Cinta Setelah Pernikahan

Cinta Setelah Pernikahan
tidak sadar diri


__ADS_3

.


.


.


"terimakasih sudah mengantarku..! lain kali tidak usah ya? bukankah kamu tau aku selalu diawasi oleh banyak pengawal oleh Kakek". Anna


"aku tidak tenang kalau bukan aku yang antar". jawab Adi tersenyum.


"lalu kamu naik apa Adi? ". tanya Anna sebab Adi tadi membawa mobilnya, otomatis Adi tidak punya mobil karna mobilnya di Perusahaan.


"aku bisa naik taksi". jawab Adi mengelus kepala Anna.


Adi berbalik namun menghentikan langkah kakinya, Ia kembali menghadap Anna tangannya menangkup kedua pipi Anna, Anna mendongak menatap manik mata hitam Adi yang tengah menatap lembut dirinya.


Adi mencium kening, pipi lalu bibir Anna membuat si empunya melebarkan mata tapi tidak bisa menolak, Anna seperti patung jika Adi menyentuhnya dan Adi tidak mempermasalahkan itu karna tubuh Anna harus terbiasa juga disentuh oleh Adi jadi tidak mau melakukannya terburu-buru.


"aku berangkat ya? jaga dirimu baik-baik". bisik Adi dengan suara serak.


Anna mengerjabkan matanya lalu Adi segera berbalik dan pergi meninggalkan Anna yang masih membeku ditempat.


Anna memukul kepalanya sendiri, "ada apa Anna? kenapa tubuhmu malah menerima sentuhannya? kenapa tidak melawan tadi heh? ". oceh Anna tak percaya dirinya diam saja.


"apa aku benar sudah gila menyukainya? haiishh..! aku tidak tau perasaannya". gerutu Anna berbalik hendak masuk ke Ruangannya namun ia tersentak melihat para suster dan dokter lainnya begitu gemas dan iri melihatnya.


"hahaha". Anna tertawa canggung lalu masuk ke Ruangannya sambil mengomel-ngomel pelan.


.


di Perusahaan Asia Group,


Adi kedatangan tamu yang tidak diundang kini tengah berdiri di luar gerbang Perusahaan, Adi tidak mengizinkan Pria itu untuk menginjakkan kaki di Perusahaan Anna.


Pria itu adalah Roben dan saat Adi keluar Ruangannya Radit datang bersama Sekretaris Im.

__ADS_1


"kalian berdua? ada masalah? ". tanya Adi.


"Tuan..? jangan mau menemuinya, saya yakin dia meminta uang pada Tuan Muda untuk menebus putrinya yang sedang dalam tahanan". Sekretaris Im.


"apa Pak Roben tidak punya otak untuk berpikir Tuan? kenapa dia merasa Perusahaan ini miliknya tanpa merasa bersalah sudah makan uang Perusahaan untuk dirinya sendiri, jelas ini Perusahaan Tuan Leonard kalau ada yang mengambil uang itu hanya Nona Anna saja, tapi dia hanya Omnya Nona bukan ada ikatan darah dengan Nona Anna, tapi dia...? setelah ketahuan ambil uang Perusahaan masih berani datang minta bantu uang?? jangan lakukan apapun Tuan...! saya tidak suka manusia tembok yang tidak tau tempat dan posisi itu". omel Radit begitu panjang dan menggebu-gebu.


"kalian tenang saja..! sepeserpun aku tidak akan mengeluarkan uang padanya, tujuanku supaya dia menjual asetnya dan jatuh miskin, berani sekali dia berpikir mau menculik Istriku". kata Adi dengan serigai tipisnya.


Adi melenggang pergi meninggalkan Radit dengan Sekretaris Im yang saling pandang tidak mengerti, entah apa yang salah dengan perkataan Adi tapi mereka menebak semua ini adalah rencana Adi menyentil anak Roben.


Radit memijit pelipisnya, "apa dia punya darah keturunan Mafia?? kenapa kejam sekali? dari dulu tidak pernah berubah". batin Radit yang pusing.


.


Adi menemui Roben di luar gerbang, Ia tidak bermasalah berjalan kaki diterik matahari sore asalkan jangan mengizinkan Roben masuk ke Perusahaan Anna.


"kenapa kau datang kesini? seharusnya izinkan saja aku masuk". kata Roben dengan sinis.


Adi tersenyum tipis, "aku tidak pernah menjilat perkataanku sendiri Om..! kalau aku sudah katakan jangan menginjakkan kaki di Perusahaan Anna maka sampai kapanpun aku tidak akan menarik kata-kataku".


