
.
.
.
Bambang dan Bunga terpaksa pergi dengan tangan kosong tanpa mendapatkan apa-apa, mau marah pun pada siapa? Adi orang yang sangat sibuk tentu saja sulit untuk ditemui ditambah lagi Istri nya Adi sangat berkuasa.
"sebenarnya Tuan Adi ada masalah apa? kenapa dia terlihat baik-baik saja dengan Suaminya? istirahat? habis malam bersama?". cecar Bambang dengan geram.
"Papa yang bilang mereka bertengkar kan? dari mana Papa yakin kalau Adi memang sedang bermasalah dengan Istrinya yang sombong itu?". bentak Bunga.
"jelas dia marah-marah saat aku temui di parkiran Mal, mataku seperti mau keluar dari tempatnya untuk mengawasinya kapan Adi keluar dari Istananya itu hah? saat aku bertemu dengannya malah marah-marah, aku pikir dia bermasalah dengan Istrinya". balas Bambang dengan marah juga.
"aku pikir dia bilang langsung ke Papa". kata Bunga dengan frustasi.
"sekarang bagaimana caranya mengembalikan Perusahaan ha? semua sudah terlambat". maki Bambang.
"salah Papa sendiri yang tidak bisa mengelola dengan baik". jawab Bunga.
"oh menyalahkanku? apa kau tidak tau kalau semua ini salahmu ha?? kau sama sekali tidak berguna". geram Bambang.
"aku yang sudah membesarkan nama Perusahaan Papa dengan banyak cara aku lakukan sampai aku harus menjadi jal*ng, sekarang malah menyalahkanku?? Papa saja yang tidak punya bakat bisnis seperti Adi". marah Bunga.
"lalu kenapa kau tidak jadikan dia milikmu?lakukan saja dengan cara sebelumnya? kalau kau menjadi jal*ngnya kau juga yang hidup enak". dukung Bambang yang semakin naik pitam jika membahas tentang Adi.
"yaah.. aku akan lakukan cara apapun lalu membuang Papa ke Panti jompo". teriak Bunga.
Bambang menarik lengan Bunga lalu menamparnya dengan keras hingga sudut bibirnya berdarah, Bunga menjerit histeris lalu mengambil salah satu guci besar lalu melemparnya sekuat tenaga ke Bambang yang langsung tak sadarkan diri.
"P.. Papa?". Bunga ketakutan melihat Bambang yang tak sadarkan diri ditambah darah bercucur begitu deras dari kepala Bambang.
"ba.. bagaimana ini?". gumam Bunga gemetar memegang kedua tangannya sendiri.
Bunga menggigit bibir bawahnya lalu terdiam beberapa saat sampai Ia menjadi lebih tenang dan membangunkan Bambang lagi yang sudah tidak bernyawa.
"Papa..? Papaaa?". Bunga menangis memegang wajah Bambang.
Bunga menangis keras, Ia tidak punya siapa-siapa amarahnya membuat nya secara tidak sengaja membunuh Papanya sendiri yang sudah memukulnya, Bunga menyesal tapi Papanya juga sudah tiada.
".a.. .aku tidak mau ditangkap polisi". gumam Bunga menghapus air matanya.
__ADS_1
Bunga mengumpulkan keberaniannya membawa Jasad Bambang tanpa sepengetahuan orang lain atau CCTV lalu membawa Papanya itu ke Desa sebelah dan dikuburkan disana, Ia kembali ke Apartemennya membersihkan semua bukti dirinya yang tidak sengaja menghabisi nyawa Bambang.
"a. aku masih muda..? aku tidak mau di Penjara". gumam Bunga membuat rekayasa kematian Bambang dengan drama serangan jantung melihat saham B Group jatuh.
Bunga terpaksa menjual gedung Perusahaan B Group lalu uangnya, Ia membeli Apartemen baru yang lebih sederhana dan yang lama Ia jual karna mengingatkannya akan kematian Bambang. Bunga menutupi semuanya dengan baik dan hidupnya menjadi aman selama 1 bulan penuh tanpa kejaran atau kecurigaan polisi setelah kematian Bambang.
.
di tempat lain,
"Apaaa?? bagaimana bisa?". pekik Anna tidak percaya cerita Adi.
"iya sayang". jawab Adi dengan tenang.
