
.
.
.
Anna menikmati kesehariannya di Panti Asuhan bahkan sampai Caca dan Sekar kembali bekerja disiang hari lalu setelah itu datang lagi ke Panti demi menjemput Anna yang masih betah disana tidak ingin pulang.
Sekar dan Caca harus memaksa Anna pulang dengan alasan Leonard, kalau tidak, mungkin Anna akan menginap di Panti itu.
"nak..? kenapa pulangnya lama sekali? pagi-pagi buta tadi Adi telfon bilang kamu tidak bekerja, apa kegiatanmu cucu Kakek ini hmm? ". tanya Leonard saat Anna sudah ada dihadapannya.
"maaf ya Kek..! Anna keasikan main di Panti". cengir Anna.
"iya Kek..! lupa pulang dia". jawab Sekar menggeleng kepalanya.
Leonard mendengarkan cerita Anna yang begitu bersemangat sampai Leonard tertawa dan mengerti mengapa Anna suka di Panti itu.
"bersiaplah kalian nanti Ren dan Rose akan main kesini". kata Leonard.
"hah?? ". ketiga gadis cantik itu terperangah lalu memekik kesenangan karna sikembar Arkatama akan bermain ke Mansion Anna.
"jam berapa kek? ". tanya Anna semangat.
"malam ini..! Kakek sudah meminta Koki untuk masak besar untuk makan malam kita". kata Leonard.
"yeeehhh". Caca dan Sekar bersorak senang.
"bersihkan tubuh kalian kalau mau memeluk Rose, nanti Papanya mengomel kalian itu bau tante-tante". ledek Leonard terkekeh.
"baik Kek". jawab ketiga gadis yang sangat menyayangi sikembar Arkatama itu begitu semangat.
segera mereka berlarian meninggalkan Leonard yang geleng-geleng kepala sambil tersenyum, Ia sudah beres tidak perlu mandi lagi padahal dirinya lah yang paling tidak sabar menunggu kedatangan sikembar Arkatama itu.
malam harinya,
Nana tiba bersama Arka dan Kedua anak-anaknya, tangan kanan Ren menggenggam tangan Nana sedangkan Arka menggendong Rose juga merangkul bahu Istrinya dengan posesif.
"udah lama enggak kesini ya sayang". Nana berbicara ke Ren yang tersenyum menganggukkan kepalanya.
Nana mengelus sayang kepala Ren,
"sudah aku bilang biar kami saja yang datang sayang atau mereka juga bisa datang ke Mansion Arkatama kan? kenapa kamu yang ingin menemui ketiga gadis bawel itu". Arka mengomel pelan.
"aku merindukan mereka memangnya kenapa? kan tadi aku udah bilang kalau kamu sibuk, silahkan saja bekerja di Ruanganmu, aku bisa bersama sikembar kesini tanpa dikawal olehmu". balas Nana balik menjulurkan lidahnya membalik kata-kata Arka.
Arka kehabisan kata-kata, "tapi kan kamu lagi hamil sayang".
__ADS_1
"itu karna kemauan anakku". jawab Anna mengelus perut buncitnya seperti mengandung 5 bulanan padahal masih 3 bulanan.
"sudah Papa..! kenapa Papa melawan Mama? bukankah Papa sendiri yang bilang Mama bertingkah seperti anak-anak karna efek dedek bayi". Ren menceramahi Arka.
Arka mendengus mendengar ceramah putranya itu, "ingatanmu terlalu tajam son". gerutu Arka.
"turunkan Rose Papa". pinta Rose tersenyum lebar ke Arka.
Arka mencium sayang kening Rose lalu menurunkan Putri kecilnya.
"Kakaaakkk?? Kakeeeek Rose datangg??". teriak Rose dengan heboh berlari memasuki Mansion Anna mengabaikan Arka yang mengomel untuk Rose berhati-hati.
Nana menggeleng-geleng kepalanya, Ren terlihat tenang saja tidak seheboh Rose yang memang diperlakukan Tuan Putri di Mansion Anna.
"Waahh.. Rose..? kakek disini". Leonard menjalankan kursi roda listriknya.
sebenarnya Leonard bisa berjalan tapi ia terlalu nyaman di Kursi roda yang membuatnya tidak terlalu lelah.
Rose memekik lalu berlari ke Leonard dan dengan manjanya duduk dipangkuan Leonard langsung memeluk Rose yang merupakan tawa bahagia Leonard saat ini.
"ahahahaha". Leonard tertawa keras mengelus kepala Rose.