"uang 3 T tidak akan membuat Perusahaan goyah, kau lihat sendiri kan bagaimana kaya nya Perusahaan ini? asalkan aku terus bekerja maka Perusahaan akan tetap berjalan lancar kan? lagian aku hanya mengambil sedikit saja uang Perusahaan". ujar Roben tidak merasa bersalah sedikitpun.


"sudahlah..! jangan bertele-tele apa tujuanmu om? ". tanya Adi dengan malas


"berikan aku uang 2 M untuk menebus anakku yang masuk penjara". pinta Roben.


"2 M? ". beo Adi dengan senyum miringnya.


"jangan bilang kau tidak mau memberinya? jika aku minta pada Pamanku pasti dikasih, aku tidak ada waktu mau bertemu Pamanku jadi aku langsung kesini saja, berikan uang 2 M aku akan pergi dari sini". Roben.


Adi terkekeh, "mau tau jawabanku? ".


"kau tidak punya hak menolak permintaanku..! apa jasa-jasaku selama beberapa bulan tidak berarti saat menjadi Presdir disini ha?? beri aku uang 2 M sebagai upahku". kata Roben tak tau malunya.


"bukankah kau digaji disini? kemana saja gaji-gajimu selama berbulan-bulan hmm? memanjakan anak dan istrimu? kau terlalu bodoh Om". Adi berbicara dengan santai tanpa rasa hormat sedikitpun.

__ADS_1


"berani kau mengataiku bodoh hah? berikan saja 2 M itu jangan banyak bicara". pinta Roben dengan angkuh bercampur marah.


"kalau begitu minta saja pada anak dan istrimu yang menghabiskan semua uangmu". jawaban Adi lalu berbalik pergi meninggalkan Roben.


Roben tak terima berteriak, Ia tidak akan pergi sebelum Adi memberinya uang itu namun sampai hari sudah gelap jam menunjukkan pukul 19.23 WIB tidak ada tanda-tanda Adi akan berubah pikiran.


Roben semakin kalut saat Besta (Istri) menelfon juga mendesak Roben mendapatkan uang demi menebus Putrinya yang sudah positif memakai obat terlarang, jadi kalau mau bebas harus tebus yang sangat mahal.


"kenapa jadi beginii?? aku mau memeras Dia kenapa jadi aku yang diperas Polisi?? ". marah Roben menggelegar.


alhasil Roben pergi dari kawasan Perusahaan Asia Group, dan sangat terpaksa ia menjual Rumah nya yang cepat diambil orang lalu uang nya digunakan untuk menebus Niandra yang ditahan dipenjara terus saja menangis sampai matanya membengkak.


"kenapa kita tinggal di Rumah Kecil ini Pa?? ". protes Nian yang sudah bebas dari penjara


"pikirkan nanti Nian..! kau membuat kami harus menjual Rumah untuk biaya penebusanmu, apa kau tidak bisa menahan diri untuk tidak memakai obat-obatan terlarang itu hahh??". marah Roben menggema hingga Nian tersentak.


"sudah Ben...! aku tidak akan mendidiknya dengan benar". bujuk Besta


"urus anakmu dengan benar, jangan sampai dia keluar Rumah selama 1 bulan penuh, aku tidak mau rencanaku gagal karna perbuatan bodohnya itu". geram Roben lalu meninggalkan mereka semua.


Besta mengangguk lalu mengelus-ngelus punggung Nian.


"ada apa ini ma?? kenapa Papa menjual Rumah kita sebelumnya? bukankah Papa bisa minta di Perusahaan Asia Group? minta sama Anna saja yang kaya raya kan? ". kesal Nian.


Besta mengatakan tujuannya ingin menyandera Anna supaya Adi mau menyerahkan sebagian saham perusahaan Asia Group pada Roben tapi ternyata Roben malah masuk dalam lubang rencananya sendiri malah Nian yang membuat Roben harus mengeluarkan uang bahkan Adi tidak mau memberi uang sepeserpun.


"apa dia lupa bagaimana pengorbanan Papa selama ini ma?? hebat sekali Presdir sombong itu tidak mau memberi Papa uang, seharusnya tau dong rasa terimakasih". pekik Nian dengan marah.


"yah..! kita harus tetap di dalam Rumah kecil ini sampai Papamu mendapatkan tujuannya". bujuk Besta.


mereka bahkan tidak sadar berapa jumlah uang yang sudah dihabiskan, tapi Perusahaan Asia Group tidak meminta uang itu kembali hanya memecat Roben saja tak disangka Pria itu tidak tau malunya masih berani meminta uang pada Adi dengan dalih kerja kerasnya selama ini, bahkan berencana meminta beberapa saham Perusahaan Asia Group untuk Roben.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2