
.
.
.
pagi-pagi
di tempat lain,
Nana membaca artikel tentang kematian misterius yang menimpa Roben dan Besta, Ia menggeleng-geleng kepala sambil berdecak pelan.
"sudah aku tebak ini akan terjadi". gumam Nana lalu menghela nafas panjang.
"sayang..? ". Arka tiba-tiba datang memeluk Nana dari belakang sambil mengecup bahu dan mengelus perut Nana.
"loh..? kok balik? katanya kerja". tanya Nana membiarkan Arka memeluknya dengan mesra.
"aku kan ingin menemani Istriku ke Rumah Sakit". bisik Arka dengan lembut di telinga Nana.
"aku baik-baik saja sayang, lagian Mommy mau menemaniku". jawab Nana tertawa pelan.
"terus aku bagaimana? aku bahkan meninggalkan pekerjaanku demi mengantarmu sayang, pokoknya aku harus ikut". Arka bersikeras ikut dengan istrinya yang mau ke dokter.
Nana tersenyum mengelus rahang Arka, "terserahmu saja, aku sudah minta Papa sama Mama jemput Ren dan Rose sekolah. padahal aku memberimu waktu untuk punya kesibukan dengan pekerjaanmu tapi kamu malah memilihku".
Arka terkekeh masih memeluk Nana dengan erat, "kamu lebih penting dari apapun yang aku punya sayang, tadi aku hanya mampir di Perusahaanmu sepertinya Asisten mu bekerja dengan baik".
"tentu saja, mereka orang kepercayaanku". jawab Anna membangga lalu melihat layar ponselnya.
"apa itu sayang? ". tanya Arka mengulurkan tangannya melihat ponsel Nana.
"kematian Om dan Tantenya Anna". jawab Nana.
"uuuh..! udah jelas mobilnya disabotase, pelakunya pasti Kakek Leonard kan?". tebak Arka tertawa kecil dengan hasil perbuatan dari keserakahan Roben dan Besta.
"bukan Kakek tapi Adi". jawab Nana dengan santai.
"Adii? ". Arka kaget saat tau pelakunya adalah Adi bukan Leonard.
"kenapa? sebelumnya Adi keliatan tenang saja melawan Om dan Tante nya Anna lalu kalau ujung-ujungnya dibunuh kenapa dimain-mainkan sebelumnya? ". Arka
__ADS_1
"kan aku sudah bilang kalau Om dan Tante nya Anna tidak boleh menyerang kelemahan Adi, Adi bisa terima di bunuh dan disakiti tapi kalau menyerang Anna atau menggunakan Anna untuk meninggalkan Adi aku yakin nyawa mereka tidak akan selamat". kekeh Nana.
"kamu mengawasinya sayang? kenapa?? karna dia manis? ". Arka mencecar dengan raut wajah tak senang.
Nana memutar bola matanya dengan malas lalu membalik tubuhnya dan menghadap Arka yang tengah masih berwajah masam alias tak senang Nana mengawasi lelaki lain.
"kamu lihat hasil perbuatanmu sayang? ". Nana berwajah datar menunjuk perutnya yang buncit.
"sayangg?? ". rengek Arka menggenggam tangan Nana.
"aku tau kalau aku sudah punya anak tapi aku tetap saja kesal kamu memperhatikan laki-laki lain sayang, kamu harus ingat aku ini suamimu, yang paling tampan dimatamu, lalu bagaimana aku bisa tenang saat kamu mengawasi laki-laki yang sebelumnya kamu puji tampan". Arka menjelaskan alasan dirinya cemburu.
Nana memijit pelipisnya dengan tingkah suaminya itu, sudah punya anak dan sekarang Nana sedang hamil itu semua karna perbuatan Arka tapi tetap saja Arka cemburuan, seharusnya Nana yang cemburu karna setiap hari Arka keluar rumah untuk bekerja pasti ditatap banyak wanita, apalagi tubuh Nana tidak selangsing dulu malah buncit.
namun Nana masih bisa berpikir secara logika kalau mereka sudah menikah bertahun-tahun, anak mereka juga sudah besar dan kini ada calon anak lagi, kenapa Nana harus cemburu dan mempermasalahkan hal yang hanya membuat rumah tangga mereka retak saja.
