
.
.
.
Anna tertawa saja mendengarnya,
"ayo kita tidur! ". ajak Anna.
Adi menganggukkan kepalanya, kali ini bukan Anna yang masuk memeluk Adi saat tidur melainkan Adi lah yang memeluk Anna dengan posesif hingga Anna merasa dirinya punya anak.
"melahirkan memang tidak mudah tapi bahagia saat melihat buah hati akan menghilangkan rasa sakit itu". batin Anna mengelus kepala Adi dengan lembut.
.
ke esokan harinya,
Adi bersiap diri dan Anna datang dengan penampilan sederhana nya mengenakan rok, Adi merangkul pinggang Anna dan Anna mendongak menatap bola mata Suaminya itu.
"ada apa? aku tidak terima penundaan, temani aku untuk senam". gerutu Anna.
Adi tersenyum, "lain kali jangan mengurusku sayang, aku bisa merawat diri sendiri dan kamu harus fokus untuk bayi kita, aku bisa gila nanti kalau sampai kamu koma seperti wanita itu".
Anna mengulum senyum, "melahirkan itu tidak ada yang mudah Hubby, tapi satu hal yang harus kamu tau, wanita adalah makhluk istimewa yang bisa melahirkan calon penerus di muka bumi ini".
"aku tau". jawab Adi mengerti.
"lalu kenapa kamu gelisah hmm? aku saja tidak takut, kamu hanya perlu bertanggung jawab penuh atas diriku". senyum lebar Anna.
Adi mencium kening Anna, "aku akan bertanggung jawab penuh sayang, aku akan membuatmu sebagai ratu sampai kapanpun dan aku hanyalah pelayan mu saja".
Anna semakin terbahak tapi mengangguk dan mengulurkan tangannya, Adi menyambutnya lalu mengecupnya gemas matanya hanya tertuju pada Anna saja.
.
Adi menemani Anna ke gedung olahraga khusus Ibu hamil, setiap bulannya akan berpindah Ruangan sesuai dengan umur kandungan.
kini Anna dan Adi menjadi pusat perhatian Ibu-Ibu hamil yang datang seorang diri tanpa di temani oleh suami yang sibuk bekerja, Anna mengingatkan mereka pada Nana yang juga senam di tempat ini namun beda waktu atau hari senamnya.
__ADS_1
"usia kandungan Nona berapa bulan? ". tanya pekerja gedung senam (ibu hamil) dengan sopan.
"2 bulan". jawab Adi
Anna tersenyum menatap pekerja itu, lalu Anna di beri nomor Ruangan dan dengan sopan meminta Anna pergi ke Ruangan itu untuk melakukan senam ibu hamil khusus usia kandungan 2-3 bulanan.
Adi membantu Anna berjalan ke Ruangan senam lalu mendudukkan Anna dengan hati-hati, Ibu pelatih Senam tersenyum melihat Anna ditemani oleh sang suami yang super sibuk tapi bisa meluangkan waktu untuk istrinya.
"aku disana sayang, kalau haus panggil aku ya? ". bisik Adi menunjuk tempat duduk di sudut Ruangan, Anna melihatnya dan menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.
Adi mengecup sayang kening Anna lalu mengelusnya dan pergi dengan langkah lebar duduk di Kursi sudut Ruangan,
"saya iri suami Nona bisa ada disisi Nona saat hamil".
Anna menoleh ke samping dan tersenyum malu, "aku hanya memintanya".
"anda sangat dicintai Nona, sangat beruntung".
"apa suami kalian tidak menemani? ". tanya Anna dengan polos.
Anna berpikir semua suami akan menemani Istrinya senam sehat tapi ternyata tidak, di Gedung senam ibu hamil ini hanya Nana saja yang setiap datang untuk senam sang suami tidak pernah absen menemani Nana dan sekarang giliran Anna.
pelatih senam meminta Anna mengenalkan diri, sementara Adi menerima panggilan telfon namun tidak pergi dari sana walau tidak terlalu dengar pembicaraan Radit tidak akan membuat Adi keluar dari Ruangan senam itu.
"Dii?? kenapa berisik sekali? kau ada dimana? Cafe? Bar? atau dimana? ". cecar Radit.
