
.
.
.
"apaa? ". tanya Anna dengan galak saat Adi menatapnya sambil tersenyum.
"aku hanya tersenyum, apa tidak boleh? kamu melarangku tersenyum pada orang lain lalu pada siapa aku tersenyum kalau bukan padamu? ". Adi
Anna mendengus, "wajahmu mengerikan tau".
"wajahku? mengerikan? kenapa?". Adi memegang wajahnya sendiri.
"pucat". jawab Anna
Adi mengulum senyum manisnya dan Anna memukul kepala Adi yang masih bisa tersenyum setampan itu walau wajahnya pucat dan bibirnya tak lagi berwarna merah seperti biasa.
"sakit Anna..? apa begini sikapmu pada pasien hm?". keluh Adi mengelus kepalanya yang terasa pusing dipukul Anna.
"menghadapi Pasien sepertimu memang harus seperti ini". jawab Anna dengan senyuman manisnya membuat Adi menatap was-was padanya.
"berhati-hatilah..! aku tidak akan bersikap manis pada pasien keras kepala sepertimu". peringatan Anna.
"lalu apa yang aku kerjakan disini sayang? aku bisa mati bosan". tanya Adi dengan rengekan khasnya.
Anna menatap Adi yang tampak memelas padanya untuk mengizinkannya bekerja setidaknya lewat online saja.
"tidak boleh..! ". jawab Anna tegas menyita semua Iped, Ponsel dan laptop Adi.
Adi menganga lebar melihat barang-barangnya disita oleh Anna,
"tidur..!". titah Anna
"tapi Sayang? ". rengek Adi berusaha merayu Anna.
Anna mengabaikan panggilan Adi yang memanggilnya Sayang, Anna tidak akan terpengaruh oleh godaan Adi padahal panggilan itu tulus dari hati Adi sendiri.
"tidur..! ". titah Anna dengan mata melotot.
Adi dengan patuh segera berbaring dan memejamkan matanya,
"kalau tidak tidur awas ya? aku pasang CCTV tadi". peringatan Anna.
Adi perlahan membuka matanya, "CCTV? dimana? ".
Anna tidak menjawab malah menyelimuti Adi,, "tidur dan jangan memikirkan apapun, nanti aku akan kembali memeriksa keadaanmu, kalau sampai demamnya tidak turun aku akan bedah otakmu yang isinya hanya pekerjaan aja". omel Anna dengan galak.
"galak amat sih punya Istri". gumam Adi pura-pura ngeri.
Anna mendelik tajam segera Adi memejamkan kembali matanya, Ia harus tidur kalau tidak Anna akan marah.
__ADS_1
Anna menunggu Adi tidur karna obat yang Ia berikan memiliki efek mengantuk jadi mudah Adi tertidur saat memejamkan mata.
.
sekitar jam 09.26
di meja makan,
"bagaimana keadaan Adi nak? Kakek dengar dari Sekar dan Caca bahwa dia sakit". tanya Leonard serius.
"iya Kek..! dia demam tinggi, saat Radit pingsan karna kelelahan, Anna sudah mengira mereka bekerja terlalu berlebihan sedangkan Adi? dia malah ambil alih pekerjaan Radit saat pingsan tidak peduli dirinya juga lelah, Anna tidak mengerti kenapa mereka bekerja terlalu keras". gerutu Anna.
Leonard menghela nafas panjang, "inilah yang kakek takutkan, Adi mirip sekali dengan mendiang Papamu nak..! dia sering sakit karna suka lembur".
"begitukah? ". Sekar
Caca diam saja, Ia tidak ingat Papanya Anna tapi satu hal yang Ia ketahui adalah Leonard sangat menyayangi orang itu hingga begitu menyukai Adi yang memiliki sikap dan tingkah yang sama.
mereka berbincang cukup lama,
"terimakasih Kakek..! Anna akan jaga dia dengan baik, dia sampai demam karna bekerja di Perusahaan Kakek dan Anna tidak akan angkat tangan atau balik badan saat dia sakit". kata Anna.
Anna pun pamit pergi, Sekar menganga lebar sejak tadi sedangkan Caca menatap punggung Anna yang tak lagi terlihat.
"kakek? apa Anna mencintai Adi? ". tanya Sekar tiba-tiba ke Leonard.
"menurut kalian bagaimana nak? apa Anna mulai mencintai Adi?". tanya Leonard balik.
Caca diam melihat Sekar, "memang apa perbedaannya? dia hanya merasa bersalah ke Adi".