"baiklah.. baiklah.. aku tidak akan mengawasi Adi bagaimana? selesai kan? ". Nana yang harus mengalah saat berhadapan dengan bayi besarnya ini.
"iya selesai". jawab Arka tersenyum lebar mengelus perut Nana.
Nana menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum pasrah, Ia harus seperti ini setiap hari menghadapi tingkah Arka yang cemburuan padahal Adi itu suaminya Anna, bagi Nana gadis bermata biru itu (Anna) sudah seperti adik kandung baginya.
.
di Rumah Sakit,
Nana diantar oleh Arka dan ditemani oleh Diah, mereka bertemu dengan Anna yang pergi ke Rumah Sakit yang sama sendirian.
"lohh..? sayang? dimana suamimu? ". tanya Nana khawatir melihat Anna datang sendirian.
Anna tersenyum lebar, "kakak jangan bilang-bilang ya? Anna sedang melakukan program wanita hamil biar hmm...? hehehe". Anna malu-malu berkata.
Diah tertawa sedangkan Arka disamping Nana hanya memutar bola matanya dengan malas, dunia sangat sempit bisa-bisa nya Anna juga ada di tempat yang sama dengan mereka.
"kakak senang sayang". Nana menangkup wajah Anna dengan sayang.
"lalu dimana suamimu nak? ". tanya Mommy Diah.
"tadi Anna bilang mau kerja, sebenarnya dia nggak ngizinin tapi Anna malu mengajaknya kesini jadi Anna pergi sendiri ditemani pengawal sih". cengir Anna.
"kok malu sih?". Nana merangkul Anna dan berjalan menunggu antrian.
__ADS_1
.
.
Adi berlari terburu-buru memasuki Rumah Sakit dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Istrinya yang tengah tertawa lepas bersama Nana dan Diah.
Adi yang terengah-engah kembali berlari hingga tiba di hadapan Anna dan terduduk tak elit di bawah kaki Anna.
"Eeh..? ". Anna kaget melihat Adi ada di hadapannya.
Nana dan Mommy Diah pun sama terkejutnya,
"kenapa kamu pergi kesini tidak bilang-bilang sama aku sayang?". tanya Adi mendongak dengan nafas tersenggal-senggal.
"A..Adi..? kenapa kamu bisa tau aku disini? ". tanya Anna tergugu-gagap.
"aku juga mau ikut program hamil mu sayang, aku harus terlibat". kekeuh Adi memukul-mukul dadanya yang terasa sesak karna habis berlari begitu bersemangat.
Nana memutar kepalanya ke Arka yang bersiul pelan seolah tidak tau apa-apa, mata besar Nana memicing curiga ke Arka dan itu membuat Diah yang tak sengaja melihat tatapan Nana membekap mulutnya sendiri.
"jadi Vano yang memberitau Adi? ". tebak Diah membuat Anna menoleh ke Diah.
"bang Arka? ". decak Anna menatap kesal Arka yang memberitau ke Adi padahal ia sungguh malu mengajak Adi ke Rumah Sakit.
nama Anna dipanggil, dengan cepat Anna izin pada Nana dan Diah namun tidak pada Arka malah menatap tajam abang kakak kesayangannya itu yang telah membeberkan keberadaannya pada Adi.
Anna sudah memperingati seluruh pengawal bayangannya tidak akan memberitau keberadaannya pada Adi tapi tak disangka Arka lah yang membocorkan keberadaannya.
"ayo sayang! ". Adi membenarkan jas dan dasinya dengan benar merangkul pinggang Anna.
Arka seakan tidak merasa bersalah sudah melaporkan keberadaan Anna kepada Adi sampai Pria itu lari seperti dikejar-kejar hantu mendatangi Rumah Sakit tempat Anna ingin melakukan Program kehamilan.
"Sayang..? kamu pulang sana". usir Nana
"hah? tidak mau sayang..! lagian Anna punya suami sayang, tidak lucu hanya dia saja yang ingin punya anak pasti Adi juga ingin punya anak". Arka menjelaskan perasaan Pria yang ada pada diri Adi.
.
.
.
__ADS_1