
.
.
.
"ada apa Anna? ". tanya Caca
Radit diam saja melihat Caca bersama Anna, memang itu tujuan Adi membawa Caca untuk menemani sang Istri Adi saat Adi berbincang dengan orang lain.
"mereka bicara anak". jawab Anna dengan rengutan khasnya.
Caca menautkan kedua alisnya, "anak? bukankah wajar jika mereka cerita anak, apa mereka menyinggungmu? ". tebak Caca serius.
"kamu tau sendiri kan bagaimana bang Arka? dia sibuk bilang kenapa aku belum hamil sementara aku bersuami". kesal Anna.
Caca mengangguk pelan, "menurut aku wajar aja Anna..! apa kamu tidak ingin punya anak? biar kami yang urus".
Anna membelalak tak percaya akan perkataan Caca yang tanpa merasa bersalah ingin dirinya hamil, "kamu aja yang menikah dan punya anak". kesal Anna.
Caca berdecak sebal, "beda Anna..! kamu punya suami yang bisa menjaga dan melindungimu".
"dia Pria bertanggung jawab..! apa kamu tidak memikirkan Kakekmu? Kakek berapa kali mengatakan ingin punya cicit hmm? Kakek sayang sama Ren dan Rose tapi sikembar kan tidak tinggal disini kan? kasihan Kakekmu yang ingin Mansionnya ramai sementara kita semua sibuk bekerja". Caca
Anna terpaku mendengar penjelasan Caca,
"awalnya aku tidak terlalu menyukai Adi karna dia membuat kami khawatir di hari pernikahan Kak Ara dengan bang Abi, tapi Kakek selalu mengatakan ingat Papamu saat melihat perilaku Adi, aku akui dia hebat dan pantas menjadi suamimu". Caca berkata dengan serius.
"ya sudah..! ayo kita makan..! ". ajak Caca yang tau Anna masih syok mencerna perkataannya.
Caca memang pendiam tapi sebenarnya Ia bijak selalu mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri, mungkin itu yang membuat Caca bisa memikirkan perasaan Leonard sementara Anna belum tentu siap,
sebenarnya Caca tidak mau mengatakan hal itu pada Anna tapi Caca dan Sekar mendengar dari bibir Anna sendiri kalau Anna itu jatuh cinta pada Adi, lalu apa halangan mereka? bukankah bisa melakukan hubungan itu? Adi terlalu menjaga sikap hingga tidak bisa melakukan hubungan itu secara sepihak demi kepuasannya saja harus menjaga perasaan Anna sendiri yang mau menerimanya.
kalau Caca pikirkan Adi memang tulus mencintai Anna, tidak memaksa Anna memuaskan hasr*tnya Adi padahal Ia Ielaki yang berhak atas diri Anna.
"Ren dan Rose kata Bang Arka ada disini". kata Anna dengan serius.
Caca memutar kepalanya melihat Anna, "benarkah?". tanya Caca
"apa perlu kita ke Toilet? siapa tau ada masalah". ajak Anna.
__ADS_1
Caca mengangguk, mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju Toilet.
"kemana mereka? apa ke Toilet? ". gumam Radit menebak,
Radit tidak mendatangi Anna karna sudah ada Caca, Caca cukup kasar tapi Ia sudah mencari identitas Caca yang memang orang setia juga pengawal kesayangan Anna.
"semoga mereka baik-baik saja". gumam Radit menarik nafas dalam-dalam.
sementara Anna dan Caca tiba di toilet wanita,
"sayang? ". Anna sedikit membungkuk ke Ren yang gelisah didepan toilet wanita.
"Kak? bisa lihat Rose? tadi Rose tidak sengaja makan sup ayam". pinta Ren berkaca-kaca.
"benarkah? kalau begitu tunggu disini ya sayang..? kakak akan masuk". bujuk Anna
"iya Kak..! tolong kak..! Ren tidak bisa masuk karna toilet perempuan, nanti Ren dibilang tidak sopan". pinta Ren memelas.
Anna mengangguk lalu segera masuk ke Toilet wanita.
Ren tidak banyak bicara tapi jika sudah menyangkut adiknya Ia akan jadi cerewet karna rasa tanggung jawabnya sebagai kakak.
"iya Sayang..! tunggu disini ya? Kakak masuk menyusul kak Anna ya? kamu tidak apa disini kan?". kata Caca dengan serius.
"iya sayang.. iya". Caca mengelus kepala Ren.
siapapun tau bagaimana sayangnya Ren pada Rose tapi didikan Nana juga nomor satu bagi Ren, Ren tidak boleh masuk ke toilet wanita karna Ren itu lelaki, Ren terlalu khawatir dan panik sampai tidak ada waktu mencari Arka terlebih lagi Ponselnya tinggal di Mobil.
