
.
.
.
tak puas sampai disitu,
Roben dan Besta masih mengikuti Adi dan Anna dengan mobil mereka,
Adi dan Anna tengah berkendara dengan kecepatan lumayan tinggi tentu mobil Roben bersama Istrinya mengikuti dengan kecepatan tinggi juga,
"Adii? kenapa tiba-tiba kencang? ". tanya Anna penasaran.
"aah..! apa kekencangan sayang? kamu takut?". tanya Adi.
Anna mengangguk polos, "aku lumayan takut apalagi kita lewat jalan sepi".
"apa yang ada dijalan sepi? hantu? ". tanya Adi dengan gemas.
"hmm? iya tapi mungkin saja ada hewan hutan yang sedang mencari makan". jawab Anna menebak saja.
Adi tersenyum lalu melirik ke kaca spion yang memperlihatkan mobil Roben melaju kencang.
"selamat menuju neraka untuk kalian berdua". batin Adi lalu menyeringai tipis tanpa sepengetahuan Anna.
di mobil Roben,
"kenapa terlalu dekat ben? jauh dikit dari mobil mereka". pinta Besta dengan serius.
"tunggu..! kenapa rem mobil ini tidak bisa sayang". teriak Roben panik menginjak-nginjak rem mobilnya.
Mobil Adi tiba-tiba melaju kencang menjauhi mobil Roben dibelakang nya yang sudah memutar setir kekiri dan kekanan.
"rem yang benar Ben..! aku belum mau mati". teriak Besta memegang kuat seatbeltnya.
"sialan..! siapa yang menyabotase mobil ini". maki Roben.
Besta memekik saat Roben semakin tidak terkendali membawa mobilnya sampai Roben membelok setirnya untuk membuat mobil itu berhenti tapi mobil nya malah langsung berbalik beberapa kali dan meledak detik itu juga.
"aaahhh? ". Anna memekik menutup kedua telinganya mendengar kecelakaan dibelakang mereka sampai meledak.
"sayang..? sepertinya ada kecelakaan dibelakang kita". Adi melihat ke kaca spion dengan raut wajah yang begitu meyakinkan seperti tidak tau apa-apa.
"kecelakaan apa Adi? kenapa ledakannya kuat sekali? aku takut". Anna perlahan menaikkan kedua kakinya dan memeluk dirinya sendiri dengan wajah memucat.
"aku juga tidak tau sayang..!". Adi menepikan mobilnya.
Anna kaget saat melihat Adi seperti mau keluar dari mobil.
"Adi..? jangan keluar! ". pinta Anna memelas meremas lengan baju Adi.
Adi menoleh ke Anna lalu mengambil tangan Anna dan mencium telapak tangan Anna, "lalu kita lanjut saja? ". tanya Adi.
Anna melihat kebelakang lalu menganggukkan kepalanya ke Adi, "aku seorang dokter menolong mereka juga tidak bisa, ledakannya begitu kuat, mungkin orang didalamnya tidak akan selamat".
__ADS_1
Adi pun mengangguk namun bibirnya menyiratkan senyum tipis, Anna belum tau siapa yang mengalami kecelakaan dibelakang mobil mereka.
Adi menghubungi ambulance seperti yang Anna perintahkan, sementara Mobil lain yaitu pengawal bayangan Anna berhenti menyelesaikan masalah itu, siapa tau polisi butuh saksi.
.
"tapi bukannya kamu takut Api Adi? kenapa kamu baik-baik saja melihat kebelakang? ". tanya Anna penasaran.
Adi tersenyum, "kalau api seperti itu aku tidak takut sayang".
"jadi Api seperti apa yang kamu takutkan? ". tanya Anna yang sekarang sudah menjadi lebih baik, tidak setakut sebelumnya.
"Rumah Kebakaran.. hmm? itu membuatku sesak". jawab Adi sambil fokus dengan jalanan.
Anna mengecup punggung tangan Adi hingga Adi menoleh sesekali dan tersenyum sampai kedua lesung pipinya terlihat.
"kalau begitu aku akan melindungimu". kata Anna dengan senyuman tulusnya.
Adi terkekeh, "tidak perlu sayang..! aku dalam tahap penyembuhan".
Anna bertanya tahap pengobatan trauma Adi yang ternyata di Rumah Sakit kecil, Adi sengaja menyembunyikan trauma nya itu dari siapapun jadi hanya dokter, Adi, Anna serta Radit saja yang tau ketakutan Adi.
.
Mansion Anna,
"Annaa..? ". teriak Sekar dan Caca berlari mendekati Anna.