"hei..? kamu tidak lihat raut wajahnya berbeda? dia seperti Istri saat ini, aku merasa dia tambah manis dan tau cara menjadi Istri yang baik untuk Adi". oceh Sekar.
"sudah.. sudah.. kenapa kalian berdebat hmm? lebih baik kalian berdoa saja semoga Kakek mendapatkan Cicit". Leonard pergi dengan kursi rodanya.
Sekar tertawa cekikikan sedangkan Caca diam saja sambil memikirkan perkataan Sekar, Ia tau Adi mencintai Anna tapi mereka tidak tau Perasaan Anna karna gadis itu tidak pernah memberi tau isi hatinya pada Caca ataupun Sekar.
.
di kamar,
Anna tersenyum tipis melihat Adi yang memang tertidur, Anna pun menonton TV untuk menghilangkan rasa jenuh menunggu Adi bangun lalu memeriksa keadaannya.
"spoilernya udah keluar? ". gumam Anna menonton potongan sedikit syuting Iklan yang Ia lakukan dengan Adi.
"kenapa bisa ada spoiler nya di TV? bukannya nanti film pendeknya muncul di Akun khusus Perusahaan Asia Group ya? ". gumam Anna penasaran.
Anna tetap setia menunggu hingga akhirnya film pendek Adi dan Anna muncul juga di akun Perusahaannya Sosmed lewat ponselnya, Ia sampai kaget dengan adegan itu yang terlihat begitu manis dan romantis padahal sebelumnya Anna syuting dengan Adi kebanyakan drama nya.
"banyaknya? baru beberapa menit muncul udah banyak yang like dan komentar". gumam Anna.
Anna tak bisa membaca Komentar itu karna terlalu banyak melebihi ekspetasi nya.
__ADS_1
Anna menoleh ke Adi yang terdengar melenguh, Ia berlari ke arah Adi dan segera mengecek kondisi Adi yang demam tingginya mulai menurun.
"lumayan tidak setinggi tadi". gumam Anna lega melihat benda untuk alat ukur suhu badan (termometer).
"Adi ? kamu dengar aku?? bagaimana Adi? apa udah baikan? ". tanya Anna
"apa aku terlihat seperti Pasien habis Operasi besar hmm? ". tanya Adi mengangkat tangannya mengelus wajah Anna.
Anna tersenyum lega, "syukurlah aku cepat menolongmu, jika tidak ?? mungkin cita rasa lidahmu sudah hilang".
"apa aku boleh bekerja? ". tanya Adi melenceng namun dengan nada serius.
Anna mendengarnya pun naik pitam langsung membentak Adi yang berubah seperti anak kecil yang pasrah dibentak Ibunya,
"maaf". cicit Adi
Anna menghela nafas panjang, "tidur lagi".
"aku tidak bisa tidur lagi Anna..? kan aku udah tidur tadi kenapa tidur lagi? ". protes Adi.
"orang sakit itu harus tidur". jawab Anna
"tapi aku udah sembuhkan? aku udah baikan". bela Adi.
"jangan membuatku marah Adi..! tidur lagi". bentak Anna.
Adi menghela nafas panjang, "coba tidurlah disampingku, aku mungkin bisa tertidur lagi".
Anna menatap tajam Adi,
"kalau begitu aku kerja ya? ". pancing Adi pun segera bangkit.
Anna mendorong tubuh Adi sampai terlentang, Ia menghela nafas pun akhirnya mengalah mau tidur disamping Adi.
Adi tersenyum penuh kemenangan, Ia mengambil kesempatan memeluk Anna.
"kok begini? lepasin nggak? aku nggak minta di peluk seperti ini Adi". omel Anna menggeliat ingin melepaskan diri dari pelukan Adi.
"kamu obat tidurku Anna". bisik Adi.
Anna tak lagi bergerak mendengar deru nafas Adi mulai teratur,
"kenapa dia semakin romantis sih? kenapa aku tidak mengelak?". batin Anna.
"apa dia bilang? aku obat tidurnya? apa dia memang tidak pernah berpacaran? aku rasa dia pernah pacaran, kalau tidak? mana mungkin dia bisa bicara manis seperti itu". batin Anna.
tidak butuh waktu lama Adi kembali tertidur, Anna tertidur selama 10 menit lalu terbangun Ia mencoba melepaskan diri tapi tetap tidak bisa hingga Anna kembali pasrah dan lama-lama ketiduran lagi dipelukan Adi.
.
.
__ADS_1
.