"dasar anak jahat..!! lihat saja apa yang akan aku lakukan pada penjahat itu, berani-beraninya memberi sup ayam pada adikku". geram Ren mondar-mandir dengan khawatir menggigit bibir bawahnya sendiri.
Ren terlambat melihat adiknya di beri sesuatu oleh teman perempuan El yang Iri pada Rose karna disayang oleh Elvin, El cukup populer disekolah mereka.
.
"sayang? bagaimana? ". tanya Anna merapikan rambut Rose yang matanya memerah karna rasa sakit diperutnya.
Anna tidak membawa banyak obat jadi hanya bisa memberi pertolongan pertama menusuk ibu jari Rose dengan jarum kecil yang terkena masalah pencernaan jika makan apapun berbaur ayam sampai mengeluarkan darah hitam.
"udah baikan kak..! terimakasih sudah menolong Rose Kak". Rose memeluk Anna setelah merasa baikan.
Caca datang dan membawa botol mineral untuk Rose, dengan cekatan mereka berdua membantu Rose, terlihat sekali Anna dan Caca sangat menyayangi Rose.
__ADS_1
"katakan pada kakak sayang..! siapa yang membuatmu makan sup ayam? ". tanya Anna dengan serius.
"siapa sayang? kakak juga akan suntikkan rabies ke tangannya". tanya Caca dengan geram pada pelaku yang membuat adik perempuan kesayangan mereka tersakiti.
"tenang saja Kak..! Rose akan balas dengan stimpal". senyum Rose yang tak lagi sepucat tadi.
"sini biar aku yang gendong Anna..! kamu pakai gaun panjang". pinta Caca.
Anna mengangguk lalu memberikan Rose pada Caca yang langsung menggendong Rose, mereka berdua mencium Rose dengan wajah cemas padahal Rose sudah baikan.
"adekk? ". Ren menatap khawatir ke arah Rose, Ia tidak bisa lari karna tau batasan Toilet wanita hanya bisa menunggu didepan pintu dengan tak sabar.
Caca menurunkan Rose didepan Ren lalu Ren memperhatikan wajah menyentuh pipi Rose serta membolak-balik tubuh adiknya hingga Rose makin pusing dengan tingkah kakak kembarnya itu.
"kakak? Rose pusing". kesal Rose dengan wajah imutnya.
mereka berbicara tentang pelaku yang membuat Rose sakit perut, Anna dan Caca hendak menjambak rambut anak kecil itu saking geramnya,
Bisa-bisanya masih kecil terlibat Cinta monyet dan beraninya mencelakai gadis kecil kesayangan mereka, Anna dan Caca tidak bisa tinggal diam namun saat Ren bersuara membuat mereka mematung, beberapa kali Rose mengatakan Ia bisa mengatasinya sendiri tapi Ren bersikeras akan melakukannya jika Rose tidak ingin Nana dan Arka tau masalah yang menimpa Rose.
Rose mengerucutkan bibir mungilnya tak bisa melawan perintah tegas Ren apalagi kakaknya itu juga sama keras kepalanya dengan Rose, jika sudah menyangkut keselamatan Rose maka Ren tidak peduli lawannya perempuan atau laki-laki.
"kita makan ya sayang? biar kakak ambilkan ya? ". bujuk Anna.
Rose tersenyum lebar mendengar kata makanan, Ia senang makan.
"kakak jaga Rose ya? Ren akan beri pelajaran pada anak itu". pinta Ren dengan serius malah terlihat menggemaskan.
"jangan dulu Ren? kamu makan dulu ya? ". bujuk Caca dan Anna mengangguk setuju.
"tidak bisa Kak..! Ren akan balas sekarang". jawab Ren dengan tegas lalu meninggalkan Rose bersama Anna dan Caca.
"apa yang akan dilakukan anak itu Ca? aku takut dia membunuh anak itu". bisik Anna
"iya aku juga..! nanti kalau anak itu sampai masuk Rumah Sakit bagaimana?". bisik Caca juga.
Anna dan Caca tau bagaimana tegas dan beraninya Ren di usia yang masih kecil itu, Ren tau cara menjaga adik kesayangannya, kalau adiknya sakit perut, maka Ren akan balas anak itu juga harus sakit perut dengan cara Ren, dan itu membuat mereka takut karna Ren mirip seperti psikopat kecil kalau marah.
"Kakak? Rose lapar". kata Rose membuyarkan adegan bisik-bisik kedua gadis cantik itu.
.
__ADS_1
.
.