Rose sangat bisa membuat orang lain bahagia terutama Leonard yang memiliki segalanya tapi belum punya Cicit dan menganggap Rose sebagai Cicit kesayangan nya.
"sayang..? kenapa sampai manjat gitu hmm? kasihan Kakeknya". Nana mengomeli putri kecilnya.
Leonard tergelak dan menggeleng kepalanya, "Kakek merindukanmu nak..! sangat merindukan cicit kecilku ini".
"Kakek? ". sapa Ren tersenyum sopan seperti seorang pangeran saja.
Leonard mengelus kepala Ren, "kalian makan snack sayang?? Kakek sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian". Leonard berkata sambil menatap Ren dan Rose bergantian.
"okehh". jawab Rose semangat dan Ren mengangguk dengan senyuman.
Arka merangkul Nana, mereka sudah biasa melihat Rose yang recok (bawel) didepan Leonard seperti Rose bermanja dengan Eyang Aman dan Eyang Putri Sarah.
.
"kemana mereka bertiga Kek? kok tumben belum muncul? ". tanya Nana ke Leonard dimeja sofa.
"biasa Nak..! pasti mereka sibuk mencari baju yang tidak ada bau tante-tante nya". jawab Leonard tergelak.
Nana mendengus, "itu hanya alasan Arka aja Kek..! dia tidak mau Caca, Anna dan Sekar berebutan memeluk Rose, mereka wangi kok tidak ada bau tante-tantenya".
Arka bersiul pura-pura tidak tau tatapan tajam sang Istri.
sikembar asik memakan cemilan kesukaan mereka yang dibuatkan Koki khusus untuk mereka berdua saja.
__ADS_1
Leonard tertawa, "tidak apa Nak..! Arka seperti itu hanya untuk melindungi Putrinya, menurut Kakek mereka memakai parfum memang menyengat hidung".
"iya tapi parfum mereka bukan bau tante-tante Kek, Arka aja yang berlebihan". kata Nana menatap kesal suaminya yang terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun.
.
makan malam pun tiba,
Anna, Sekar dan Caca begitu gemas dengan Rose, mereka tanpa ragu menggendong juga menciumi Rose yang terlihat biasa saja dipeluk dan dicium oleh ketiga gadis cantik itu.
"sayang..? boleh Kakak bicara denganmu berdua?". tanya Nana ke Anna.
Anna menatap mata Nana pun mengangguk karna yang dimaksud Nana adalah Anna bukan Sekar atau Caca.
"muah..! ". Anna mencium gemas pipi Rose lalu pergi mengikuti Nana.
Arka menghela nafas membiarkan Nana berbicara dengan Anna, Ia pun kembali berbincang dengan Ren dan Leonard yang berbicara tentang susunan tata surya seperti bintang, bulan, planet dan lainnya yang sangat dikuasai oleh Ren.
.
di kamar Anna,
"bagaimana keadaanmu sayang? ". tanya Nana menggenggam tangan Anna.
"maksud Kakak? Anna baik-baik saja, memang kenapa kak? ". tanya Anna penasaran.
"berita tentang Layla itu bagaimana? walaupun Artikelnya sudah hilang tapi tetap saja dunia tau isi Artikel itu yang membahas Suamimu Pria Idaman semua wanita". Nana
Anna tersenyum, "Anna benar baik-baik saja Kak..! Adi sudah menyelesaikan semuanya dengan baik, dia mengatakan kalau Anna adalah alasannya untuk hidup, dia sangat romantis Kak.. Anna suka banget".
Nana menjatuhkan rahangnya, "percuma saja aku mengkhawatirkan hubungan mereka, tampaknya Adi bisa menyelesaikan masalahnya sendiri". batin Nana tersenyum lega melihat wajah ceria Anna.
"kamu sudah tau Adi mencintaimu sayang? ". tanya Nana dengan gemas menoel-noel hidung Anna.
"iya Kak..! hehe.. Anna yang terlalu tidak peka terhadap perasaannya". cengir Anna.
Nana menangkup kedua pipi Anna dengan lembut, "kalian sudah dewasa, kakak harap kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri sayang, kakak yakin Aditya adalah Pria yang pantas untukmu".
Nana datang ke Mansion Anna untuk memastikan keadaan Anna tak disangka olehnya Anna sudah dewasa tidak cemburu karna sebuah artikel itu, Adi bisa membuat Anna percaya dan bersikap dewasa dengan mengabaikan ketertarikan perempuan lain terhadap suaminya yang penting bagi Adi bahwa Anna itu adalah hidupnya.
"kakak juga berpikir seperti itu? ". tanya Anna tersenyum lebar.
.
.
.
__ADS_1