
.
.
.
Linda menekuk wajahnya karna Nona nya begitu keras kepala, melindungi Anna adalah pekerjaannya tapi memang melindungi wanita keras kepala sungguh sulit.
"hei.. bawel cepat bawakan masakanku untuk Suamiku". titah Anna.
Linda menuruti Anna lalu Anna menggandeng lengan Linda, mereka seperti sepasang kekasih tapi memang begitu cara Anna meminta perlindungan dari Linda sebab anak yang ada diperut Anna ada 3.
Anna tiba di dekat Adi sedangkan Linda disamping Anna setelah meletakkan masakan Anna,
"Hubby..? ". panggil Anna mengelus kepala Adi.
Adi mengerutkan keningnya lalu membuka matanya dan melihat Anna tengah tersenyum padanya.
"sayang?". Adi bangun sambil mengucek kedua matanya.
"aku ketiduran ya?". gumam Adi melihat jam tangannya yang sudah lewat jam makan siang.
"kamu kerja sampai jam berapa sih? kenapa sampai ketiduran hmm? ". tanya Anna dengan manja nya memutar kursi kerja Adi dan duduk dipangkuan Adi.
Linda melihat itu melangkah mundur dan memilih pergi, tentu akan berjaga di luar saja Ia akan melarang siapapun jika ada yang mau masuk.
"aku tidak tau sayang". jawab Adi melingkarkan tangannya di pinggang Anna dan mengendus leher Anna.
Anna terkekeh menyisir rambut Adi dengan lembut, "aku buatkan makan siang untukmu".
"siapa yang menyuruhmu masak sayang? kan aku udah bilang jangan masak, aku bisa merawat diriku baik-baik sayang karna aku bukan bayi sayang, aku tidak mau kamu kelelahan". omel Adi tanpa rem.
Anna mencubit hidung Adi, "terus kenapa makan siangmu sampai kelewatan hmm? kamu selalu bilang untuk aku makan jangan sampai kelewatan tapi kamu?? kamu selalu saja kelewat jam makan".
"sayangg?? ini masalah kamu sayang, aku baik-baik saja dan yang harus dikhawatirkan itu Istriku ini". Adi berkata dengan sabar.
Anna mengangguk, "itu juga yang aku rasakan suamiku, kamu mengkhawatirkanku karna mencintaiku dan sama sepertimu aku juga mengkhawatirkanmu sialnya aku juga mencintaimu".
Adi memicingkan matanya, "kenapa pake sialnya? ". tanya Adi.
Anna tertawa, "kalau aku tidak mencintaimu mau kamu makan atau tidak aku tidak peduli".
"baiklah sayang, aku kalah". pasrah Adi yang tidak suka membayangkan Anna tidak mencintainya.
Anna tersenyum penuh kemenangan, "ini jangan lupa teh jahe nya di minum ya? aku juga buat susu untukku".
Adi menerima susu jahe pemberian Anna tak lupa ia mengecup lama bibir Anna, Anna memukul bahu Adi.
"kenapa? ". tanya Adi seakan tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"aku bilang makan dan minum bukan nyantap bibir aku, enggak bikin kenyang". omel Anna.
"iya tapi itu juga kekuatanku, aku harus bekerja keras biar bisa menemanimu ke Rumah Sakit sayang, Kak Nana kan sudah menginap di Rumah Sakit jelang kelahirannya". jelas Adi mengetuk-ngetuk bibir Anna.
Anna tersenyum, "tapi harus tau istirahat juga lah".
.
malam harinya,
Adi dan Anna berangkat ke Rumah Sakit tempat Nana sedang menginap jelang kelahiran.
"kamu kenapa kesini sayang? ". tanya Nana melihat kedatangan Anna bersama Adi.
"belum lahiran". jawab Arka dan Nana memukul lengan suaminya sedangkan Arka terpaksa pasrah dan tidak lagi bersuara.
Anna mendekati Nana dan memegang tangan Nana, "Kak? Kakak harus kuat ya? ".
Nana tertawa kecil, "tidak apa sayang, ini bukan anak pertama jadi Kakak pasti akan kuat".
"seharusnya kamu yang kuat sayang, calon bayimu ada 3 loh". tegur Nana.
Anna mengelus perutnya, "udah keliatan kak, hehe".
