal Linda.
"iya..! aku permisi". izin Linda lalu segera berlari langkah 1000 dari ruangan Bayu.
"ada apa dengannya?". gumam Bayu heran lalu tersadar akan sesuatu.
"Nona? apa Nona yang dia maksud Nona Anna?". tebak Bayu.
Bayu hendak menyusul tapi bunyi dering telepon membuatnya mengurungkan niatnya segera mengangkat panggilan itu.
"iya dengan Bayu Asisten kedua Tuan Muda Asia Group, ada yang bisa saya bantu?". tanya Bayu dengan bahasa sopan.
"Bayu kemari!". titah Radit.
__ADS_1
"baik Tuan". sahut Bayu segera menutup panggilannya dan segera keluar tak lupa Ia mengunci pintu Ruangannya yang sangat rahasia.
.
di parkiran,
"terimakasih". ucap Linda kepada 10 Pengawal bayangan Anna dengan sopan.
"sama-sama". jawab mereka serentak lalu kembali bersembunyi tugas mereka mengawasi Anna.
Anna yang sibuk bermain ponsel melirik Linda sesekali lalu mengerutkan keningnya melihat wajah Linda yang merah merona.
"kenapa wajahnya memerah begitu? apa dia menyukai salah satu dari Pengawal bayanganku?". gumam Anna menebak.
Linda masuk ke mobil, "maaf Nona..! apa Nona terlalu lama menunggu?". tanya Linda dengan khawatir.
Anna menggeleng kepalanya, "kenapa wajahmu Lin? apa kamu menyukai salah satu dari pengawalku?". tanya Anna penasaran.
Linda memegang pipinya, "tidak Nona..! mungkin karna saya berlari terlalu kencang karna takut Nona menunggu, tadi juga berkas-berkas jatuh dan saya kesulitan mengumpulkannya Nona". bohong Linda.
Anna mengangguk percaya, "siapa juga yang mendesakmu harus sampai dengan cepat". gerutu Anna.
Linda nyengir kuda, "Nona mau kemana?". tanya Linda basa-basi.
"ke Mal!". jawab Anna cepat.
Linda mengangguk lalu membantu Anna memasang Seatbelt nya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Mal ANA yang menjadi langganan tempat Anna belanja.
"Nona sudah Nona..? apa perut Nona belum kenyang juga?". tanya Linda penasaran juga heran.
"tadi masih pemanasan Lin belum hidangan utama". jawab Anna tersenyum lebar membuat Linda menjatuhkan rahangnya.
"jadi semua yang masuk ke perut Nona tadi masih pemanasan?". tanya Linda tak percaya.
"kenapa kaget begitu?". tanya Anna heran lalu Linda menggeleng kepalanya pelan.
alhasil Linda tidak kuat makan lagi sementara Anna terus saja makan di semua tempat sampai puas, terlihat dari pancaran wajah Anna yang bahagia.
"aku sudah bilang pergi bersamamu aku bisa makan apapun yang aku mau, sebelumnya aku hanya bisa menelan lud*h saja begitu berselera dengan semua hidangan mereka tanpa bisa mencoba, kamu tau sendiri kan Adi bagaimana". cerocos Anna.
"jadi sekarang Nona balas dendam?". tanya Linda.
Anna tersenyum lebar lalu merangkul lengan Linda membeli pakaian baru untuknya untuk Linda juga, setelah puas berbelanja Anna dan Linda duduk di kursi panjang.
"apa Nona tidak lelah? kaki Nona baik-baik saja?". tanya Linda memijit kaki Anna dengan hati-hati.
"aku baik-baik saja Lin". jawab Anna tersenyum bahagia seolah hari ini adalah hari Pertama Anna dilepas ke dunia manusia.
Anna melihat arah lain dan mengerutkan keningnya melihat seorang Pria yang pernah Anna lihat saat bersama Adi tapi karna suaminya yang cemburuan membuat Anna tidak bisa menyapa Pria itu.
"Ridwann?". panggil Anna melambaikan tangannya.
__ADS_1
Pria yang dipanggil menoleh dan mengerutkan keningnya melihat seorang wanita seperti sedang hamil besar memanggilnya.
"Nona? siapa dia?". bisik Linda tidak nyaman.
"di teman SMA ku". jawab Anna.
Ridwan melangkahkan kakinya ke Anna lalu memperhatikan penampilan Anna, "siapa?". tanya Ridwan.
"aku Anna? apa kamu tidak ingat aku?". tanya Anna menunjuk dirinya sendiri.
"iya aku tau kamu Anna si Penguasa Asia Group tapi bagaimana kamu bisa tau namaku?". tanya Ridwan penasaran.
"haissh.. aku teman SMA mu loh masa tidak ingat sih? kamu ketua Osisku dulu kan?". Anna tertawa kecil.
"kamu 1 SMA denganku?". tanya Ridwan yang kaget.
Anna mendekati Ridwan, "waah.. kamu sekarang berubah ya? kamu berani menatap perempuan seperti kami, ada apa denganmu? bukannya kamu jadi penerus Pesantren Besar ya?".
Ridwan menghela nafas, "Pesantren itu masih ada, aku pernah menikah dan ternyata perempuan itu sangat kejam pada keluargaku, sejak bercerai aku seperti ini".
"sangat kejam pada keluargamu maksudnya?". tanya Anna mengelus perutnya.
"ayo duduk!". pinta Anna dan Ridwan mengangguk pelan.
Linda diam mendengarkan,
"huh..! wanita itu menjual Rumah Keluargaku, beruntung tanah Pesantren itu disimpan baik-baik oleh Abi ku, kalau sampai di jual juga olehnya entah bagaimana caraku bisa hidup, aku sangat merasa bersalah dan karna itu aku seperti ini". curhat Ridwan terdengar lemah.
"ohh.. jadi perempuan berpakaian tertutup itu juga ada yang tidak baik ya?". gumam Anna manggut-manggut.
"aku juga tidak menyangka ada perempuan jahat seperti itu dengan wajah polosnya yang malu-malu itu". Ridwan terlihat frustasi mengingat sosok mantan istrinya yang membuatnya meninggalkan keluarga karna merasa bersalah yang teramat besar.
"hmm.. jadi kamu tinggal di sini sekarang?". tanya Anna.
"iya, aku tinggal di kos-an belakang, aku bekerja sebagai antar paketan". jawab Ridwan tersenyum hambar.
"aku kira imanmu sangat kuat ternyata bisa lemah juga karna wanita ya". gumam Anna membuat Ridwan menoleh padanya.
"apa maksudmu?". tanya Ridwan.
"iya.. dulu kamu takut menatap kami, imanmu sangat kuat dikit-dikit mengatakan dosa, dosa dan dosa sekarang kamu sudah berubah, itu artinya keimanan mu sudah berubah kan?". Anna.
"aku masih beribadah hanya saja..?". jawab Ridwan tidak melanjutkan perkataannya.
"karna perempuan?". tebak Anna.
Ridwan mengangguk, Ia trauma pada sosok perempuan yang selama ini dihormati olehnya ternyata sangat buruk sehingga membuat perubahan besar terhadap dirinya padahal hanya 1 perempuan tapi semua perempuan pun terkena imbas trauma nya itu.
.
.
__ADS_1
.