Cinta Setelah Pernikahan

Cinta Setelah Pernikahan
malu


__ADS_3

.


.


.


beberapa saat setelah menemani Rose makan, Arka dan Adi datang menghampiri mereka.


Arka bersimpuh supaya bertatapan dengan Putri kecil kesayangannya, Ia tidak peduli penilaian orang terhadapnya yang penting Arka bahagia menatap Rose yang merupakan hidupnya.


"sayang?? kenapa sayang? Papa khawatir, apa terjadi sesuatu? ". tanya Arka dengan lembut dan khawatir memegang pipi Rose.


Caca dan Anna saling pandang, Adi melihat cara Arka mengasihi Rose pun membatin,


"Apa aku akan seperti itu jika punya anak perempuan nanti? pasti iya.. aku sangat mencintai Istriku, aku ingin punya Putri kecil juga...haissh.. apa yang aku pikirkan?".


Adi berperang batin,


Rose menatap Papanya dengan senyumannya yang sangat lucu dan cantik di usia kecilnya itu.


"tidak ada apa-apa Papa..! tadi Rose cuma kesulitan karna gaun ini". Rose menjawab dengan polos.


"yakin sayang? ". tanya Arka


"iya Papa..! kenapa Papa bertanya seperti itu?". tanya Rose balik.


"Perasaan Papa tadi tidak enak, tapi Papa senang kamu baik-baik saja sayang. lalu dimana Kakak kembarmu?". tanya Arka tersadar tidak melihat Ren.


"ohh.. katanya dia pergi sebentar dan menitipkan Rose ke kami bang..! nggak tau kemana". sahut Anna dengan raut wajah bingungnya mengedarkan pandangan mencari Ren.


"iya Bang..! Rose aman kok bersama kami". kata Caca sambil tersenyum ramah.


"kalau begitu tetap disini ya nak? Papa akan cari Kakak kembarmu, kamu mau menunggu Papa kan sayang? ". tanya Arka dengan lembut ke Putrinya.


"iya Papa..! Rose akan menunggu Papa disini". jawab Rose patuh membuat Arka gemas menciumi wajah putri kecilnya.


beberapa para tamu undangan yang melihat betapa sayangnya Arka pada permata kecilnya pun banyak yang iri, ada juga yang ingin punya anak seperti Rose yang pintar dan patuh pada kedua orangtuanya, tidak seperti mereka punya anak yang membangkang dan sulit diatur di usia kecil tidak seperti Rose yang mudah diatur diusia kecil.

__ADS_1


mereka tidak tau saja bagaimana keras kepalanya Rose kalau sudah marah, namun saat ini yang mereka lihat hanya sisi baik Rose saja.


"kalian jaga Rose ya? abang akan cari Ren". pinta Arka menatap Anna dan Caca bergantian.


"iya bang..! ". jawab kedua gadis menawan itu kompak.


Arka berbalik mengelus bahu Adi lalu pergi meninggalkan tempat itu mencari Putra nya.


"kamu udah makan Sayang? ". tanya Adi ke Anna.


Anna yang dipanggil Sayang menoleh ke Adi, Ia mengedarkan pandangannya ternyata karna banyak orang, padahal Adi pernah memanggil Anna Sayang saat berdua.


"Udah Abang..! Kak Anna sudah makan bersama Rose". jawab Rose tersenyum lebar mendongakkan kepalanya melihat Adi.


Adi mengelus kepala Rose, "kamu cantik sekali Tuan Putri kecil, wajahmu mirip sekali dengan Papamu".


Rose menyibakkan rambutnya dengan angkuh malah terlihat lucu hingga Adi terkekeh, Adi langsung menaruh rasa sayang pada Putri Kecil Arka dan Nana yang bisa membuatnya gemas dan lucu.


"semoga kita Punya anak seperti Rose yang sayang". kata Adi menatap Rose dengan senyuman.


Anna kaget karna Adi mengatakannya didepan banyak orang sementara Caca disamping Anna menahan tawa melihat wajah Anna merah sangat merah seperti tomat.


.


