
.
.
.
ke esokan harinya,
Anna berkemas setelah mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, Ia menggendong Fitri kemana-mana tapi saat hendak pergi.
"mau kemana nak?". tanya Leonard.
"Anna ada keperluan diluar Kek..! Anna belum bisa tenang sebelum kasus penculikan anak selesai, Anna mau menemui Orangtua yang belum menemukan anak-anak mereka yang hilang". jawab Anna mendekati Leonard sambil menggendong Fitri.
"Fitri sama Kakek aja ya? biar Kakek yang urus". pinta Leonard.
"tapi Kek". Anna ingin menolak tapi Leonard terlihat serius.
"nak..? kamu fokus saja menyelamatkan anak-anak mereka yang diculik belum kembali, biar Fitri sama Kakek saja, Kakek bisa mengurusnya lagian botol asimu banyak kan?". Leonard.
Anna terpaksa memberikan Fitri ke Leonard tapi sebelum diberikan ke Leonard, Anna menciumi putri kesayangannya yang tertawa riang diciumi oleh Anna.
Leonard tersenyum menerima Fitri, Ia tau Anna berhati baik tapi jujur Leonard juga takut Fitri menjadi halangan Anna nanti saat membantu orang, bisa saja Fitri nanti rewel, ganti popok, Pup (buang air besar), dan banyak hal lainnya.
"Mommy pergi ya sayang? Mommy janji akan pulang cepat demimu ya?". Anna berkata sambil mengelus pipi Fitri.
"bilang dadah Sayang..? dadah Mom?". Leonard mengajari Cicitnya melambai ke Anna.
"dadahhh.. Mom". balas Fitri dengan ceria nya meniru Leonard.
Anna tersenyum cerah, Anaknya tidak rewel ditinggal dengan Leonard hanya Anna saja yang tidak mau meninggalkan anaknya.
.
.
Anna berkumpul dengan Kedua orangtua rata-rata dari anak yang masih menghilang, Ia minta bantuan Polisi untuk mengumpulkan mereka semua.
"sabar ya Pak..? Buk..? Kakak Nana saya akan datang". pinta Anna sopan.
mendengar Nana akan datang membuat mereka semakin senang, kemungkinan besar anak-anak mereka akan kembali dengan selamat, sebab Nana punya pekerja yang sangat hebat yaitu Hacker tersembunyi yang sampai sekarang identitasnya tidak diketahui padahal Hacker itu adalah Nana sendiri.
__ADS_1
pintu di buka, semua yang ada di Ruangan itu langsung menoleh dan Anna berlari ke pintu melihat Nana datang dengan raut wajah cemas.
"ada apa kak?". tanya Anna khawatir.
"tidak sayang, kakak hanya takut kalian menunggu terlalu lama. maafkan kakak ya?". ucap Nana memelas.
"iya kak, tapi memangnya ada apa kak? apa ada masalah di jalan?". tanya Anna sambil merangkul Nana berjalan berkumpul dengan Pasutri yang sedang mengkhawatirkan keadaan anak mereka.
"tadi ban mobil kakak pecah, kakak lupa ban nya sudah botak". cengir Nana.
"kakakku juga bisa lupa ya". kekeh Anna dapat pukulan sayang saja dari Nana.
"kamu lupa kalau kakak sudah tua sayang". kesal Nana.
"kata siapa kakak sudah tua? sekarang penampilan kakak seperti anak gadis 20 tahunan". protes Anna.
Nana tertawa, "Ren dan Rose sudah berumur 13 tahunan sayang, artinya kakak sudah tua".
"aduuh.. kakak ini bicara apa sih? kenapa jadi ngomongin tua, kakak awet muda loh". gerutu Anna
"maka nya kakak pelupa karna sudah tua". gerutu Nana juga.
sementara para Pasutri dari berbagai daerah itu hanya melongoh saja melihat perdebatan mereka, ada yang sempat melupakan masalah anak mereka yang hilang karna melihat Anna dan Nana secara langsung sangatlah menawan dibanding saat dilihat dari TV atau berita sosmed.
