Cinta Setelah Pernikahan

Cinta Setelah Pernikahan
rasa takut


__ADS_3

.


.


.


di tengah malam,


"aaahhhhh?". pekik Anna tiba-tiba.


"Anna?". Sekar memegang tangan Anna dengan raut wajah khawatir.


Adi terbangun segera berlari hingga kakinya menabrak sofa, Ia melompat-lompat kesakitan tapi tetap ke arah Anna, saking khawatirnya dengan Anna tak ingat lagi dengan rasa sakit di kakinya.


"Ada apa?". Reyhan pun terbangun mengucek kedua matanya mendengar kebisingan mereka semua.


Reyhan melihat Adi yang melompat-lompat dan mendekati Anna, Reyhan segera bangkit dan pergi ke Sekar.


"Sayangg?". Adi memegang pipi Anna.


"s.. sakit..? Hubby?". pekik Anna.


"sepertinya sudah mau lahiran Di, cepat panggil dokter...!". teriak Sekar.


"eh.. iya.. iya". sahut Adi berlari keluar Ruangan,


"dia benar-benar sudah tidak waras". gerutu Reyhan yang segera menekan tombol darurat berkali-kali.


Adi terlalu khawatir dengan keadaan Anna sampai melupakan tombol darurat memanggil tim medis.


"Anna?? Anna?". Sekar memegang tangan Anna dengan khawatir.


Reyhan melihat Istrinya begitu sedih pun kembali mendorong brankar menjadi lebih dekat dengan Anna.


"jangan panik Anna..! jangan panik, tarik nafas.. tarik nafas...". pinta Sekar mencoba mencari kesadaran Anna.


Anna memang keliatan panik lalu menarik nafas dan menghembusnya, Anna mendengarkan aba-aba Sekar yang masih bisa menyemangatinya.


"ingatlah Anna..! kamu sudah menantikan kehadiran anak-anakmu, ini waktunya kamu berjuang melahirkan buah hatimu Anna..! tetaplah bersama kami". pinta Sekar dengan raut wajah khawatir.


Anna mengangguk-ngangguk lemah, Ia terus menarik nafas dan membuangnya perlahan hingga Dokter Henny tiba bersama para perawat lainnya.


"sepertinya bayi-bayi Nona Anna sudah tidak sabar untuk melihat dunia ini". gumam Dokter Henny lalu menoleh ke para suster,

__ADS_1


"pindahkan Nona Anna ke Ruang Persalinan, cepat..!". titah Dokter Henny.


"baik dok". jawab para suster serentak lalu menarik Brankar Anna membawa Anna pergi dan terlepas dari genggaman tangan Sekar.


"Anna..? semangatlah..! berjuanglah demi anak-anakmu". teriak Sekar.


Anna mengangguk-ngangguk, Adi tiba dipintu dan melihat Anna nya dibawa segera Ia membantu mendorong Brankar menjadi lebih cepat.


"tenang sayang..? tenang ya? ada Adi yang akan menemani sahabat baikmu". bujuk Reyhan memeluk Istrinya yang menangis dipelukan Reyhan.


"a.. aku takut, semoga saja dia baik-baik saja suamiku, dia melahirkan 3 anak sekaligus". isak tangis Sekar.


"dia akan baik-baik saja, dia pasti akan baik-baik saja". jawab Reyhan terus mengulangi kata-katanya supaya Istrinya menjadi lebih tenang.


.


Leonard berlari ke arah Ruangan Persalinan Anna, Ia masih setengah mengantuk saat dibangunkan oleh telfon Reyhan tapi mendengar Anna mau melahirkan dengan cepat rasa kantuknya hilang entah kemana, Adi tidak sempat mengabari Leonard sebab nyawanya saja entah kemana melihat Istrinya kesakitan itu.


Mama Eve dan Papa Andi yang juga terbangun segera berlari ke arah kamar VVIP 1 yaitu kamar Anna tadi sebab mereka tau Sekar sedang bersama Anna di kamar itu.


.


"sayang...? Sayang..? kuatlah.. ku mohon..! jangan buat aku takut". bujuk Adi menghapus air mata nya yang terus saja membasahi pipinya.


tiba di Ruang Persalinan, Dokter Henny memantau waktu yang tepat untuk Anna melahirkan tapi jalannya belum cukup harus menunggu lagi, sementara Leonard mondar-mandir khawatir di luar ruang persalinan karena Ia tidak diizinkan masuk hanya Adi saja yang boleh masuk.