Arka menatap datar Putra kesayangannya, "apa kamu pelakunya nak? ". tanya Arka serius.


Ren diam saja sambil menyibukkan diri makan kue-kue yang ada didekatnya, Rose hanya menatap kakak kembarnya dengan polos padahal hatinya kesal karna Kakaknya yang membalas perlakuan anak itu.


"sebenarnya apa salah anak itu nak? apa dia melukai Rose? ". tanya Arka yang tau anaknya menyerang pasti ada sebab.


Adi sampai terperangah menatap Putra kecil Arka,


"bagaimana dia tau kalau anak itu alergi cumi? ". gumam Adi tidak percaya.


"sangat mudah baginya Adi". jawab Anna yang tau kemampuan retas Ren.


"sangat mudah? ". beo Adi menoleh ke Anna.

__ADS_1


Arka membawa Ren dan Rose namun bibir Pria tampan yang sudah punya anak itu tak berhenti mewawancarai Putranya yang melukai anak perempuan tadi, tapi Ren keras kepala tidak mau menjawab pertanyaan Arka namun Arka tidak juga menyerah selalu mengoceh pada Putra Kecil nya yang berwajah datar itu namun masih sangat imut.


tinggallah Adi, Anna, Caca dan Radit di Ruangan itu bersama para Pelayan yang sibuk membersihkan tempat acara makan bersama mereka.


"ahahahaha...! ". tawa Radit menggelegar seketika hingga Adi, Anna dan Caca menatap aneh ke Radit.


"kenapa anak sekecil itu bisa memasang wajah datar?? ya Tuhan Imut sekali, apa sebagian sifatnya turun dari Tuan Arka?? memang benar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.. bagaimana dengan anakmu nanti Adi? apa dia juga bertingkah sama? haha... aku tidak sabar melihat anakmu nanti". oceh Radit.


Adi mengulum senyumnya, "yah..! aku juga ingin punya anak seperti mereka".


Caca melihat ke arah Anna yang semakin malu saja, wajah gadis itu kembali merah seperti tomat, selalu saja mereka menyindir anak, bohong Jika Anna mengatakan tidak mau anak tentu saja Ia ingin punya anak seperti Sikembar namun terlalu malu mengakuinya pada Adi.


dikamar tepatnya di Mansion Anna,


"kenapa wajahmu merah Anna? ". tanya Adi melihat wajah Anna sejak tadi merah sangat menggemaskan.


"kenapa bicaramu tidak pernah disaring hah? aku malu kamu bicara anak pada semua orang". kesal Anna.


"akuu? apa salah jika aku ingin punya anak? ". tanya Adi malah tidak merasa bersalah.


"tapi jangan katakan pada bang Arka dan didepan sahabatmu itu, apa kamu mau punya anak? dari rahim siapa? ". tanya Anna dengan geram.


"tentu saja dari rahimmu, memangnya aku punya anak dari perempuan mana? aku punya istri tentu saja Istriku yang harus mengandung anakku". jawab Adi dengan serius.


Anna semakin malu dan segera beranjak pergi masuk ke kamar mandi lalu menguncinya.


Adi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "aku hanya bicara saja? apa dia malu? bukankah aku menyelamatkan reputasinya? tidak mungkin aku mengatakan pada semua orang kami belum melakukan hubungan suami-istri padahal kami sudah menikah, apa kata orang nanti terhadapnya?".


di westafel Anna terus saja mencuci wajahnya,


"kenapa aku maluu?? Anna?? ku mohon jangan bertingkah seperti anak remaja yang baru jatuh cinta hah? kamu udah dewasa kan?". oceh Anna menatap wajahnya sendiri dipantulan cermin.


Anna memilih berendam di Bath Up dengan aroma khas Lavender supaya Ia lebih tenang walau sudah larut malam, Ia tidak mau memikirkan bayang-bayang anak itu hanya mengotori otak polosnya padahal Anna sudah dewasa dan seorang Istri. harga dirinya membuatnya bersikap angkuh dan enggan mengakui perasaannya terhadap Adi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2