"lalu? dimana dia membuang jasad ayahnya?". tanya Anna penasaran.
"di Bogor mungkin, aku tidak tau karna tidak tanya pada pengawal itu, yang pasti dia kubur dengan layak tanpa sepengetahuan siapapun". jawab Adi dengan santai.
"huh..! syukurlah dia tau diri sebagai anak, aku rasa dia tidak sengaja membunuh Ayahnya yang serangan jantung karna nya". gumam Anna.
"kalau memang serangan jantung kenapa dia tidak bawa ke Rumah Sakit? biar Dokternya saja yang mengumumkan kematian Ayahnya, setidaknya dia tidak akan setakut itu kan?". oceh Anna.
Adi menjelaskan bahwa orang yang tidak sengaja berbuat salah pasti takut kesalahannya diketahui orang lain apalagi hukum berjalan, Bunga pasti takut ditangkap polisi maka nya semua di tutupi apapun penyebab kematian Bambang.
Adi terkekeh, Ia merasa Istrinya itu hanya membual saja.
"kamu mau apa sayang?". tanya Adi dengan lembut mengelus kepala Anna.
"aku mau ke Apartemen Caca". jawab Anna dengan memelas.
"kenapa ke Apartemen Caca?". tanya Adi menaikkan sebelah alisnya.
"Mami Erie harus ke Luar Kota dan meminta Sekar menemani menantunya supaya tidak kesepian". jawab Anna.
"lalu? Apa Mama Eve mengizinkan?". tanya Adi.
"itu drama sesama mertua". jawab Anna santai.
Adi terkekeh, "jadi kamu mau tinggal di tempat tinggal Caca bersama Sekar?". tanya Adi dengan gemas yang tau maksud tujuan Anna.
Anna menyeringai lebar dan mengangguk pelan, "boleh ya Hubby?? suami mereka mengizinkan dengan syarat mereka juga harus tinggal bersama Istri mereka".
__ADS_1
"maksudnya Reyhan juga datang?". tanya Adi dibalas anggukan oleh Anna.
"kalau begitu aku juga akan tidur disana". jawab Adi lagi dengan senyuman.
Anna tersenyum lebar, "baiklah.! tapi aku tidak mau Linda ikut, nanti kasihan Linda tidak punya teman".
"bukankah ada Pengawalnya Sekar?". tanya Adi heran.
"entah..! kata Sekar Pengawalnya sedang sakit dan tidak bisa melindungi Sekar". jawab Anna santai.
drama mereka cukup panjang, akhirnya Adi mengizinkan Anna tinggal di Apartemen Caca bersama Sekar, 3 sahabat baik itu ingin tinggal 1 atap lagi.
.
"Sekaaaarrr!!". heboh Anna memegang lengan Sekar yang terkekeh.
"udah lama kita enggak kumpul ya? hampir 1 bulan cuma telfonan sama VC aja". gerutu Caca.
"ayo masuk! anggap aja Rumah sendiri". ajak Anna mengabaikan Caca yang menjatuhkan rahangnya.
perdebatan pun terjadi antara Caca dan Anna.
Sekar tertawa cekikikan, "kalian selalu berdebat, padahal kita jarang bertemu". omel Sekar.
Linda mengantarkan koper berisi barang-barang Anna yang menginap selama beberapa hari Apartemen Caca bersama Sekar, ketiga wanita cantik itu akan tinggal bersama.
Linda menepuk jidatnya mendengar keributan Sekar, Caca dan Anna seperti emak-emak sudah punya anak saja padahal mereka masih calon ibu belum menjadi seorang Ibu.
"Nona saya pulang!". izin Linda.
"ah.. iya Lin..! hati-hati ya?". lambai tangan Anna sambil tersenyum cerah.
Linda berpamitan pada Sekar dan Caca yang juga melambaikan tangan mempersilahkan Linda pergi, tak lupa mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengantar Linda ke depan alasannya sudah jelas karna malasnya bumil, lalu Linda pergi dari sana sambil terkekeh.
"persahabatan mereka sangat erat". gumam Linda dengan gemas.
Anna bersama kedua sahabat baiknya mulai mengoceh tentang derita ibu hamil berbeda dengan Caca yang sibuk mengocehi suaminya yang merasakan morning sickness nya, waktu berlalu begitu cepat saat mereka bersama.
.
.
__ADS_1
.