Adi menurunkan Anna dengan hati-hati, "pelan-pelan ya sayang?". Adi memberikan lengan Anna ke Sekar dan Caca memberi waktu untuk ketiga sahabat itu berkumpul setelah beberapa hari penuh Anna menghabiskan waktu dengan Adi saja.
Adi mengangguk lalu mengecup sayang pelipis Anna, Sekar dan Caca hanya diam menunggu Adi pergi sebab banyak yang ingin mereka ceritakan pada Anna.
"nanti panggil aku ya? ". bisik Adi.
Anna tersenyum manis dan Adi mengelus kepala Anna lalu beranjak pergi meninggalkan Anna dengan kedua teman baiknya itu.
"ayo kita duduk Anna! ". ajak Caca merangkul pinggang Anna.
Sekar pun membantu Anna berjalan pelan ke sofa,
"ada apa? ". tanya Anna penasaran melihat wajah pucat kedua teman baiknya itu setelah duduk disofa.
"kamu tidak lihat berita? ". tanya Sekar.
"berita? berita apa? ". Anna meraba-raba saku bajunya mencari ponselnya yang ia lupakan saat keluar dari Restaurant.
"Om Roben dan Tante Besta kecelakaan dan meninggal ditempat Anna". kata Caca.
Anna yang tadi sibuk mencari ponselnya seketika terpaku lalu menatap ke Caca dan Sekar yang mengangguk seolah itu benar.
"kecelakaan? meninggal?". beo Anna.
Sekar mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan berita yang baru saja keluar,
mantan Presdir sementara Asia Group meninggal dunia dengan Istrinya dalam tragedi kecelakaan maut yang mengenaskan.
__ADS_1
Anna terbelalak melihat itu lalu membekap mulutnya syok, "i.. itu tempat kami lewati tadi, apa jangan-jangan mobil yang kecelakaan dibelakang kami tadi mobil Om Roben dan Tante Besta?".
"apa? ". Sekar dan Caca kaget saat tau Anna ternyata ada di lokasi kejadian.
Anna menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu hingga Sekar seketika merinding.
"itu karma untuk orang jahat". gumam Sekar mengelus-ngelus tengkuk dan tangannya yang mana bulu kuduknya berdiri.
"Ca?? kamu kenapa? ". tanya Anna menepuk tangan didepan wajah Caca.
Caca tersentak kaget melihat Anna dan Sekar bergantian tengah menatap heran dirinya.
"ahh..? tidak..! aku hanya senang saja musuh dibalik selimutmu meninggal dan aku yakin Om mu itu tidak akan mengganggumu lagi, akhirnya Tuhan memberi balasan untuk mereka". Caca mencoba untuk tersenyum menyembunyikan kecurigaannya.
"iya, aku setuju.. biar membusuk sekalian di neraka, jadi manusia jahat banget sih udah kaya pengen kaya lagi, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki". gerutu Sekar.
.
.
di kamar Caca,
Caca membaca artikel baru tentang kecelakaan yang menimpa Roben dan Besta,
"apa hanya pemikiranku saja? hmm? mungkin Kakek yang melakukannya, jangan mikir aneh-aneh Ca..! kamu seharusnya bersyukur orang jahat itu mati". Caca memukul kepalanya sendiri yang terlalu memikirkan hal yang tidak penting.
.
di kamar Anna,
Adi menoleh ke Anna yang baru saja masuk ke kamar mereka,
"sayangg? kenapa jalan sendiri hmm? kan aku bilang hubungi aku kan? ". Adi melangkah mendekati Anna dan memegang bahu Anna.
Anna tersenyum lebar, "aku baik-baik saja, sepertinya sup yang kamu pesan tadi membuat ku lebih baik".
Adi menggendong Anna, "kalau begitu kita bercint* di kamar mandi bagaimana hmm?? ".
"hah? apa bisa dikamar mandi? ". tanya Anna dengan polos.
"hmm?". Adi gemas mencubit pipi Anna.
"kan tidak ada ranjang". jawab Anna lagi.
"tenang saja, tanpa ranjang aku bisa membuatmu mendes*h panjang". bisik mesum Adi lalu menggendong Anna.
"tapi masih sakit". rengek Anna dengan wajah memerahnya.
"aku lakukan pelan-pelan". Adi menggendong Anna membawa Istrinya itu ke Kamar mandi.
Adi tidak peduli tentang kematian Roben dan Besta, menurutnya sudah cukup Ia memberi kebebasan untuk kedua manusia itu namun mereka berdua selalu saja mengusik nya, apalagi menyerang kelemahannya yaitu Anna dengan menghasut Anna supaya Istrinya itu membencinya.
.
.
__ADS_1
.