"langsung saja ya? kakak tidak ada niat berdebat denganmu sayang". potong Nana tiba-tiba.
Anna tersenyum lebar lalu merangkul lengan Nana, "kakak jangan bilang kayak gitu lagi ya? kakak itu dewi, kalau merasa sudah tua itu membuat kami wajah pas-pasan ini tersindir". rengek Anna dengan manja.
semua yang mendengar perkataan Anna ingin sekali muntah darah, wajah secantik Anna dikatakan pas-pasan bagaimana dengan wajah jelek? apa yang pantas untuk mereka? sungguh Anna sudah tidak waras mengatai wajahnya sendiri pas-pasan.
Nana menghela nafas mendengar perkataan Anna, Ia ingin menjawab tapi masalah tidak akan selesai nanti, sebab Nana harus menyelesaikan masalah Pasutri yang kehilangan anak itu.
.
sidang pun dibuka antara Pasutri kehilangan Anak dengan Anna dan Nana yang terlihat serius dengan duduk mereka yang anggun begitu berkelas tapi masih terlihat sebagai perempuan yang sopan dan elegan.
"apa kalian tidak meletakkan alat pelacak di tubuh anak-anak kalian?". tanya Anna to the point.
"kalian tau alat-alat pelacak kan? seperti Handphone tapi tidak mungkin kalau anak-anak yang masih dibawah umur, mungkin saja yang lain". Nana menyahut bahkan mengoceh sendiri juga terlihat imut.
"iya kan kak? seperti anting, cincin, kalung, gelang atau apapun". jawab Anna menoleh ke Nana.
__ADS_1
semua yang ada di Ruangan itu seketika meribut, ada yang baru menyadari kebodohan mereka yang saking paniknya melupakan hal yang sangat penting itu.
segera saja Anna dan Nana melapor ke Polisi dibantu oleh para orangtua yang masih kehilangan anak, Polisi bergerak cepat mencari dengan bantuan alat pelacak yang ternyata sudah dijual di kota-kota sehingga mereka kehilangan jejak.
Anna dan Nana tidak menyerah, esok harinya pun mereka kembali turun tangan mencari dengan cara Nana tapi belum memberi tau polisi.
"Kaaakk?". pekik Anna.
"iya". sahut Nana berlari ke arah Anna.
Anna menunjukkan di layar ponsel ada berita tentang Pria buronan yang terlihat di kedai minuman kecil membeli rok*k.
"cepatt kita kesana!". ajak Nana serius.
"iya kak". sahut Anna mengangguk.
mereka berlari sambil bergandengan tangan, tak lupa mereka membawa para orangtua yang masih belum bisa tenang dengan anak-anak mereka yang hilang.
.
di kedai Kecil, Kota terpencil.
semua warga dari kota terdekat datang ke kedai yang langsung Viral itu melapor ke polisi setempat, Nana dan Anna datang ke tempat itu menjadi tontonan banyak warga yang suka dengan kebaikan hati mereka.
Nana dan Anna bukan korban tapi paling berjuang untuk para orangtua yang kehilangan anak, hanya seorang Ibu saja yang tau kesedihan kehilangan anak itu hingga mau membantu orang lain.
"Ibu? apa Ibu yang melihat buronan kami Bu?". tanya Anna dengan sopan ke Ibu kedai kecil.
"iya neng..! Iya, tadi Mbah melihatnya langsung, kemarin itu mbah tidak punya hp tapi cucu mbah memberi tau foto orang jahat yang harus ditangkap karna menculik anak". jawab si Ibu.
"dimana kira-kira larinya bu?". tanya Nana.
"awalnya Mbah tidak sadar lama-lama mbah yang pikun ini ingat kalau orang itu mirip sama yang di lihatkan oleh cucu mbah, tapi dia naik mobil neng". jawab mbah masih memanggil Nana Neng padahal sudah punya anak.
mbah itu merasa Nana dan Anna sangat cantik hingga keliatan seperti anak gadis saja. sementara Para polisi dari kota pun berdatangan untuk mencari pelaku membawa pasukan segera berpencar.
.
.
.
__ADS_1