"sudah aku bilang aku menemani Istriku senam wanita hamil". jawab Adi.
"lalu bagaimana dengan rapat yang kemarin sudah di janjikan hah? ". tanya Radit mengomel
"tunda saja, besok akan aku lakukan secara Online". jawab Adi dengan enteng.
Radit menggeleng kepalanya lalu menutup panggilan Pak Suami Bucin itu terhadap Anna, mau bagaimana lagi? nama nya saja sudah cinta.
Radit lega ternyata hubungan Anna dan Adi baik-baik saja, Ia sempat merasa bersalah pada Adi membuat Pria itu down memikirkan Anna yang akan melahirkan 3 anak sekaligus.
"mengganggu saja". umpat Adi lalu menyimpan ponselnya.
Adi duduk dengan tenang lalu menatap Anna yang tengah mengikuti senam sehat, Ibu Pelatih nampak membantu gerakan Anna yang bisa dikatakan Ibu Hamil baru datang di Ruangan itu.
__ADS_1
"dia sangat cantik". gumam Adi kembali jatuh cinta melihat Anna yang terlihat sangat cantik saat tertawa dan nyengir ke Ibu Pelatih yang mengajarinya.
.
Adi mendengar perkataan Ibu pelatih bahwa Anna diberi susu Ibu hamil, Adi bisa membeli di supermarket lalu membuatnya di Dapur Ruangan.
Adi dengan cepat bergerak keluar Gedung membeli susu yang biasa diminum Anna, Istri-istri pengusaha yang bersama Anna sungguh Iri, jika mereka yang beli susu harus beli sendiri tapi Anna dibelikan oleh Suami membuat mereka juga ingin diperlakukan seperti itu oleh suami.
"tapi kenapa suami kalian tidak mau menemani? bukankah kalian melahirkan pewaris nya? ". tanya Anna heran terhadap keluhan wanita hamil disekelilingnya.
"mereka ya lebih utamain kerjaan lah Anna, mereka tidak mau kehilangan Klien karna kami dan jatuh bangkrut lalu saat lahiran?? hidup ini butuh uang bukan Cinta tapi kamu punya Cinta dan Uang Anna".
Anna langsung malu di puji dan diirikan oleh para wanita itu, sebelumnya mereka hanya mendengar cerita tentang Nana dengan Arka di gedung ini tapi belum pernah melihat langsung, sekarang melihat kejadian itu langsung tapi Adi dan Anna pasti tidak berbeda jauh dengan Arka dan Nana.
Adi kembali membawa 2 kantong plastik, semua yang melihatnya menganga sebab Adi langsung beli banyak bukan 1 atau 2 tapi 4. perhatian Adi ke Anna seperti seorang Pengawal ke Nona nya, mereka terlihat sangat manis padahal Adi tidak buat-buat memang Ia akhir-akhir ini menjadi takut jika terjadi sesuatu dengan Anna.
.
"dahh?? kami pulang ya? ". lambai tangan Anna dengan ceria.
"daadaaa". sahut mereka semua sambil tersenyum.
Adi tidak melihat siapapun, hanya fokus membawa Anna saja dan Adi juga berjongkok didepan Anna memasang sepatu standar tidak tinggi sama sekali, Adi tidak mau Anna keseleo dan terluka seperti Intan hingga berujung di Rumah Sakit.
di dalam mobil Anna senyam-senyum melihat Adi,
"kenapa sayang? ". tanya Adi mengelus kepala Anna.
"mereka sangat iri kamu bisa menemaniku By, sementara suami mereka tidak ada waktu menemani mereka dari awal kehamilan". jawab Anna tersenyum cerah.
Adi mengulum senyum, "Pria sejati harus bertanggung jawab penuh, uang bisa dicari tapi rasa sakit tidak bisa dibeli sayang".
Anna menyukai kata-kata Adi yang sangat benar, "tapi obat bisa dibeli kan? ".
Adi terkekeh, "tentu saja, aku tidak mau seperti Pria di luar sana yang mau enaknya saja tidak bertanggung jawab".
.
.
__ADS_1
.