"kenapa lama sekali dok? istriku sudah kesakitan". teriak Adi yang terus menggenggam tangan Istrinya.


"waktunya belum tiba Tuan, kita harus menunggu jalannya terbuka". jawab Dokter Henny.


"apa tidak ada cara untuk membuka jalannya?". teriak Adi yang sudah tidak waras.


"tidak ada Tuan". jawab Dokter Henny.


Adi menjerit khawatir, Ia frustasi sendiri melihat kesakitan Istrinya yang belum juga melahirkan, wanita saat melahirkan yang paling menyakitkan bukan saat melahirkan melainkan saat menunggu buka jalannya lahiran, itulah yang dirasakan Anna saat ini.


menunggu jalannya terbuka, Adi terus saja menangis dan memaki semua orang tidak ada yang mau memasuki hati perkataan Adi sebab mereka tau Adi hanya bertindak tidak sengaja karna terlalu takut melihat keadaan Istrinya itu, terkadang menjadi seorang dokter yang menjadi penyelamat pun harus mengikuti aturan.


sekitar jam 5 pagi,


"jalannya sudah terbuka..! cepat siapkan semuanya". teriak Dokter Henny.


"baik dokter". jawab para suster yang berlarian kesana-kemari melakukan tindakan masing-masing.

__ADS_1


para suster memasang selang infus, mempersiapkan kantung darah dan perlengkapan lainnya.


Adi menyemangati Istrinya walau dia sendiri sekarang sedang kacau,


"sayang..? sebentar lagi anak kita lahir sayang, aku mohon tetaplah bersamaku". isak tangis Adi seperti dirinya saja yang paling menderita padahal Adi tidak merasakan rasa sakit Istrinya itu.


Anna meremas dan mencakar-cakar lengan suaminya, Ia juga memekik menarik rambut Adi yang bukan sakit karna rambutnya ditarik Anna tapi rasa sakit yang diderita Istrinya membuat hati Adi lebih sakit.


Dokter Henny meminta Anna untuk melakukan pemanasan dan mengatakan aba-aba yang harus Anna turuti, Anna mengangguk lemah, keringat sudah membanjiri pelipisnya, rambutnya sudah berantakan.


"dorong..!". titah Dokter Henny.


Anna mendorong dengan sekuat tenaga, padahal yang lahir anak pertama tapi terlihat mudah sekali keluarnya seperti anak pertama Anna memang tidak akan menyusahkan Anna nantinya, lahir Anna kedua juga tidak terlalu dramatis hingga di anak bungsu.


"aaahh..? dokteeeerrr...?? tidaaaak.. ke.. kenapa..? aaah... Adiii.. ini semua karnaaamuu? hiks.. hiks.. aaaahh". jerit Anna dramatis.


"maafkan aku sayang..! maafkan aku". ucap Adi dengan sesegukan.


para suster ada yang gemas melihat itu tapi masih bisa fokus dengan tugas mereka sebagai perawat, mereka tidak boleh terlalu menggunakan hati yang akan berakhir petaka untuk pasien nanti seperti yang dilakukan Adi, Adi seperti itu karna mencintai Anna.


"tetap tenang Nona.. tetap tenang! lakukan seperti tadi". pinta Dokter Henny yang teringat adegan Nana yang mengatakan hal yang sama pada Arka.


Dokter Henny menebak anak bungsu Anna ini adalah perempuan, dan ternyata benar memang perempuan.


"sudah Nona..! anak bungsu Nona perempuan". jawab Henny tersenyum lebar memberinya ke suster untuk dibersihkan.


"huh.. huh..!". Anna mengatur nafas.


saat anaknya lahir, rasanya penderitaan dan rasa sakit Anna sudah tidak ada lagi.


"apa ada lagi dok?". Tanya Adi yang sudah tidak waras lagi.


"tidak ada Tuan, kedua Putra Anda dan Putri Anda sudah hadir di dunia ini". jawab dokter Henny.


"benarkah dok? kenapa saya tidak dengar suara tangis mereka?". tanya Adi.


"itu karna Tuan hanya terlalu fokus dengan Nona Anna, ketiga anak-anak anda sudah lahir Tuan". jawab dokter Henny.


dokter Henny meminta Adi untuk menjaga kesadaran Anna sementara Ia akan melakukan tugas terakhirnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2