"iya sayang". Nana mengelus perut Anna.
mereka berbicara tentang Rose dan kedua sahabat baik Anna yaitu Sekar, Caca yang seperti Adik juga bagi Nana.
"iya, waktu di Mansion aja juga tidak apa, kakak tidak mau merepotkan kalian yang sedang hamil". sahut Nana.
"kakak ngomong apa sih? kakak segalanya buat kami". rajuk Anna.
Nana tertawa, saat asik berbincang Arka menghentikan mereka sebab Nana harus istirahat.
Anna mengerucutkan bibirnya dan Adi mendekati Anna membawa pergi Istrinya di ruang sebelah dibatasi khusus untuk tidur para keluarga yang menyewa kamar VVIP.
Ren dan Rose tidak bisa datang, mereka berdua tidur bersama keluarga Nana dan Arka sebab sikembar besok sekolah, Nana tidak mau anaknya harus libur sekolah karna dirinya.
"kamu mau makan apa sayang? ". tanya Adi saat Anna sudah duduk di ranjang yang tidak terlalu besar tapi tidak membuat tempat itu terlalu sempit bagi mereka.
"aku pengen makan Soto daging". jawab Anna tersenyum lebar.
"soto daging? bukan soto ayam? ". tanya Adi.
"Daging". jawab Anna manja.
Adi menghubungi salah satu pengawal Anna mencarikan Soto daging untuk Anna, Ia tidak bisa pergi karna tidak mau meninggalkan Anna sendirian terlebih lagi Linda tidak ikut, jika Anna bersama Adi maka Linda tidak ikut.
.
__ADS_1
di tempat lain,
"kenapa harus berangkat malam-malam begini sayang? besok pagi saja ya?". bujuk Mami Erie.
"tidak akan bisa Mami membujuknya Mi, Kita tidak bisa melarangnya karna Mami tau sendiri kalau Kak Nana dan Caca sudah saling mengenal sebelum Radit kenal Caca". Radit.
Mami Erie menghela nafas panjang, "terus kalian tidur dimana hmm? ".
"nanti Caca akan sewa kamar kos para pekerja Rumah Sakit kan bisa Mi? sudah pasti aman asalkan ada uang mi". jawab Caca tersenyum lebar.
Mami Erie menatap Caca, "ya sudah terserahmu saja sayang asalkan kamu hati-hati saja, bagaimana dengan Sekar? apa dia juga akan datang? ".
"tentu saja Mi". jawab Caca dan Radit tersenyum sambil memasukkan pakaiannya di koper Caca.
"kalau begitu Mami akan selesaikan disini ya? besok pagi mami akan ke Rumah Sakit". Mami Erie.
"loh? tidak usah di beresin ya Mi? nanti kalau Caca udah pulang baru diberesin". pinta Caca.
"Mami beresin". jawab Mami Erie dengan serius.
"Mamiiii?? ". rengek Caca.
"sudah.. sudah.. kalian pergi aja sana! ". Mami Erie mengusir Caca dan Radit untuk pergi dari Apartemen.
Radit dan Caca sudah semakin mesra, mereka saling bergenggaman tangan dan kini Radit memiliki 2 kepribadian yang dulunya anak mami, sekarang sudah semakin dewasa yaitu dengan mengalah membiarkan Mami Erie menyayangi Caca dan terkadang Radit mencari kasih sayang dari Caca saja.
di dalam mobil,
"ponsel aku mana Dit? ". tanya Caca meraba jaketnya.
"didalam koper kayaknya, tadi kamu yang masukin kan? ". Radit.
"oh iya, aku pinjam ponselmu aja". pinta Caca menengadahkan tangannya.
Radit menyerahkan ponselnya, "mau telfon siapa?".
"aku mau telfon Sekar udah berangkat apa belum". jawab Caca.
Caca menghubungi Sekar dan sepertinya Sekar memang sedang menunggu telfon Caca karena langsung diangkat tanpa menunggu lama.
"kenapa lama sekali? apa kamu udah sampai di Rumah Sakit apa belom? ". tanya Sekar mengomel.
"lagi jalan, nanti aku akan periksa dulu ke dokter kandungan kata Mami aku mengalami gejala hamil". jawab Caca sambil menyibakkan rambutnya ke daun telinganya dan Radit melirik Caca yang ternyata sudah memakai seatbelt.
"benarkahh?? ". pekik Sekar heboh.
.
.
__ADS_1
.